
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
"Mau dilanjut lagi?" Tawar Abi yang melihat Hana tiba-tiba terdiam.
"Emh.. Mas Abi enggak mau minta hadiah taruhannya?" Tanya Hana yang heran Abi tak menagihnya, Abi yang mendengar pertanyaan sang istri sontak tertawa.
"Emang kamu serius tadi?" Abi memang tak pernah mengganggap serius taruhan yang mereka lakukan di taman tadi.
"Loh, emang enggak serius? Kan tadi kamu yang ngajakin taruhan" Hana justru lebih bingung dengan pertanyaan suaminya itu.
"Becanda aja Sayang, kalo beneran untung aku yang menang taruhan, coba kalo aku kalah, udah pasti muka aku kamu lempar cake nya!" Cibir Abi membuat Hana tertawa membayangkan wajah tampan suaminya belepotan cake cokelat.
"Tapi kalo emang serius, boleh lah aku tagih hadiahnya!" Ucap Abi menaik turunkan alisnya.
"Yaa, aku kan bukan pengecut, aku harus terima lah kalo aku kalah taruhan dari kamu. Kamu boleh kok ambil hadiah kamu sekarang!" Tantang Hana membuat Abi ternganga tak percaya.
"Kamu serius?" Tanya Abi sekali lagi.
"Serius Mas..!" Jawab Hana malu-malu.
Abi dengan pergerakan hati-hati langsung memposisikan dirinya menghadap sang istri, ditatapnya mata Hana yang juga tengah menatapnya.
"Kalo kamu serius, aku bener-bener ambil nih Sayang!" Ucap Abi yang langsung diangguki oleh Hana.
"Yakin..?" Tanya Abi sekali lagi.
"Ya udah enggak jadi aja deh kalo gitu, nanya terus!" Ketus Hana dengan wajah yang berpura-pura kesal.
__ADS_1
"Jadi dong..!" Sahut Abi cepat-cepat.
Ia pun kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Hana, Abi bisa melihat betul ketegangan pada wajah cantik istrinya, hingga membuatnya terkekeh pelan.
Namun Abi tak menghentikan aksinya, ia semakin mendekatkan wajahnya yang membuat Hana menutup matanya dan hanya bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang semakin mendekat.
Tanpa berani membuka mata, Hana mulai merasakan kecupan lembut mulai dari dahi, pipi kanan dan kiri, dagu dan terakhir cuping hidung mancungnya. Setelah itu tak ada lagi sapuan kenyal bibir suaminya di wajahnya.
Hana pun memberanikan diri untuk membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang tengah menatap dirinya dengan senyuman yang begitu menawan.
"Udahan? Kok bibirnya gak dicium?" Tanya Hana polos membuat Abi tergelak.
"Lah kamunya tegang gitu, mana bisa nikmatinnya!" Ledek Abi membuat Hana menjadi tergagap.
"Yaa, kan baru pertama jadi aku gugup!" Sahut Hana tanpa berani menatap suaminya lagi.
"Pertama gimana? Kamu tuh ahli banget berciuman, lebih ahli dari aku malahan!" Elak Abi membuat Hana membelalakan matanya.
"Ya udah kalo enggak percaya!" Sahut Abi menggedikkan bahunya, kemudian beranjak dari duduknya, namun sebelum benar-benar pergi Hana mencekal pergelangan tangan Abi membuat Abi mengernyit bingung.
"Kenapa?".
" Ayo kita berciuman!" Ajakan Hana benar-benar membuat Abi terkejut.
"Kamu ngerasa bersalah karena aku gak ambil hadiah taruhan aku, hm? Udah jangan ambil pusing, nanti aja aku ambil kalo kamu benar-benar siap dan benar-benar menginginkannya!" Abi terus tersenyum sambil membelai puncak kepala istrinya.
"Tadi saat pertama kamu kelepasan nyium aku, ada potongan memori kamu yang tiba-tiba muncul di otakku, tapi samar sekali. Aku mau coba sekali lagi, siapa tau aku bisa inget sesuatu!" Ucap Hana jujur.
