My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Si Perkasa


__ADS_3

Hana memasuki kamar dengan perasaan yang berkecamuk, ia benar-benar belum siap menyerahkan dirinya kepada suaminya dan berharap jika suaminya tadi hanya menggodanya.


Dilihatnya sang suami duduk di atas ranjang menyelonjorkan kakinya, tangannya sibuk memainkan ponsel pintarnya.


"Ehhh istriku sayang, udah selesai rapiin dapurnya?" Seringai Abi membuat Hana semakin takut.


"Udah Ka. Emhh.. Udah setengah dua, Hana mau sholat Dzuhur dulu! Kaka udah sholat?" Sebisa mungkin Hana mengalihkan perhatian suaminya itu.


"Udah baru aja, tuh perlengkapan sholat gue masih berantakan!" Benar saja baju koko, peci dan sarung tergeletak di atas sajadah tanpa dilipatnya, membuat jiwa keistrian Hana langsung keluar.


"Kaka tuh yaa, kalo abis sholat dilipet kek baju koko sama sarungnya. Jangan asal geletakin gini aja, masa semua-semuanya harus aku sih yang beresin. Ini kan gak butuh lama Ka buat ngerapiinnya dan kalo rapi kan enak dilihatnya. Heran deh aku tuh sama Kaka, masa semuanya harus aku ajarin sih? Kaka jangan kebiasaan ngandelin orang lain, kalo bisa Kaka lakuin sendiri yaa tolonglah Kaka lakuin sendiri gak usah nunggu aku!" Omel Hana panjang lebar sambil merapikan perlengkapan sholat suaminya, membuat Abi justru tersenyum gemas.


"Udah ngomelnya?" Tanya Abi, membuat Hana terdiam.


"Ehh.. Emhh.. Maaf Ka!" Jawab Hana tertunduk.


"Sana ambil wudhu, terus sholat. Gue udah gak tahan nih!" Perintah Abi membuat bulu kuduk Hana meremang. Hana pun cepat-cepat berlari ke kamar mandi, menyembunyikan rona merah wajahnya.


Hana sudah menyelesaikan sholatnya, ia pun kini berdoa. Menit demi menit berjalan, Abi pun mulai sadar jika Hana berdoa sudah cukup lama. Ia tau Hana sedang mencoba menghindarinya dengan melakukan doa yang panjang.


Setelah sekian lama Hana pun akhirnya menyelesaikan doanya, ia semakin gugup tak kala melihat Abi terus menerus memperhatikannya.


"Gak biasanya doa lo selama ini?" Sindir Abi, namun Hana tak bergeming.


Melihat Hana sudah selesai merapikan perlengkapan sholatnya, Abi pun meminta Hana untuk naik ke atas ranjang. Mau tak mau Hana pun menghampirinya dengan perasaan gugup dan was-was.


"Sekarang udah siap kan?" Tanya Abi menatap tajam istrinya.

__ADS_1


Hana terlihat menghela nafas berat dan mencoba mengatur nafasnya.


"Gini ya Ka Abi, apa yang udah Hana lakuin di bawah tadi, Hana harap Kaka ngerti kalo semua itu karena Hana kesel sama ucapan-ucapan pelakor itu. Jujur Hana belum siap nyerahin diri Hana sama Kaka selama Ka Abi belum ada perasaan sama Hana. Jadi tolong ya Ka, jangan nuntut apa-apa lagi sama Hana sebelum Ka Abi ada rasa sama Hana!" Ucap hana panjang lebar.


"Lah gak bisa gitu dong Hana, gue kan minta hak gue sebagai suami atas lo. Gak masalah gue udah ada rasa atau belum sama lo, lo tetep harus ngelakuin kewajiban lo lah. Apalagi pas lo udah pancing-pancing gue tadi di bawah, masa lo tega bikin gue belingsatan. Gue gak mau tau ya Han, pokoknya gue minta hak gue sekarang juga. Gak peduli lo siap apa belum!" Geram Abi kemudian mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hana.


Hana mencoba menghindar ketika Abi mendekap tubuhnya, tapi apalah daya tenaga tubuh kecilnya tak sebanding oleh tenaga tubuh kekar suaminya.


Abi terus menahan tubuh Hana menggunakan tangannya dan tangan satunya menahan tengkuk Hana agar ia tak bisa menghindari ciumannya.


Abi memang pantas dijuluki sang profesional, ciuman panasnya mampu membuat Hana terlena. Hana yang awalnya membrontak kini mengikuti permainan lidah Abi. Pelan tetapi pasti, kini Abi telah memangku Hana tanpa melepaskan ciuman mereka.


Hana yang terbuai tak sadar jika tangan Abi telah membuka kancing kemajanya satu per satu dan mulai memasukan tangannya ke gundukan milik Hana. Seketika Hana tersadar, ia pun melepaskan ciuman mereka dan menahan tangan Abi yang sedang meremas salah satu dadanya.


