
Selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Irma, Angga dan Hana sebenarnya berniat untuk pulang ke rumah tapi apalah daya Hafidz tidak mengizinkan mereka, pada akhirnya mereka pun harus ikut serta berkumpul dengan seluruh anggota keluarga dan calon anggota keluarga mereka.
Ada rasa sungkan yang hinggap di hati mereka bertiga, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mau tidak mau mereka hanya mendengarkan obrolan keluarga besar itu.
Abi dan Raya duduk
bersebelahan tanpa sedikitpun melepas genggaman tangan mereka dan tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Jadi apa keputusan kalian?", tanya Hafidz memulai pembicaraan. Abi dan Raya yang mendapatkan pertanyaan tersebut dari sang Kakek merasa sedikit bingung, yaa mereka lupa saat ini adalah batas waktu yang keluarga Abi berikan untuk mereka memberikan keputusan tentang hubungan mereka.
"Keputusan apa yang Kakek maksud?", tanya Abi ragu takut Kakeknya marah.
"Keputusan tentang hubungan kalian berdua? Apa kalian berdua siap menikah? Apa kami sudah boleh mempersiapkan pernikahan kalian?", ucap Hafidz tegas.
Raya yang mendengar ucapan Hafidz mulai gelisah, dia menatap satu per satu wajah orang-orang yang berkumpul di ruangan itu dengan tatapan yang tidak tenang.
"Kek, maaf saya gak bisa memenuhi permintaan Kakek dan keluarga semua. Untuk saat ini saya ingin fokus dulu meraih apa yang saya cita-citakan tanpa harus terbebani dengan pernikahan, tapi saya berjanji jika impian saya sudah terwujud kami akan sesegera mungkin menikah, tapi saya mohon beri kami waktu lagi", sahut Raya. Semua yang mendengar terlihat kesal dengan apa yang Raya utarakan.
__ADS_1
"Saya rasa waktu itu saya sudah jelas memberikan kalian waktu untuk memikirkan matang-matang hubungan kalian. Saya tidak bisa mengikuti mau kalian lagi terlebih mau kamu Raya. Abi sudah cukup siap melangkah ke jenjang pernikahan, apa kamu merasa tidak terlalu egois meminta kami semua menuruti egomu?", gertak Hafidz mulai menyudutkan Raya.
Abi yang melihat Raya tersudut mulai mencoba membelanya, "Kek, Raya cuma mau ngejar mimpi dia kok, dia tulus sama Abi, dia hanya butuh waktu untuk meraih mimpi dia, setelahnya kami akan menikah, kami akan memberikan cicit untuk Kakek sebanyak yang Kakek mau. Kami berjanji Kek, kami gak akan mengecewakan Kakek dan keluarga hanya saja beri kami waktu", bela Abi.
"Cukup Abimanyu .. Hidup ini bukan atas skenariomu yang seenaknya kamu rangkai sesuai maumu, apa selama ini kamu sudah melupakan Tuhan hah? Jadi ini yang kamu dapatkan atas kebebasan yang kami berikan hah? Putuskan sekarang tentang hubungan kalian, apakah kalian akan menikah secepatnya sesuai kemauan kami atau kalian sudahi hubungan kalian sampai di sini!", gertak Hafidz membuat semua terdiam.
Merasa tidak terima Abi mulai melawan Hafidz, menurutnya Haridzlah yang terlalu egois dengan memaksakan kehendaknya di dalam hubungan antara dia dan Raya.
"Cukup Kek, ini hubungan antara aku dan Raya dan kalian semua gak berhak mencampurinya, memaksakan kehendak kalian. Kami sudah sama-sama dewasa, kami tau kapan saatnya kami akan menikah, gak usah kalian repot-repot mengurusi kami", sahut Abi dengan suara lantang, membuat Kinan dan Rendra terpancing emosinya. Ini kali pertama Abi berani berbicara keras dan kasar pada Kakek dan keluarganya.
Selama ini keluarga Abi memang mengutus seseorang untuk terus menerus mengikuti Abi, awalnya hanya untuk keamanan Abi, namun semenjak Abi berhubungan dengan Raya, seseorang tersebut akhirnya juga bertugas melaporkan semua gerak gerik Abi dan kehidupan yang Abi jalani dengan Raya.
