
Ckleekkk".
Terdengar pintu kamar dibuka, akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu datang juga. Abi duduk menyilangkan kakinya, memandang tajam ke arah istrinya. Hana yang sadar terus ditatap menjadi gugup.
"Ka Abi udah lama pulangnya?" Tanya Hana berusaha santai.
"Kenapa? Gak suka kalo gue di rumah?" Abi yang kesal pun malah balik bertanya dengan nada sinis.
"Bukan, biasanya Ka Abi pulangnya kalo udah malem!" Jawab Hana gugup tanpa melihat ke arah Abi.
"Kenapa lo gugup gitu?" Sindir Abi kemudian berjalan mendekati Hana.
"Gugup? Enggak kok, Hana gak gugup. Buat apa Hana gugup?" Sahut Hana masih enggan menatap suaminya.
"Gimana rasanya bersandar di bahu laki-laki lain?" Kini suara Abi penuh penekanan, meski pelan tetapi bisa Hana rasakan nada marah dari tiap kata yang Abi ucapkan. Hana pun memberanikan diri untuk menatap Abi.
"Kami cuma bercerita, gak lebih. Ya Hana tadi memang bersandar di bahu Juna, tapi enggak lebih cara Juna untuk nenangin Hana tadi, gak ada maksud apa-apa!" Jawab Hana yang mulai faham akar kemarahan suaminya.
"Oh ya? Nenangin? Emang kenapa Juna harus nyoba nenangin lo? Lo cerita apa sama dia?" Cecar Abi.
"Cerita sama dengan apa yang Ka Abi ceritain ke dia" kini nada suara Hana yang dingin.
"Maksudnya?" Tanya Abi bingung.
"Tentang pernikahan kita!" Cetus Hana.
"Oohh, jadi Juna tadi akhirnya mengkonfirmasi omongan gue langsung sama lo. Wow!" Abi berdecak.
"Kenapa Ka Abi harus omongin pernikahaan kita yang sebenernya sih sama orang lain. Buat apa? Hana kan malu Ka sama Juna!" Rengek Hana.
"Kenapa harus malu, kenyataannya emang seperti itu kan pernikahan kita!" Sahut Abi.
"Iya emang, tapi apa pentingnya Ka Abi nyeritain semuanya ke orang lain?" Tanya Hana.
"Dia bukan orang lain, dia adek gue!" Jawab Abi.
"Buat apa? Ka Abi mau nunjukin ke Juna seberapa gak berharganya Hana di mata Ka Abi?" Selidik Hana dengan tatapan sedih.
"Terserah pemikiran lo kayak gimana. Gue cuma mengungkapkan kenyataannya kok, dia nanya sama gue tentang Raya dan gue jawab apa adanya. Apa gue salah?" Kini Abi balik bertanya pada Hana.
"Gak, Ka Abi gak salah. Semua salah Hana yang terlalu berharap sama Kaka, terlalu percaya diri kalo Hana bisa bikin Ka Abi jatuh cinta sama Hana, buat gantiin posisi Mbak Raya di hati Kaka. Padahal sedikit pun kesempatan itu gak pernah ada buat Hana!" Hana sudah tak lagi bisa membendung air matanya.
"Kaka tau, tapi Hana gak akan pernah nyerah!" Lanjut Hana kemudian meninggalkan Abi menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa jadi dia yang marah sih, kan gue yang harusnya marah ke dia meluk-meluk laki laen!" Batin Abi.
Selesai mandi dan sholat maghrib Hana sama sekali tidak menghiraukan Abi yang sedari tadi memperhatikannya.
"Ka Abi kalo mau sholat, udah Hana siapin baju koko sama sarungnya. Ini juga baju ganti Kaka udah aku siapin!" Tunjuk Hana pada pakaian yang baru saja ia ambil dari walk in closet, setelah itu Hana pun keluar dari kamar. Hana memutuskan membantu mertua dan Ibunya menyiapkan makan malam. Kinan sudah datang dari sejam yang lalu dengan tas belanjaan dari beberapa brand ternama yang cukup banyak.
Kinan memang sudah biasa mengurus sendiri urusan dapur meskipun asistennya banyak, tapi untuk urusan dapur Kinan mencoba sebisa mungkin mengurusnya sendiri.
"Mamah, Ibu Hana bantu ya!" Sapa Hana pada kedua Ibunya.
"Kamu udah sholat Hana?" Tanya Irma.
"Udah Bu..!" Jawab Hana.
"Yaudah kalo gitu Ibu sholat dulu, kamu bantu Mamah Kinan ya!".
"Ya Bu..!".
"Tadi Mamah beli beberapa baju dan tas buat kamu lho. Nanti ke kamar Mamah yaa, kita cobain pas enggak!" Ucap Kinan.
"Ya Allah Mamah repot-repot, tapi makasih yaaa Mah!" Sahut Hana senang.
Selesai dengan semua masakan kini Hana dan Kinan menyajikannya di atas meja makan dibantu oleh dua maid juga.
"Jangan macem-macem kamu ya Juna sama Kaka ipar kamu!" Kinan memperingati, meskipun tau Juna hanya sekedar menggoda.
"Tau nih Mah, dari tadi modusin aku terus. Cariin pacar aja Mah, kelamaan jomblo kayaknya nih si Juna!" Ledek Hana.
"Iya Mah, aku juga mau dijodohin asalkan perempuannya sama persis kayak Kaka ipar" sahut Juna masih terus menggoda Hana.
"Yaa mana ada begitu, I am the one and only tau. Udah gak ada lagi stok perempuan kayak aku. Hahahaha..!" Narsis Hana. Entahlah bersama Juna, Hana begitu lepas mengeluarkan candaannya.
