My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Saling Menguatkan


__ADS_3

Di luar ruangan Hana terduduk di lantai, tangisnya masih pecah. Dia benar-benar terpuruk saat ini. Hanum yang juga menangis tidak berhenti untuk menenangkan Hana yang masih histeris.


"Sabar ya Han, lo harus kuat lo gak boleh kayak begini Hana. Gw tau lo sedih sekarang ini, tapi lo harus bisa tunjukin ke Ibu kalo lo kuat, lo tegar biar Ibu juga kuat, biar Ibu terus semangat buat sembuh", bujuk Hanum sambil terus membelai rambut Hana.


"Gw takut Num, takut banget. Gw gak pernah bisa bayangin kalo nanti Ibu udah gak bisa sama gw lagi dan ini Kanker, gw bener-bener gak tega buat ngeliat Ibu kesakitan karena penyakitnya. Gw hancur Num, hati gw sakit", ucap Hana disela-sela tangisnya.


Abi yang duduk tidak jauh dari mereka memperhatikan mereka dengan rasa iba. Dia benar-benar baru melihat sosok gadis yang biasanya ceria dan berani kini sangat rapuh. Ia pun menghampiri keduanya, kemudian berjongkok agar dapat mengimbangi posisinya dengan Hana.


"Duduk sana yuk, gak enak dilihatin banyak orang!", ajak Abi menunjuk ke arah jajaran kursi di pojok koridor. Hana dan Hanum pun mengangguk mengikuti arah yang ditunjukkan Abi. Mereka bertiga pun bangun dan berjalan menuju kursi tunggu yang ditunjuk Abi.


Saat sudah duduk Hana mengusap-usap air matanya yang terus keluar. Abi yang duduk di samping Hana begitu kasihan.


"Maaf Ka, Hana belum sempet ngomong ke Tante Kinan, lagian Ibu juga belum ngasih izin kok Ka boleh apa enggaknya Hana main iklan" ucap Hana lirih.


"Udah lupain aja, kalo nanti Ibu lo kasih izin lo juga gak usah ngomong apa-apa ke nyokap gw. Gak apa-apa lo tetep dipasangin sama gw", sahut Abi.


"Gak apa-apa Ka, aku juga gak enak sama Mbak Raya".


"Tenang aja nanti gw kasih pengertian ke dia lagi, dia bakal ngerti kok", ucap Abi.


Sesaat suasana hening, hanya suara sesegukan dari Hana dan Hanum yang terdengar bersautan. Abi begitu merasa kasihan dengan Hana, meskipun belum lama Abi mengenal Hana, tapi dia tau Hana adalah tipe-tipe gadis yang ceria, gadis yang berani. Tetapi pemandangan yang tersaji saat ini adalah sosok yang berbeda, sosok yang sangat rapuh.


"Kalo boleh tau Ibu lo sakit apa?", tanya Abi hati-hati, takut-takut jika ia akan membuat gadis dihadapannya kembali histeris.


"Kanker Ka.. kan.. ker payu..da..ra", jawab Hana terbata-bata, tangis Hana pun kembali pecah.


"Lo yang sabar yaa, lo gak boleh terpuruk kayak gini. Gw tau ini berat tapi gw yakin Ibu lo lagi butuh lo yang lebih kuat dibanding dia supaya dia juga punya semangat buat sembuh", hibur Abi yang di angguki oleh Hana meski tetap dalam keadaan menangis.

__ADS_1


Hana melihat Dokter Rama keluar dari ruangan disusul oleh Tante Hana di belakangnya, mereka sempat berbincang sebentar di depan pintu kamar Ibunya. Hana sama sekali tidak berani menghampiri dokter atau pun Tante Hana, dia tidak siap untuk mendengar kabar yang jauh lebih buruk menurut pikirannya.


Selesai berbincang Kinan yang melihat Hana dan yang lain di pojok koridor menghampiri mereka. Sesampainya di sana, Hana langsung memeluk erat Kinan, tangisannya pun makin keras. Dia seakan ingin meluapkan kesedihan dan ketakutannya pada sosok yang selama ini dekat dengannya, yang selalu membantunya.


"Tante Hana takut..", hanya itu kalimat yang mampu diucapkan oleh Hana sambil terus memeluk erat Kinan.


"Kamu yang sabar, yang kuat. Terus semangat karena saat ini Ibumu butuh kamu agar terus semangat untuk sembuh. Hana harus denger Tante, Dokter bilang sama Tante, masih ada kemungkinan untuk Ibu kamu sembuh, Dokter akan melakukan yang terbaik yang mereka bisa jadi Hana gak boleh menyerah. Tunjukan ke Ibu kamu kalo kamu yakin Ibu kamu akan sembuh, jadi anak yang kuat. Sembunyikan kesedihanmu di depan Ibu kamu, semangati dia selalu, saat ini itu lah yang dia butuhkan", ucap Kinan melepas pelukannya dan menatap dalam ke manik mata Hana. Hana hanya mampu menganggukan kepalanya.


"Masuklah sayang, temui Ibu kamu. Semangati dia", perintah Kinan, Hana dan Hanum pun kemudian masuk ke kamar Irma.


Setelah keduanya masuk Kinan meminta kepada Abi untuk menemaninya mengurus biaya administrasi pengobatan lanjutan Irma.


