
"Kok, Ka Abi yang jemput?" Tanya Hana ketika sudah berada di dalam mobil sepulang ia sekolah.
"Kenapa? Lo kecewa bukan Juna yang ngejemput lo hah?" Sewot Abi.
"Idihhh marah-marah. Bukan gitu tadi tuh Juna bilang mau jemput aku, kita mau jalan-jalan!".
"Jalan-jalan? Dalam rangka apa?" Tanya Abi mulai melajukan mobilnya.
"Yaaa mungkin dia kangen suasana Jakarta, kan dia udah lama di Amerika!" Jawab Hana.
"ALESAN!!" Sewot Abi lagi.
"Kaka kenapa sih?" Hana benar-benar bingung dengan mood suaminya saat ini.
"Dia kan bisa jalan sendiri, kenapa juga harus ngajak lo. Lo nya juga mau-maunya aja lagi!" Geram Abi.
"Lah emang kenapa gak mau, aku seneng ngobrol sama Juna, dia anaknya enak diajak bercanda. Gak ada salahnya juga kan aku nemenin adek iparku jalan-jalan" kini Hana yang dibuat kesal.
"Oohh jadi lo mau bilang lo nyaman sama dia atau jangan-jangan lo mau jadiin Juna serepan lo setelah nanti lo gw cerein?" Tuduh Abi dengan menampilkan senyum yang seakan merendahkan.
"Maksud Ka Abi apa?" Kini Hana dibuat bingung dengan tuduhan yang dilontarkan Abi.
"Lo tau maksud gue apa Han. Lo sengaja kan pendekatan sama Juna jadi sewaktu-waktu kalo gw lepas lo, lo langsung jadiin dia pengganti gue?".
"Aku gak sama sekali punya pemikiran ke situ. Aku emang nyaman sama dia tapi bukan berarti apa yang Ka Abi tuduhkan ke Hana itu bener!" Hana pun berusaha menjelaskan.
"Gue gak suka lo deket-deket sama Juna, jadi gue harap lo gak perlu lagi berinteraksi sama dia!" Perintah Abi.
"Alesannya apa? Dia adek ipar aku, dia baik sama aku, dia gak pernah macem-macem sama aku. kenapa aku harus jauhin dia?" Hana mulai jengah dengan sikap suaminya.
__ADS_1
"Alesannya ya gue gak suka lo deket sama dia dan gue mau lo nurut sama omongan gue, paham!?" Gertak Abi.
"Enggak, Hana gak mau. Yang gak suka Kaka bukan Hana, kenapa harus Hana yang ngejauhin Juna?" Lawan Hana kesal.
"Jadi lo gak mau nurut sama gue?" Tanya Abi lagi penuh penekanan.
"Alesan Ka Abi gak masuk akal. Hana gak bisa nurut, kita tinggal satu atap Ka, gak lucu kalo tiba-tiba aku acuhin dia tanpa sebab. Apalagi dia baik sama aku, sopan sama aku, mana bisa aku tiba-tiba ngejauhin dia? Ayolah Ka jangan begini, Kaka yang punya masalah sama Juna, jangan bawa-bawa aku terlibat dalam masalah kalian berdua!" Hana berusaha bernegosiasi dengan Abi, namun setiap ucapan Hana tak sama sekali diindahkan oleh Abi. Ia justru mempercepat laju mobilnya.
"Ka jangan cepet-cepet bawa mobilnya!" Pinta Hana pada Abi, ia masih trauma berkendara dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa?" Tanya Abi karena memang dia lupa jika Hana mempunyai trauma kecelakaan saat dia kecil dulu, padahal Kinan sudah pernah menceritakannya.
"Aku gak suka Ka, aku takut!" Jawab Hana mulai ketakutan.
"Kan yang gak suka lo, yang takut lo kenapa gue harus ngikutin lo, sedangkan gue sendiri suka, gue enggak takut jadi kenapa gue harus dengerin lo!" Ucap Abi membalikan omongan Hana.
Hana tak bisa lagi berucap, ia hanya memandang Abi dengan tatapan penuh harap agar Abi mau sedikit kasihan dengannya. Namun sepertinya percuma, karena Abi terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hana mulai terlihat panik, ia meremas rok abu-abunya, memejamkan matanya. Saat ini dia benar-benar ketakutan.
