
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Hana terbangun ketika jam sudah pukul 1 malam, ia merasakan sakit pada tangan yang ia lukai dengan garpu siang tadi.
"Sakit..!" Rintih Hana lirih.
"Mamah, Ibu..?" Hana berusaha memanggil kedua Ibunya dengan suara serak dan tentu terdengar seperti rintihan.
Namun sayang kali ini yang menjaga Hana adalah Imah karena Irma yang memang tak diizinkan terlalu lelah mengingat kondisi kesehatannya, juga Kinan yang terlampau shock dengan kejadian hari ini membutuhkan istirahat lebih.
Sedang Abi, tentu ia tetap di rumah sakit tetapi ia memilih menunggu di luar untuk menghindari Hana akan histeris lagi jika melihat dirinya.
"Non Hana sudah bangun?" Tanya Imah mendekati majikan kecilnya.
"Mamah sama Ibu mana Bi?" Tanya Hana yang mencoba mendudukan dirinya, namun tak bisa karena terhalang oleh ikatan di pergelangan tangannya.
"Kok aku diiket?" Protes Hana.
"Maaf ya Non Hana, Non harus diikat dulu supaya luka Non Hana cepat sembuh. Kata Dokter kalo Non Hana gak diikat nanti lukanya kesenggol-senggol jadi lama deh sembuhnya. Sabar ya Non!" Imah berusaha mencari alasan semasuk akal mungkin.
"Mamah mana?" Tanya Hana yang sudah teralihkan dari protesnya.
"Mamah istirahat di rumah Non, besok pagi Mamah ke sini lagi buat jagain Non Hana!" Hana mengangguk mendengar jawaban asisten kesayangannya itu.
"Tangan Hana sakit __!" Ingatan Hana langsung tertuju pada Abi ketika melihat ke arah tangan yang dibalut perban.
"Kak Abi..?" Hana menoleh ke arah Imah berharap mendapat jawaban yang diinginkannya.
"Den Abi baik-baik aja, lukanya gak terlalu dalam Non. Sudah diobati juga..!" Jawab Imah melegakan Hana.
"Mau ketemu Den Abi?" Tanya Imah yang melihat Hana terdiam sambil terus menatap langit-langit kamar perawatannya.
__ADS_1
"Takut..!" Hana menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kalo gitu Non tidur lagi ya, masih malam. Non Hana harus banyak istirahat biar cepat sembuh terus pulang deh!" Rayu Imah membelai lembut kepala Hana.
"Tapi Hana laper Bi..!" Keluh Hana membuat Imah tersenyum.
"Non Hana mau makan apa, biar Bibi siapkan?" Tawar Imah, Kinan memang menyetok makanan di dalam kulkas jika sewaktu-waktu Hana meminta makan saat belum jam makan dari rumah sakit datang.
"Hana mau martabak keju Bi..!" Permintaan Hana sontak membuat Imah tergelak, namun ia langsung menganggukkan kepalanya dan meminta izin keluar untuk mencari makanan yang sedang diinginkan majikan kecilnya itu.
Di luar Abi yang memperhatikan Hana dari kaca pintu diam-diam langsung mencecar pertanyaan pada Imah saat Imah baru saja keluar.
"Hana kenapa Bi?" Tanya nya benar-benar ingin tahu.
"Lapar Den, tapi maunya makan martabak keju katanya..!" Jawab Imah membuat Abi tersenyum.
"Biar aku yang cari aja Bi, bilang aja Bibi suruh cleaning service yang sedang jaga malam!" Ucap Abi yang diangguki oleh Imah.
"Tadi Non Hana juga sempat nanyain keadaan Den Abi..!" Sebelum beranjak, Imah memberitahukan satu hal yang membuat hati Abi diliputi sedikit kebahagiaan.
"Kelihatan banget tadi Non Hana khawatirin Den Abi juga menyesali perbuatannya ke Den Abi..!" Lanjut Imah menerbitkan senyum getir dibibir Abi.
"Dia sendiri ngasih tau enggak kondisi tangannya gimana?" Tanya Abi sungguh-sungguh ingin tahu.
"Terasa sakit katanya Den, Non Hana juga protes pas sadar diikat! Tapi Bibi coba kasih alasan yang bisa Non Hana terima, Alhamdulillah nya Non Hana mau ngerti!" Jawab Imah yang diangguki oleh Abi.
"Makasih ya Bi, tolong jaga Hana. Aku cari martabaknya dulu, sebelum dia ngambek karena kelamaan nahan lapar!" Abi mencoba berseloroh meski perasaannya serasa sedang diaduk-aduk dengan keadaan antara dirinya dan sang istri saat ini.
