My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Apa Aku Sudah Mencintainya


__ADS_3

Di tempat lain Abi ternyata menyambangi night club yang biasa ia kunjungi dengan Raya dan teman-temannya. Ia memilih untuk menghabiskan malam, meluapkan kekesalannya di tempat dengan hentakan musik yang memekakan telinga.


Abi memilih duduk di meja bartender dan memesan minuman berakohol, namun ia hanya memilih kadar alkohol yang rendah karena ia sebenarnya bukan tipe peminum.


"Mas..!" Sapa Juna menghampiri sang Kaka yang tengah asyik menikmati minumannya.


"Ngapain lo ngikutin gue?" Tanya Abi tidak suka.


"Nyonyahh yang nyuruh gue ngintilin lo! Khawatir dia ngeliat lo keluar rumah auranya nyeremin gitu!" Jawab Juna kemudian memesan minuman yang sama dengan sang Kaka.


Sesaat tak ada obrolan antara mereka, Juna hanya asyik menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti hentakan musik yang dimainkan salah satu DJ ternama Indonesia.


"Berantem lo yaa Mas sama Barbie?" Tanya Juna kemudian.


"Hmm..!" Abi hanya berdehem menjawab pertanyaan adiknya.


"Kenapa?" Lagi Juna yang penasaran terus mengorek jawaban Kakanya.


Abi sebenarnya enggan menceritakan pertengkarannya, namun entah mengapa saat ini ia benar-benar ingin membagi kekesalannya dengan sang adik.


Juna pun dengan seksama mendengarkan keluh kesah Kakanya, sebenarnya ia benar-benar ingin menertawakan kemalangan Kakanya sekeras-kerasnya. Bagaimana tidak, ia tau betul betapa frustasinya sang Kaka saat harus tidak melanjutkan aksinya di saat dia benar-benar on fire. Namun Juna memilih menjadi pendengar yang baik.


"Beneran enggak sengaja kali Mas dia!" Sahut Juna saat Abi telah menyelesaikan ceritanya.


"Enggak sengaja gimana, dua kali lho dia bikin gue puyeng begini!" Keluh Abi.


"What?? Dua kali?? Buahahahahhahaa..!" Akhirnya tawa Juna meledak di atas kemalangan sang Kaka yang ternyata sudah dua kali terjadi.


"Lucu hah?" Geram Abi dengan muka merah padam.


"Lucu lah, ngenes amat pusaka lo dikerjain bocah! Hahahaha..!" Ledek Juna lagi.


"Pulang sono lo kalo cuma mau ngetawain gue doang, sialan!" Abi terus-menerus menggeram kesal.

__ADS_1


"Yang pertama gimana ceritanya? Dan bukannya si Barbie kekeh gak mau begituan dulu sebelum lo ada perasaan sama dia?" Juna pun semakin penasaran.


"Dulu awal pindah ke apartemen, gue hampir berhasil cuma si brengsek Daniel dateng ngacauin misi gue. Udahannya pas Daniel pulang, gue mau lanjutin lagi tapi naas dia lampu merah. Dan kejadian sekarang ini gue yakin dia sengaja mempermainkan gue?" Kesal Abi.


"Enggak mungkinlah Mas, kan lo bilang sendiri dia masih polos mana ngerti dia kalo laki-laki nanggung tuh menyiksa banget. Dia emang bener-bener lupa kali jadwal bulanannya. Coba deh lo fikir, bukannya tadi siang dia masih ngajakin sholat pas kita ngemol dan selesai makan malem dia juga masih sholat Isya kan? Berarti dia gak sengaja lah itu!" Jelas Juna mencoba memberikan pengertian Kakanya.


Mendengar penjelasan adiknya Abi hanya terdiam, mencerna setiap ucapannya. Ya dia baru sadar jika istrinya memanglah polos dan tak mungkin ada maksud untuk mempermainkannya, apalagi dia teringat bagaimana dengan gamblangnya Hana menunjukan lingere-lingere pemberian Juna di depan wajahnya seakan tak mengerti jika kelakuannya bisa memancing birahi laki-laki.


"Bahaya juga punya bini polos, kudu extra waspada, extra jagainnya!" Lirih Abi kemudian tersenyum sendiri.


Juna yang asyik menikmati dentuman musik tak mendengar apa yang diucapkan Kakanya tadi.


Sedang di kamar Hana, ia menanti suaminya dengan perasaan cemas. Dia benar-benar khawatir jika Abi akan bermain dengan jal*ang di luaran sana.


Kamar yang tadinya berantakan sudah ia rapikan, begitu pula spreinya sudah dia ganti yang baru. Kini Hana hanya berdiri di balkon, berharap akan segera melihat mobil suaminya datang.


"Hana, sayang ini teh herbalnya!" Panggil Kinan saat memasuki kamar Abi, Hana yang mendengar panggilan Mamah mertuanya langsung masuk ke dalam kamar menghampiri.


"Sini, diminum dulu teh nya biar enakan perut kamu!" Kinan melambaikan tangannya agar Hana menghampirinya yang saat ini sedang duduk di sofa.


"Sayang, Mamah minta kamu harus extra sabar ya menghadapi tempramen suami kamu. Kamu pasti kaget banget kan lihat suami kamu kalo lagi marah?" Kinan tau betul pasti tadi Abi sudah mengasari Hana saat ia melihat pecahan cangkir kopi di sebelah Hana terduduk tadi.


