My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Menentukan Arah Dia Pulang


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, Abi yang memang tak biasa tidur awal semakin gelisah. Ia sudah terbiasa dengan hadirnya Hana di sebelah ranjangnya. Hana seakan menjadi sosok yang membuatnya tenang saat berdekatan, ia merasa sangat nyaman saat memeluk istrinya yang tertidur pulas di sebelahnya.


"Halah, masa bodohlah dia mau mikir apa juga. Gue susul aja lah ke bawah!" Celetuk Abi kemudian beranjak dari tempat tidurnya untuk menyusul istrinya.


Sampai di depan kamar tamu, ternyata pintu kamarnya di kunci oleh Hana. Makin kesal saja Abi dibuatnya, bahkan beberapa panggilan dari Raya pun tadi tak ditanggapinya sama sekali. Ia benar-benar membutuhkan Hana saat ini.


Tokk,, tokk,, tok,,


"Hana bukan dong!" Teriak Abi sambil terus mengetuk pintu.


"Kenapa Ka?" Tak butuh lama untuk Abi menunggu Hana membuka pintunya, karena Hana sebenarnya juga belum tidur. Ia masih asyik berchatting ria dengan kedua adik iparnya dan Hanum yang berada di satu grup chattingan.


"Gak bisa tidur, gue takut di kamar sendirian!" Ucap Abi saat Hana sudah membuka pintunya. Hana yang mendengar ucapan suaminya memincingkan matanya penuh kecurigaan.


"Ya elah Han, gue cuma udah terbiasa adanya lo. Gue gak minta yang macem-macem lagi deh, cuma mau ngelonin lo doang, udah kebiasaan ini!" Keluh Abi dengan wajah memelas membuat Hana sekuat tenaga menahan tawanya.


"Nanti Kaka kesiksa lagi deketan sama aku?" Sindir Hana telak.


"Enggak!! Udah yukk balik ke kamar, bobo bareng lagi, apa kata Bi Imah sama Mbak Dewi kalo nanti mereka ngeliat kita pisah ranjang begini?" Lagi Abi memasang wajah penuh permohonan.


"Kaka yakin nih?" Tanya Hana lebih ke arah menggoda suaminya, Abi hanya berdecih.


Tanpa menjawab apapun Abi langsung menggandeng tangan Hana dan menariknya untuk ikut dengannya kembali ke kamar mereka.


"Sok-sok an sihhh! Enak kan kalo gue udah nekat ngejauh. Hahaha..!" Ledek Hana puas di dalam hatinya.


Sesampainya di kamar Hana seperti biasa memasang guling-guling untuk menjadi pembatas tidur mereka.


Abi yang melihat Hana yang sibuk menyusun guling-guling itu pun langsung membuang guling-guling itu ke lantai.


"Lho kenapa dibuangin Ka guling-gulingnya?" Protes Hana.


Abi tak menghiraukan protes istrinya, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang kemudian menarik Hana ke dalam dekapannya.


"Gak usah dipakein pembatas lagi, toh besok pagi kita bangun selalu dalam keadaan pelukan. Jadi ngapain repot-repot sih!" Ucap Abi membelai lembut rambut Hana yang masih terikat.


"Ka..?" Panggil Hana, Abi hanya berdehem manyahuti panggilan istrinya.


"Kalo lagi begini aku ngerasa diperlakukan kayak istri beneran tau gak?" Ucap Hana.


"Lah emang lo istri beneran bukan bohongan!" Sahut Abi heran.


"Tapi kalo Kaka lagi mesra-mesraan di telepon sama Mbak Raya, Hana jadi ngerasa kalo Hana tuh simpenan Kaka!" Keluh Hana lirih, ada guratan luka saat Hana mengatakannya.

__ADS_1


Abi yang mendengar keluhan Hana hanya mampu menghela nafasnya berat, ia sendiri bingung dengan perasaannya. Apakah ia sudah jatuh cinta dengan Hana atau sekedar kasihan pada istrinya yang memiliki perasaan tulus untuknya.


