My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Kedatangan Raya


__ADS_3

Sepeninggalan Dewi ke dapur, Hana kembali berucap " Kalo lo ke sini cuma mau nge banggain tanggal lahir lo yang masih jadi pass code apartemen gue, gak udah terlalu gede rasa Mbak. Itu semua gak penting, lagian gak lucu kan kalo pass code apartemen ini pake tanggal lahir gue atau pun Ka Abi, gampang ditebak. Kalo pake tanggal lahir lo kan gak bakal ada yang nyangka, lebih aman karena orang gak tau lo pernah ada hubungan sama SUAMI gue!" Sindir Hana telak.


"Tapi kenyataannya yang gue lihat, apartemen di sini gak banyak berubah semenjak terakhir gue ke sini, masih sama seperti terakhir gue pernah tidur di sini!" Raya hanya tersenyum miring mendengar sindirian Hana, ia kemudian juga berjalan keliling seputar apartemen membuat Hana mau tak mau mengikuti langkah Raya.


"Dan lo tau, setiap sudut tempat ini gak pernah luput jadi tempat gue sama Abi bercinta. Di sofa itu, di dapur, di meja makan apalagi di kamar. Andai aja tembok-tembok di sini dan semua barang di sini bisa ngomong pasti mereka bakal nyeritain betapa dalamnya hubungan gue sama Abi, dan lo lihat sendiri barang-barang di sini gak ada yang dia ganti, itu artinya dia gak pernah mau ngelepas kenangan antara gue dan dia!" Raya semakin tak tau malu mengumbar aibnya.


"Tapi sayangnya, meja makan gue udah ganti tuh. Itu artinya emang belum saatnya yang lain ganti bukan berarti Ka Abi masih berat ngelepas kenangan di tiap barang yang ada di sini!" Bohong jika setiap omongan Raya tak mempengaruhi mentalnya, karena saat ini hatinya teramat sakit membayangkan suaminya tengah bergumul dengan perempuan yang ada di depan matanya saat ini.


Mendengar itu Raya hanya tersenyum miring, meski tetap bersikap tenang Raya tau betul hati Hana sedang bergemuruh hebat.


"Dan lo tau, dimana tempat paling favorit kami bercinta selain di kamar, di sofa itu. Karena tiap Abi gak tahan buat mencumbu gue, sofa itulah yang bakal menjadi tempat melepas semua hasrat dia ke gue!" Tunjuk Raya dengan bangga ke arah sofa panjang yang selama ini Hana tiduri saat menunggu Abi atau saat terlalu mengantuk setelah menonton tv.


"Menjijikan, dan gue bisa pastikan setelah ini gue bakal ganti semua barang-barang saksi perbuatan dosa lo sama suami gue. Emhh.. Kalo lo sendiri mau tau gak dimana tempat favorit gue sama Ka Abi?" Ucap Hana tak mau kalah.


Melihat lawan bicaranya hanya diam saja, Hana berinisiatif untuk mendekati Raya dan melanjutkan kata-katanya, "Tapi sayangnya tempat favorit kami bukan di area unit apartemen kami ini dan sampe kapan pun bahkan lo sendiri gak bisa masuk ke dalamnya karena tempat yang gue maksud itu adalah kamar Ka Abi di mansion orang tuanya! Lo pernah bercinta di sana? Bahkan masuk ke kamar Ka Abi pun gue rasa belum pernah, iya kan?".


Seketika raut wajah Raya berubah, ia kalah telak dengan ucapan Hana yang saat ini tengah tersenyum bangga, senyum yang seakan sedang menghinanya.


Merasa tak bisa membalikan ucapan Hana, dengan langkah tergesa Raya meninggalkan apartemen mantan kekasihnya itu. Rasa marah dan juga dipermalukan membuat Raya semakin menyimpan dendam pada Hana, entah setelah ini apalagi yang ia rencanakan.


Hana hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tubuhnya luruh di atas lantai apartemen yang dingin. Ia berusaha meredam suara tangisnya, tak menyangka jika perempuan yang paling ingin ia hindari dengan berani kembali masuk ke apartemennya dan menceritakan hal-hal yang menjijikan yang pernah mereka lakukan. Hal tersebut benar-benar membuat Hana tertekan, meski mencoba meyakinkan diri jika semua itu telah berlalu, semua yang diceritakan Raya hanyalah kesalahan suaminya yang lalu. Tapi tetap saja untuk Hana, menyakitkan...


Dewi yang sedari tadi memperhatikan Nona mudanya langsung berlari saat melihat tubuh majikannya terduduk di lantai, khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada sang majikan.


"Non Hana gak apa-apa? Ada yang sakit?" Tanya Dewi penuh kekhawatiran, ia mendudukan diri mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hana dan memeluk Hana.


"Hana mau ke kamar Mbak, tolong bantu Hana ya Mbak!" Pinta Hana terisak.


Sesampainya di kamar, Dewi langsung membatu majikannya untuk merebahkan tubuhnya. Dewi mulai khawatir karena Hana terlihat pucat lagi dan masih terus saja menangis.

