
Hana menggeliatkan tubuhnya, ia tertidur di sofa ruang tengah saat menunggui suaminya pulang. Dilihatnya jam yang terpasang di dinding yang menunjukan pukul satu malam, mulai membuatnya khawatir.
Hana langsung menyambar ponselnya berniat untuk menghubungi suaminya, namun urung ketika mendengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali.
Ia pun berlari, menghampiri seseorang tersebut yang dipastikan adalah suaminya. Benar saja ia langsung mendapati wajah lelah sang suami yang tetap menyunggingkan senyum saat melihatnya menghampiri.
"Kok sampe selarut ini pulangnya?".
" Kamu belum tidur?".
Sontak membuat mereka tergelak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mereka bersamaan.
"Aku baru bangun, tadi ketiduran di sofa pas nungguin Kakak pulang" jawab Hana yang meminta tas kerja dan jas yang dipegang suaminya.
"Kan aku udah bilang pulangnya tengah malem, ngapain tetep ditungguin sih? Mending tidur di kamar!" Jawab Abi yang merangkul pundak istrinya dan berjalan masuk.
"Aku masak ayam goreng sama sop ayam tadi, Kakak mau makan dulu gak?" Tawar Hana menghadapkan tubuhnya di depan tubuh Abi sebelum mereka menaiki tangga.
"Malem-malem gini makan?" Abi mengernyitkan dahinya.
Melihat Hana menganggukan kepala dengan wajah penuh harap, Abi pun tak sanggup menolak tawaran sang istri.
"Oke lah, demi kerja keras istriku masakin aku entah dengan niat tulus atau pun dibumbui modus halus. Tapi aku bersih-bersih diri dulu ya, badanku lengket. Gak nyaman!" Ucap Abi yang disambut gelak tawa Hana karena ketahuan sedang merayu suaminya melalui masakan.
"Kalo begitu aku angetin dulu ya!" Sahut Hana menyerahkan kembali tas kerja dan jas suaminya agar sekalian di bawa ke kamar, sedang Hana langsung melesat ke dapur untuk menghangatkan masakannya dan mempersiapkan keperluan makan mereka.
Tak sampai lima belas menit Abi sudah menghampiri Hana dengan wajah yang lebih segar dan mengenakan kaos serta celana pendeknya langsung disambut dengan aroma sedap masakan sang istri dan tentu senyum cantik istrinya yang membuat reflek ia menyunggingkan senyum juga.
Dengan cekatan Hana langsung mempersiapkan makan sang suami, namun langsung menerima penolakan ketika Hana yang akan menyendokkan nasi ke dalam piring.
"Aku jangan dikasih nasi! Cukup ayam, sambel taro dipiring, terus sayur taro di mangkuk!".
" Gak laper emang?" Tanya Hana yang tetap menyiapkan apa yang dimau suaminya.
"Enggak baik makan banyak malem-malem, kalo ada yang langsung mau diajak bakar kalori setelah makan sih aku mau, sayang temen duetnya lagi bocor!" Goda Abi dengan tatapan genitnya membuat Hana menaikan bola matanya malas mendengar godaan mesum sang suami.
__ADS_1
Namun beberapa saat kemudian justru kini Hana lah yang memandang sang suami dengan tatapan kesal sekaligus senang karena Abi yang telah menghabiskan enam potong ayam dan menambah sayur sebanyak tiga mangkuk meski tanpa nasi.
"Cihh, gak baik makan malem-malem katanya. Itu apa?" Gerutu Hana lirih, namun kemudian tersenyum senang melihat sang suami yang masih lahap menghabiskan sop ayam di mangkuknya.
Selesai mencuci peralatan makan dan merapikannya karena tak mau membuat Imah atau pun Dewi kerepotan di pagi hari, Hana langsung menyusul sang suami ke kamar.
Dilihatnya pintu balkon masih terbuka, membuatnya langsung melangkahkan kaki ke balkon apartemen mereka dan mendapati Abi tengah asyik merokok sambil menikmati pemandangan malam.
Melihat istrinya menghampiri, Abi cepat-cepat mematikan putung rokok yang masih panjang itu.
"Mau tidur sekarang?" Tanya Abi yang langsung merengkuh tubuh istrinya.
"Gosok gigi dulu yuk!" Ajak Hana mendongakan wajahnya ke wajah suaminya.
Kini keduanya sudah berada di atas ranjang mereka berbaring saling berhadapan setelah menyelesaikan ritual mereka sebelum tidur, menggosok gigi dan mencuci muka.
"So..? Keputusan Kak Abi apa? Udah ngobrol kan sama Mas Angga?" Tanya Hana meraba lembut rahang suaminya.
"Udah tadi sebelum pulang. Sebelum aku kasih tau kamu boleh apa enggaknya, aku boleh minta sesuatu sama kamu?" Pinta Abi membuat Hana mengernyitkan dahinya dan menghentikan belaian tangannya di sepanjang garis wajah kokoh sang suami.
