My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Ide Konyol


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Seharian ini Hana habiskan waktu untuk menemani Ibunya, saling bercerita tentang semua hal yang mereka tak sempat lewati bersama.


"Kamu masih takut sama suami kamu?" Tanya Irma membelai lembut kepala Hana yang saat ini berada di pangkuan Ibunya.


Ya siang menjelang sore ini mereka berdua tengah berada di kamar Irma untuk saling melepas rindu.


"Masih Bu, padahal aku udah maafin Kak Abi tulus dari hati aku. Tapi aku enggak tau kenapa tetep takut sama Kak Abi!" Jawab Hana menatap lekat-lekat wajah pucat sang Ibu.


"Kamu percayakan Abi sudah berubah?" Hana mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ibunya.


"Kak Abi sayang sama Hana, aku yakin itu!" Ucap Hana tersenyum.


"Iya, Sayang pelan-pelan saja. Ibu yakin nanti kalian pasti bisa bersama lagi yang penting kamu udah memaafkan suami kamu dan mencoba untuk menerimanya lagi!" Nasehat Irma yang diangguki oleh Hana.


"Kenapa Kak Abi belum sampe juga ya Bu? Apa dia langsung ke apartemen Kak Daniel?" Tanya Hana penuh dengan guratan kekhawatiran.


"Kayaknya enggak, tadi Ibu denger Mamah mertua kamu nelfon Daniel suruh bawa Abi ke sini dulu!" Jawab Irma menginformasikan yang justru membuat Hana semakin dilanda kekhawatiran.


"Sebentar ya Bu, Hana coba telfon Kak Abi dulu. Siapa tau udah bisa dihubungi!" Hana langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya, namun nihil kedua ponsel Abi belum juga bisa terhubung.


"Masih belum bisa dihubungi Bu!" Keluh Hana.


"Sabar Nak, suami kamu pasti baik-baik saja..!" Sahut Irma untuk mengikis kekhawatiran puterinya.


***


Sedang di hotel, Abi yang sudah dihampiri Daniel tengah bertelfon dengan Juna menggunakan ponsel milik Daniel. Ia terlihat begitu uring-uringan dengan segala ide yang tengah dijabarkan adiknya itu.


"Lo mah bener-bener ya Juna, masa iya gue kudu pake pakaian yang kemaren gue pake dari sana!" Keluh Abi.

__ADS_1


"Udeh Mas, nurut sama gue. Ikutin aja semua yang gue bilang!" Sahut Juna terkikik membayangkan wajah kesal Kakaknya.


"Gue masih belum ada bayangan sebenernya apa sih rencana elo?" Keluh Abi lagi.


"Yang jelas elo bakal berterima kasih ke gue!" Ucap Juna membuat Abi menggelengkan kepalanya.


"Udah ya, mending sekarang elo cepet-cepet balik deh. Si Hana udeh bawel nge chat sama nelfonin terus!" Perintah Juna kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya.


"Dasar bocah tengik..!" Umpat Abi.


"Ayo kita balik!" Ajak Abi sambil menyerahkan ponsel milik Daniel.


"Dia ngerencanain apaan sih emangnya? Mau balik aja ribet gini?" Gerutu Daniel.


"Enggak ada yang nebak isi otak adek gue, gue aja gak tau. Ya udah yuk balik!" Sahut Abi.


***


Sejak kedatangannya, Hana belum sekali pun masuk ke dalam kamarnya. Karena ketika tiba ia pun memutuskan untuk tidur dengan Ibunya, ia juga sempat berfikir saat suaminya datang akan langsung beristirahat di kamar mereka sehingga ia memutuskan tidak beristirahat di kamar mereka.


Hanya saja sebuah kartu ucapan tertempel di cermin meja hiasnya menarik perhatiannya. Ya, kartu ucapan ulang tahun yang pernah diberikan suaminya, ia pun kembali membaca tulisan yang tertera juga tulisan balasan dari dirinya.


Yang tak disangkanya adalah ternyata di bawah tulisan balasan dari dirinya terdapat balasan dari sang suaminya lagi.


"I"m sorry, I love you so much and I miss you too. Get well soon my lovely wife ❤❤".


Hana bisa merasakan penyesalan yang teramat dalam di tulisan itu, terlebih melihat beberapa titik air mata yang jatuh di kertas tersebut yang telah mengering.