Cukup menyakitkan saat mengetahui kehidupan yang Abi jalani bagi keluarga Abi yang memang sangat menjunjung tinggi norma-norma agama, maka dari itu mereka menuntut agar Abi lekas menikahi Raya atau memutuskan hubungan yang Raya dan Abi jalani.
Mendengar semua perkataan Rendra dan melihat kemarahan keluarganya Abi hanya mampu terdiam, sedangkan Raya hanya menunduk malu, sudah tidak ada yang bisa dia harapkan. Dalam fikirannya Raya harus melepaskan Abi, meski berat tapi dia tak mau terikat pernikahan dengan siapa pun saat ini, yang ada dalam benaknya adalah mimpi-mimpinya.
"Maaf saya tetap tidak bisa, saya akan memutuskan hubungan kami saat ini. Saya tidak akan lagi ada di kehidupan Abi, begitu juga sebaliknya. Untuk saya saat ini yang terpenting adalah karier saya, bukan saya tidak tulus mencintai Abi tapi saya tidak bisa jika harus terikat pernikahan. Saya sudah lama membangun karier saya dari nol dan saat ini sebentar lagi semua cita-cita saya akan terwujud, saya gak akan menyia-nyiakannya. Maaf jika selama ini saya sudah membuat malu keluarga ini, saya sudah menorehkan luka dan kekecewaan di keluarga ini. Saya permisi", ucap Raya kemudian beranjak meninggalkan mereka yang tertegun dengan apa yang baru saja Raya ucapkan.
__ADS_1
Abi yang lebih terkejut dengan keputusan Raya berusaha mengejar Raya, ia ingin mendengar dengan lebih jelas lagi apa yang baru saja Raya katakan.
Sebelum Raya sampai ke mobilnya, Abi sudah berhasil menyusulnya. Ia menarik tangan raya, wajahnya seakan meminta penjelasan maksud dari apa yang Raya ucapkan di dalam tadi. Raya yang sebenarnya menangis berusaha untuk menutup wajahnya, ia tidak ingin Abi mengetahui kalo dirinya menangis, ia tidak mau lagi ragu dalam mengambil keputusannya.
"Ray, kamu enggak seriuskan sama yang kamu bilang di dalem tadi", tanya Abi memegang erat bahu Raya.
"Bi, kamu denger sendirikan keluarga kamu, kita gak bisa Bi terus sama-sama. Aku gak bisa Bi kalo harus mengubur impian aku demi sebuah pernikahan. Bukan aku enggak cinta sama kamu, aku cinta Bi sama kamu, cinta banget. Tapi maaf aku gak bisa ..!", jawab Raya disela isak tangisnya.
"Kamu egois Ray, kamu enggak mencintai aku lebih dari impian kamu. Selama ini kamu bohong kan, tujuan kamu bukan aku, tapi cita-cita kamu. Tega kamu Ray, bahkan disaat aku membela kamu mati-matian di depan keluargaku, justru kamu ninggalin aku tanpa sedikit pun kamu membuktikan bahwa kamu bakal ada di sisi aku. Selamat tinggal Ray, kejar impian kamu, kejar cita-cita kamu. Aku kecewa Ray sama kamu..!", ucap Abi kemudian meninggalkan Raya dengan penuh rasa kecewa, rasa sakit hati. Dia benar-benar tidak percaya bahwa tak sedikit pun Raya memikirkannya, memihaknya dan memperjuangkannya. Raya menyerah begitu saja, itu hal yang membuatnya jauh lebih kecewa.
Berkali-kali Raya memanggil Abi, namun Abi tak memperdulikannya. Ia terus berjalan masuk ke mansionnya. Abi tak mau lagi menengok ke belakang, rasa kecewanya benar-benar membuatnya mengambil keputusan untuk juga melepas Raya.
Saat melewati ruang keluarga, ia melihat satu per satu orang-orang yang masih belum beranjak dari tempatnya. Ia sadar saat ini keluarganya pasti sedang mengasihinya. Ia terus berlalu, menuju tangga lantai dua untuk masuk ke dalam kamarnya. Untuk sementara ia tak mau berbicara apapun terlebih membahas Raya.
Ia hanya ingin menenangkan dirinya, perasaannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1