"Oke, siapa takut. Setelah semua kontrak kerja yang aku tanda tangani ...!" Ucapan Hana terpaksa terputus karena langsung di potong suaminya.
"Setelah kerjaan kamu di Bandung ini, aku mau kamu berhenti dari dunia hiburan.. No debat!" Perintah Abi tegas.
"Gak bisa gitu dong Kak, aku gak mau kena pinalti. Gak sampe setahun kok semua kerja sama aku udah kelar, kalo aku disuruh janji buat gak ambil job aku mau, tapi kalo aku disuruh langsung berhenti aku gak bisa!" Jawab Hana tak kalah tegas.
"Kok kamu sekarang ngelawan aku terus sih Han? Aku udah oke in lho kamu ke Bandung, sekarang aku cuma minta kamu berhenti and fokus kuliah aja, ada aja alesan kamu. Kamu udah keenakan kerja beginian?" Gertak Abi.
"Bukan begitu Kak, aku cuma bersikap profesional aja! Aku juga gak mau bebanin kamu sama pinalti yang harus aku bayar, belum lagi biaya pengobatan Ibu, suster pribadi Ibu. Paling enggak kalo aku selesaiin sisa kontrak kerja aku kita gak perlu buang-buang uang buat bayar denda aku. Please, gak sampe setahun aku janji setelahnya aku ikutin mau Kak Abi semua, aku bakal nurut Kak!" Jelas Hana melembutkan tatapannya, takut jika Abi tetap emosi mendengar penjelasannya.
"I love you.." ucap Abi mencium sekilas bibir istrinya.
"Ini artinya Kakak setuju sama aku kan? No debat lagi..?" Tanya Hana berbinar.
"Kalo difikir-fikir bener juga omongan kamu, aku sempet lupa sama Ibu. Maaf!" Sahut Abi dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Makasih ya Kak..!" Ucap Hana kemudian mencium gantian bibir suaminya.
"Hati-hati nanti, jaga diri jangan macem-macem sama temen kamu itu. Awas aja kalo sampe ada cinlok-cinlok an!" Ancam Abi dengan wajah menahan geram.
"Dihh, enggak lah. Mana ada cinlok, orang aku udah cintanya sama kamu kok!" Sahut Hana setelah menyelasaikan tawanya.
"Yaaa bisa jadi kan, tiga hari berturut-turut barengan terus, umur kalian yang sama pasti banyak bahan obrolan yang nyambung, belum lagi aku ngerasa temen kamu itu ada perasaan sama kamu!".
" Idih ngaco deh ahh.. Emh, kalo amit-amit nih ya, misalnya doang gitu aku kepergok selingkuh terus kamu bakal ngapain aku?" Tanya Hana iseng.
"Hajarlah, aku bakal gebukin kamu abis-abisan kalo sampe berani selingkuh!" Jawab Abi penuh penakan dan tatapan yang tak bisa ditebak.
"Kamu tega gebukin aku?" Tanya Hana takut.
"Kamu aja tega selingkuh!" Jawab Abi enteng tanpa memperdulikan raut wajah Hana yang berubah muram.
"Kenapa? Kamu niat selingkuh dari aku?" Abi begitu heran dengan Hana yang tiba-tiba berubah air mukanya.
"Enggaklah, sia-sia dong perjuangan aku selama ini dapetin kamu. Belum lagi selama nikah aku lumayan korban perasaan, ngadepin perselingkuhan terang-terangan kamu sama si Raya itu. Sekarang kalo perjuanganku itu aku sia-sia in demi sebuah perselingkuhan, bodoh banget aku!" Hana langsung menanggapi serius pertanyaan suaminya tersebut.
Namun bukannya menyahuti ucapan istrinya yang cukup menggebu-gebu, Abi memilih mendekatkan wajahnya untuk menikmati manis bibir istrinya begitu dalam dan lama.
Mereka hanya saling memandang saat kegiatan menyenangkan mereka terpaksa berhenti karena sama-sama membutuhkan pasokan oksigen yang menipis di paru-paru mereka.
"Terus sebaliknya kalo Kak Abi yang selingkuh, apa boleh aku juga ngehukum kamu?" Tanya Hana kemudian menggigit bibir bawahnya.
"Kamu mau ngehajar aku?" Tanya Abi terkekeh.
"Gak mungkinlah badan kecil aku ini ngehajar Kak Abi yang punya badan besar gini, gak bakal kerasa apa-apa juga pukulan aku di badan kamu. Tapi yang jelas andai kelak, amit-amit Kak Abi ketahuan selingkuh aku pasti bakal minta pisah sama kamu!" Ucap Hana membuat Abi membelalakan matanya sesaat namun kemudian menyunggingkan senyumnya.
"Udah mau jam tiga pagi, ayo tidur! Aku sayang banget sama kamu gak ada alesan untuk aku cari perempuan lain, jangan khawatir!" Abi langsung menarik tubuh mungil istrinya dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Aku juga sayang sama Kak Abi, sayang banget!" Sahut Hana yang menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1