My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Gadis Cerdas


__ADS_3

"Belum tidur?" Tanya Abi saat mendapati Hana masih asyik dengan buku-buku pelajarannya di meja kerja Abi.


Jam menunjukan pukul 10 malam, dia baru saja menyelesaikan syuting on airnya di salah satu stasiun tv dan kembali ke apartemennya.


"Belum, aku masih ngerjain beberapa PR buat besok. Ka Abi mau mandi? Aku siapin airnya dulu ya!" Hana beranjak ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat suaminya.


Saat sedang menyiapkan air di kamar mandi, Abi duduk di bangku yang tadi Hana duduki. Ia melihat tugas-tugas yang sedang dikerjakan oleh istrinya.


"Gadis cerdas!" Senyum Abi mengembang ketika memeriksa tugas matematika yang dikerjakan istrinya benar semua.


"Airnya udah siap Ka! Kaka mau makan gak?" Tanya Hana.


"Boleh, gue mau makan di kamar aja. Nanti lo suapin yaa!" Pinta Abi kemudian membuka pakaiannya di depan Hana. Hana sudah tak kaget lagi setiap Abi bertelanjang dada, karena memang Abi sudah sering membuka pakaiannya di depan Hana. Namun Hana selalu terfokus oleh perut suaminya yang tercetak 6 kotak otot di perutnya.


"Eh bocah, ngapain bengong ngeliat perut gue? Pengen lo yaaa?" Ledek Abi saat sadar sedang diperhatikan Hana.


"Aku penasaran kok bisa yaa perut ngebentuk gitu? Boleh pegang ka?" Tanpa menunggu dibolehkan atau tidak Hana langsung menghampiri Abi untuk menyentuh lembut dan meraba-raba otot perutnya.


Abi cukup dibuat ketar-ketir dengan sentuhan yang dibuat Hana. Berkali-kali ia berusaha menelan salivanya yang terasa berat.


Tak tahan dengan pergerakan yang dilakukan tangan-tangan mungil istrinya, Abi langsung memegang tangan Hana dan menahannya.


"Lo sadar gak apa yang lo lakuin ini penganiayaan buat si perkasa? Udah gue mau mandi dulu, lo lanjutin belajar atau apalah terserah!" Ucap Abi gerogi kemudian meninggalkan Hana ke kamar mandi.


"Perkasa siapa?" Tanya Hana lirih. Tak mau ambil pusing, Hana memilih untuk menyiapkan piyama suaminya dan turun ke bawah untuk mengambilkan makanan suaminya.

__ADS_1


Hampir satu jam Abi akhirnya selesai dari ritual mandinya, Hana agak kesal dengan kebiasaan suaminya yang terkadang lama menghabiskan waktunya di kamar mandi.


"Lama banget sih mandinya, sampe makanannya dingin! Gerutu Hana.


"Gara-gara lo lah!" Kesal Abi.


"Lah kok aku?" Tanya Hana bingung.


"Udah lo gak bakal ngerti! Suapin gue!" Perintah Abi. Hana pun menghampiri suaminya yang duduk di atas ranjang dan dengan telaten menyuapkan makanannya.


"Yang masak siapa?" Tanya Abi ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.


"Mbak Dewi sama Bi Imah!" Jawab Hana kemudian menyuapi suaminya lagi.


"Iya, nanti Hana yang masakin buat Kaka. Besok mau sarapan apa?" Sahut Hana.


"Nasi goreng pake sosis yang banyak. Mamah sering bikinin itu buat sarapan sebelum berangkat ke sekolah, kangen!" Ucap Abi, Hana mengangguk mengiyakan permintaan suaminya.


Tak butuh waktu lama, Abi telah menghabiskan makanannya. Hana merapikan piring kotornya dan meletakannya di meja. Ia sudah terlalu malas untuk membawanya ke dapur.


"Udah malem, lo tidur duluan aja. Gue mau ngerokok dulu di balkon sekalian biar makanannya turun!" Perintah Abi, kemudian beranjak ke balkon dengan membawa sebatang rokok untuk dinikmatinya.


Seperti biasa Hana akan menyusun guling untuk menjadi pembatas tidur antara mereka, meskipun ia tau setiap pagi guling itu sudah berpindah tempat ke lantai.


Tak butuh lama untuk Hana terlelap, karena tubuhnya yang lelah serta matanya yang memang sudah berat.

__ADS_1


Abi yang sudah menghabiskan satu batang rokoknya, kembali masuk dan mengambil satu batang lagi juga tak lupa ponselnya. Ia sengaja menunggu Hana terlelap untuk menghubungi Raya.


Sebelum ke balkon Abi menyempatkan dirinya untuk sekedar mengecup dahi Hana, membelai lembut rambut istrinya. Ada rasa dari dalam hati Abi untuk melindungi Hana, menyayanginya juga membahagiakannya. Apa ia sudah jatuh cinta? Sepertinya iya, tapi keegoisannya masih menyangkal semua itu.


"Cihh.. Kekeh amat bikin perbatasan. Hahaha..!" Gelak Abi lirih.


Abi pun kembali menuju balkonnya, menutup pintu kaca yang menghubungkannya ke kamar. Setelah menyalakan rokoknya, ia mulai menekan kontak Raya. Namun setelah dua kali mencoba menghubunginya, Raya tak juga mengangkatnya.


Selang beberapa saat, ponsel Abi begetar. Sang kekasih akhirnya menghubungi balik panggilannya.


"Kamu kemana? Lama banget!" Keluh Abi saat panggilan video call mereka tersambung.


"Maaf sayang, tadi aku masih pemotretan jadi gak pegang hp! Kamu lagi apa?" Sahut Raya yang sedang sibuk membersihkan make up nya.


"Ngerokok di balkon!" Jawab Abi jujur.


Obrolan mereka pun terus terjadi sampai pukul 1 dinihari. Begitu banyak yang mereka bahas mulai dari hal kecil sampai hal yang berbau urusan ranjang.


"Udah dulu ya Sayang, aku ngantuk. Kamu hati-hati di sana, jangan nakal. Cepet pulang, dede perkasa kangen!" Ucap Abi sebelum mengakhiri aambungan video call nya dengan sang kekasih.


Ia kemudian masuk dan menutup pintu kaca balkonnya dan menghampiri sang istri yang kini posisi tidurnya berubah terlentang.


Abi naik ke atas ranjang, menyingkirkan guling-guling yang tadi disusun oleh istrinya. Ia menyingkap selimut Hana dan ikut masuk ke dalam selimut, memeluk tubuh mungil istrinya yang sudah terlelap di dunia mimpi. Abi mencium pipi putih Hana, sebelum ikut terlelap tidur.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2