
"Nugie..!" Sapa Hana saat memasuki kamar rawat temannya itu, Nugie yang tengah duduk di atas ranjang dengan menyandarkan kepalanya pun langsung menengok ke arah Hana.
"Hana? Lo ke sini?" Tanya Nugie sambil terus celingukan seperti sedang mencari seseorang.
"Kok aneh sih kalo gue ke sini? lo cari siapa sih?" Tanya Hana yang sudah mendudukan dirinya di kursi sebelah ranjang Nugie.
"Laki lo yang Pocecip enggak ngikut kan?" Hana dibuat tertawa mendengar panggilan untuk suaminya yang disematkan oleh Nugie.
"Enggak, emang kenapa kalo dia ngikut jenguk lo?" Selidik Hana.
"Ngerilah Han, gue enggak mau jadi samsak nya laki lo lagi!" Sahut Nugie dengan wajah pucat dan bergidik ngeri.
"Lagian elo pake nyeletuk kayak gitu, orang dia lagi emosi yaaa makin nambah emosi lah jadinya. Parah juga ya muka lo, sampe babak belur bengkak semua gitu?" Hana meringis ngilu menyadari begitu parahnya luka lebam yang dialami temannya itu.
"Parahlah, lo enggak lihat apa gimana brutalnya laki lo ngehajar gue tadi? Mana badannya gede gitu?" Keluh Nugie menggebu, namun kemudian meringis menahan pedih di wajahnya.
"Maafin Kak Abi ya Gie..!" Ucap Hana tulus.
"Iya gak apa-apa salah gue juga kok mancing emosi dia. By the way, lo sendiri gak apa-apa kan? Gak diapa-apain laki lo kan?" Tanya Nugie khawatir.
"Iya, gue enggak apa-apa cuma sedikit ribut aja. Kak Abi tuh emang emosian orangnya, apa-apa main hajar. Susah nasehatin tuh orang!" Gerutu Hana.
"Ngeri juga yaa kalo lagi cemburu, enggak takut lo Han sama dia?" Tanya Nugie penasaran.
"Takut kenapa?" Ucap Hana balik bertanya karena ia benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan Nugie tersebut.
"Gue takunya dia lepas kontrol sama lo kalo suatu saat mungkin ada kesalah fahaman antara lo berdua, ngeliat gimana gampangnya dia emosi tanpa mau ngedenger penjelasan orang lain!" Jawab Nugie menaruh iba pada teman cantiknya itu.
"Kadang, tapi sejauh ini dia sabar sih sama gue meskipun pernah lepas kontrol juga!" Ucap Hana.
"Lo pernah dipukul?" Tanya Nugie curiga.
"Ini kenapa jadi ngomongin laki gue sih, kudunya tuh sekarang gue yang nanya-nanya elo? Apa yang Dokter bilang, ada luka yang serius enggak?" Hana mencoba mengalihkan pembicaraan seputar suaminya diantara mereka, karena Hana enggan membuka urusan rumah tangganya pada Nugie yang masih ia anggap orang asing.
"Enggak, enggak ada yang serius. Luka luar aja, bonyok!" Seloroh Nugie sambil tertawa tertahan.
__ADS_1
"Atas nama Kak Abi gue bener-bener minta maaf ya, dia sebenernya ngucapin makasih lo udah nolongin gue, tapi gak mau minta maaf karena udah ngehajar elo. Katanya elo emang pantes dihajar gara-gara enggak bisa ngerem omongan, tapi gue tetep minta maaf atas nama dia!" Ucap Hana tak enak hati.
"Wah, sadis juga laki lo! Santai aja Hana, gue ngerti banget deh laki lo tuh cuma mau ngejagain lo doang kok! Siapa sih yang rela istri secantik lo dipegang orang laen, gue juga gak bakal rela!" Goda Nugie membuat Hana memutar bola matanya malas.
***
"Kita ke penginapan ambil barang-barang langsung balik ke Jakarta ya?" Usul Abi saat mengendarai mobilnya sendiri karena ia memang menyuruh Pak Hadi, supirnya untuk kembali ke Jakarta lebih dahulu.
"Kok balik ke Jakarta? Besok kan masih Minggu, kamu masih libur. Ngapain langsung balik sih?" Protes Hana.
"Lah emang mau ngapain di sini sih? Toh syuting juga enggak dilanjut!" Gerutu Abi, namun tetap fokus dengan kemudinya.
"Emang kamu gak pengen bikin Bandung yang sedingin ini jadi panas!" Goda Hana dengan tatapan penuh arti dan pose menggoda.
Abi melirik sebentar ke arah kursi penumpang, ia pun membalas senyum sensual Hana dengan senyum penuh arti.
