
Abi langsung bergegas melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemennya. Perasaan sedikit lega setelah melakukan konfrensi pers tadi, paling tidak statementnya bisa membantu sang istri agar tak jadi bulan-bulanan media.
Namun, ia tak sepenuhnya bisa tenang karena dia yakin betul jika Raya akan bertindak lebih parah lagi untuk mengganggu rumah tangganya dan Hana.
Ia tahu betul perempuan seperti apa Raya itu, membuatnya untuk berfikir lebih keras lagi bagaimana caranya agar Raya menjauh dari kehidupannya dan Hana.
Dan benar saja, saat ia tengah asyik melajukan kendaraannya ponselnya berdering dan terpampang nama Raya yang memanggil.
Ia lantas berinisiatif untuk memberhentikan mobilnya di sisi jalan guna untuk menerima panggilan masuk dari mantan kekasihnya itu.
Beruntung suasana pinggir jalan sepi, hingga dia bisa dengan leluasa untuk berbicara dengan mantan kekasihnya itu.
"Keterlaluan kamu Bi, dengan mudahnya kamu bilang kalo kita gak pernah ada hubungan apa-apa. Apa ini artinya hubungan kita selama gak berarti apa-apa, hah?" Terdengar nada kekecewaan di sela isak tangisnya.
"Gue cuma mau ngejaga perasaan istri gue aja, toh semuanya udah berlalu Ray, hubungan kita udah berakhir dan sesuai kemauan lo hubungan kita gak akan pernah terendus media. Karir lo aman! Dan sekali lagi gue minta, jalani hidup kita masing-masing. Lo bebas berhubungan dengan siapa pun Ray, banyak laki-laki yang lebih baik dari gue? Dan please, lupain gue. Jangan ganggu gue dan Hana lagi Ray!" Sahut Abi panjang lebar.
"Segampang itu Bi kamu ngelupain hubungan kita? Apa bener diantara kita sama sekali gak pernah berarti buat kamu, gak membekas di hati kamu?" Sesak Raya.
"Semua udah gak sama Ray, hubungan kita hancur atas kesalahan kita berdua, bukan kesalahan siapa pun terlebih Hana. Di sini justru Hana yang udah jadi korban atas keegoisan kita, anggap aja ini semua karma hancurnya hubungan kita karena telah melukai gadis sebaik Hana. Maaf klo gue gak bisa nepatin janji gue buat gak jatuh cinta sama dia dan gue juga udah maafin pengkhianatan lo sama Nico. Jadi tolong mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing!" Pinta Abi tegas, meskipun Abi tau betul, Raya tak akan mudah mengiyakan ajakannya.
"Enggak Bi, aku enggak terima kamu buang begitu aja. Kamu fikir aku pelac*r hah setelah puas kamu nikmatin kamu campakin gitu aja!" Geram Raya.
"Gue enggak pernah nganggep lo begitu, apa yang gue lakuin ke lo selama ini semua atas dasar cinta dulu. Biar pun gue juga bukan cowok pertama buat lo, dan justru lo sendiri yang memperlakukan diri lo kayak pelac*r dengan tidur sama cowok lain di belakang gue! Gue sadar cara kita salah dalam menjalin hubungan, kita terlalu bebas dan gue sesali itu!" Ucap Abi.
"Munafik kamu Bi, kamu emang bajingan Bi, kamu brengsek!" Umpat Raya dengan suara kesal penuh amarah.
"Gue harap mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing Ray, tolong jangan ganggu gue lagi terlebih Hana! Gue harap secepatnya lo bisa ketemu laki-laki yang jauh lebih baik dari gue dan menjalani hidup lebih bahagia dibanding sama gue dulu!" Ucap Abi sebelum memutus panggilan telfon mereka, ia pun buru-buru memblokir nomor Raya, berharap jika semua benar-benar berakhir. Ia hanya ingin menjalani kehidupan yang tenang bersama dengan istrinya, Hana.
***
Sementara di mansion Hana tengah ber video call an dengan grup chattingannya yang terdiri dari dirinya, Hanum, Nara dan Juna tanpa Abi tentunya, karena Abi lah objek ghibahan mereka.
"Keren ihh Kaka ipar gue, kecil-kecil bisa nyeruduk Raya. Hahaha..!" Seloroh Juna yang langsung membuat semuanya tergelak.
__ADS_1
"Nyerudak-nyeruduk, emang aku kambing apa!" Salak Hana pura-pura kesal, namun sejurus kemudian tersenyum malu-malu.
"Itu gimana ceritanya sih Han, bisa lo hantam gitu triplek?" Tanya Hanum penasaran yang diangguki oleh lainnya.
"Ehh tunggu, kok triplek sih?" Tanya Nara bingung.
"Iyaaa dikpar to be ku yang cantik, kita panggil dia triplek tuh sesuai sama visualnya, rataaa..!" Jawab Hanum membuat semuanya terbahak-bahak.
"Bingung gue sama selera Mas gue, kok bisa sih doyan sama body rata begitu? Apanya yang enak diremes-remes coba?" Lagi pengacau suasana membuat obrolan mereka makin tak terarah.
"Idiihh, ini kenapa jadi ngomongin body dia sih? Jauh banget pembahasannya!" Omel Hanum dengan bibir mengerucut sebal, membuat semuanya tambah tergelak karena mereka sadar jika ia sedang cemburu pada sang kekasih yang tengah membahas tubuh perempuan lain.