Di dalam kamar, Hana dan Hanum disambut senyuman oleh Irma, hal itu membuat Hana semakin sesak. Ia tau Ibunya berusaha menutupi kesedihan dan ketakutan yang sama dengan apa yang saat ini juga dirasakannya.


"Bu..", sapa Hana lirih, Hanum hanya memandang mereka dengan jauh. Dia memberikan waktu pada mereka berdua untuk saling menguatkan.


"Doakan Ibu Nak, semangati Ibu. Kamu jangan terpuruk seperti ini, Ibu butuh Hana yang kuat Hana yang ceria untuk Ibu tetap berjuang sembuh dari sakit ini. Ibu masih ingin menjaga Hana selama mungkin", ucap Irma mengusap air mata anaknya.


" Iyaa Bu, Ibu harus sembuh. Hana gak mau Ibu sakit, sampai kapan pun Hana akan selalu butuh Ibu jadi Ibu harus sehat lagi. Ibu harus terus jagain Hana", sahut Hana lirih.


"Berjanjilah sayang, Hana juga yang kuat yaa. Obat Ibu adalah Hana yang selalu ceria dan selalu bersemangat seperti yang Ibu lihat selama ini. Kamu adalah kekuatan Ibu Nak, jadi ayo sama-sama kita berjuang yaa", ucap Irma lagi menyemangati. Ia pun melambaikan tangannya memanggil Hanum untuk datang mendekati mereka.


Setelah mendekat Hanum pun duduk di sebelah Irma. Mereka bertiga pun saling berpelukan, saling memberikan semangat satu sama lain. Ya saat ini mereka akan berjuang bersama, saling menguatkan satu sama lain.


"Tapi Bu, bagaimana kita membayar biaya rumah sakitnya? Tabungan kita selama ini gak akan mungkin cukup", tanya Hana ragu.


"Sayang, Tante Kinan akan membiayai semuanya. Entah kebaikan apa yang pernah kita lakukan hingga Allah mengirimkan orang sebaik dia dalam hidup kita. Tante Kinan mu itu bagaikan Malaikat penolong yang dikirim oleh Allah untuk kita maka Ibu minta hormatilah dia selayaknya kamu menghormati Ibumu ini. Sampai kapan pun dan dengan apa pun kita tak akan bisa membalas semua kebaikannya, jadi sebisa mungkin jangan membuat beliau kecewa ya Sayang".

__ADS_1


"Iya Bu, Hana janji Hana akan menghormati, menyayangi Tante Kinan seperti Hana menghormati dan menyayangi Ibu. Sebisa mungkin Hana gak akan membuat Tante Kinan kecewa", ucap Hana.


Kinan dan Abi yang berada dibalik pintu mendengar semua pembicaraan mereka merasa terharu. Kinan berpikir apa yang selama ini dia pikirkan tentang Hana adalah benar. Gadis itu adalah anak yang baik, anak yang terdidik dengan benar meski dalam kesederhanaan. Dia tidak akan pernah menyesali dengan apa yang dia lakukan untuk Hana dan Ibunya, menurutnya dia sudah memberikan pertolongan pada orang yang tepat.


Kinan dan Abi pun kemudian menghampiri mereka bertiga untuk berpamitan pulang. Irma sedikit terkejut ketika melihat sosok Abi.


"Lhoo.. ini kan?", ucap Irma menunjuk ke arah Abi.


"Iya Bu, perkenalkan ini Abi anak saya", sahut Kinan memperkenalkan Abi. Abi pun menghampiri Irma dan mencium tangannya.


"Abi Tante..", ucap Abi memperkenalkan diri.


"Masya Allah Nak, kamu ganteng banget aslinya. Pantes Hana tuh mengidolakan kamu. Kalo udah ngebahas kamu gak ada berhenti-berhentinya dia", goda Irma.


" Ahh Ibu apa sih?", sahut Hana tersipu malu.


"Bu Irma saya mau permisi dulu ada beberapa hal yang saya harus urus. Semua admistrasi rumah sakit sudah saya lunasi. Sekarang Ibu tinggal fokus untuk kesembuhan Ibu saja", ucap Kinan berpamitan.


"Terima kasih banyak Bu Kinan untuk semua bantuan Ibu pada saya dan Hana".


"Iya Bu sama-sama. Kalo begitu saya permisi dulu, mungkin besok saya akan kembali menjenguk Ibu. Ohh ya Hana nanti kalo mau menginap lagi di rumah, bilang saja ke Tante nanti biar Tante suruh supir menjemput. Jangan sungkan ya", ucap Kinan.


" Terima kasih Tante, mungkin hari ini Hana menginap di rumah Hanum saja. Ada beberapa hal yang belum selesai menyangkut sekolah. Nanti kalo sudah kelar Hana akan menginap di rumah Tante lagi, jika diperbolehkan", sahut Hana.


"Boleh dong sayang, pintu rumah Tante selalu terbuka buat kamu kapan pun itu, kamu jangan sungkan ya. Kalo begitu Tante sama Ka Abi pamit dulu yaa, kalo ada apa-apa atau butuh apa-apa jangan ragu menghubungi Tante".


"Baik Tante sekali lagi Hana ucapkan terima kasih..".

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2