
Hari sudah sore saat Hana dan Abi tiba di apartemen mereka, mereka langsung menuju ke kamar mereka.
"Kaka mau dimasakin apa buat makan malem?" Tanya Hana saat merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Apa aja!" Jawab Abi, ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dirasa cukup menghilangkan penatnya, ia segera bangkit dari ranjangnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengganti pakaiannya dengan daster rumahan agar lebih nyaman saat bergerak melakukan aktifitasnya di rumah. Selesai mengganti pakaiannya, Hana langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam mereka berdua.
Hana memutuskan untuk memasak sop ayam, ayam goreng dan sambal terasi. Ia ingat betul, Abi pernah begitu lahap memakan menu itu saat di rumahnya. Dengan sangat bersemangat, ia mulai mengolah bahan-bahan masakannya.
Tak berapa lama, Abi turun menghampirinya. Seperti kemarin, Abi akan duduk anteng menemani sang istri memasak.
"Aromanya enak!" Sapa Abi, membuat Hana kaget karena tidak menyadari jika Abi sudah di belakangnya.
"Kaget aku! Ka Abi sejak kapan duduk di situ?" Tanya Hana menengok ke arah suaminya.
"Belum lama, masak apa?".
"Aku bikin sop ayam, ayam goreng sama sambel terasi. Aku inget waktu Ka Abi main ke rumah, Kaka sampe nambah waktu Ibu masak kayak begini!" Hana berbicara sambil terus mengulek sambal terasi.
"Lo sejak kapan bisa masak?" Tanya Abi sambil memakan timun yang sudah dipotong-potong Hana untuk lalapan nanti.
"Dari SMP aku udah bisa masak, bahkan dari kelas 6 SD pun aku udah bisa tapi menu-menu yang gak susah!" Jawab Hana, kini menata ayam goreng di piring saji.
"Sabar ya Ka, tinggal sayur sop nya aja. Sebentar lagi kok!" Lanjut Hana lagi. Ia kemudian menata makanan yang sudah siap ke atas meja makan. Abi terus memperhatikan istrinya yang bergerak ke sana kemari menyiapkan masakannya.
Sayur sop pun matang, Hana langsung menyajikannya di mangkok besar dan meletakannya di atas meja makan, aromanya benar-benar menggugah selera.
"Hana, boleh ke sini sebentar!" Pinta Abi. Hana pun menghampiri sang suami, meski bingung tapi ia tetap menurut. Ia berdiri tepat di hadapan suaminya yang masih duduk di kursi mini cafenya.
Betapa terkejutnya Hana saat tiba-tiba Abi memeluknya, mendekap hangat dirinya. Ia hanya mampu membatu tanpa membalas pelukan suaminya, fikirannya benar-benar sedang mencerna dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kaka kenapa? Lagi pengen?" Pertanyaan konyol itu meluncur dari bibir mungil Hana di waktu yang benar-benar tidak pas.
"Ya Allah Han otak lo kenapa mesum gitu sih? Gue cuma mau meluk lo, biarin kita begini sebentar aja please. Bales napa pelukan gue, gue berasa meluk manekin kayaknya. Kaku banget lo ah!" Ucap Abi masih terus memeluk Hana, bahkan setelah berucap Abi tak segan mencium leher dan pipi Hana membuat Hana makin kebingungan, namun Hana membalas pelukan sang suami.
"Ka Abi kenapa sih? Mbak Raya ketauan selingkuh, jadi Kaka butuh sandaran yaa?" Lagi pertanyaan konyol itu terlontar dari mulut mungil istrinya yang tak berhenti mengusap-usap punggungnya.
"Gak lah, mana berani dia selingkuh dari gue?" Abi yang kesal pun melepaskan pelukannya.
"Yakin Ka?" Tanya Hana memincingkan matanya.
"Yakinlah, dia mah cinta mati sama gue!" Ucap Abi jumawa.
