My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Positif


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


"Assalamualaikum Mah.." sapa Hana saat memasuki kamar Kinan.


"Udah sampai Sayang, Mamah kira siangan kamu baru datang biar kita langsung berangkat ke mallnya. Sini duduk deket Mamah!" Kinan menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya.


"Hana pengen ngobrol banyak sama Mamah, jadi Hana cepet Dateng deh!" jawab Hana yang telah merebahkan dirinya dengan kepala berada di pangkun sang ibu mertua.


"Mau ngobrol apa sih, hm?".


"Mah, aku baru nyadar kalo aku udah dua bulan ini enggak haid!" Hana mendongakkan kepalanya ke arah sang Ibu mertua.


"Kamu udah tespek?" Kinan terlihat antusias mendengar informasi yang baru saja diberikan menantu cantiknya.


"Belum Mah, Hana baru ngeh sebelum ke sini. Tapi Mah, Hana enggak pusing, enggak mual, enggak muntah-muntah kok Mah. Masa iya Hana hamil?".


"Kamu ada pengen makan sesuatu enggak?" Kinan begitu memperhatikan Hana, menurutnya wajah Hana terlihat lebih bercahaya dan berat badan sang menantu pun sepertinya lebih berisi.


"Sering, kemarin aku baru aja makan asinan Betawi, beberapa hari yang lalu aku kepengen makan kwetiau goreng jam satu malem. Untung Kak Abi mau nemenin aku nyari!" Hana terkekeh mengingat bagaimana sang suami dengan sabar menemaninya malam itu.


"Mau ke Dokter Riana buat memastikan?" tawar Kinan semangat.


"Beli tes kehamilan dulu aja Mah, kalo nanti beneran positif hamil aku mau ke Ibu Dokter Riana nya sama Kak Abi" sahut Hana malu-malu.


"Buat jaga-jaga mulai sekarang kamu harus makan-makanan bergizi, jaga kesehatan, jangan makan sembarangan, jangan stress ya. Kalo beneran ada dedek di dalam dia udah ngerasa bahagia!" ucap Kinan membelai lembut rambut Hana.


***


Hana : "Kak Abi pulang jam berapa? Langsung ke Mansion aja ya Kak, aku mau nginep di sini!".


Hana memutuskan mengirim pesan pada suaminya agar langsung kembali ke Mansion, karena memang dirinya tiba-tiba ingin sekali menghabiskan waktu bersama Ibu mertuanya.


Abi : "Aku lembur Sayang, nanti aku langsung ke Mansion ya. Kamu mau dibawain apa?".

__ADS_1


Hana : "Lagi enggak pengen apa-apa, aku cuma pengen kelonan sama Kakak di kamar".


Abi : "Kode, hm?".


Hana : "Cuma kelonan, enggak lebih 😑😑!!!".


Abi seketika tertawa membaca pesan balasan istrinya, ia bisa membayangkan wajah membrengut sang istri yang juga pasti dihiasi semburat merahnya setiap merasa malu.


Abi : "Enggak usah nungguin aku pulang, langsung istirahat aja ya. Takut kamu sakit kalo nunggu aku di balkon kena angin malem. I love you 😘😘😘".


***


Hana terbangun ketika merasakan beban di perutnya yang ternyata tangan suami yang tengah terlelap sambil memeluknya, dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul empat subuh.


Dengan hati-hati Hana berusaha melepaskan lilitan tangan suaminya agar tidur sang suami tak terusik.


Ia pun lantas bergegas mengambil tes kehamilan yang ia beli kemarin, sungguh hatinya kini teramat sangat gugup.


Senyum Hana mengembang ketika hasil tes menunjukkan hasil positif seperti harapannya, tangis haru pun tak lagi bisa dirinya bendung serta ucapan syukur berkali-kali di dalam hatinya.


"Kak!" panggil Hana saat selesai dengan ritual mandinya dan menghampiri sang suami yang baru saja terbangun.


"Mandi enggak ajak-ajak nihh!" brengut Abi pura-pura kesal.


"Tutup mata deh, aku punya sesuatu buat kamu?" pinta Hana tersenyum lebar.


"Mau ngasih apaan, aku kan belum ulang tahun?" tanya Abi tetapi tetap menuruti permintaan istrinya.