Hana hanya mengangguk, air matanya tiba-tiba kembali menetes saat teringat bagaimana kasarnya Abi memperlakukannya tadi. Meneriakinya, menarik tangannya kasar, mendorong tubuhnya sekeras mungkin bahkan melempar cangkir ke hadapannya.


"Jangan nangis terus, sekarang lebih baik kamu istirahat nanti kamu sakit lagi. Percaya sama Mamah tempramen Abi memang keras, tapi dia laki-laki yang penyayang, maka dari itu bantu Mamah merubah dia jadi sosok yang sabar, yang lembut seperti kamu!" Nasehat Kinan sebelum ia beranjak keluar dari kamar menantunya.


Jam tiga pagi Hana masih juha terjaga, ia benar-benar menunggu kedatangan suaminya. Rasa khawatir begitu melanda di hatinya, ia takut jika saat ini Abi benar-benar menghabiskan malam dengan ja*ang di luar sana.


"Cklekkk"


Hana langsung menengok ke arah pintu keluar, ia begitu lega akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu pulang juga. Senyum pun langsung merekah dari bibir pucat Hana.


"Kaka kenapa baru pulang? Aku khawatir? Kaka mau aku buatin kopi dulu?" Serentet pertanyaan langsung terlontar dari bibir mungil gadis itu.

__ADS_1


"Lo kok belum tidur?" Tanya Abi saat mendekati Hana di ranjang, Hana memang tidak menghampiri suaminya ketika datang, nyeri diperutnya memaksa dia untuk terus duduk karena jika ia bergerak rasanya sangat sakit.


"Aku nungguin Kaka!" Jawab Hana menatap lekat Abi yang duduk di hadapannya.


"Lo nangis terus ya? Matanya sampe bengkak gini?" Tanya Abi khawatir melihat kedua mata Hana sangat bengkak, serta wajah yang pucat.


"Hana boleh peluk Kaka?" Permintaan sederhana ini membuat hati Abi begitu sesak, begitu takutnya kah Hana hingga dia harus meminta izin untuk memeluknya. Hana yang biasa bermanja-manja dan selalu menempelkan tubuhnya pada Abi tanpa izin terlebih dahulu, sekarang harus meminta izinnya.


Abi langsung menarik lembut tubuh Hana ke dalam dekapannya, mengelus rambut panjang Hana yang teurai.


"Maafin Hana, hiks.. Hana gak ada maksud buat bikin Kaka marah, hiks.. Hana bener-bener lupa Ka, Hana gak pernah ada niat mempermainkan Kaka. Jangan marah lagi. Maaf udah buat Kaka kecewa sama Hana. Hana mohon maafin Hana Ka. Hiks...!" Isak Hana di dalam dekapan suaminya.


"Udah jangan nangis terus, lo gak salah. Gue yang minta maaf udah ngasarin lo, maafin gue ya Sayang!" Ucap Abi terus menerus membelai lembut rambut Hana. Mendengar kata-kata Abi, Hana semakin dibuat terisak, wajahnya ia benamkan di dada bidang suaminya.


Abi menjauhkan tubuhnya dari Hana, menangkup pipi Hana yang sudah banjir air mata. Abi begitu perih melihat kondisi istrinya. Ia benar-benar mengutuki dirinya karena telah berbuat kasar pada makhluk lembut di hadapannya. Gadis yang tak pernah lelah menyatakan cinta padanya, gadis yang berbesar hati ketika ia harus mendengar suaminya menghunbungi mesra perempuan lain, gadis yang selalu ikhlas mengurusi keperluannya dan bahkan ia rela akan memberikan dirinya seutuhnya hanya untuk membuat Abi menjadikan tujuan hidupnya.


"Ya Tuhan apa aku sudah mencintainya..!" Batin Abi, tanpa melepas pandangan dari istrinya.


"Jangan nangis terus Hana, udah ya. Lo udah pucet gitu, maafin gue udah kasar sama lo!" Ucap Abi tulus.


"Kaka gak main sama jal*ng di luar kan? Maaf Ka, jangan marah sama pertanyaan aku!" Tanya Hana ragu, ia takut Abi akan tersulut emosinya lagi.


"Enggak sayang, gue tadi jalan sama Juna. Dia selalu di samping gue, lo bisa pastiin gue gak macem-macem tadi!" Jawab Abi dengan tersenyum berharap Hana tidak lagi khawatir dan takut.


Hana lansung memeluk Abi setelah mendengar jawaban yang sesuai harapannya, perasaan khawatirnya kini telah lenyap berganti perasaan lega.


Setelah beberapa saat membiarkan Hana memeluk tubuhnya Abi meminta Hana untuk melepaskannya, ia ingin mengganti pakaiannya dan tidur. Ia merasa benar-benar lelah saat ini. Hana pun melepaskan pelukannya, membiarkan suaminya untuk berganti pakaiannya.


Hana yang memang sangat lelah dan mengantuk lanngsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tak butuh lama untuknya terlelap, rasa khawatirnya yang


telah lenyap membuat dirinya tidur tanpa beban lagi.


Selesai mengganti pakaiannya, Abi langsung manghampiri istrinya, merebahkan tubuhnya dan memandangi wajah lelap sang istri yang saat ini memang menghadapnya.

__ADS_1


"Maafin gue ya Han, lo pasti syok dan takut banget sama gue tadi!" Ucap Abi lirih kemudian menciumi wajah Hana pelan agar tak mengganggu tidurnya.


Puas menciumi wajah istrinya, Abi kemudian memejamkan matanya, menyusul istrinya yang sudah terlelap terlebih dahulu.


__ADS_2