My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Kejang Pseudoseizure


__ADS_3

Sementara keluarga besar Hafidz, Irma, Hanum serta Angga yang sedang menunggu kedatangan Hana dan Abi mulai kebingungan karena waktu telah lewat dari acara namun dua orang tersebut belum juga datang


"Tadi Abi sempet nelfon, nanyain nomor manajernya Nugie, partner kerjanya Hana dulu. Apa ada masalah sama mereka ya?" Angga yang faham situasi langsung bersuara.


"Coba kamu telfon manajer itu, coba tanyain ke dia siapa tau Abi dan Hana ada sama mereka!" Titah Kinan dengan wajah khawatir.


"Tunggu Mah biar Juna telfon sekali lagi ke Mas Abi dan Hana, siapa tau udah bisa dihubungi mereka!" Usul Juna, karena kenyataannya mereka sedari tadi bergantian mencoba menghubungi kedua orang tersebut namun tak ada respon dari keduanya.


Dan benar saja, Abi kini merespon panggilan sang adik setelah percobaan kedua.


"Mas lo sama Hana dimana sih? Udah di hotel? Kita nungguin ini?" Geram Juna ketika sambungan telfonnya terhubung.


"Gue sama Hana di rumah sakit Mitra, Hana sakit!" Jawab Abi dengan suara bergetar.


"Hana sakit? Tiba-tiba?" Tanya Juna terkejut begitu pula semua orang yang berada di ruangan itu.


Tanpa fikir panjang lagi, mereka semua langsung menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh Abi. Rasa khawatir benar-benar melibgkupi perasaan mereka, karena yang mereka tahu Hana baik-baik saja tadi, tak terlihat sakit sama sekali.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan yang sudah diberitahukan Abi tadi. Mereka hanya menemukan Abi dan Imah yang tengah duduk, bisa mereka lihat isakan Imah juga Abi membuat mereka semakin khawatir jika sesuatu terburuk tengah terjadi pada gadis mungil kesayangan mereka.


"Hana kenapa?" Tanya Irma mendekati menantunya yang tengah duduk dengan menundukkan kepalanya.


"Maaf Bu..!" Bukan menjawab Abi justru langsung meminta maaf pada mertuanya.


Tak lama seorang Dokter keluar, mereka pun langsung mengerubungi Dokter tersebut sangat ingin tahu apa yang tengah terjadi oleh Hana.

__ADS_1


"Kejang-kejang yang dialami Mbak Hana bukan epilepsi tetapi kejang pseudoseizure yaitu adalah gejala kejang yang disebabkan oleh kondisi psikologis berat. Berbagai masalah kesehatan mental dengan intensitas berat dapat menjadi pemicu dari gangguan ini, salah satunya yang dialami Mbak Hana yaitu Post-traumatic stress disorder (PTSD) dan kejadian yang dialami Mbak Hana saat ini memicu terjadinya kejang pseudoseizure", jelas Dokter tersebut panjang lebar.


"Kejadian? Kejadian apa yang dialami menantu saya Dok? Dia baik-baik saja tadi!" Tanya Kinan mewakili semua orang yang juga ingin tahu.


"Mbak Hana mengalami kekerasan fisik cukup berat, dan saya harus sampaikan dengan berat hati jika saat ini Mbak Hana tengah berada fase kritis dan dia dalam keadaan koma!" Jawaban Dokter tersebut seakan bagaikan hujaman menyakitkan bagi seluruh orang-orang yang menyayanginya.


"Kom,, ma..?" Lirih Abi dengan perasaan hancur, bahkan kini Irma telah menangis histeris, bayangan perjuangan anaknya ketika berusia delapan tahun langsung hadir lagi di otaknya.


"Kekerasan fisik? Kritis? Koma? Ada apa ini?" Tanya Kinan tak percaya, dengan gerakan cepat Kinan langsung menerobos ke dalam ruang tindakan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada menantu kesayangannya itu.


Betapa hancurnya perasaan Kinan menyaksikan tubuh kecil menantunya yang sangat mengenaskan penuh dengan luka, bahkan Hana yang selalu protes jika sebuah jarum infus terpasang di tangannya kini justru tertempel berbagai alat medis hampir di seluruh tubuh dan kepalanya.


Merasa tak sanggup untuk melihat Hana lebih lama lagi, Kinan memutuskan untuk keluar dari ruang tindakan tersebut dan ingin langsung mencecar pertanyaan pada Abi.


