
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
"Kamu enggak panik kita tatap muka gini?" Tanya Abi lagi memastikan.
"Enggak, emh.. sedikit!" Jawab Hana lirih menatap lekat wajah penuh luka lebam suaminya.
"Aku harap mulai sekarang kamu udah berani bertatap muka sama aku" Ucap Abi penuh harap.
"Aku minta maaf sama kamu Kak..!" Pasca melihat pemberitaan tentang kecelakaan suaminya, Hana berfikir jika dirinya pun turut andil menjadi penyebab kecelakaan tersebut.
Abi pasti tak istirahat semalaman demi untuk bisa tidur seranjang dengan dirinya.
"Lho kenapa minta maaf?" Tanya Abi mengernyitkan dahinya bingung.
"Kak Abi pasti kurang istirahat gara-gara aku kan? Kak Abi pasti kecelakaan karena kecapekan, ya kan?" Cecar Hana dengan raut wajah sedih.
"Tapi aku bersyukur kejadian ini ngebuat kamu berani video call an sama aku, paling enggak ada hikmah yang aku dapet kan dari kejadian ini?" Sahut Abi dengan senyum leganya.
"Maaf!" Ucap Hana lirih, bahkan kini air matanya sudah membasahi pipi mulusnya.
Melihat sang istri menangis, ingin sekali rasanya Abi menghapus air matanya dan menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku yang seharusnya minta maaf Sayang, udah ya jangan nangis lagi!" Sahut Abi tak kalah sedih melihat wajah istrinya.
"Aku kangen sama Kakak!" Ucap Hana sungguh-sungguh di sela isakannya.
"Kalo kangen sini dong, jagain aku di rumah sakit! Masa aku harus dijagain sama Daniel sih, males banget. Kalo sama kamu kan bisa jadi obat aku biar cepet sembuhnya!" Tantang Abi yang hanya dibalas senyuman oleh istrinya karena Hana tahu Abi tengah menggodanya.
__ADS_1
"Iya Hana, di sini susternya cantik-cantik lho. Abi setiap lima belas menit sekali sering diperiksa. Enggak tau beneran meriksa apa cuma modus aja biar bisa pegang-pegang Abi!" Timpal Daniel memanasi istri sahabatnya itu.
"Apaan sih lo? Bohong Sayang jangan dengerin Daniel!" Sahut Abi sambil mengacungkan jari tengah ke arah sahabatnya tanpa sepengetahuan Hana membuat sang sahabat tergelak.
"Mamah sama Papa lagi on the way ke rumah sakit, maaf aku sama Ibu gak ikut" Ucap Hana.
"Iya gak apa-apa. Udah malem, kamu istirahat gih. Jangan tidur terlalu larut!".
"Iya, Kakak cepet sembuh, cepet sehat lagi ya. Wassalamualaikum..!" Abi bisa merasakan betapa istrinya begitu mencintainya.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. I really love you, you have to know this thing!" Ucap Abi tulus.
"I love you too, Kak. And I miss you so much!" Sahut Hana kemudian mematikan sambungan telfonnya.
"Bu!" Panggil Hana ketika sambungan video mereka telah terputus.
"Enggak apa-apa Sayang, nanti minta tolong dibersihkan oleh Mbak di sini!" Sahut Irma mencoba menenangkan puterinya.
Dan seperti sudah tertanam di alam bawah sadarnya, Hana tetap akan buang air kecil ketika harus menghadapi suaminya. Sama hal seperti saat ini membuat Hana begitu benci terhadap dirinya sendiri yang tak mampu menghilangkan sama sekali bayang-bayang malam naas itu ketika melihat wajah suaminya.
Sedang di ruang perawatan Abi, Abi menatap sendu ponselnya yang sudah tak lagi memperlihatkan wajah cantik istrinya.
"Sabar Bro..!" Ucap Daniel yang mengerti kegundahan hati Abi.
"Gue tau Hana tadi nyoba buat beraniin, nguatin diri dia buat berhadapan sama gue. Gue masih bisa ngelihat wajah gelisah dia dan gue juga tau tadi dia juga tetep buang air kecil tanpa sadar saat berhadapan sama gua. Segitunya gue bikin dia menderita Niel, suami macem apa gue ini!" Selama bervideo call an Abi sadar betul kegelisahan istrinya, bahkan ia tau jika Hana buang air kecil ketika Hana menatap ke bawah kakinya bersamaan dengan air matanya yang menetes.