"Emang kamu udah selesai?" Tanya Abi.
"Dari kemarin juga udah..!" Jawab Hana dengan wajah bersemu merah.
"Ngapain aku bilang, kamunya ngeselin. Dateng-dateng langsung ngamuk-ngamuk gak jelas!" Sindir Hana.
"Siapa yang enggak ngamuk ngelihat istrinya pelukan sama orang lain?" Geram Abi.
"Ishhh, Kak Abi ini deh ah!" Desis Hana.
"Udah jangan dibahas lagi, tapi ini benerkan kamu udah bisa aku kerjain?" Tanya Abi bersemangat yang dijawab dengan anggukan serta wajah malu-malu.
Benar saja sesampainya mereka di kamar penginapan, Abi langsung menerjang tubuh istrinya seakan seperti seorang yang dilanda kehausan begitu lama Abi meneguk tiap inchi tubuh istrinya tanpa jeda sama sekali.
"Kak, sabar. Uhh..!" Desah Hana saat Abi menyesap sela lehernya, namun Abi menulikan pendengarnya. Ia terus saja merangs*ang tubuh istrinya yang ia himpit di dinding.
"Aku kangenn sama kamu..!" Ucap Abi dengan suara parau sambil membuka dress yang dikenakan Hana, bahkan seluruh kain yang menempel di tubuh istrinya sudah berhasil ia lepaskan.
Abi memandangi tubuh Hana yang menurutnya dari waktu ke waktu semakin menantang, mendapat perlakuan seperti itu seperti biasa rona merah akan menghiasi seluruh wajah Hana, favorit Abi.
__ADS_1
Abi langsung membopong tubuh polos istrinya ke sofa panjang yang berada di kamar tersebut, ia menciumi dengan lembut bibir penuh istrinya, ciuman yang semakin panas membuat Hana tak mampu mengimbanginya lagi.
"Aku mau kamu sekarang?" Izin Abi dengan suara serak dan pandangan mata yang sayu diliputi gairah.
"Di sini?" Tanya Hana dengan nafas terengah.
Tanpa menjawab Abi langsung merebahkan tubuh istrinya, melebarkan kaki sang istri dan kemudian memasuki lembah basah istri nya yang sangat ia rindukan.
"Kak Abi, Ahh..!" Desah Hana dengan tubuh membusur saat Abi berhasil menyatukan mereka.
"Kenapa, hmm? Sakit?" Tanya Abi yang mulai melakukan pergerakannya, meskipun ia tau apa yang sebenarnya istrinya rasakan saat ini, Hana hanya menggeleng sambil terus menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahannya.
Abi benar-benar menghabisi istrinya malam ini, entah berapa kali mereka mengulangi petualangan menyenangkan mereka. Bahkan setiap sudut ruangan tersebut menjadi sasaran aksi menggila Abi menuntaskan hasratnya yang hampir seminggu ia pendam.
"Capek apa masih bisa next round lagi?" Goda Abi mendekap tubuh istrinya yang saat ini tengah berusaha menormalkan nafasnya setelah pelepasan untuk kesekian kali.
"Kamu bener-bener ya Kak? Capek tau gak sih! Udah kayak berbulan-bulan aja gak aku jatah, badan aku pegel semua, sakit semua!" Gerutu Hana yang mulai bisa mengatur nafasnya.
"Abis kangen!" Sahut Abi terkekeh.
"Enggak ngebayangin kalo suatu hari kita lama gak berpetualang kayak gini, yakin deh sekalinya berpetualang pasti aku dibikin gak bisa jalan!" Ucap Hana membuat Abi terkekeh.
"Ya udah sekarang tidur gih, siapin tenaga buat muterin Bandung besok. Kita jalan-jalan sebelum balik ke Jakarta, cari oleh-oleh!" Mendengar ucapan Abi membuat Hana langsung tersenyum lebar penuh semangat.
"Bener ya, janji!" Hana memastikan lagi ucapan suaminya.
"Janji! Kayaknya udah enggak capek nih, udah semangat lagi tuh. Bisa dong dikerjain sekali lagi?" Goda Abi yang langsung dihadiahi kepalan tangan mungil istrinya di dada bidangnya.
"Jangan macem-macem, badan aku sakit ini!" Gertak Hana mendelikan matanya, ia pun kemudian langsung memunggungi suaminya.
Seperti biasa Abi akan memeluk tubuh Hana dari belakang, posisi favorit istrinya juga posisi favorit dirinya.
"I love you..!" Ucap Abi tulus kemudian mencium tengkuk istrinya.
"I love you too Kak..!" Sahut Hana tersenyum tanpa membalikan tubunya, rona merah di wajahnya semakin bersemu mendengar ucapan cinta dari suaminya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=