
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Abi dalam perjalanan pulang ke rumahnya siang ini, setelah baru saja ia mengunjungi rumah sakit dimana Dokter Riana sedang bertugas.
Abi pergi menemui Dokter kandungan istrinya atas saran dari Irene yang begitu kesal dan menggebu-gebu menasehati dirinya.
"Elo tuh ya Bi, bego banget. Elo pikir setiap kehamilan itu sama, gue bukannya mau nyepelein dengan apa yang udah terjadi sama Hana tapi kalo Hana sendiri yakin dia udah bisa mengatasi traumanya, yakin kalo dia siap dengan kehamilannya, kenapa justru elo yang gusar?".
"Elo pernah mikir enggak, mungkin sebenernya Hana baik-baik aja dengan kehamilan dia yang sekarang tapi gara-gara sikap elo yang malah begini ke dia justru ngebuat dia stress dan malah bakal beresiko buat dia dan janinnya. Perasaan perempuan hamil itu sensitif Bi, gampang stress. Mungkin di depan Lo dia kelihatan baik-baik aja, tapi gimana di belakang elo, elo yakin dia juga baik-baik aja?".
"Sekarang lebih baik elo temuin dokter kandungan istri elo, tanyakan sedetail mungkin tentang kondisi istri elo. Dan gue yakin Hana punya alasan pasti kenapa dia memutuskan buat segera hamil!".
Dan benar saja ucapan yang sama seperti sepupunya juga diucapkan oleh Dokter Riana, bahkan Dokter Riana juga sama kesalnya dengan Irene mengetahui bagaimana dirinya bersikap pada Hana.
"Saya tidak tahu alasan Hana belum juga memeriksakan dirinya ke saya, tetapi yang jelas Hana harus sesegera mungkin memeriksakan kandungannya agar saya bisa melihat bagaimana kondisi dirinya dan janinnya karena kita sendiri tahu Hana itu istimewa dengan kondisinya selama ini. Saya harap Mas Abi bisa sesegera mungkin mengajak Hana ke sini!".
"Dan saya bisa pastikan jika saat Hana datang untuk berkonsultasi dan akhirnya memutuskan untuk melepas IUD nya, saya sama sekali tidak melihat kepanikan Hana berhadapan dengan berbagai alat medis seperti dulu. Bahkan saat Hana melalui proses pelepasan, dia benar-benar tenang. Sedikit gugup memang, tapi itu wajar. Orang yang tak memiliki trauma seperti Hana juga gugup kok, maka dari itu saya pun yakin jika Hana siap untuk kembali mengandung!".
Abi juga semakin merasa bersalah saat dia menghubungi Kinan untuk menanyakan mengapa Hana belum juga memeriksakan dirinya dan kandungannya, dan jawaban dari Kinan sungguh membuatnya dilanda rasa bersalah yang teramat sangat karena telah mengabaikan istrinya.
__ADS_1
"Hana pengennya diantar kamu ke Dokter Riana, jadi mungkin dia belum periksa sampai sekarang karena nungguin kamu reda marahnya. Heran Mamah sama kamu, istri hamil bukan diperhatiin, dibahagiain ini malah dikasih beban pikiran terus sama sikap kamu!".
***
Sesampainya di rumah, Abi yang langsung ingin segera ke kamar bertemu Imah dan Dewi yang tengah membersihkan meja.
"Hana dimana Bi?".
"Non Hana di kamarnya Den masih tidur, baru aja Bibi lihat. Tadinya Bibi mau ajak makan siang, Non Hana belum makan siang sama sekali soalnya. Selesai sholat Dzuhur langsung tidur, dia bilang kepalanya agak sedikit pusing!" jawab Imah dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Belum makan? Emhh.. Bibi bisa tolong aku hangatkan makanannya, biar aku bawa ke kamar nanti!" pinta Abi sopan yang diangguki oleh Imah.
