
Setelah melepas keberangkatan suaminya dengan sedikit drama dan air mata, akhirnya Hana mulai bisa menguasai dirinya meski masih dengan sesegukan sisa dari tangisannya.
Hana seakan berat melepaskan keberangkatan Abi, aneh memang dia yang biasanya baik-baik saja setiap melepas kepergian suaminya kali ini justru merasa tak rela untuk berjauhan dengan suaminya.
"Mau makan Non Hana?" Tanya Bi Imah saat melihat Hana sudah berada di meja makan duduk di kursinya, terlihat Hana masih dengan sesegukan dan sisa-sisa tangisnya.
"Hana belum laper, Bi!" Jawab Hana mengelap air matanya yang masih setia luruh di pipinya.
"Tadi Den Abi minta sama Bibi suruh perhatiin makan Non Hana, kata Den Abi seharian ini makan Non Hana kurang. Bibi siapin ya?" Tawar Bi Imah lagi, namun Hana tetap menggeleng.
"Atau Non Hana mau Bibi buatin apa gitu?" Imah tak patah semangat untuk merayu majikan mudanya.
"Jus alpukat aja deh Bi, tolong ya!" Sahut Hana sopan.
"Bentar yaa Bibi buatin..!" Imah pun beranjak dari kursinya kemudian mulai membuatkan pesanan Hana.
Tak sampai 10 menit jus pesanan Hana sudah jadi, Imah menyerahkan jus tersebut kemudian hendak kembali ke dapur, namun dilarang oleh Hana.
"Temenin Hana sebentar ya Bi!" Pinta Hana menggelayutkan tangannya di lengan Imah. Imah yang mengerti suasana majikannya pun mengiyakan dan langsung duduk di sebelah Hana.
"Bi Imah udah kerja di sini dari Ka Abi kecil kan ya?" Tanya Hana kemudian menyesap jus alpukatnya.
"Iya Non, sejak Den Abi umur lima tahun. Kecilan Den Abi emang Bibi yang pegang Non!" Jawab Imah dengan bangga.
"Ceritain tentang kecilan Ka Abi dong Bi, Hana pengen tau kecilan dia!" Pinta Hana dengan wajah memelas membuat Imah tersenyum lucu.
Imah pun mulai menceritakan masa kecil Abi, seorang anak laki-laki tampan yang kenakalannya luar biasa tetapi juga seorang anak yang penyayang. Abi juga seorang pelajar yang sangat pandai, tetapi seperti hukum alam anak pintar itu terkadang memiliki sifat yang luar biasa nakalnya.
Tak ada satu hari pun tanpa dia membuat masalah, hingga membuat kedua orang tuanya kebingungan menghadapi tingkah ajaib Abi. Terkadang jika sudah begitu, orang tua Abi akan menyerah dan meminta Imah untuk coba mengendalikan kenakalan seorang Abi karena entah mengapa Abi dahulu lebih menurut padanya daripada pada orang tuanya.
Abi memiliki sifat yang berbeda dengan kedua saudaranya, sedari kecil ia memiliki tingkat emosi di atas rata-rata, tak segan-segan mengamuk jika merasa terusik atau pun ada orang lain yang mengganggu miliknya, namun sebenarnya Abi sangat penyayangan hanya saja mudah meluapkan amarahnya. Sering berprilaku impulsif hingga pada akhirnya terkadang dia sering merasakan penyesalan.
__ADS_1
Imah juga menjelaskan jika Abi juga seorang yang sangat penyayang, jika ia sudah menyayangi seseorang ia akan menjaganya dengan sepenuh hati.
Abi juga seorang yang bisa berteman dengan siapapun tanpa memperdulikan status sosialnya sedari kecil. Bahkan saat SMA, meski ia bersekolah di tempat yang mahal dan berstandar internasional Abi juga memiliki banyak teman dari sekolah biasa, karena beberapa blok dari sekolahnya terdapat sekolah SMA negeri yang Abi sering sekali bergaul dengan siswa dan siswi di sana.
Mendengar cerita Imah selalu membuat Hana tersenyum, ia sekarang tahu alasan bahwa lingkaran pertemanan suaminya sangat luas adalah karena Abi seorang yang tak terlalu memperdulikan status sosialnya.
"Makanya Bibi harap Non Hana sabar ya kalo-kalo kena marah sama Den Abi, karena sebenernya Den Abi itu baik kok dan Bibi yakin Den Abi tuh sayang banget sama Non Hana. Tadi aja sebelum berangkat, dia ngewanti-wanti Bibi buat merhatiin makannya Non Hana, bahkan juga nanya Bibi bisa bikin bakso enggak, Non Hana suka bakso soalnya kata dia!" Ucap Bi Imah tertawa pelan membuat wajah Hana seketika bersemu.