Hana kembali meletakan kartu ucapan itu, ia kemudian melihat satu per satu bingkai foto yang terpasang di dinding kokoh kamar mereka. Beberapa foto yang terpasang adalah milik mereka di apartemen dulu.


Dan senyum Hana terus mengembang menatap satu per satu foto mereka dimana tak satu pun mereka berfoto tanpa tidak tersenyum, bayangan betapa bahagianya mereka dulu kini memenuhi isi otaknya.


Setekah puas melihat foto-foto, Hana pun pergi ke walking closet. Entahlah kakinya membawanya pergi ke tempat itu.


Memasuki walking closet yang sangat besar ia melihat dua sisi dinding yang dipenuhi barang-barang milik mereka. Sisi kanan milik suaminya dan sisi kiri miliknya, ia pun menyusuri tempat itu perlahan sambil memperhatikan barang-barang miliknya yang tersusun sangat rapi dan terawat.

__ADS_1


Puas berada di walking closet, Hana keluar dari ruangan itu. Ia kemudian menuju ke ranjang milik mereka berdua dan merebahkan dirinya di sana. Bayangan mereka ketika tinggal di kamar mereka pun kembali hadir bermain-main di otaknya.


Hingga entah bagaimana bayangan ketika mereka ber cinta pun datang dalam fikirannya, membuat dirinya terperanjat dengan wajah yang sangat memerah.


"Astaghfirullah, bisa-bisanya gue kepikiran hal begitu!" Lirih Hana sambil menutup wajahnya yang memanas.


Ia pun lantas beranjak dari tempat tidur, tak mau jika fikiran kotornya mengganggu dirinya jika terus menerus tiduran di atas ranjang mereka.


Hana langsung menuju balkon kamar mereka, menghirup udara sore yang masih terasa begitu hangat. Saat menikmati angin sore, tiba-tiba kekhawatiran Hana kembali menyeruak di hatinya.


Ia baru sadar jika suaminya belum juga datang atau pun mengabarinya membuatnya mulai dilanda kekhawatiran lagi.


Namun rasa khawatirnya seketika menguap entah kemana, saat melihat mobil seseorang datang dan berhenti lalu melihat Daniel dan suaminya turun dari mobil tersebut.


Entah dorongan dari mana tiba-tiba saja Hana berlari keluar kamar untuk kemudian turun dari tangga dengan tergesa-gesa.


Bahkan semua yang memperhatikan prilaku Hana dibuat bingung dan takut jika Hana akan terjatuh.


Mereka yang melihat Hana begitu berlari ke arah pintu utama pun langsung mengikutinya dengan rasa ingin tahu apa yang sebenarnya membuat Hana berlari begitu kencang di dalam mansion.


Hana tiba di depan pintu utama bersamaan dengan Abi yang membuka pintunya pun langsung menubruk tubuh tegap sang suami, melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya serta menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Ya .. Hana memeluk Abi, hal yang tak pernah disangka oleh siapapun termasuk Abi.


Semua yang menyaksikan pemandangan tersebut pun dibuat ternganga karena saking terkejutnya, begitu pula Abi ia hanya diam terpaku tanpa membalas pelukan tubuh kecil istrinya yang teramat sangat ia rindukan tersebut.


Abi benar-benar takut jika ia menyambut pelukan istrinya dengan lebih erat, Hana akan tersadar dan kembali diserang kepanikan. Ia sungguh ingin merasakan kehangatan tubuh istrinya lebih lama lagi, bahkan jika boleh ia sangat ingin waktu berhenti juga saat ini.


"Kenapa enggak kasih kabar ke aku kalo kamu terlambat sampe rumah gara-gara pesawat kamu ada masalah, kenapa aku juga enggak bisa hubungi kamu sama sekali. Aku khawatir banget tau..!" Ucap Hana disela isakannya sambil tangan mungilnya itu memukul-mukul punggung Abi, sedang Abi tak lagi bisa menutupi kebahagiaannya, tangisan harunya bahkan sudah luruh membasahi wajah tampannya.


"Maaf..!" Bahkan ia sudah tak peduli lagi jika Hana akan tersadar, keinginannya untuk membalas pelukan istrinya begitu besar hingga ia pun langsung mendekap erat tubuh mungil istrinya.


Sedang dalam hatinya ia begitu berterima kasih dengan ide yang diberikan oleh adiknya meskipun diselipkan umpatan untuk sang adik.


"Dasar bajingan, gue bener-bener harus berterima kasih buat ide konyol bocah tengik itu!".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2