__ADS_1
"Aneh sih menurut aku mah!" Sahut Hana seperti memancing perasaan Abi.
"Aneh kenapa?" Tanya Abi makin penasaran dengan apa yang ada di otak istrinya.
"Udah ahh, gak usah dibahas. Kaka mau makan sekarang apa nanti? Aku mau mandi dulu!" Jawab Hana tidak tertarik untuk membahasnya.
"Jelasin dulu dong Han!" Paksa Abi mencekal lengan Hana yang hendak pergi.
"Ya udah kalo gitu kita makan dulu aja ya Ka, baru nanti kita omongin lagi!" Ajak Hana menggandeng tangan suaminya.
Sebenarnya masih terlalu cepat untuk hitungan makan malam, tapi karena mereka belum makan dari siang, mereka memutuskan makan sekarang.
Hana seperti biasa sangat telaten menyiapkan makan untuk sang suami. Seperti dugaannya, Abi terlihat begitu menikmati menu yang ia buat untuk suaminya.
***
Malam hari, Hana sedang sibuk menyiapkan buku-buku yang akan dibawanya besok ke sekolah dan mengerjakan beberapa PRnya. Abi sendiri sedang asyik mengobrol dengan Daniel yang datang saat mereka selesai makan tadi.
Setelah menyelesaikan tugas dan merapikan buku-bukunya, Hana beranjak turun ke bawah untuk mengingatkan suaminya shalat isya.
"Ka Abi belum shalat Isya lho, shalat dulu gih sana!" Daniel yang sedang meminum sodanya tiba-tiba langsung menyemburkannya saking terkejut dengan ucapan gadis cantik, istri sahabatnya itu.
"Shalat? Abi?" Tanya Daniel tak percaya.
"Ayo Niel shalat!" Ajak Abi lebih ke meledek, karena dia tau sahabatnya itu sama bengalnya dengan dirinya.
"Gue ntar aja di rumah, gak khusyu gue kalo di rumah orang!" Sahut Daniel beralasan.
"Kaka udah makan? Mau makan gak?" Tawar Hana pada Daniel ketika Abi sudah naik ke atas.
"Boleh Han, Kaka udah laper banget!" Jawab Daniel jujur.
Hana kemudian menghangatkan masakannya tadi dan menghidangkannya di meja makan.
"Kamu masak sendiri?" Tanya Daniel.
"Iya, Bibi Imah sama Mbak Dewi baru besok dateng buat mulai bantu-bantu aku!" Abi memang memberitahukan pada Hana akan ada dua asisten rumah tangga yang akan datang dan tinggal dengan mereka mulai besok.
"Enak Hana, kamu pinter masak!" Puji Daniel membuat Hana senang bukan kepalang.
"Ka Abi juga suka, tadi aja sampe nambah dia makannya!" Sahut Hana.
***
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 10 malam, kini Hana dan Abi sudah berada di kamar bersiap untuk tidur. Seperti biasa Hana selalu membuat pembatas dari guling, meski ia dan Abi tau kalo besok pagi mereka selalu bangun dalam keadaan berpelukan.
"Harus emang pake pembates terus?" Ledek Abi.
"Buat jaga-jaga!" Sahut Hana mulai merebahkan tubuhnya.
"Cihh, jaga-jaga. Besok pagi juga udah nyempil lo di dada gue!" Ledek Abi, Hana tak menimpalinya, matanya sudah terasa berat menuntut untuk dipejamkan.
"Han, Hana...!" Panggil Abi mengusik perjalanan Hana ke dunia mimpi.
"Apa sih Ka?" Sahut Hana lirih.
"Lo masih punya utang penjelasan sama gue!" Ucap Abi mengingatkan.
"Penjelasan apa?" Tanya Hana, kini rasa kantuk itu seketika menghilang.
"Tadi kan lo bilang menurut lo aneh sama Soraya? Aneh kenapa?" Kini Abi yang bertanya.
