
Setelah hampir setengah jam akhirnya Hana mulai sadar. Bingung, itu yang dirasakan Hana saat baru saja matanya terbuka sempurna. Ia melihat semua keluarganya juga temannya berkumpul, bahkan sekarang juga ada Rendra dan Angga.
"Udah bangun sayang? Masih pusing kah?" Sadar Hana sudah siuman, Kinan mendekatinya.
"Hana kenapa?" Ia masih belum mengingat jika dirinya jatuh pingsan tadi.
"Kamu pingsan tadi Sayang, sekarang gimana perasaan kamu?" Tanya Kinan lagi.
"Lemes Mah, agak pusing cuma gak sepusing tadi!" Jawab Hana lemah, ia pun mendesah berat saat sadar tangannya terpasang infus. Hana benar-benar tak menyukainya.
"Ya udah nanti ada Dokter yang bakal periksa kamu lagi, kamu istirahat aja dulu ya!" Kinan membelai kepala menantunya dengan penuh kasih.
"Ibu gimana Mah?" Tanya Hana khawatir.
"Malam nanti Ibu kamu dioperasi, Beliau masih di ruangannya. Kamu jangan khawatir, yang penting sekarang fokus ke kesehatan kamu aja dulu!" Jawab Kinan yang tiba-tiba mengelus perut rata Hana membuat Hana sedikit bingung.
"Mungkin di sini udah ada Abimanyu junior, tapi belum pasti. Nanti akan ada Dokter kandungan yang akan memastikannya, kalo gitu Mamah ke ruangan Ibu kamu dulu yaa!" Melihat kebingungan Hana, Kinan mencoba menjelaskan kemungkinan bahwa saat ini Hana tengah mengandung. Tanpa Kinan sadari penjelasannya justru membuat Hana semakin bingung dan reflek menyentuh perut ratanya.
Sepeninggalan Kinan, Rendra dan Hafidz kini Hana hanya ditemani oleh Hanum, Nugie juga Angga. Mereka bertiga pun menghampiri ranjang Hana.
"Wah, kalo bener lo hamil tokcer juga laki lo!" Seloroh Hanum membuat Nugie dan Angga tertawa.
"Tapi masa sih secepet itu?" Tanya Hana bingung sendiri.
"Lo telat haid gak?" Bukan menjawab kebingubgan sahabatnya, Hanum justru balik bertanya.
"Harusnya tiga hari yang lalu gue haid, tapi kan gue emang suka maju mundur haidnya. Gak mungkin hamil lah, kecapekan aja kali gue!" Hana mencoba untuk tidak terlalu berharap lebih dengan kehamilannya yang masih belum pasti itu.
"Lo gak mau hamil?" Tanya Hanum curiga.
"Bukan begitu, gue cuma ngerasa terlalu cepet aja. Siap gak siap sebenernya, udah lah toh belum tentu juga gue beneran hamil. Ngapain bahas sesuatu yang belum pasti sih" Keluh Hana.
__ADS_1
Selesai shalat ashar di atas tempat tidur, Hana yang merasa kesepian setelah ketiga temannya pamit pulang mencoba untuk mengalihkan kebosanan dengan memainkan ponselnya, tetapi sayang ponselnya sudah rusak, retak dimana-mana dan taK mau menyala.
"Tadi Angga udah Mamah suruh carikan ponsel baru buat kamu, ponsel kamu yang itu udah bener-bener rusak. Malam mungkin Angga ke sini buat antar ponsel kamu ya! Pake pionsel Mamah aja dulu kalo kamu mau telfon Abi" Hana tersentak saat Kinan baru saja masuk bersama Dokter wanita yang sangat cantik, ia hanya memasang senyum malu-malu saat sadar Kinan mengetahui kegelisahannya.
"Oh iya ini Dokter Riana, Dokter kandungan. Beliau yang akan periksa kamu" Ucap Kinan lagi memperkenalkan Dokter cantik di sebelahnya.
"Wahh cantik banget ya calon mamah satu ini, kenalin saya Dokter Riana!" Puji Riana sebelum memperkenalkan diri membuat Hana tersipu.
"Saya Hana, Dok. Salam kenal!" Sahut Hana ramah.
Riana pun mulai memeriksa kondisi Hana, ia juga bertanya-tanya tentang keluhan-keluhan apa saja yang terjadi pada Hana akhir-akhir ini. Bertanya tentang kapan terakhir dia mendapatkan tamu bulannya, dan yang terkahir meminta Hana untuk melakukan tes urin untuk memastikan apakah dirinya saat ini benar positif hamil atau kah belum.
Hana yang mempunyai kebiasaan setiap merasa gugup akan selalu buang air kecil pun langsung menuju ke kamar mandi dibantu oleh mertuanya untuk melakukan tes kehamilan dengan tespek.
Riana tersenyum saat menerima tespek yang diberikan oleh Hana karena ia melihat ada dua garis merah meskipun yang satunya lagi masih sangat samar, tapi sebagai Dokter yang sudah berpengalaman ia yakin betul jika Hana sudah positif hamil.