Hana langsung menarik telapak tangan suaminya dan meletakan alat tes kehamilannya, "sekarang buka mata kamu!".


"Tes kehamilan? Positif? Punya siapa?" tanya Abi bingung membuat Hana terkekeh.


"Ya punya akulah, masa punya orang lain aku kasih ke kamu? Selamat ya Kak, kamu bakal jadi Ayah" ucap Hana penuh kebahagiaan, tetapi tidak dengan Abi yang masih mencoba mencerna setiap ucapan istrinya.


"Tunggu, tunggu .. Kok bisa kamu hamil? Bukannya kamu masih pasang IUD?" tanya Abi penuh selidik.


"Ak, aku .. aku udah lepas Kak" jawab Hana tak berani menatap mata suaminya.

__ADS_1


"Udah lepas? Kapan? Kok kamu enggak bilang sama aku?" suara Abi terdengar mulai kaku membuat Hana mulai gugup.


"Sebelum kita ke Turki!" jawab Hana masih tertunduk.


"Kenapa kamu enggak bilang sama aku?".


"Maaf Kak, kalo aku bilang pasti kamu gak bakal izinin aku kan?" Hana menatap sekilas wajah suaminya.


"Jelas gak bakal aku izinin, Dokter Riana bilang usia yang pas untuk kamu hamil lagi itu 23 atau enggak 24 tahun, sedangkan sekarang aja kamu belum genap 22 tahun Hana!" geram Abi mengusap wajahnya kasar.


"Tapi pas aku konsultasi sama Dokter Riana, secara mental aku siap kok buat hamil lagi. Kalo secara mental aku udah siap sekarang, buat apa aku harus nunggu sampe umur 23 tahun?" Hana mencoba memberikan penjelasan pada sang suami yang mulai diliputi amarah.


"Dan untuk keputusan sepenting ini kamu enggak melibatkan aku sama sekali? Hana, apa kamu masih marah sama aku? Apa kamu masih ada rasa dendam sama aku? Apa sebegitu gak pentingnya pendapat aku dalam kamu mengambil keputusan ini?" Abi terlihat begitu kecewa.


"Enggak gitu Kak--!".


"Waktu subuh udah mau habis, aku mau mandi. Pagi ini aku juga ada meeting penting, nanti biar Pak Hadi yang anter kamu pulang ke rumah!" potong Abi dingin, untuk kemudian langsung beranjak ke kamar mandi.


Hana bisa merasakan betul kemarahan dan kekecewaan suaminya, sungguh ia tak bermaksud untuk melukai hati sang suami. Ia hanya berniat untuk membahagiakan suaminya, ia ingin mulai membangun keluarga seutuhnya dengan adanya seorang anak, Hana ingin melupakan masa lalunya yang menyakitkan.


Tak terasa air mata Hana menetes, tatkala apa yang diharapkannya berbanding terbalik dengan apa yang didapatkannya ketika memberitahukan kabar kehamilannya pada sang suami.


Dan benar saja sepanjang pagi ini Abi selalu bersikap dingin padanya, membuat hati Hana begitu perih. Bahkan ketika Abi begitu terang-terangan melewatkan sarapan paginya di depan keluarga, Abi hanya mengecup sekilas dahi Hana untuk kemudian langsung berangkat ke kantornya.


Ini menjadi pertengkaran pertama mereka setelah malam naas itu, meskipun tak ada teriakan atau pun kekerasan yang dilakukan oleh Abi, tapi rasanya tetap menyakitkan untuk Hana melihat Abi bersikap tak sehangat seperti biasanya.


"Ada apa?" tanya Kinan saat menemani Hana tengah bersiap untuk pulang ke rumahnya.


"Kak Abi marah sama Hana, Mah!" jawab Hana dengan mata berkaca-kaca.


"Lho, kenapa emangnya?" tanya Kinan heran karena tak menyangka Abi akan bisa kembali marah pada istrinya.


"Mah, Hana positif hamil..!" Hana memutuskan memberitahukan kabar bahagianya terlebih dahulu.


"Alhamdulillah ya Allah, selamat Sayang!" sambut Kinan penuh syukur dan haru.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2