"Aku boleh tanya gak Ka?" Tanya Hana, ia memainkan jari-jarinya untuk mengurangi kegugupannya.


"Apa?" Sahut Abi mulai memejamkan matanya.


"Bagi Ka Abi aku ini apa?" Tanya Hana lirih. Sontak pertanyaan Hana membuat mata Abi terbuka lagi.


"Istrilah, sebagai apa lagi?" Jawab Abi dengan nada ketus.


"Apa gak bisa Ka Abi ngelepas Mbak Raya?" Tanya Hana ragu-ragu.


"Bisa gak kita gak ngebahas ini terus, gue capek berdebat masalah ini Han. Biar buat saat ini kita jalani aja, mengalir aja dulu. Gue nyaman Han sama lo bahkan gue gelisah kalo jauh dari lo, gue udah terbiasa adanya lo. Tapi jujur gue gak bisa lepasin Raya, gue sayang dia Han. Hubungan gue sama dia pun udah terjalin lama gak mungkin gue ngelepas dia begitu aja dan dia udah nyerahin semuanya buat gue, berat Han! Tolong ngerti, gue masih bingung!" Jawab Abi gelisah.


"Maaf, aku gak bakal ngomongin ini lagi. Maaf udah bikin Kaka gak nyaman!" Ucap Hana, ia kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Abi.


Abi yang mengerti kekecewaan Hana langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Kasih gue waktu...!" Pintanya kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh Hana.


***


Di kediaman keluarga Raffan, Hana dan Abi baru saja tiba. Hana begitu senang kembali ke kediaman mertuanya itu, ia berlari ceria saat turun dari mobil menuju ke dalam mansion meninggalkan suaminya.


"Bahagia banget kayaknya, bawa kabar gembira kah?" Tanya Kinan.


"Kabar gembira apa maksudnya Mah?" Tanya Hana bingung.


"Yaa, siapa tau kamu bawa kabar kalo udah ada Abi junior di dalem perut kamu!" Jawab Kinan sembari mengelus perut rata Hana penuh harap.


"Gimana mau ada Abi Junior sih Mah, lah dianya aja belum mau aku garap!" Sahut Abi saat baru saja memasuki ruang keluarga.


Mendengar ucapan Abi semua yang berada di ruangan itu dibuat terkejut. Sulit dipercaya dalam sebulan usia pernikahan mereka, Hana mampu mempertahankan mahkotanya.


"Kalian pisah kamar?" Duga Kinan.


"Enggak, kita sekamar kok Mah!" Jawab Hana takut-takut.


"Kok bisa kamu gak digarap-garap sama suami kamu, padahal kan suami kamu tau sendiri kayak gimana?" Tanya Kinan heran.


"Kayak gimana, gimana sih Mah?" Kali ini Abi dibuat kikuk dengan pertanyaan Kinan.


"Halah.. Jangan sok polos kamu!" Sindir Kinan pada puteranya.

__ADS_1


"Hana masih takut Mah!" Jawab Hana menunduk wajah yang sudah sangat merah, ia tak menyangka bahwa urusan pribadinya akan dibahas di depan seluruh keluarga.


"Sudah sih Mah, jangan dibahas. Lihat tuh wajah Hana udah merah gitu, malu dia Mah. Mereka kan udah dewasa, pasti mereka punya pertimbangan sendiri. Apalagi Hana juga masih sekolah, mungkin dia masih ingin fokus dengan sekolahnya dulu!" Ucapan Rendra seakan menjadi penyelamat bagi Hana yang saat itu seakan ingin menghilang saja karena terlalu malu.


"Ya sudahlah, kalo begitu kalian masuk aja ke kamar. Istirahat sana, Mamah ada urusan diluar sama Papah dan Kakek. Nanti siang Insya Allah kita ketemu pas makan siang!" Ucap Kinan, kemudian meninggalkan mereka bersama Rendra dan Hafidz.


"Hana Ibu mau bicara sama kamu, ikut Ibu ke kamar ya Nak!" Pinta Irma sebelum beranjak dari duduknya.


"Sana temuin Ibu, gue mau ke kamar mau lanjut tidur!" Ucap Abi kemudian meninggalkan Hana.