Akan tetapi Abi lebih memilih pura-pura tidak menyadari apa yang tengah terjadi dengan istrinya, karena dia ingin membantu Hana agar lekas lepas dari belenggu kelam malam naas itu dan mulai berani menghadapinya.
"Semua udah terjadi, jalan hidup kalian memang harus melewati kesulitan ini. Hadapi Bi, jadikan semua pembelajaran buat elo, buat kalian berdua kedepannya!" Ucap Daniel menasehati yang langsung diangguki oleh Abi.
***
__ADS_1
Usai menjalankan sholat subuh di atas tempat tidur, Abi yang sejak menerima panggilan video dari istrinya justru dibuat tak tenang dan tak bisa tidur dengan nyenyak.
Rasa bersalahnya terus saja menyeruak setiap melihat wajah sang istri yang begitu ketakutan padanya.
Dan kini setelah ia berfikir semalaman, ia berniat mengakses CCTV kamarnya pada kejadian malam naas itu di apartemen mereka.
Ia ingin tahu sekeji apa dirinya memperlakukan Hana, hingga membuat Hana tak bisa menghapus bayang-bayang mengerikan pada malam itu saat melihat wajahnya.
Ia sempat menghela nafas panjang sebelum mulai melihat tiap adegan yang tertangkap kameran CCTV pada malam mengrikan itu.
Dilihatnya bagaimana ia menghempaskan dengan kasar tubuh istrinya ke atas ranjang untuk kemudian membanting pintu kamar mereka dan menguncinya.
Ia kemudian merasa jijik pada dirinya sendiri ketika melihat saat-saat Hana ia lecehkan, bagaimana Hana berontak dan bagaimana kejinya ia memperlakukan istrinya tersebut.
Bahkan dadanya langsung terasa sesak ketika ia melihat video yang dimana Hana telah berhasil lepas dari kungkungannya untuk kemudian berlari ke pintu kamar dengan kondisi pakaian yang mengenaskan.
Hati Abi semakin teriris ketika melihat sang istri yang telah berhasil membuka pintu kamar mereka, namun kalah cepat dengan dirinya yang kemudian dengan sangat tak berperasaan menarik kasar tangan istrinya untuk kemudian menghempaskan tubuh mungil istrinya dengan kasar hingga tersungkur ke lantai.
Jambakan, pukulan, tendangan ia berikan pada istrinya waktu itu seakan lupa jika makhluk lemah lembut itu istrinya yang tak pantas menerima perlakuan sekejam itu.
Air mata Abi bahkan tak mampu ia bendung lagi saat menyaksikan betapa kejam dirinya mencambuki Hana pada malam itu.
Abi terus-menerus menatap nanar video yang memperlihatkan bagaimana keji dirinya dengan membabi buta terus mencambuki tubuh istrinya yang terlihat sudah gemetaran.
Air mata Abi benar-benar mengucur deras menyaksikan kebrutalannya menyiksa istrinya, bahkan ketika Imah datang mencoba menghentikan dirinya untuk terus mencambuki Hana, tetapi seperti lupa jika yang ia siksa adalah wanita yang teramat ia cintainya tetap ingin merangsek ke arah sang istri untuk terus mencambukinya.
Hati Abi semakin hancur ketika melihat sekujur tubuh Hana yang sudah mengeluarkan darah, juga ketika Hana mulai mengejang terus menerus membuatnya kini sadar ia memang pantas ditakuti layaknya monster oleh istrinya.
Dan penderitaan istrinya terus berlanjut hingga sekarang akibat perbuatannya dan mirisnya lagi sang istri tetap mencintainya dan terus berjuang untuk bisa kembali bersama dengannya.
"Hana Sayang, apa aku masih pantas menerima rasa cintamu. Bahkan maaf pun rasanya aku tak pantas menerimanya! Ampuni aku Sayang, maafkan aku!" Batin Abi tercabik-cabik.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=