__ADS_1


Meskipun Dewi sering melihat Hana menangis, tetap aja ia selalu merasa was-was terlebih lagi sang majikan menangis setelah kunjungan dari mantan kekasih sang majikan pria.


"Non Hana mau makan siang? Biar Dewi suapin, Bibi Imah lagi ke supermarket belanja bulanan!" Tawar Dewi.


"Aku mau istirahat aja Mbak. Oh iya, Mbak Dewi gak usah cerita ke Ka Abi ya kalo Mbak Raya tadi dateng ke sini!" Mohon Hana pada Dewi, Dewi hanya menganggukan kepalanya.


"Non mau minum?" Tawar Dewi lagi, Hana pun mengangguk.


Hana langsung mendudukan dirinya saat Dewi menyodorkan gelas untuknya, dengan tangan gemetar Hana menerima gelas dari Dewi dan meminumnya.


"Makasih ya Mbak!" Merasa cukup, Hana memberikan gelasnya kembali pada Dewi.


"Ada yang sakit Non?" Tanya Dewi khawatir.


"Perut aku kram, sakit!" Jawab Hana jujur dengan suara lemah.


"Mau dipanggilin Dokter?" Abi memang memberikan kontak Riana pada semua asisten rumah tangganya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu disaat dirinya jauh dari Hana.


"Kalo begitu saya ke bawah dulu ya Non, mungkin Bi Imah udah dateng. Nanti kalo butuh apa-apa panggil saya aja ya!" Pamit Dewi yang diangguki oleh Hana.


Setengah jam sudah Hana merebahkan dirinya di atas tempat tidur, fikirannya pun tak lepas dari omongan Raya tadi membuatnya sesak. Perutnya juga tak kunjung membaik, justru ia merasa semakin sakit. Namun sejauh ini ia masih bisa menahan rasa sakitnya.


Hana begitu senang saat dering ponsel miliknya berbunyi, karena dipastikan suaminya lah yang menghubunginya, orang yang sangat ia butuhkan saat ini.


Dengan tertatih Hana berjalan ke arah meja riasnya, menyetel ponselnya agar lebih nyaman untuk bervideo call an dengan sang suami.


"Assalamualaikum..!" Sapa Hana saat melihat wajah suaminya di layar ponselnya.


"Wa'alaikumsalam Cantik, lagi apa? Masih sedih?" Tanya Abi, Hana hanya menggeleng.

__ADS_1


"Aku usahain gak sampe nginep kok di Bandung, semoga malam aku udah sampe di Jakarta ya! Angga udah dateng belum?" Tanya Abi menatap lekat wajah Hana.


"Emang Mas Angga mau dateng? Ada apa?" Hana balik justru balik bertanya dengan suara lemah.


"Tadi aku emang minta tolong sama dia buat beliin cake favorit kamu klo gak sibuk, dia sih bilangnya oke! Kamu sakit? Kok lemes gitu suaranya?" Abi bisa menangkap betul nada suara istrinya.


"Perut aku kram, agak sakit!" Jawab Hana jujur.


"Mau ditelfonin Dokter Riana?" Tawar Abi, namun Hana menggelengkan kepalanya.


"Ka..! Emhh.. Pass code apartemen kita aku boleh ubah ya? Sama aku mau ganti barang-barang di apartemen kita sama yang baru, boleh?" Pinta Hana dengan suara bergetar menahan sakit yang di perutnya yang seakan makin menjadi.


"Boleh, ubah aja. Suka-suka kamu Sayang mau kamu atur apartemen kita kayak gimana!" Meski pun sedikit aneh dengan permintaan istrinya, namun Abi lebih memilih untuk meng iya kan kemauan istrinya.


Saat ini fokus Abi hanya pada wajah Hana yang semakin pucat, juga suara yang bergetar seakan-akan sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Ka..!" Panggil Hana lagi dengan suara yang semakin lirih namun masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran Abi.


"Kenapa Sayang?" Tanya Abi terus menerus menatap intens wajah istrinya.


"Aku mau kita pindah dari apartemen, aku mau tinggal di sebuah rumah yang asri, yang ada tamannya, yang banyak bunga-bunganya. Gak mau di bangunan kayak gini, boleh?" Pinta Hana sambil sesekali mengucapkan istighfar dan memejamkan matanya.


"Iya Sayang, pasti kita pindah dari apartemen, tapi sabar ya!" Jawab Abi membuat Hana tersenyum dan mengangguk.


"Perut aku sakit, aku mau ke toilet dulu ya nanti disambung lagi!" Izin Hana.


"Gak usah dimatiin, aku tungguin kamu sampe selesai toh briefing aku masih lama kok kamu gak usah buru-buru!" Perasaan Abi mulai tak enak melihat kondisi istrinya.


Bahkan ketika Hana mengangguk kemudian beranjak ke toilet dengan langkah tertatih dan tangan kanan yang terus menerus memegang bagian perutnya, membuat Abi semakin yakin bahwa ada yang tak beres dengan istrinya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2