
Sesampainya mereka bertiga di rumah sakit, dengan langkah cepat mereka memasuki ruang yang sufah diberitahukan Kinan melalu pesan singkat di ponsel Hana.
"Assalamualikum, Mah, Kek!" Hana melihat selain Kinan juga ada Hafidz di dalam kamar rawat Ibunya.
"Wa'alaikumsalam sayang!" Sahut mereka berdua serempak.
Hanum dan Nugie memilih menunggu di luar di saat Hana masuk ke dalam ruang perawatan Ibu Hana.
Hana langsung mendekati brankar Ibunya, hatinya bagai teriris-iris melihat sang Ibu yang lemah dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya. Air mata Hana pun langsung luruh, ketakutan melanda dirinya. Ia masih dan tak akan pernah siap menghadapi situasi seperti saat ini bahkan membayangkan hal terburuk pun rasanya terlalu menakutkan untuk Hana.
"Dokter bilang, Ibu harus segera melakukan operasi karena sel kanker yang ada di tubuh Ibu sudah menjalar ke kelenjar getah bening. Dokter sedang mempersiapkan operasi Ibu!" Kinan mendekati Hana yang saat ini duduk kursi sebelah ranjang Ibunya, menatap sendu pada sang Ibu.
"Apa setelah operasi Ibu bisa sembuh Mah? Gak akan kambuh-kambuh lagi?" Tanya Hana tanpa melepaskan pandangan dari Ibunya, namun Kinan hanya diam.
Kinan tak mau mengucapkan sesuatu yang dia sendiri tak tahu atau tak pasti jawabannya, meski dirinya sangat ingin menenangkan menantunya itu.
"Kita semua sedang berikhtiar untuk kesembuhan Ibu kamu Sayang, terus berdoa agar apa yang kita lakukan saat ini mendapat hasil yang baik, hasil yang kit harapkan. Jangan patah semangat ya!" Kinan memeluk tubuh Hana dari belakang, ia bisa merasakan bahu menantunya itu naik turun menandakan bahwa saat ini Hana tengah terisak dalam tangisnya.
"Operasinya kapan Mah?" Tanya Hana lirih.
"Sedang dipersiapkan, tadi ada petugas yang membawa beberapa dokumen persetujuan operasi untuk kamu tanda tangani. Kamu bisa baca kemudian menandatanginya, setelah itu Dokter akan melakukan operasinya!" Jawab Kinan sambil menyerahkan map yang berisi beberapa lembar surat pernyataan yang ia harus tanda tangani.
Hana menerima map tersebut kemudian membacanya dan menandatanganinya. Setelah mencium dahi ibunya, Hana meminta izin untuk keluar karena teringat kedua temannya yang sedang menunggunya.
"Gimana?" Tanya Hanum dan Nugie bersamaan.
__ADS_1
"Ibu harus dioperasi, minta doanya aja biar lancar dan Ibu sehat lagi!" Jawab Hana lesu kemudian duduk bersamaan dengan kedua temannya itu di kursi tunggu.
Tak lama Dokter Rama masuk ke dalam ruang perawatan Ibunya, Dokter tampan tersebut sempat memberikan senyum pada Hana saat melewatinya.
Bukan tak ingin ikut masuk ke ruangan Ibunya untuk mendengar apa saja yang Dokter Rama bicarakan, namun Hana yang merasakan tubuhnya juga sedang lemah memilih tetap duduk dan menyerahkan semuanya pada sang mertua.
Hanum dan Nugie yang sadar jika Hana semakin memucat dengan keringat yang membasahi wajahnya mengusulkan agar Hana sekalian memeriksakan dirinya, tetapi lagi Hana menggelengkan kepalanya bersamaan dengan senyum yang dipaksakan.
"Gue permisi ngangkat telepon Ka Abi dulu ya!" Hana beranjak dari duduknya untuk sedikit menjauh dari kedua temannya saat ponselnya berdering.
"Assalamualaikum, Sayang. Ibu gimana keadaannya?" Tanya Abi dari seberang sana, sebelumnya ia menerima beberapa pesan dari Kinan tentang kondisi Ibu mertua Abi.
"Wa'alaikumsalam, Ka. Ibu masih belum sadar, harus operasi katanya!" Suara Hana tercekat saat memberitahukan kondisi sang Ibu pada suaminya.