"Aneh?? Oh yang tadi sore itu toh!" Ucap Hana mulai mengingat ucapannya.
"Jelasin dong maksud lo apa!" Paksa Abi. Hana kemudian bangkit untuk duduk, diikuti oleh Abi.
"Sebelumnya Hana mau tanya dulu sama Ka Abi. Setiap Ka Abi minta hak Ka Abi atas Hana dan ngegrepe-grepe Hana abis itu. Emang Ka Abi gak mikirin perasaan Mbak Raya?" Selidik Hana.
"Mikirin sih, tapi dia oke kok. Kan dia juga yang ngizinin gue nikah sama lo, dia juga gak masalah kalo harus bikin lo hamil yang penting gue tetep jaga hati gue buat dia!" Jawab Abi membuat sudut hati Hana terasa perih.
"Egois dong kalian, aku bener-bener ngerasa kalian manfaatin tau gak. Jahat banget!" Sahut Hana sesak. Abi tak bisa menimpali ucapannya istrinya, karena apa yang Hana ucapkan benar adanya.
"Aku bilangin ya Ka, aku kalo jadi Mbak Raya gak akan pernah dengan alasan apapun ngerelain orang yang aku sayang tidur sama perempuan lain. Kecuali emang perasaan aku gak tulus sama Kaka dan Kaka buat aku cuma sekedar obsesi aja maka dengan mudah aku ngebiarin Kaka hidup sama perempuan lain, itu kalo aku ya gak tau kalo Mbak Raya kenapa kok rela banget Ka Abi hidup sama perempuan lain. Dan juga pernah gak Ka Abi mikir, siapa tau di sana ternyata dia hidup dengan lelaki lain sebagai pelarian!" Lanjut Hana panjang lebar, meski hatinya sakit tapi ia berusaha menutupinya.
Abi benar-benar dibuat berfikir keras atas setiap kata-kata yang diucapkan Hana, selama ini dia gak pernah berfikir seperti yang Hana ucapkan.
Sedangkan Hana langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Abi, ia menarik selimut hingga ke lehernya.
Ternyata cukup sulit untuk Hana menyembunyikan rasa sakit hatinya, setelah bertahan cukup lama akhirnya tangisnya lepas. Ia sesegukan di balik selimut yang menutupi tubuhnya.
Abi yang sadar jika Hana sedang menangis, membuka selimut yang menutupi tubuh Hana dan menyentuhnya.
"Lo nangis? Kenapa?" Ia tak sadar akan kesalahannya.
"Stop jangan sentuh-sentuh aku lagi! Kalian berdua jahat tau enggak. Kalian fikir aku perempuan apa hah yang dengan seenaknya kalian merancang ide gila kalian tentang hidup aku. Memanfaatkan tubuh aku buat ambisi kalian, pernah gak kalian mikir kalo kalian itu sudah merenggut kebebasan aku. Ya aku salah, salah udah nerima perjodohan sialan ini karena aku gak pernah berfikir ternyata aku menghadapi dua manusia licik macam kalian berdua. Mulai saat ini Kaka jangan pernah menuntut apapun dari aku, omong kosong tentang hak Kaka, tentang kewajiban aku. Tapi Kaka sendiri gak pernah menghargai aku dan inget ya Ka, aku gak akan pernah mau punya bayi dari Kaka hanya untuk kalian manfaatkan. Cukup aku tapi tidak dengan anakku!" Kesal Hana meluapkan segala amarahnya, sedang Abi hanya terdiam menerima semua amarah istrinya. Semua ucapan Hana adalah benar hingga ia tak mampu untuk menimpali ucapan istrinya.
Hana kemudian mengambil bantal dan selimutnya, ia memilih tidur di sofa dibanding tidur seranjang dengan suaminya. Rasa sakit hatinya benar- benar memberikannya keberanian.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=