
Malam hari seusai Abi serta keluarganya mengantarkan Juna, Nara dan Hanum ke Bandara. Abi langsung kembali ke rumah sakit, sedangkan anggota keluarga yang lain memilih langsung kembali ke kediamannya.
Abi sedikit terburu-buru kembali ke rumah sakit karena ia hanya menitipan Hana pada para perawat tanpa ada keluarga yang mendampingi Hana.
Irma tak bisa menemani puterinya karena baru saja kemoterapi, sedang Hafidz sang Kakek semenjak Hana dinyatakan koma belum sekali pun menemani Hana atau pun menjaga Hana.
Paling hanya datang menjenguk, itu pun tak pernah masuk mendekati Hana. Hanya di luar dan melihat Hana sekilas dari kaca yang terpasang di pintu, meskipun begitu gurat kesedihan tetap tergambar dari wajah tuanya.
Namun berbeda malam ini, Abi yang terburu-buru hendak masuk ke dalam ruang perawatan istrinya cukuo dikejutkan oleh ucapan seorang perawat yang ia mintai untuk menjaga sang istri.
"Ada Kakeknya Mbak Hana kok Mas Abi yang nemenin Mbak Hana, belum lama datang sih palingan baru sekitaran sepuluh menitan!".
"Ohh ya? Kalo gitu makasih ya Sus udah mau jagain istri saya selama saya pergi. Gak rewel kan ya?" Tanya Abi.
"Enggak kok, kondisi Mbak Hana stabil!" Jawab perawat tersebut ramah.
"Syukur kalo begitu, kalo gitu saya masuk ya Sus. Sekali lagi makasih ya!" Ucap Abi sekali lagi sebelum meinggalkan meja para perawat jaga.
Abi beberapa kali mengetuk pintu ruang rawat sang istri, namun sang Kakek bergeming dan tetap terlihat fokus menatap Hana saat Abi melirik melalui kaca yang di pintu ruang rawat istrinya.
Ia pun berinisiatif untuk masuk, membuka perlahan pintu agar tak membuat Hafidz terkejut. Namun justru ia yang dibuat terkejut ketika ia mendengar isakan sang Kakek, bahkan dengan jelas ia bisa menangkap suara Hafidz yang tercekat berusaha untuk mengatakan sesuatu namun begitu sulit.
Abi pun memutuskan untuk berdiam diri dan melihat serta mendengar apa yang ingin Kakeknya ungkapkan pada Hana.
"Hana cucu Kakek Sayang apa kabar Nak?" Hampir lima menit Hafidz hanya terus terisak, hingga ia pun bisa menguasai dirinya dan mulai berbicara.
"Maafin Kakek ya Cantik baru berani datang ngelihat kamu, nemenin kamu!" Meski masih dengan suara tercekat Hafidz mulai bisa mengatur kata-katanya.
__ADS_1
"Kakek gak sanggup ngelihat kamu begini Sayang, Kakek ngerasa bersalah atas kondisi kamu saat ini. Maafin Kakek..!" Ucap Hafidz mulai terisak lagi.
"Padahal Kakek udah janji buat jagain kamu, tapi lihat sekarang Kakek bahkan gak bisa berbuat apa-apa setelah kamu seperti ini. Kakek marah, sangat marah sama Abi, tapi apa itu cukup membalaskan rasa sakitmu? Bangun Sayang, bilang sama Kakek Hana mau Kakek apain suami kamu itu, akan Kakek lakukan!" Lanjut Hafidz masih dengan isakannya, bahkan kini tangannya menggenggam erat tangan mungil cucu menantunya itu.
"Kek..!" Sapa Abi ragu-ragu mendekati sang kakek.
Hafidz tak membalas sapaan cucu laki-lakinya tersebut, ia pun enggan melihat ke arah Abi. Ia bahkan langsung berdiri, mengecup dalam dahi Hana kemudian pergi meninggalkan kamar perawatan Hana tanpa sama sekali menghiraukan keberadaan Abi.
Abi sadar ia teramat membuat marah dan kecewa Kakeknya, maka ia hanya terdiam saat Hafidz melewatinya.
"Tuh kan pada musuhin aku, bangun Sayang bantuin aku ngeluluhin hati orang-orang yang aku sakiti!" Ucap Abi getir sepeninggalan Kakeknya.
***
"Bi, besok jam tujuh malem konfrensi pers lo udah gue persiapin di ballroom hotel XXX!" Ucap Daniel ketika ia baru tiba di kantornya.
"Siap, semua udah siap!" Jawab Daniel yakin.
"Bagus, gue pengen semua ini cepet kelar, gue..!" Kalimat Abi terpaksa mengatung di udara ketika dering ponselnya berbunyi, dilihatnya nomor baru terpampang di layar ponsel pintarnya membuatnya mengernyitkan dahi bingung.
Bukan tanpa alasan Abi terlihat bingung karena si penelpon menelponnya ke ponsel yang dikhususkan untuk keluarga, saudara dan teman-teman terdekatnya dan semua kontak di ponsel tersebut telah ia namai.
"Siapa?" Tanya Daniel yang penasaran ketika melihat Abi yang enggan menjawab panggilan tersebut.
"Enggak tau nomor baru!" Jawab Abi masih enggan mengangkat panggilan tersebut untuk kedua kalinya.
"Angkat aja sih, kali aja penting dan mungkin emang kenal sama lo!" Perintah Daniel.
__ADS_1
"Halo..!" Dengan malas Abi pun mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Abimanyu" Sahut sang penelpon.
"Dengan siapa, maaf?" Abi sangat tak mengenali suara si penelpon di seberang sana.
"Ini gue Nico..!" Jawab si penelpon. Mendengar nama tersebut sontak membuat Abi terkejut.
"Nico..?" Tanya Abi memastikan.
"Iya gue Nico, kekasih oh atau lebih tepatnya mantan kekasih Raya!" Jawab Nico, Abi sempat terdiam. Untuk apa Nico menghubunginya, berani sekali fikirnya.
"Ada perlu apa lo nelfon gue?" Tanya Abi ketus.
"Ada yang mau gue tanyain ke lo, bisa kita ketemu sekarang?" Abi terdiam mendengarkan permintaan Nico.
"Penting, gue mohon. Dan gue pastiin pertemuan kita ini menguntungkan elo!" Rayu Nico pasti.
"Lo tau kantor gue kan? Gue tunggu lo jam makan siang ini di kantor!" Sahut Abi yang disetujui oleh Nico.
"Ada apa?" Tanya Daniel penasaraan saat Abi sudah mengakhiri sambungan telfonnya.
"Nico mau ketemu sama gue, aneh gak sih?".
"Wahh, jangan-jangan dia mau berbalik ngedukung elo nih? Dia pasti kecewa gundiknya enggak setia sama dia!" Ucap Daniel teregelak.
"Let see..Dia sih bilangnya pertemuan antara dia dan gue dipastikan menguntungkan gue. Yang jelas gue pengen bikin perhitungan sama dia menyangkut bayi gue sama Raya!" Sahut Abi penuh dendam.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=