***
Dua hari pasca kejadian, Hana terlihat lebih pendiam, ikatan di tangannya pun tidak dilepaskan hanya sedikit dilonggarkan.
Beberapa kali Hana masih sering tiba-tiba menangis tanpa sebab, sering terlihat ketakutan atau pun terdiam cukup lama seperti saat ini. Namun tak jarang pula ia seperti biasa saja dan bisa diajak berkomunikasi dengan baik.
Dan persiapan yang sudah dilakukan dengan baik, hari ini Hana mulai dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Tam seorang pun memberitahukan pada Hana kepindahannya ke rumah sakit jiwa, mereka hanya mengatakan Hana dipindahkan ke rumah sakit yang jauh lebih baik lagi agar lebih cepat sembuh.
__ADS_1
Di tempat perawatan yang baru pun, Abi sudah merubah kamar perawatan Hana seperti kamar di rumah tinggal dan tentu akan lebih nyaman jika ditempati.
Hana akan dirawat di rumah sakit jiwa, hingga keadaannya jauh lebih baik dan siap dikirim ke Amerika untuk pengobatan lebih lanjut dan pemulihan mental secara keseluruhan.
Meski berat berpisah jauh dengan sang puteri untuk pertama kalinya, tetapi demi kebaikan sang puteri Irma mengikhlaskannya. Ia berharap dapat melihat Hana sembuh, melihat Hana menjadi sosok ceria, manja, penurut, berani, ambekkan dan tentu Hana yang sehat secara fisik dan mentalnya.
"Nanti Ibu dan yang lain, bakal jarang nungguin Hana di rumah sakit yang baru ya, tapi di sana akan selalu ada suster yang secara khusus bergantian menjaga Hana!" Irma memberitahukan dengan hati-hati pada puterinya.
"Kenapa begitu? Aku gak mau ditungguin sama orang asing, aku maunya ditungguin Ibu, Mamah atau enggak Bi Imah!" Protes Hana.
"Gak bisa Sayang, di sana rumah sakitnya lebih ketat tetapi kamu tenang aja ya kami semua akan terus jenguk kamu kok!" Sahut Irma.
"Enggak mau, kalo begitu mendingan aku gak usah dipindah ke rumah sakit sana aja, aku di sini aja biar bisa dijagain Ibu, Mamah atau Bibi Imah!" Hana semakin protes dengan perkataan Ibunya.
"Hana mau cepat sembuhkan? Udah gak mau lama-lama di rumah sakit kan? Nurut ya Nak, kami melakukannya karena pengen Hana cepet sehat lagi terus pulang ke rumah!" Bujuk Irma justru membuat Hana mengernyitkan dahinya bingung.
"Pulang? Pulang kemana?".
Irma sempat tersentak, namun kemudian tersenyum seraya membelai tangan Hana penuh dengan kelembutan.
"Hana mau pulang kemana? Ke rumah Hana yang baru? Ke apartemen atau ke mansion yang rame biar Hana enggak kesepian?" Irma memberikan pilihan pada Hana yang justru membuat Hana semakin kebingungan.
"Hana punya rumah baru?".
"Punya Sayang, hadiah ulang tahun dari suami kamu..!" Jawab Irma, Hana kemudian menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
"Apartemen? Hana enggak pernah mau ke sana lagi, Hana takut, takut kalo Hana bakal disiksa lagi!" Ucap Hana lagi dengan gugup, Irma pun langsung menenangkan sang puteri yang mulai terlihat panik.
"Iya Sayang, enggak apa-apa kalo Hana enggak mau tinggal di apartemen lagi!".
"Tinggal di mansion pun Hana enggak mau juga Bu, Hana takut ketemu Kak Abi di sana!" Lirih Hana menatap penuh iba pada sang Ibu.
"Terus Hana mau mau tinggal dimana dong kalo gitu?" Tanya Irma.
"Hana mau pulang ke rumah kita sendiri, Hana mau di rumah kita aja!" Jawaban mantap Hana membuat dada Irma berdenyut nyeri, puterinya benar-benar membutuhkan ketenangan yang hanya di dapat di rumah mereka.
__ADS_1
"Iya, nanti kita bicarakan lagi ya. Hana istirahat ya Sayang, sebentar lagi Hana sudah harus pindah ke rumah sakit yang baru..!" Perintah Irma lembut yang langsung diangguki oleh Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=