"Udah ah, aku penasaran nih. Ayo Ka Hana lanjut ceritanya, gimana tuh Kaka bisa sampe ngehajar mantannya Mas Abi? Tapi sumpah deh Kaka keren lho!!" Nara begitu penasaran dengan kisah dibalik penyerangan Hana terhadap mantan kekasih Kaka nya itu.
Hana pun dengan detail menceritakan awal mula bisa terjadinya kejadian itu, tanpa ia lebih-lebihkan bahkan pertengkaran dengan sang suami pun ia ceritakan membuat semua yang mendengar mendesahkan nafas berat.
Mereka tak habis fikir, bagaimana Raya dengan tak tahu malunya masih berusaha mendekati Abi yang terang-terangan sudah mencampakkannya.
"Tapi Dedek sehat kan Han?" Tanya Hanum khawatir.
"Gue rasa ponakan gue cowok nih bakalan, lihat aja ke bar-bar an Emaknya. Hahahaa..!" Seloroh Juna.
"Gak juga kali Beb, bisa aja cewek. Secara nih kalo cewek udah cemburu, udah deh gak bakal ba bi bu lagi, langsung hajar!" Sahut Hanum dengan prediksinya sendiri.
Hana hanya tersenyum menanggapi ocehan ketiga orang yang dia sayangi itu, karena kini Nara juga ikut-ikutan memprediksi jenis kelamin sang ponakan.
Obrolan mereka berlanjut begitu lama, membahas tentang kuliah mereka, terlebih Hanum yang akhirnya bisa kuliah di univeristas yang sama dengan sang kekasih.
"Kalian enak yaa bisa sering-sering ngumpul, sedang gue di sini berasa sendirian tau gak sih?" Tiba-tiba sisi sensitif Hana kembali keluar.
"Kalo kandungan lo udah kuat, ajak Ka Abi ke sini. Kakek sama Nenek di sini juga pengen kenal lebih jauh sama lo Bie!" Tawar Juna.
"Iya, Insyaa Allah. Minta doanya aja biar gue sama Dedek sehat terus! Gue kangen kalian!" Kini Hana tak mampu lagi membendung air matanya membuat ketiga orang tersebut ikut sedih, bahkan Hanum dan Nara sudah ikut menitikan air matanya.
__ADS_1
Mereka tau betul Hana saat ini sangat membutuhkan kehadiran mereka, saat-saat terlemah seorang Hana yang harus berjuang dengan kehamilannya yang super rewel.
Hingga tangan kekar seseorang melingkar di lehernya membuat Hana yang sedang menutup wajahnya dan tengah terisak menoleh ke arah orang yang sedang memeluknya.
"Diapain sama mereka, sampe kejer gini?" Tanya Abi menatap tajam ke layar ponsel yang masih menampilkan ke empat orang yang dikenalnya dan tentu juga gambar dirinya yang tertangkap oleh kamera ponsel istrinya.
"Elahhh, diapain sih Mas? Orang Barbie lagi kangen sama kita-kita! Ajak tuh nanti kalo kandungan dia udah kuat ke sini, sekalian ketemu Kakek-Nenek yang di sini!" Sahut Juna.
"Iya Insyaa Allah, kalo gitu udah yaa. Bye..!" Ucap Abi kemudian mematikan sambungan video call mereka.
"Ihh kok main matiin aja sih Ka, aku kan masih kangen sama mereka!" Sengit Hana kesal.
"Biarin aja, mereka cuma bisa bikin kamu sedih doang. Lagian emang kamu gak kangen sama aku?" Goda Abi.
"Aku seneng sama statement Kaka tadi, makasih ya!" Ucap Hana tulus sambil mengusap lengan kekar suaminya yang masih setia melingkar di leher dan pundaknya.
"Udah sholat Isya?" Tanya Abi sambil mengecupi puncak kepala Hana.
"Udah..!" Jawab Hana.
"Udah makan malem?" Tanya Abi lagi, namun kali ini Hana menggelengkan kepalanya.
"Nunggu Kaka, aku mau makan malem bareng Kaka!" Jawab Hana jujur.
"Capek gak? Ada yang gak enak gak badan kamu? Kalo badan kamu oke, aku ajak nge date nih, kita dinner di luar!" Ajak Abi yang kali ini sudah duduk di sebelah istrinya.
"Beneran? Wahh, aku mau lah! Aku sehat kok, sehat banget. Seharin di apartemen juga gak ngapa-ngapain, badan aku gak capek kok!" Hana begitu antusias dengan ajakan suaminya.
"Ada tempat yang mau kamu kunjungi atau makanan yang mau kamu makan?" Tanya Abi lagi.
"Aku mau makan di restaurant mewah yang aku pernah diajak Mamah makan dulu sebelum nikah sama Kaka, kata Mamah restaurant itu kamu yang ngajak buat ngerayain ulang tahun Mamah. Aku lupa nama restaurantnya, tapi aku pengen makan-makanan di sana!".
"Oh ya, aku tau. Bentar ya aku reservasi tempat dulu, moga aja ada yang kosong bisa langsung di booking malam ini. Dadakan soalnya takut penuh!" Ucap Abi kemudian mengambil ponselnya untuk mere servasi tempat.
__ADS_1
"Rezeki Dedek mah cakep bener, ada satu ruang VIP yang kosong. Langsung aku booking tadi, cuzz siap-siap biar makin cantik!" Ucap Abi sesaat setelah menelfon pihak restaurant.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=