"Kamu mau aku balik sekarang?" Tawar Abi tanpa ragu.
"Aku usahain izin!" Jawab Abi, Hana bisa merasakan keraguan di suara suaminya.
"Gak usah Ka, Kaka kerja aja di sana. Gak perlu khawatir, gak enak juga kalo Kaka lagi-lagi harus mangkir syuting!" Ucap Hana, ia melirik Kinan, Hafidz serta Dokter Rama yang keluar dari ruangan Ibunya dan terlihat masih mengobrol serius di depan pintu kamar Ibunya.
"Kamu yakin?" Tanya Abi lesu, ia benar-benar mengutuki dirinya yang tak pernah ada di samping istrinya disaat sang istri membutuhkannnya.
"Iya gak apa-apa. Di sini ada Mamah, Kakek, Hanum sama Nugie juga. Bentar juga Mas Angga sama Papa dateng ke rumah sakit, Kaka gak usah khawatir!" Jawab Hana.
"Maaf ya!" Ucap Abi lirih.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Hana bingung.
"Aku gak pernah ada buat kamu!" Terdengar suara Abi begitu sedih.
"Kan kamu kerja buat aku, katanya mau kuliahin aku juga. Aku juga mau minta rumah sama kamu, aku gak mau tinggal di apartemen lagi. Kerja yang bener ya, cari uang yang banyak soalnya aku juga niat mau ikut gabung sama genk sosialita Jakarta!" Goda Hana setidaknya membuat Abi tertawa ringan.
"Ya udah ya, aku jalan ke lokasi dulu. Bentar lagi waktunya take. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku, kalo aku gak bisa dihubungi telfon Daniel aja ya. Kamu makan yang bener, jangan sampe sakit. Aku doain Ibu dari sini ya!" Ucap Abi sebelum mengakhiri sambungan telfonnya.
Selama menerima telfon dari suaminya, tubuh Hana bergetar dengan hebat. Ia sekuat tenaga menahan kakinya yang sangat lemas. Kepalanya terasa sangat sakit. Ia melihat ke arah kamar Ibunya yang masih terdapat tiga orang yang tengah asyik berbicara, namun suara mereka seakan semakin menjauh bersamaan dengan pandangan yang semakin menggelap. Hingga..
BRUUUKHHH..
Tubuh lemah itu jatuh dengan keras ke lantai dengan ponsel yang lebih dulu terjatuh karena terlepas dari gengaman sang pemilik.
Hana jatuh tak sadarkan diri, sesaat setelah mengakhiri telfonnya dengan sang suami. Seketika suasana menjadi panik, semua yang berada di lorong itu bergegas menghampiri tubuh yang terjatuh di atas lantai rumah sakit.
Dengan cepat Dokter Rama mengangkat tubuh lemah yang tak sadarkan diri itu, membawanya ke sebelah kamar yang di tempati oleh Irma. Beruntung kamar tersebut tak ada pasiennya sehingga Dokter meminta perawat untuk membuka kamar tersebut.
Diletakannya Hana di atas brankar lalu diperiksanya. Selesai memeriksa Dokter meminta perawat agar memasangkan infus sesuai dengan yang diresepkan oleh sang Dokter.
"Kenapa dengan menantu saya Dok?" Tanya Kinan khawatir.
"Sepertinya Menantu Ibu terkena Hipoglikemia atau kadar gula dalam tubuhnya sangat rendah, mungkin beberapa hari terakhir Menantu Ibu tidak makan teratur hingga asupan gizi ditubuhnya kurang dan juga kadar gula ditubuhnya menurun. Kalo boleh tau apa Hana saat ini sedang hamil Bu?" Selain menjelaskan kondisi Hana, Dokter Rama pun menanyakan perihal kehamilan yang mungkin saja sedang dialami oleh Hana.
"Hamil? Saya tidak tau pastinya Dok!" Jawab Kinan jujur.
__ADS_1
"Kalo begitu nanti akan saya konsultasikan dengan dokter kandungan, karena kemungkinan kondisi Hana saat ini karena dia sedang hamil muda!" Ucap Dokter membuat semua yang berada di ruangan ternganga tak percaya. Perasaan bahagia sekaligus khawatir meliputi mereka saat ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=