"Bie, nanti kalo udah ngobrol sama Ibu, ke taman belakang yaa. Kita ngobrol-ngobrol, gue kangen!" Pinta Juna, Hana pun mengangguk kemudian menyusul Ibunya ke kamar.


"Bu..!" Sapa Hana saat tiba di dalam kamar.


"Sini sayang, duduk!" Irma menepuk-nepuk ranjangnya agar Hana duduk di hadapannya.


"Bener kamu belum melaksanakan kewajiban kamu sebagai istri?" Tanya Irma, yang dijawab oleh anggukan Hana.


"Apa Abi gak pernah meminta?" Lanjutnya lagi.


"Sering Bu, semalem juga dia marah sama Hana gara-gara masalah itu!" Jawab Hana lirih.


"Bagaimana sikap suami mu selama sebulan ini? Apa dia dingin ke kamu? Di galak ke kamu?" Tanya Irma lagi.


"Enggak Bu, Ka Abi selama ini baik sama Hana. Walaupun kadang suka marah-marah tapi masih batas sewajarnya. Sifat dia juga hangat Bu ke Hana, setiap malam kita sering cerita-cerita. Dia juga sering peluk-peluk, cium-cium Hana. Ka Abi perhatian banget Bu sama Hana, dia juga sering bantuin Hana kerjain tugas sekolah!" Jawab Hana panjang lebar.


"Apa kamu pernah nanyain perasaan dia ke kamu?" Irma masih terus menggali informasi puterinya.


"Dia bilang, dia nyaman sama Hana, dia udah terbiasa adanya Hana, dia juga sering gelisah kalo jauh dari Hana. Tapi Bu, yang pasti dia sendiri belum tau perasaan dia sendiri ke Hana, dia bingung. Karena..!" Hana agak ragu untuk menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan Raya pada Ibunya, ia tak mau membuat Irma menjadi kepikiran tentang masalah rumah tangganya.


"Suami kamu masih berhubungan dengan pacarnya?" Seperti mengerti fikiran Hana, Irma pun langsung menanyakan perihal pacar sang menantu. Hana sempat terdiam namun akhirnya ia menganggukan kepalanya pelan.


"Ka Abi seperti dihadapkan dua pilihan tersulit Bu antara aku dan Mbak Raya. Dia selalu minta Hana waktu dan bersabar sampai dia bisa menentukan pilihannya Bu. Semalem dia juga bilang ke Hana Bu bahwa gak akan mudah melepas Mbak Raya, dia dan Mbak Raya udah menjalin hubungan lama sekali, akan sangat sulit untuk dia melepaskan Mbak Raya!" Jawab Hana lesu.


"Apa itu alasan kamu untuk tidak menyerahkan diri kamu ke suami kamu?" Pertanyaan Irma langsung membuat Hana membulatkan matanya, tetapi ia pun mengakuinya.


"Ibu mengerti sekali posisi kamu saat ini, gak akan mudah memang menyerahkan hidup kita pada seseorang yang kita sendiri tau dia belum bisa menentukan sendiri pilihan hatinya. Tetapi sayang mendengar kamu menceritakan bagaimana sikap dan sifat suami kamu selama sebulan ini ke kamu, Ibu yakin dia sebenarnya sudah menaruh hati sama kamu. Pasrahkan pada Allah Nak, tunaikan kewajiban kamu. Buat dia yakin kamu lah tempat yang layak untuk dia pulang, karena Ibu tau saat ini ia hanya bingung menentukan arah dia untuk pulang, ke kamu atau ke Raya?" Hana menitikan air mata mendengar nasehat Ibunya.


Semua nasehat sang Ibu sudah ia cerna dengan baik, kini ia hanya akan mempersiapkan dirinya untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada sang suami. Ia hanya ingin menyakinkan Abi bahwa dirinya lah tempat yang layak untuk sang suami pulang, kembali padanya dan menghabiskan hari-hari bersama tanpa hadirnya orang ketiga.


"Doakan Hana Bu!" Pinta Hana kemudian memeluk sang Ibu erat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2