"Selamat ya Mamah cantik, di dalam perut Mamah cantik sekarang ada yang lagi tumbuh. Dijaga baik-baik ya! Makan yang teratur yang bergizi, jangan capek-capek, jangan banyak fikiran, always be happy selama kehamilan ya!" Ucap Riana ikut berbahagia.
"Iya Nyonya, selamat yaa!" Sahut Riana, ia kemudian dia meminta seorang suster untuk mengambil sampel darah Hana. Ada beberapa hal yang ingin Riana pastikan di kehamilan pasien mudanya itu.
"Kenapa harus ambil darah Dok? Kan saya sudah di tes urin tadi!" Tanya Hana tiba-tiba panik.
"Ada beberapa yang ingin saya periksa dan saya pastikan supaya kehamilan yang Mamah cantik jalani dapat berjalan dengan baik dan sehat!" Jawab Riana ramah.
"Haruskah Dok?" Tanya Hana lirih membuat Riana juga Kinan sedikit bingung.
"Harus apa sayang?" Tanya Kinan duduk di sebelah Hana karena melihat wajah Hana yang tiba-tiba ketakutan.
"Diambil darahnya Mah yang artinya diambil dangan suntikan kan?" Hana terlihat sangat takut.
"Kamu takut sama suntikan?" Tanya Riana yang mulai menangkap situasi yang dialami Hana saat ini. Mendengar pertanyaan dokter cantik itu Hana hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Riana pun mencoba menyemangati calon ibu muda itu, mulai mensugesti bahwa tak ada yang perlu ditakutkan.
"Sakitnya sebentar aja kok, demi dedek ya mamah cantik!" Rayu Riana yang akhirnya memilih melakukan sendiri pengambilan darah pada Hana.
Mendengar kata "demi dedek" Hana mencoba menepiskan ketakutannya, meskipun masih terlihat ketegangan di wajah Hana.
Dokter kemudian melilitkan tali tourniquet di lengan Hana, saat selesai melilitkan tali tersebut Hana diminta agar tidak tegang. Meski Hana sangat takut, ia mencoba mengikuti intruksi yang diberikan Riana dengan baik.
"Alhamdulillah selesai!" Ucap Riana puas sambil melepaskan tali yang melilit di lengan Hana. Riana kemudian pamit setelah sekali lagi memberi nasehat-nasehat kehamilan untuk Hana.
Di luar perawatan Hana, Kinan yang mengantar Riana sedikit berbincang.
"Usia kandungan Hana sekitar empat mingguan, usia yang masih sangat rentan. Dengan kondisi yang saat ini saya harap keluarga bisa lebih memperhatikan Hana. Hana masih berusia 18 tahun, usia yang termasuk riskan dalam mengandung. Saya sedikit khawatir dengan kondisinya yang lemah juga situasi yang saat ini bagi siapapun akan membuat tertekan, sebisa mungkin tolong jauhkan Hana dari stress. Situasi dimana sang Ibu saat ini sedang sakit saya yakin membuat tekanan sendiri untuk Hana, tolong terus semangati dia, berikan dia sugesti-sugesti yang positif dan jika bisa minta Abi untuk sementara terus menemani istrinya hingga usia kandungan Hana dirasa cukup aman!" Penjelasn Riana membuat Kinan menjadi khawatir.
"Apa kehamilan Hana termasuk kehamilan yang beresiko Dokter?" Tanya Kinan sendu.
"Iya, saya akan berusaha sebaik mungkin agar kehamilan Hana tidak bermasalah. Saya juga sudah meresepkan vitamin dan obat-obatan yang terbaik untuk Hana. Yang saya minta hanya satu, terus semangati dia, jauhkan dia dari stress, jaga asupan makanannya, jaga emosinya!" Ucap Riana.
"Sayang..!" Sapa Kinan setelah selesai berbicara dengan Riana.
"Mah, emh.. Dokter Riana bilang apa aja?" Tanya Hana yang saat ini duduk di ranjangnya.
"Bilang seperti yang Beliau bilang sama kamu dan inget ya Sayang kamu harus jaga pola makan kamu juga asupan gizinya, ada dedek yang harus makan banyak di dalem sini. Biar nanti dia lahir sehat dan montok!" Jawab Kinan sambil mengelus perut Hana yang masih rata.
"Hana masih gak percaya Hana hamil!" Lirih Hana menatap perutnya.
"Kamu mau ngabarin suami kamu?" Tawar Kinan.
"Enggak usah Mah, aku mau kasih kejutan buat Ka Abi nanti kalo dia ulang tahun. Bentar lagi kan Ka Abi ulang tahun Mah, Hana mau kehamilan Hana jadi kado terindah buat suami Hana. Jangan ada yang kasih tau Ka Abi dulu ya Mah, tolong!" Tolak Hana., Kinan pun mengangguk.
Hana sudah tak sabar membayangkan seperti apa wajah bahagia suaminya saat tahu tentang kehamilannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=