My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
HANA, HANA, HANA ..!!


__ADS_3

Hana masih saja menampilkan wajah kesalnya, hingga sepanjang perjalanan yang mereka lalui hanya ada keheningan.


Hingga tiba-tiba tawa suaminya membuatnya menengok ke arah sang suami.


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" Tanya Hana bingung.


"Aku keinget kejadian tadi aja. Gak nyangka kamu bisa sebrutal itu tadi!" Jawab Abi masih terkekeh kecil.


"Segitu brutal? Aku malah belum puas kayaknya!" Sengit Hana.


"Cukuplah Sayang, kamu gak lihat tadi tampang Raya gimana? Mengenaskan banget, masa belum puas? Lagian kamu harusnya kontrol diri Sayang..!" Ucapan Abi melambung di udara saat Hana dengan kesal memotong ucapannya.


"Kontrol diri? Maksudnya? Oohh, aku tau kamu mau aku ngebiarin dia meluk-meluk kamu gitu? Atau sebenernya kamu justru menikmati pelukan dia ke kamu, ngelepas kangen gitu?" Hana mulai meracau tak jelas dengan asumsinya sendiri.


"Lho bukan gitu maksud aku, maksud aku tuh...!" Lagi ucapan Abi harus terpotong.


"Bukan gimana? Jelas-jelas kamu nyuruh aku ngontrol diri. Maksudnya apa lagi kalo gak ngebiarin dia meluk-meluk kamu se enaknya gitu?" Selak Hana makin sengit.


"Kamu kok makin ngaco sih Hana fikirannya!" Gertak Abi, ia sempat menatap tajam ke arah istrinya sekilas.


"Apa, hah? Gak rela kamu aku ngehajar mantan kamu yang gak tau malu itu? Harusnya tuh kalian yang bisa ngontrol diri, peluk-pelukan di sembarang tempat. Kamu juga tau kan ada aku di sana? Sengaja kamu!" Hana semakin terpancing emosinya saat melihat tatapan tajam dari suaminya.


"Bukan begitu Sayang, kamu juga lihat sendiri kan seberapa keras aku menghindari pelukan Raya. Aku tuh cuma gak mau..!" Lagi Abi harus rela kalimatnya tak bisa ia lanjutkan.


"Bisa aja kamu menghindari Raya karena cuma takut ketauan sama aku ya kan? Cihh, padahal mah mungkin aja kalian berdua sama-sama gak tahan buat ngelepas rindu!" Decih Hana dengan tatapan merendahkan suaminya.


Ucapan Hana seketika membuat Abi semakin kesal, ia langsung memberhentikan mobilnya ke bahu jalan.


"Aku gak ngerti jalan fikiran kamu gimana? Apa selama ini kamu ragu sama aku, gak percaya sama aku?" Tanya Abi saat mobil mereka telah berhenti, ia pun menatap penuh selidik ke arah istrinya.


"Tanya sama diri kamu sendiri! Berapa kali kamu ngerusak kepercayaan aku ke kamu? Berapa kali kamu bertindak semau kamu yang memicu keraguan aku hah? Ciuman kamu ke Raya, malam pertama yang sangat menyakitkan yang kamu kasih ke aku. Kamu fikir rasa sakit aku udah hilang, belum! Dan sekarang kamu dengan entengnya nemuin dia berduaan disaat aku ada di sana juga. Kamu fikir aku apa hah? Aku gak pernah ngerasa kalo kamu itu ngehargain aku tau gak?" Hana mulai terisak mengingat semua yang dia alami.


"Sayang denger..!" Abi harus menghela nafasnya berat saat ucapannya diputus lagi oleh sang istri.


"Sampe sekarang bahkan aku sering mikir, apa di Paris kamu gak sekedar nyium dia, tapi juga..!" Hana sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Tapi juga? Maksud kamu?" Tanya Abi menuntut Hana untuk memperjelas ucapannya.


"Kamu tau apa yang aku maksud, terlalu menjijikan buat aku ngebahas ini!" Elak Hana.

__ADS_1


"Sebegitu buruk kah fikiran kamu tentang suami kamu sendiri?" Abi menatap nanar wajah istrinya.


"Oh ayo lah Ka, hubungan kalian itu lama banget terjalin dan aku juga kamu sendiri tau seberapa dalam, seberapa bebas kamu dan mantan, ooh mungkin juga statusnya masih kekasih kamu itu dalam memadu kasih! Dan seperti dulu yang sering kamu bilang ke aku, gak akan pernah mudah buat kamu ngelepas Raya begitu aja..!" Sindir Hana.


"HANA, HANA, HANA ..!" Teriak Abi kencang sambil memukul-mukul stir mobilnya keras, membuat Hana terlonjak kaget mendapati reaksi sang suami.


Mereka saling beradu tatap dengan tajam, Hana mulai sedikit ketakutan melihat tatapan suaminya, sedang Abi sama sekali tak memutuskan tatapan tajamnya ke arah istrinya.


Hingga..


"Aku laper, aku mau pulang!" Hana memutus pandangan mereka saat mulai merasakan kram di perutnya, ia pun reflek meremas gaun yang menutup perutnya.


Melihat Hana memegang perutnya membuat Abi langsung dilanda kekhawatiran.


"Perut kamu sakit Sayang?" Tanya Abi khawatir.


"Enggak, aku mau pulang. Aku laper!" Jawab Hana dengan suara lirih sambil menepis tangan Abi yang hendak menyentuh perutnya.


