
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
"Selamat pagi Pak" sapa Daniel saat mereka bertemu di parkiran yang dikhususkan untuk para petinggi kantor perusahaannya.
"Pagi" sahut Abi penuh wibawa sambil terus melangkahkan kakinya memasuki lift khusus untuk dirinya.
"Tadi malam baik-baik saja kan Pak semua?" Ledek Daniel.
"Emang brengsek lo! Tau enggak semalem bini gue langsung nelfon gue, ngamuk-ngamuk dia. Ngomong apa aja lo ke dia?" Sembur Abi tak lagi memperlihatkan sosok seorang pemimpin perusahaan.
"Ngomong apa? Gue enggak ngomong apa-apa?" Elak Daniel dengan senyum yang ditahan-tahan.
"Halah, bu****** gak mungkin dia langsung nyembur gue kalo elo gak ngelebih-lebihin omongan?" Sembur Abi semakin jengah dengan sikap sok polos yang diperlihatkan sahabatnya saat ini.
"Tapi bener ye Bi, bini lo kalo ngomel, cemburu masih sama kayak dulu, horror!" Seloroh Daniel kemudian terbahak-bahak mengingat betapa menyeramkannya Hana tadi malam.
"Elo tau begitu masih aja lo pancing-pancing!" Kesal Abi.
"Semalem Hana bilang apa aja Bi?" Tanya Daniel penasaran, namun karena mereka sudah tiba di lantai menuju ruangan Abi, Abi pun tak menanggapi pertanyaan sahabatnya tersebut dan kembali ke setelan awalnya setiap berhadapan dengan para karyawannya, dingin, tegas dan berwibawa.
"Selamat pagi Pak Abimanyu?" Sapa Irene.
"Pagi, persiapan meeting bagaimana? Tanya Abi menghentikan sejenak di meja sekretarisnya.
"Sudah siap Pak, para anggota rapat semua juga sudah datang. Setengah jam lagi kita akan mulai rapatnya" Jawab Irene percaya diri.
"Bagus, masih ada waktu. Kamu bisa tolong buatkan saya kopi hitam seperti biasa? Dan ini oleh-oleh dari Amerika untuk kamu dan Romeo!" Pinta Abi, kemudian mengangsurkan dua paperbag pada sekretarisnya.
"Wahh terima kasih Pak, Romeo pasti senang dapat oleh-oleh Captain American action figure limited edition ini. Pengen banget soalnya!" Ucap Irene berbinar.
"Harus senenglah, perjuangan ini dapetinnya. Pantesan elu berisik nge wa in gue mulu biar gak lupa bawa tuh boneka?" Sembur Abi pada adik sepupunya tersebut yang dibalas dengan cengiran sang adik.
"Nyengir mulu lo, awas tuh gigi kering. Udah sana bikinin gue kopi!" Perintah Abi kemudian melangkah masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Gue juga ya Ren, pake susu!" Pinta Daniel kemudian ikut masuk ke dalam ruangan Abi.
"Ayo dong Bi cerita, Hana ngomong apa aja semalem?" Tanya Daniel masih aja penasaran.
"Ngintrogasi gue tentang Irene, lagian lo mah ya bukannya ngadem-ngademin Hana malah bikin panas dia!" Kesal Abi.
"Tapi seneng kan lo bisa telfonan?" Sindir Daniel, membuat Abi langsung menatap lekat sahabatnya.
"Thanks Bro!" Ucap Abi langsung memeluk tubuh sahabatnya yang telah membantu mengobati kerinduannya terhadap istrinya.
"Hana emang harus dipancing-pancing dulu Bi, lihatkan gara-gara perasaan cemburu dia punya keberanian buat nelfon elo!" Sahut Daniel menyambut pelukan sahabatnya itu.
***
"Kakak hari ini lembur?" Tanya Hana melalui sambungan telfon pada saat Abi baru saja akan istirahat siang.
"Enggak kayaknya, Insya Allah sebelum maghrib udah sampe di mansion. Mau dibawain sesuatu?" Tawar Abi sumringah.
"Bakso, boleh?" Izin Hana malu-malu.
"Boleh. Mau berapa bungkus?" Tawar Abi lagi.
"Siap Nyonya!" Sahut Abi jenaka membuat keduanya terkekeh.