Selagi menunggu Imah menyiapkan makanan, Abi memutuskan untuk membuat air perasan jeruk hangat untuk dirinya dan sang istri, karena beberapa hari ini dia melihat Hana sering meminumnya setiap pagi.
"Makannya gimana Bi?" tanya Abi sungguh ingin tahu karena memang beberapa hari ini karena sikap bodohnya ia tak mengerti sama sekali keadaan istrinya.
"Alhamdulillah makannya masih bisa masuk Den, apalagi kalo sesuai dengan yang dia pengen bakal banyak makannya. Kayak hari ini dia pengen banget makan ala-ala masakan Padang, pengen makan rendang sama sambel ijo katanya!" jawab Imah penuh kebahagiaan.
Abi yang melihat Imah begitu bahagia mengurusi istrinya begitu tersentil, bagaimana bisa orang lain begitu senang menyambut kehamilan sang istri sedang dirinya malah begitu cuek dengan sang istri.
"Makasih ya Bi udah mau ngurusin Hana!" ucap Abi tulus.
"Bibi senang ngurus Non Hana, Den. Non Hana perempuan baik, sopan enggak pernah sekali pun marah sama Bibi. Bibi udah menganggap Non Hana seperti Puteri Bibi sendiri karena Non Hana benar-benar memperlakukan Bibi sangat baik dan sopan selayaknya anak memperlakukan ibunya--!" Imah begitu tulus mengucapkannya.
__ADS_1
"Bibi harap Den Abi sabar sama Non Hana, beberapa hari ini sejak Den Abi marah sama Non Hana, dia sering nangis kalo lagi sendirian, sering bengong enggak seceria biasanya. Paling kalo ada temennya, Nyonya Kinan, atau Tuan besar telpon baru deh Non Hana ceria, selebihnya dia sering bengong Den. Kasihan!" sungguh Abi langsung mngutuki sikapnya dalam beberapa hari ini.
"Udah siap Den, ayo Bibi bantu antar ke kamar!".
Di kamar, Imah dan Abi langsung menyimpan kedua nampan di atas meja. Imah pun langsung permisi setelah menyelesaikan tugasnya, sedang Abi langsung menghampiri ranjang dimana Hana masih lelap dalam tidurnya.
Abi ikut membaringkan dirinya kemudian menarik pelan tubuh kecil istrinya ke dalam dekapannya, mengecupi terus menerus puncak kepala sang istri dan membelai lembut perut rata sang istri.
Gerakan lembut serta aroma tubuh maskulin suaminya yang teramat sangat dia rindukan akhirnya mengusik tidur lelap Hana, dengan perlahan matanya pun terbuka untuk memastikan bahwa benar seseorang yang tengah mendekapnya adalah suaminya.
"Kakak udah pulang?" menjadi pertanyaan pertama saat Hana telah benar-benar bangun dari tidurnya.
"Udah bangun, hm?" Abi mengecup sekilas bibir merah muda istrinya.
Hana langsung bangun dan duduk menghadap suaminya, ia menangkup kedua telapak tangannya pada dua sisi wajah tegas sang suami, "Kakak udah enggak marah lagi sama aku?".
Sungguh hati Abi terasa sesak melihat kepolosan dan ketulusan istrinya, bahkan ia langsung menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya ketika melihat air mata sang istri luruh di pipi putihnya.
"Maafin Hana udah ngambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Kakak, Hana tau Hana salah udah melukai harga diri Kakak. Hana minta maaf!" Isak Hana semakin menjadi di dalam pelukan suaminya.
"Kamu enggak salah Sayang, aku yang bodoh mementingkan ego ku tanpa memperdulikan kondisi kamu!" sahut Abi semakin mendekap tubuh yang tengah naik turun akibat menangis.
Abi menjauhkan wajah Hana untuk kemudian menangkup wajah cantik yang bersimbah air mata dengan telapak tangannya yang lebar, "makan yuk, kamu belum makan siang kan? Kasihan Dedek pasti udah laper banget!" ajak Abi mengusap air mata sang istri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=