"Ka Abi bikin aku malu aja..!" Hana benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mengetahui jika Abi seperhatian itu dengannya.
"Tadi pas Non Hana tidur juga, Den Abi sempet nelfon Ibu Non Hana di depan Bibi. Nanya-nanya makanan kesukaan Non Hana apa aja, sering gak nafsu makan Non Hana naik turun terus kalo lagi gak nafsu makan biasanya harus gimana. Seperhatian itu lho Non, Den Abi sama Non Hana!" Cerita Imah membuat Hana semakin merona saja.
***
Jam 10 malam Hana masih menanti Abi untuk menghubunginya karena sampai sekarang belum sama sekali ada pesan atau pun telfon dari suaminya itu.
Hana yang sempat dibuat tersanjung dengan cerita Imah, seketika berubah menjadi kesal setelah sampai saat ini sang suami belum juga mengabarinya.
Hingga saat matanya menangkap kaos yang tadi siang digunakan suaminya masih teronggok di atas sofa, Hana pun menghampiri sofa tersebut dan mengambil kaos itu.
Dihirupnya dalam-dalam aroma maskulin suaminya yang masih tertinggal di kaos tersebut. Hana yang akhir-akhir ini menemukan kenyaman setiap menghirup aroma maskulin tubuh suaminya pun mendapat ide untuk memakai kaos yang tadi siang dipakai suaminya.
Ia menertawakan dirinya karena merasa lucu saat melihat tampilannya dari pantulan cermin, kaos yang sangat kebesaran di tubuhnya itu membuatnya seakan tenggelam dan terlihat semakin kecil, hingga suara dering ponsel mengagetkannya dan menghentikan kegiatannya di depan cermin.
"Akhirnya..!" Buru-buru Hana menghampiri ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya.
"Inget ngabarin istri, hah?" Gertak Hana saat wajah tampan sang suami sudah tampil di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, Cantik!" Bukannya menyahuti kekesalan sang istri, Abi justru memberikan salam atau mungkin lebih tepatnya memberi sindiran pada istrinya.
"Wa'alaikumsalam..!" Jawab Hana ketus membuat Abi terkekeh.
__ADS_1
"Maaf ya baru sempet ngabarin, sampe sini aku langsung mulai syuting. Gak pake nunggu sebentar atau makan dulu, pokoknya langsung dihajar sama kerjaan. Ini aja aku masih di lokasi, baru break sama makan!" Ucap Abi sambil menunjukkan box kardus bertuliskan nama sebuah perusahaan catering.
"Kamu baru sempet makan?" Hana terlihat murung saat mengetahui kenyataan yang terjadi pada suaminya, ia yang tadinya dibuat kesal karena sang suami tak kunjung mengabarinya menjadi kasihan.
"Kamu udah makan?" Tanya Abi yang masih asyik dengan makanannya.
"Udah tadi, disuapin sama Bi Imah!" Jawab Hana jujur, karena saat makan malam Hana baru mau makan jika ada yang menyuapinya.
"Hah? Kamu minta disuapin Bi Imah?" Abi agak kaget dengan pernyataan istrinya.
"Iya, makan ayam bakar kan kudu pake tangan, aku males cuci tangannya! Gak apa-apa kan aku minta suapin Bi Imah, kamu kan waktu kecil juga disuapin sama Bi Imah?".
"Gak apa-apa lah, cuma Bi Imah harus aku naikin gajinya mulai bulan ini!" Ucap Abi membuat Hana bingung.
"Kenapa?" Hana yang bingung pun langsung bertanya alasan Abi ingin menaikan gaji Imah setelah mendengarkan ceritanya.
"Ya kan sekarang Bi Imah merangkap jadi baby sitter buat ngurusin kamu!" Seloroh Abi membuat Hana berdecih kesal dan menaikan bola matanya malas untuk menanggapi selorohan suaminya.
"Ehh, kamu lagi pake kaos aku ya?" Abi baru tersadar saat melihat Hana tengah memakai kaosnya yang kebesaran di tubub mungil istrinya.
"Iya, kaos yang Kaka pake tadi siang. Masih ada wangi Kaka, aku suka jadi aku pake aja!" Jawab Hana girang, ia pun menghirup dalam kaos yang sedang ia kenakan saat ini.
"Sabar ya, nanti aku pulang kita pelukan terus ya!" Meski merasa aneh dengan kelakuan istrinya, namun Abi tetap memgulum senyum sekaligus merasa kasihan.
Lama mereka saling mengobrol akhirnya dengan terpaksa mereka harus mengakhirinya karena Abi sudah akan mulai take lagi.
Dengan berat hati mereka pun menyudahi sambungan video call an mereka.
Setelah terputus Hana bergegas memposisikan dirinya untuk mulai menjangkau dunia mimpinya dan berharap di dalam mimpi ia dapat bersama-sama dengan suaminya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1