"Kenapa? Mau minta Juna jemput lo?" sindir Abi, Hana hanya menggeleng.
Sepanjang perjalanan Hana hanya terdiam, sedangkan Abi tak sedikit pun menurunkan kecepatannya. Ia begitu kesal dengan Hana yang tak mau menurutinya. Potongan gambaran detik-detik kecelakaan saat Hana kecil seakan berputar kembali di otaknya. Air matanya pun mulai keluar bersamaan keringat dingin yang mulai bercucuran.
Abi pun mulai mengurangi kecepatannya saat sudah memasuki gerbang mansionnya, ia pun menghentikan mobilnya di depan pintu utama dan langsung keluar tanpa melihat ke istrinya.
Hana belum beranjak dari dalam mobil, ia mengatur nafas dan kaki nya yang terus gemetar. Setelah beberapa saat dirasa cukup kuat dan tenang, Hana mulai keluar dari mobil dengan wajah masih pucat.
Abi yang terlebih dahulu masuk ke dalam mansion pun ditanyai oleh Kinan tentang keberadaan Hana, Abi hanya menjawab jika Hana masih di dalam mobil.
Tak lama Hana pun masuk, di dalam ia melihat Ibunya tersenyum padanya. Ada Kinan dan juga Nara menyambutnya.
__ADS_1
"Ibu, Ayah..!" Ucap Hana sebelum ia jatuh tak sadarkan diri.
Mereka yang melihat Hana pingsan pun berteriak panik menghampiri Hana yang sudah tersungkur di lantai. Abi yang masih di tengah tangga pun berlari turun menghampiri istrinya.
"Angkat Bi!" Perintah Kinan panik.
Ia pun mengangkat Hana, membawanya ke kamar terdekat, kamar Irma. Abi merasakan tubuh dingin Hana yang berkeringat.
Irma langsung duduk di sebelah putrinya, ia mengoleskan minyak aromaterapi ke hidung dan tubuh Hana. Dilihatnya wajah pucat anaknya.
"Maaf Nak Abi, apa di jalan tadi ada kecelakaan?" Tanya Irma lembut. Di dalam kamar, Hafidz, Juna, Nara dan Kinan juga berkumpul. Abi pun menggeleng, karena memang tak ada kecelakaan sepanjang ia pulang.
"Apa tadi Nak Abi bawa mobilnya cepat?" Tanya Irma lagi, karena hanya dua kemungkinan ini yang membuat anaknya drop. Abi pun menangguk bingung.
"Hana pernah mengalami kecelakaan saat kecil dulu, ayah dan adiknya tewas di tempat dan Hana melihatnya. Sejak saat itu Hana punya trauma dengan kecelakaan, kecepatan dan darah. Maaf ya Nak Abi, jika boleh Ibu minta lain kali jangan bawa mobil cepat-cepat saat bersama Hana" Irma menjelaskan dengan selembut mungkin agar Abi tak tersinggung.
Namun kelembutan yang Irma tunjukan seakan seperti tamparan yang menyakitkan untuknya. Bagaimana bisa ia lupa dengan cerita Kinan tentang Hana.
Abi begitu menyesali kelakuannya, hanya karena marah ia tak mendengarkan permohonan Hana agar memelankan laju mobilnya. Ia justru seakan menikmati ketakutan istrinya tadi.
Ia mendekati tubuh istrinya, membelai lembut pucuk kepala sang istri yang masih belum sadar seraya meminta maaf.
Hafidz, Juna dan Nara pun berinisiatif keluar.
Kinan terlihat memendam kekesalannya pada Abi, tapi ia mencoba menahan marahnya. Sedang Irma terus menerus menggosokan minyak ke tubuh dan hidung anaknya berharap Hana lekas sadar setelah mencium aroma minyak terapi yang ia oleskan.
"Apa gak perlu memanggil Dokter Ir?" Tanya Kinan
"Gak perlu Mbak, biasa juga begini. Nanti juga bangun. Biasanya kalo dia begini, dia bakal jadi sedikit pendiam, jadi jangan kaget ya nanti!" Jawab Irma.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Please like and votenya yaaaa 😘😘...