"Sekarang udah berani telfon? Udah berani denger suara aku?" Tanya Abi lagi setelah cukup lama mereka terdiam.
"Iya, semalem aku baik-baik aja habis telfon Kak Abi. Aku nyoba lagi sekarang dan aku gak takut sama sekali denger suara Kakak kok!" Jawab Hana penuh semangat.
"Mau coba video call an?" Tawar Abi.
"Belum siap, masih gugup, masih takut!" Sahut Hana dengan suara bergetar.
"Cuma mau dibawain baso aja, gak mau dibawain yang lainnya?" Abi langsung mengalihkan pembicaraan saat menangkap suara bergetar istrinya.
"Apa ya? Sebenernya aku kangen banyak makanan pinggir jalan, sampe bingung sendiri. Tapi kayaknya sekarang mah paling pengen bakso dulu aja!".
"Kalo gitu kapan-kapan kita wisata kulineran ya?" Ajak Abi.
__ADS_1
"Insya Allah ya Kak, semoga aku cepet membaik. Kita jalan-jalan, makan-makan, nonton, belanja, liburan__" sahut Hana bersemangat, namun harus rela kalimatnya terpotong ketika Abi menyelak ucapannya yang membuat pipinya langsung merona.
"Bulan madu juga..".
***
Waktu terus berjalan seperti biasa, Hana yang masih takut berhadapan secara langsung dengan Abi, membuat Abi mulai dilanda frustasi, tapi ia tetap sabar menghadapinya terlebih keberanian Hana meskipun melalui sambungan telfon menjadi obat rindu tersendiri untuknya dan juga penyemangatnya.
Seperti malam ini, usai makan malam Abi tengah menghadapi kemarahan istrinya karena tak mengizinkan Abi untuk terbang ke Bali. Hana merasa takut jika pesawat Abi kembali bermasalah seperti pesawat yang Abi tumpangi ketika pulang dari negeri Paman Sam dua minggu lalu.
"Pokoknya Kakak jangan pergi kemana-mana dulu, aku takut pesawat Kakak bermasalah lagi kayak waktu itu!" Oceh Hana kesal.
"Masa iya setiap pesawat yang bawa aku bakal bermasalah Sayang, ya enggak lah!" Sahut Abi terkekeh.
"Lagian Kak Abi kan baru dua minggu di Jakarta, masa harus pergi-pergi lagi sih?" Protes Hana.
"Ya Abis gimana, ada kerjaan yang harus aku selesaiin di sana. Nanti kalo gak cepet-cepet aku kerjain dan enggak bikin laporan ke GrandPa, nanti Beliau marah. Atau kamu mau ikut sekalian bulan madu jilid dua?" Goda Abi, dan ia sangat yakin jika wajah cantik istrinya saat ini tengah bersemu merah. Ahh andai ia bisa melihatnya langsung semburat merah pipi istrinya yang selalu menjadi favoritnya itu betapa bahagia dirinya.
"Belum berani" Lirih Hana.
"Nanti selama aku di Bali, aku udah bilang ke Angga supaya siap nemenin kamu jalan-jalan kemana pun kamu mau, jadi kamu gak usah ngerasa kesepian lagi!" Ucap Abi.
"Kakak berapa lama di sana?" Tanya Hana sedih.
"Paling cepet seminggu, paling lama sepuluh hari. Kamu mau dibawain apa?".
"Enggak usah, makasih!" Suara Hana mulai terdengar lesu.
"Nanti kalo aku di sana, kita video call an ya. Kita coba kamu masih takut apa enggak. Siapa tau aku jauh kamu berani video call an, aku kangen banget sama kamu!" Pinta Abi sungguh-sungguh.
"Iya, nanti aku coba. Semoga aja aku berani!" Sahut Hana.
"Harus berani dong, istriku kan perempuan hebat, perempuan kuat pasti berani lah. Emang enggak kangen sama wajah tampan suami kamu ini?" Goda Abi.
"Idihh Kak Abi narsis ih!" Cibir Hana membuat Abi tergelak.
"Atau kamu kangennya sama si Perkasa?" Goda Abi lagi lebih menjurus.
__ADS_1
"Kak Abi ihh mesum banget deh!" Teriak Hana dan langsung memutuskan sambungan telfon mereka membuat Abi semakin terbahak-bahak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=