Abi langsung melajukan mobilnya sambil sesekali melihat ke arah istrinya yang semakin gelisah dan pucat. Ia juga makin khawatir saat mulai mendengar rintihan dari mulut istrinya dan telapak Hana yang mulai gemetar, ciri khas Hana saat kesakitan atau pun merasa tak nyaman.


"Kita ke rumah sakit ya!" Ajak Abi mulai panik.


"Sebentar ya, kita periksa dulu ke rumah sakit!" Rayu Abi lagi, namun Hana tetap menggeleng.


"Panggil aja Dokter Riana ke apartemen, aku gak mau ke rumah sakit. Tolong, akh.. perut aku sakit!" Hana mulai tak bisa menahan nyeri pada perutnya.


Abi langsung menepikan mobilnya sebentar untuk menghubungi Dokter Riana dan memintanya datang ke apartemen.


Beruntung jarak apartemen mereka tak jauh lagi, dan kondisi jalan yang juga lancar membuat Abi tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk sampai ke apartemen mereka.


Setelah meminta bantuan seorang security, Abi langsung membopong tubuh istrinya, sedangkan security tadi membantu membawa barang serta membuka, memencet, serta menutup tombol lift untuk naik ke lantai unit apartemen mereka.


Meski masih sadar, namun rintihan, wajah pucat, keringat dingin dan tubuh Hana yang agak bergetar menandakan jika Hana mulai drop lagi membuat Abi semakin khawatir.


Sesampainya di unit mereka, security tadi memencet bel agar seseorang membukakan pintu dari dalam.


Tak butuh lama mereka untuk menunggu pintu terbuka, karena Imah dengan gesit membuka pintu unit apartemen majikannya itu.


"Bi tolong tunggu Dokter Riana ya, kalo udah datang langsung antar ke kamar. Pak makasih sudah bantu saya!" Ucap Abi sebelum beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


Di kamar, Hana langsung direbahkan di atas tempat tidur. Hana meringkuk sambil terus memegangi perutnya.


"Masih sakit banget, apa yang bisa aku bantu buat ngurangin sakitnya?" Tanya Abi duduk di sisi ranjang, namun Hana sama sekali tak bergeming.


"Aku boleh pegang perut kamu?" Izin Abi, kini Hana mengangguk.


Dengan penuh kelembutan Abi mengelus-elus perut Hana seraya mengucapkan maaf berulang-ulang kali. Ia sadar betul kondisi Hana saat ini juga akibat ulahnya.


"Masih sakit? Mau minum?" Tanya Abi lagi melihat Hana mulai sedikit tenang, Hana pun mengangguk.


Abi kemudian memberikan minum yang memang selalu siap di atas meja. Setelah memberikan minum kepada istrinya, Abi kembali mengelus-elus perut Hana.


"Dedek marah ya sama Ayah gara-gara dibentak tadi? Maaf ya..!" Kembali ucapan tersebut terus ia ulangi, meski tak mendapatkan respon dari sang istri.


Tak lama, Dokter Riana sudah tiba dan langsung memeriksa kondisi Hana dengan sangat teliti. Seperti biasanya Riana menyelipkan obrolan-obrolan di sela-sela pemeriksaan.


"Nanti makan dulu ya sedikit gak apa-apa, setelah itu baru diminum obatnya. Istirahat yang cukup, jangan banyak fikiran, makan teratur dan cukup gizi dan bahagia terus, karena ketika Bunda Cantik merasa bahagia, Dedek di dalam pasti juga bahagia. Begitu pula sebaliknya kalo Bunda Cantik sedih terus, Dedek pasti ikutan sedih, emang Bundanya tega bikin Dedek sedih?" Ucap Riana terselip nasehat di dalamnya.


"Aku mau Dedek bahagia!" Jawab Hana yang mulai membaik.


"Kalo gitu be happy ya Bunda Cantik, jangan fikirin hal-hal yang gak ngenakin ya!" Sahut Riana.


Setelah sedikit berbincang, Riana pun pamit untuk kembali ke rumah sakit


"Aku anter Dokter Riana dulu ya, nanti aku suruh Bibi anter makanan ya!" Pamit Abi yang diangguki oleh Hana.


Di bawah, Riana sedikit mengobrol dengan Abi untuk menjelaskan kondisi sebenarnya sang istri.


"Saya tadi sempat lihat berita tentang perkelahian antara Bu Hana dengan seorang perempuan. Maaf sebelumnya karena beritanya cukup heboh jadi saya sempatkan untuk melihat tadi.


"Ternyata sudah heboh ya Dok?" Cengir Abi untuk menutupi rasa malu juga gelisahnya.


"Iya Pak, dan bisa saya sampaikan apa yang Ibu Hana lakukan tadi benar-benar beresiko. Saya harap ke depannya hal seperti ini tak terjadi lagi mengingat kondisi Ibu Hana yang bisa saya katakan belum aman, masih sangat riskan! Usahakan menjaga emosinya, usia Ibu Hana masih sangat muda, usia-usia melawan, usia-usia dengan ego tinggi, usia-usia yang istilahnya mau-mau gue sendiri sebisa mungkin kita menjauhkan Bu Hana dari hal-hal yang menyulut emosinya!" Ucap Riana menasehati yang dijawab anggukan oleh Abi.


"Baik Dok terima kasih, dan maaf malam-malam seperti ini saya harus menghubungi Dokter karena sepertinya Hana sudah nyaman dengan Dokter!" Sahut Abi.


"Oh tak apa Pak, saya senang bisa diandalkan seperti ini. Kalo begitu saya permisi ya Pak!" Ucap Riana.


Ia menolak saat Abi menawarkannya untuk mengantarkannya sampai parkiran, sehingga Abi hanya mengantarnya sampai depan pintu saja.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2