Tanpa berkata apapun, Abi kembali mendudukan dirinya. Meskipun dengan degup jantung yang mulai tak beraturan serta perasaan yang begitu ketakutan dengan reaksi yang akan Hana perlihatkan jika ingatannya tiba-tiba kembali, Abi tetap memulai mencium Hana.
Diawali dengan beberapa kali kecupan di bibir istrinya, lalu mulai memanggut bibir Hana kemudian melakukan sesapan yang semakin lama semakin dalam.
__ADS_1
Setelah beberapa saat saling menyesap, Abi menghentikan ciumannya. Ia menatap penuh rindu pada wajah cantik istrinya.
Melihat Hana yang tersenyum membuat Abi lebih berani melakukan hal yang lebih lagi, ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri dan kembali menyesap bibir sang istri, bahkan rindu yang begitu membuncah membuat Abi mulai me ***** bibir manis merah muda yang selama ini sangat, sangat ia rindukan.
Beruntung Hana membalasnya meskipun terlihat agak kaku dan juga Abi masih bisa merasakan ketegangan pada sang istri.
Cukup lama mereka melakukannya hingga dirasa pasokan oksigen yang semakin menipis di paru-paru mereka, akhirnya dengan terpaksa mereka menghentikan kegiatan menyenangkan mereka. Hana terlihat terengah-engah begitu pula dengan Abi, namun mereka sama sekali tak memutuskan pandangan mereka sama sekali.
"Maaf kalo aku berlebihan, aku kangen sama kamu..!" Ucap Abi memeluk Hana penuh kasih.
Hana tak menjawab apapun, tetapi ia menyambut pelukan hangat suaminya dengan terus membelai punggung lebar sang suami.
"Siapa Soraya Mas?" Tanya Hana tiba-tiba membuat Abi seketika membeku, ia kemudian melepas pelukannya pada sang istri dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri.
Abi menatap dalam ke manik mata cokelat muda sang istri, jantungnya kini seakan ingin melompat keluar. Ia mengira-ngira apakah sang istri sudah mengingat semuanya. Ia benar-benar merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang teramat sangat.
"Kamu udah inget semuanya?" Tanya Abi khawatir, namun Hana menggeleng.
"Apa bener Soraya itu mantan kamu? Apa bener kamu pernah selingkuh sama dia?" Tanya Hana dengan tatapan sedih dan kecewa.
"Maaf..!" Ucap Abi setelah beberapa saat terdiam dan hanya menatap penuh sesal pada sang istri.
"Apa bener setelah aku memergoki kalian kamu menyiksa ku hingga aku koma? Kenapa Mas? Apa kamu marah karena aku memergoki kalian bercumbu?" Tanya Hana dengan tatapan yang semakin diliputi kekecewaan.
"Bukan begitu ceritanya Sayang __!" Kalimat Abi terpaksa terpotong di udara karena Hana kembali menyelaknya.
"Apa sebagai istri aku tidak cukup baik untukmu Mas, sampe-sampe kamu berselingkuh dengan mantan pacar kamu atau kamu yang masih terlalu mencintai mantan kamu itu sampai-sampai kamu tega memperlakukan aku sekeji itu? Memergokimu berselingkuh, tetapi kemudian justru aku yang aku siksa?" Air mata mulai meleleh dengan perkiraan-perkiraan yang tengah dirantai otaknya saat ini.
"Bukan Sayang, bukan begitu ceritanya. Aku berani bersumpah, aku sama sekali enggak mencintai Raya lagi. Aku bahkan tak pernah punya niat berselingkuh dari kamu, tapi semua terjadi karena dia menjebakku untuk menghancurkan kita. Dia memiliki dendam dengan kita Sayang!" Ucap Abi menjelaskan dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Dia menjebak kamu Mas? Tapi kenapa kamu sampe tega menyiksa aku? Aku benar-benar bingung, ini semuanya terlalu rumit buat aku mengerti Mas! Tolong ceritakan yang sebenarnya, buat aku mengerti semuanya. Aku bingung Mas, kepala aku sakit. Sakit sekali..Hiks..!" Teriak Hana mulai histeris memegangi kepalanya membuat Abi langsung dilanda kepanikan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=