"Jangan larang gue Hana, gue udah gak bisa nahan lagi! Pinta Abi dengan sorot mata yang sudah dipenuhi nafsu.


"Gue janji gue akan ngelakuinnya pelan-pelan. Gue gak bakal nyakitin lo!" Sahut Abi kemudian mengecup bibir Hana singkat dan melepas kemeja Hana.


"Bukan cuma itu yang Hana takutin Ka, Hana juga takut kalo setelah Hana nyerahin diri Hana ke Kaka, justru Kaka akan nutup hati Kaka buat nerima Hana. Hana gak mau, rugi Hana Ka!" Ucap Hana polos.


"Gue janji gue tetep ngebiarin hati gue terbuka buat lo sampe lo bisa bikin gue jatuh cinta sama lo. Gak akan ada yang berubah setelah kita ngelakuinnya, gue janji!" Entah karena nafsu atau benar-benar dari hatinya Abi mengucapkan kata-kata itu. Hana hanya menatap bingung wajah yang sudah dipenuhi nafsu itu.


Abi kemudian merebahkan tubuh Hana, mengungkungnya. Abi menatap Hana seakan meminta izin untuk melakukan lebih, namun Hana tak bergeming. Ia justru memalingkan wajahnya, Hana benar-benar masih ragu untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada sang suami.


Cara berfikir Abi berbeda, melihat Hana hanya diam dan memalingkan wajahnya dianggap Abi sebagai persetujuan Hana. Ia pun tanpa ragu meraih kaitan bra Hana dan melepasnya, dengan sekali tarik bra yang Hana pakai pun terlepas sempurna.


Hana berusaha menutupi dadanya yang sudah terekspos seluruhnya oleh Abi, namun dengan cepat Abi menahan tangan Hana, ia menaikan tangan Hana dan menahannya di atas kepala Hana agar ia dapat dengan leluasa menikmati dua bongkahan yang cukup sekal dan menantang.

__ADS_1


"Ka, jangan sekarang Ka. Hana belum siap, Hana takut!" Lirih Hana, tubuh dan suaranya sudah bergetar hebat. Sedangkan Abi tetap tidak peduli. Ia mencium bibir Hana, mengecup leher dan menyesapnya hingga muncul tanda kepemilikan di leher Hana. Kecupan Abi turun lebih ke bawah, sejenak ia memandangi bentuk tubuh istrinya, ia pun mulai menciumi dan menyesap puncak dada Hana membuat Hana mau tak mau mendesah menikmati permainan sang suami.


Sedangkan di bawah, Daniel yang memang tau kode akses memasuki unit apartemen Abi sudah masuk ke dalam, berteriak memanggil-manggil si pemilik. Namun tak ada sahutan sama sekali.


Daniel pun berinisiatif naik ke atas ingin mengecek keberadaan Abi di kamarnya. Sesampainya di depan kamar tanpa mengetuk seperti biasanya, Daniel langsung memutar handle pintu untuk membukanya.


Betapa terkejutnya Daniel saat mendapati pemandangan vulgar di hadapannya saat ini, begitu juga Abi dan Hana yang langsung menengok ke arah pintu ketika mendengar suara pintu dibuka.


"ARGHHHHHHHH...!" Teriak mereka bertiga serempak. Abi cepat-cepat menutup tubuh istrinya dengan selimut, sedangkan Daniel langsung berbalik badan dan menutup keras pintu kamar Abi.


"Sorrry, sorry gue lupa kalo lo udah nikah, makanya gue maen nyelonong aja! Laen kali kunci napa kalo mau begituan!" Teriak Daniel dari balik pintu.


"Mau ngapain lo ke sini hah?" Sahut Abi dengan suara yang kencang sebagai ungkapan kekesalannya.


"Kan lo yang nyuruh gue ke sini Bi? Lo lupa apa ingetan lo ketinggalan di dada bini lo?" Goda Daniel.


"Diem lo monyet! Udah tunggu gue di bawah, bentaran gue nyusul!" Perintah Abi.


"Lo mau lanjutin emang Bi? Kelamaan ntar gue nunggunya!" Keluh Daniel masih dari balik pintu.


"Udah ngedrop si Perkasa gara-gara kaget. Udah lo ke bawah sana, gue nyusul!" Kelakar Abi membuat Daniel terbahak-bahak.


Daniel pun turun ke bawah sesuai permintaan Abi. Ia sudah merelakan perasaannya untuk Hana, karena Daniel sudah menyadari satu hal bahwa Abi sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Hana, hanya saja Abi masih belum atau menolak untuk menyadari perasaannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


...Mumet-mumet dah yaaa Kaka Abi 🤣🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2