"Paling enggak yang mirip-miriplah!" Sahut Juna sambil mengambil satu tahu goreng dan memakannya.
"Emang tipe kamu yang kayak apa Jun?" Hana mulai penasaran dengan tipe perempuan idaman Juna.
"Emhhh.. cantik harus. Gue gak mau punya pasangan yang nantinya minder jalan sama gue karena ngerasa gak bisa ngimbangin ketampanan gue!" Pongah Juna membuat Hana mencibirkan bibirnya.
"Tapi yang jelas dia harus sebaik, sesabar dan sekuat lo..!" Lanjut Juna kemudian mencium pipi Hana, tak ayal Hana pun terpaku dengan apa yang baru saja dilakukan oleh adik iparnya itu, dan lebih membuatnya tak enak hati adalah Juna melakukan di depan Kinan.
Kinan hanya tersenyum melihat tingkah puteranya, terlebih melihat keterkejutan Hana.
"Jangan kaget kalo Juna suka se frontal itu, dia emang anaknya begitu. Dia juga sering kok nyiumin pipi Nara sama Mamah, kamu lihat sendiri kan? Begitulah Juna paling bisa mengekspresikan rasa sayangnya dibanding Abi. Udah sana panggil suami kamu, kita makan malam!". Hana pun mengangguk kemudian berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Hana tak menemukan Abi. Ia melihat pintu jendela besar ke arah balkon terbuka, ia pun menghampiri karena ia tau suaminya pasti sedang berdiri di sana.
Benar saja, Abi sedang berdiri menyandarkan kedua tangannya di pengangan balkon. Dan ternyata satu tangannya sedang memegang ponselnya sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Saat akan memanggil suaminya, sayup-sayup Hana mendengar Abi memanggil-manggil nama Raya. Ia pun mengurungkan niatnya dan langsung berdiri di belakang tembok mencuri dengar obrolan mereka.
Terdengar beberapa kali Abi mengungkapkan kerinduannya pada Raya, tertawa lepas dan melempar candaan kepada kekasihnya itu bahkan Hana juga mendengar kalimat-kalimat vulgar dari mulut suaminya.
Sakit, sesak itulah yang Hana rasakan saat ini. Hana bukan tipe perempuan kuat, ia sangat mudah menangis. Meskipun begitu Hana juga pandai menyembunyikan perasaannya.
"Udah dulu ya Sayang, udah jam makan malem. Pasti sebentar lagi Hana dateng manggil aku buat turun. Kamu hati-hati di sana, kerja yang bener, jangan macem-macem dan terlebih jaga kesehatan. I miss you so much Beb, pengen meluk kamu!" Ucap Abi saat akan mengakhiri obrolannya dengan Raya.
Buru-buru Hana mengelap air matanya, keluar dari persembunyiannya. Sebisa mungkin Hana menahan emosinya, sedihnya di hadapan Abi.
Abi yang sudah selesai dengan obrolannya, terkejut saat melihat Hana sudah berdiri di hadapannya.
"Sejak kapan lo disitu?" Tanya Abi dingin berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Baru aja, aku mau manggil Kaka buat makan malem!" Jawab Hana seadanya, Abi hanya berdehem menyahuti ucapan istrinya, ia pun berjalan melewati Hana. Hana kemudian mengekori suaminya di belakang.
Sepanjang perjalan menuju ruang makan mereka saling diam, Abi pun berinisiatif menggandeng tangan Hana yang berjalan di belakangnya.
"Jangan salah faham, gue cuma gak mau keluarga kita curiga kalo ngeliat kita begini. Lo tuh harusnya jalan di sebelah gue bukan di belakang gue. Kayak pembantu sama majikan aja!" Ucap Abi, namun Hana tak bergeming. Ia hanya menurut saja.
Sesampainya mereka di ruang makan, semua anggota sudah lengkap duduk di kursinya masing-masing. Seperti hari-hari biasa, selalu pasangan itu yang terlambat datang.
Mereka pun memulai makan malam mereka dengan tenang. Hana begitu terampil mengurusi Abi, Ibu dan Kakeknya.
"Besok aku sama Hana udah mulai pindah ke apartemen" ucap Abi di sela-sela kegiatan makan malam mereka.
"Kok tiba-tiba?" Pertanyaan yang mewakili seluruh keluarga diucapkan oleh Kinan.
"Gak tiba-tiba lah Mah, udah lima hari kita di sini. Aku rasa udah cukuplah, iya kan Sayang?" Abi meminta dukungan pada Hana. Hana pun hanya mengangguk mengiyakan meskipun hatinya masih ingin lebih lama di mansion.
"Paling enggak sepuluh hari lah Bi, Mamah masih pengen kita ngumpul begini!" Pinta Kinan.
"Maaf Mah gak bisa, sebentar lagi juga Hana sama Abi udah mulai syuting. Lagian kita butuh waktu berdua aja Mah buat saling mengenal, saling pendekatan!" Sahut Abi menekankan kata pendekatan sambil melihat ke arah Juna yang tersenyum sinis.
"Ya sudahlah kalo itu udah jadi keputusan kamu. Perlakukan Hana dengan baik, jangan sampe Mamah denger kamu seenaknya sama istri kamu. Dan kamu Hana, bilang sama Mamah kalo dia bikin kamu sedih!" Ucap Kinan, Hana hanya mengangguk. Mereka pun kemudian kembali makan dengan tenang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Aku up lagi yaaa.. Semoga sukaaa.. Jangan lupa tinggalin jejaknya yaaa.. ...
__ADS_1