"Ada apa ini Abi? Kenapa Hana bisa seperti itu? Siapa yang tega melakukannya hah?" Cecar Kinan dengan derai air mata yang tak bisa ia bendung sama sekali.


Melihat bahasa tubuh anaknya, Kinan tahu betul bahwa pelakunya adalah anaknya sendiri.


"KESALAHAN FATAL APA YANG SUDAH HANA LAKUKAN PADA KAMU ABI SAMPAI KAMU TEGA MENYAKITI DIA SEDEMIKIAN RUPA HAH? KENAPA KAMU SETEGA ITU? SAYA MENYESAL ABIMANYU TELAH MELAHIRKAN MONSTER SEPERTI KAMU!" Teriak Kinan histeris memukul-mukul dada Abi.


Kinan terus menerus memukuli Abi dengan brutal tanpa Abi hindari sedikit pun. Hingga tubuh sang Mamah jatuh lemas, membuat Abi dengan cepat menangkapnya, namun dengan gerakan kasar Rendra merebut tubuh Kinan dan langsung mendorong tubuh Abi agar menjauh dari tubuh Kinan. Ya, Abi sadar bahwa ia pantas mendapatkan amarah serta kekecewaan dari semua orang.


Irma dengan perasaan hancur langsung menjalankan kursi rodanya memasuki ruang tindakan dimana tubuh puterinya tengah berada. Jerit histeris langsung terdengar sesampainya Irma di dalam ruangan tersebut.


Hati seorang Ibu telah dibuat sangat hancur menyaksikan tubuh puterinya yang teramat sangat mengenaskan. Ia yang sama sekali tak pernah mengasari puterinya begitu perih melihat luka-luka yang terukir di tubuh sang puteri. Membayangkan betapa kesakitan dan ketakutannya Hana saat mengalami kejadian tragis penyiksaan yang dilakukan oleh suami puterinya sendiri.

__ADS_1


Mendengar jerit histeri Irma, semua yang berada di ruangan tersebut langsung menatap tajam penuh amarah dan kecewa ke arah Abi yang saat ini tengah duduk sambil meremas rambutnya.


Meskipun semua sadar Abi begitu menyesali perbuatannya karena semua bisa melihat tangisan Abi yang dari awal mendengar sang istri koma membuat wajah lelaki gagah tersebut sembab.


Setelah beberapa saat dirasa tenang, Dokter mengucapkan beberapa hal lainnya.


"Untuk kekerasan fisik yang dialami Mbak Hana apakah pihak keluarga ingin kami melakukan visum?" Tanya Dokter tersebut tanpa ragu, karena sejatinya Dokter itu pun menahan amarah dengan apa yang telah diperbuat oleh Abi.


"Tidak perlu Dokter, kami akan menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan!" Jawab Irma, ketika ia keluar dari ruang tindakan puterinya.


Semua yang mendengar jawaban Irma dibuat terkejut, namun tak ada yang berani untuk mengintrupsi ucapan Ibu yang tengah terluka hatinya tersebut.


Saat Irma sudah di luar, di belakangnya brankar sang puteri tengah didorong oleh beberapa perawat. Abi langsung berdiri menatap istrinya yang tak berdaya itu dengan berbagai alat terpasang di tubuh sang istri.


Bahkan Hanum langsung memeluk Juna, dan Nara memeluk Kakek ketika melihat Hana dengan kondisi paling memilukan yang pernah mereka lihat. Suara tangis langsung kembali terdengar dengan sangat menyayat hati.


Begitu pula Hafidz meski tak berucap sepatah kata pun, lelehan air matanya terus membajiri pipi keriput sang Kakek.


Sedang Kinan yang sudah bisa menguasai dirinya sudah tak mampu berucap apa-apa lagi, ia hanya terus sesegukan di dalam dada bidang suaminya.


Tak ada lagi keceriaan seperti hari kemarin ketika Hana merayakan ulang tahunnya dengan penuh suka cita, semua berubah begitu drastis. Tawa dan kebahagiaan Hana kemarin bahkan masih terniang di pelupuk mata mereka, tetapi kini mereka harus menjumpai sosok yang sama namun dengan kondisi sangat jauh berbeda.


Semua serasa bagaikan badai yang tiba-tiba menghantam di saat tenang, memporak porandakan perasaan mereka dengan penuh duka.


"Kami akan membawa Mbak Hana ke ruang ICU agar kondisinya bisa kamu pantau secara intensif. Kami permisi!" Ucap Dokter tersebut sebelum meninggalkan para anggota keluarga.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2