My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Semua Sayang Hana


__ADS_3

"Niel, hari ini tolong handle kantor, gue gak bisa masuk. Hana lagi dirawat di rumah sakit! Tapi sebelumnya gue minta tolong lo buat ke apartemen gue, ambilin handphone, ipad, sama baju ganti buat gue dan Hana. Bi Imah udah gue suruh nyiapin tinggal lo ambil aja!" Perintah Abi via ponsel. Ia meminjam ponsel Rendra agar bisa menghubungi Daniel.


"Sakit apa? Pantesan lo gue hubungin gak bisa-bisa! Ya udah gue otewe sekarang!" Sahut Daniel kemudian memutus sambungan telfonnya.


"Makasih Pa..!" Ucap Abi menyerahkan ponselnya pada Rendra.


"Kalo gitu Papa ke kantor aja, biar urusan kantor Papa handle sementara. Kamu fokus aja jaga Hana!" Ucap Rendra yang diangguki oleh Abi.


Sebelum ke kantor, Rendra dan Hafidz menyempatkan diri untuk menemui Hana sekedar memberikan semangat pada Hana agar ia tak merasa rendah diri dengan kondisinya. Seluruh keluarga terus mencoba menyakini Hana jika mereka akan selalu ada untuk gadis cantik itu.


"Makasih Papa, Kakek. Maaf kalo Hana menyusahkan!" Ucap Hana dengan tersenyum getir.


"Tak ada yang disusahkan sayang, semua sayang Hana, semua pengen Hana cepat sembuh dan ceria lagi. Jadi semangat ya!" Sahut Rendra memeluk penuh kasih menantu cantiknya itu.


"Hana sayang sama Papa!" Ucap Hana tulus mendongakan wajahnya pada sang ayah mertua yang tengah mendekapnya.


"Cuma sama Papa aja sayangnya?" Goda Hafidz, membuat semua yang berada di kamar rawat Hana tergelak.


"Sayang Kakek juga, Hana sayang semuanya!" Sahut Hana tersenyum bahagia melihat semua orang begitu menyayanginya.


"Wah kalo begitu rasa sayang buat aku dibagi-bagi dong!" Kini Abi gantian yang menggoda istrinya.


"Enggaklah, Kakak mah spesial. Sayang dan cinta..!" sahut Hana polos membuat semua semakin tergelak.

__ADS_1


Setelah kepergian Hafidz dan Rendra pergi, Abi meminta Kinan untuk menemani istrinya karena ia ingin mengajak sang ibu mertua untuk ke kafetaria dengan alasan untuk pergi sarapan.


Ia ingin sekali membahas tentang kondisi sang istri dengan Ibu mertuanya, karena sungguh Abi benar-benar perih melihat kondisi istrinya saat ini.


"Aku ajak Ibu sarapan dulu yaa, kamu sama Mamah dulu. Mau dibawain apa?" Tawar Abi.


"Emhh... cake sama es cokelat aja!" Sahut Hana mulai terlihat santai.


"Siap Tuan Puteri, ditunggu ya aku cuma sebentar!" Ucap Abi kemudian mencium kening istrinya begitu dalam.


Sesampainya di kafetaria rumah sakit, Abi langsung memesan makanan dan minuman untuknya dan juga Ibu mertuanya. Abi terlihat sangat kelaparan, karena memang ia belum sempat makan apapun dari kemarin malam.


"Lapar Nak Abi?" Tanya Irma tersenyum simpul melihat menantunya yang begitu lahap memakan makanannya.


"Iya Bu..!" Jawab Abi tersenyum malu.


Setelah selasai menyantap sarapannya, Abi langsung memulai pembicaraannya tentang Hana dengan sang Ibu mertua.


"Bu, Hana harus ke psikiater. Tapi aku bingung gimana mau bujuk dianya, tolong bantu aku Bu!" Pinta Abi mengawali pembicaraannya yang disambut oleh senyuman sang Ibu mertua.


"Ibu udah berbicara dengan Hana tadi dan dia mau untuk melakukan pengobatannya lagi!" Sahut Irma.


"Ibu tau Hana harus ke psikiater? Seingat aku, aku belum cerita ke Ibu kalo Hana harus konsultasi ke psikiater?" Tanya Abi bingung membuat Irma terkekeh.

__ADS_1


"Nak Abi lupa kalo Ibu ini Ibu kandungnya Hana? Tanpa dijelaskan pun Ibu sudah faham apa yang terjadi dengan Hana. Luka di tangan Hana bukan hal baru Nak, dulu Ibu sering mendapati luka-luka seperti itu. Gigitan, sayatan, benturan yang menyebabkan lebam di kepala atau bagian tubuh Hana lainnya Ibu udah gak aneh lagi. Di saat seperti Hana memang membutuhkan konseling dan terapi lagi bahkan mungkin juga obat-obatan yang kembali ia harus konsumsi lagi!" Irma mendesah berat saat menceritakan kenyataan tentang puterinya.


Melihat Abi terdiam dengan pandangan nanar membuat fikiran dan perasaan Irma terusik.


"Apa sekarang kamu menyesal Nak memperistri Hana dengan kekurangan dia yang seperti ini?" Tanya Irma mengejutkan lamunan Abi.


"Enggak Bu, enggak sama sekali! Aku hanya membayangkan betapa beratnya menjadi seorang Hana dan jujur Bu aku ngerasa aku ikut andil atas kondisi Hana saat ini. Dulu awal bertemu dengan Hana aku melihat Hana adalah sosok gadis yang ceria, bahagia, berani dan tanpa beban. Tapi ternyata Hana gadis yang rapuh Bu, teramat rapuh!" Ucap Abi berkaca-kaca mengingat perbedaan seorang Hana sebelum dan sesudah hidup bersamanya.


"Dan selama hidup sama aku, aku lebih sering membuatnya terluka, menangis, sakit hati. Aku nyesel Bu, aku nyesel memperlakukan Hana begitu buruk!" Lanjut Abi lagi.


"Hana itu bisa menjadi sosok yang kuat sekaligus rapuh! Sosok yang dewasa tapi juga kekanak-kanakan, tapi satu hal yang sangat Ibu syukuri Hana itu pemaaf dan bukan pendendam seberapa buruk pun orang lain memperlakukannya. Nak Abi lihat sendiri kan bagaimana sayangnya ia dengan Nak Abi, meskipun terkadang dia sering menceritakan prilaku Nak Abi padanya yang membuatnya menangis! Ibu cuma minta kamu tak perlu mengingat yang dulu-dulu, cukup perlakukan dia dengan baik mulai sekarang, bahkan saat ini Ibu yang mohon sama kamu bantu dia melewati masa beratnya. Semenjak ia keguguran Ibu tau Hana mulai kembali sakit, tolong temani dia dan bersabarlah menghadapinya. Ibu juga berharap kamu tidak pernah malu dengan kondisinya!".


***


Hari sudah memasuki sore, namun Daniel belum juga datang membuat Abi menggerutu kesal. Namun kekesalannya terpinggirkan ketika mengingat ucapan Ibu mertuanya jika Hana menyetujui untuk mau menemui psikiater membuat perasaannya begitu lega.


Dilihatnya sang istri masih terlelap usai melaksanakan sholat dzuhur tadi, wajah cantiknya sudah tak sepucat tadi malam. Hana pun sudah banyak berbicara dan berani menatapnya, ia juga mulai tersenyum lagi ketika berbicara membuat perasaannya semakin lega dibanding semalam.


"Bi..!" Sapa seseorang yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Dari mana aja sih lo hah? Jam segini baru dateng?" Sembur Abi penuh kekesalan menyambut Daniel.


"Sorry, pas gue udah sampe di apartemen bokap lo telfon suruh gue balik ke kantor lagi. Mau gak mau gue balik lagi ke kantor, di sana gue bantuin bokap lo ngurusin kerjaan yang lo tinggal baru selesai! Nih barang-barang yang lo minta. Hana gimana?" Daniel menyodorkan travel bag, ponsel serta ipad milik Abi.

__ADS_1


"Dia udah lebih mendingan, gue ganti baju dulu ya. Kalo dia bangun tolong jangan tanya-tanya tentang kecelakaan semalem atau pun luka di tangannya, lo ngerti kan?" Pinta Abi sebelum berlalu ke dalam toilet yang diangguki oleh Daniel.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2