
"Assalamualaikum..", sapa Hana saat tiba di ruang Ibunya dirawat.
"Wa'alaikumsalam.." balas Irma dan Angga serempak.
"Ibu gimana? Masih ada keluhan enggak?", tanya Hana mendekati ranjang Ibunya.
"Enggak sayang, Alhamdulillah. Ibu malah ngerasa sehat banget, kaya gak sakit apa-apa. Rasanya Ibu pengen di rumah aja, di sini Ibu gak nyaman banget", jawab Irma sedikit mengeluh.
"Fasilitasnya kurang bagus ya Bu di sini? Apa petugasnya kurang ramah?", tanya Hana heran karena jika dipikir Ibunya menempati ruangan yang cukup nyaman, tapi masih mengeluh.
"Bukan begitu, semua yang di sini baik. Mau petugasnya mau fasilitasnya baik, baik banget malah. Tapi ini kan rumah sakit Hana, sebaik apapun kondisinya tetep rumah kita tempat paling nyaman".
"Iya Ibu yang sabar yaa..", ucap Hana menghibur.
"Oh iya kamu sendirian ke sini? Bu Kinan gak ikutkah?", tanya Irma sambil menyisir pandangannya ke seluruh ruangan. "Ikut kok Bu, tapi Tante Kinan langsung ke ruangan Dokter Rama. Kata Beliau ada yang mau dibicarakan".
"Mas Angga udah sarapan belum? Ini tadi pas di rumah Tante Kinan, Tante bikin nasi goreng enak banget. Mas Angga cobain deh.. sarapan dulu!", ucap Hana kemudian duduk di samping Angga dan membuka lunchbox nya untuk diberikan kepada Angga.
"Kebetulan banget, Mas Angga emang laper banget mau ke kafetaria males rasanya. Makasih ya", sahut Angga kemudian menyendokan satu suap nasi goreng ke mulutnya.
"Enak kan Mas? Tante Kinan pinter banget masak. Makanan apa aja yang Tante Kinan bikin pasti nagih", puji Hana.
Saat sedang asik mengobrol, ponsel Hana berdering. Ia melihat nomor baru terpampang di layar ponselnya. Rasanya dia enggan sekali mengangkat panggilan telepon dari nomor asing.
"Siapa?", tanya Angga.
"Enggak tau nih, nomor baru males banget Hana ngangkatnya", jawab Hana menunjukkan layar ponsel ke arah Angga.
"Angkat aja! Jangan dibiasain gak diangkat kalo ada nomor baru, siapa tau yang ngebuhungi kamu orang yang kamu kenal terus ada hal penting yang mau disampein", perintah Angga kemudian kembali menikmati nasi gorengnya.
"Yaudah kalo gitu Hana angkat di luar aja", ucap Hana kemudian berlalu ke luar ruangan.
__ADS_1
"Lo dimana? Di rumah sakit?", tanya si penelpon saat Hana mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum.. Maaf ini siapa ya?", tanya Hana heran.
"Oohh.. Ehh.. Wa'alaikumsalam.. Ini gw Abi", jawab Abi terbata. Mendengar nama Abi, Hana langsung terlihat gugup, mulutnya terbuka lebar. Dia benar-benar tidak menyangka jika seorang Abi mau menghubunginya.
"Ka Abi? Abimanyu?", tanya Hana menyakinkan.
"Iya ini gw.. Nanti malam lo ada acara enggak?", ucap Abi balik bertanya.
"Enng.. enggak Ka. Kenapa?".
"Ya udah nanti malam jam tujuh an manajer gw jemput lo ya. Lo siap-siap, gw mau neraktir lo makan malam sebagai ungkapan perkenalan kita bakal kerja bareng".
"Ba.. baik Ka. Insya Allah Hana bisa menuhin ajakan Ka Abi".
"Oke deh kalo gitu, inget jangan lupa. Ntar manajer gw jemput lo ya. Namanya Daniel", ucap Abi.
Kinan yang baru kembali dari ruang dokter mendapati Hana berdiri diam di depan pintu kamar rawat Ibunya.
"Kamu ngapain di luar Hana?", tanya Kinan heran.
"Tante.. Ohh.. Ehh .. Ini.. Emhh.. Hana, Hana baru terima telepon dari Ka Abi. Emmhh.. Hana maksudnya, Ka Abi mau ajak Hana makan malam. Emmhh.. Maaf Tante, i..i..ni beneran nomor Ka Abi ya?", Hana pun menunjukan nomor tersebut pada Kinan.
"Oohh iya Sayang. Tadi sebelum berangkat ke rumah sakit Abi emang sempet kirim pesan ke Tante minta nomor kamu. Maaf ya Tante main kasih aja gak izin sama kamu".
"Oohh begitu ya Tante. Gak apa-apa Tante..!".
"Ya udah masuk yuukk, ada banyak yang mau Tante omongin soalnya", ajak Tante.
"Bu Irma apa kabar?", tanya Kinan ketika tiba di dalam kamar.
__ADS_1
"Baik Bu Kinan, Alhamdulillah. Ibu sendiri apa kabar?", ucap Irma balik bertanya.
"Alhamdulillah saya juga baik Bu. Tadi saya sudah berbicara dengan Dokter Rama. Dokter bilang lusa sudah boleh pulang ke rumah. Dokter juga bilang Ibu tetep harus ke rumah sakit untuk melakukan kemoterapi dan beberapa terapi lainnya. Dokter sudah menjadwalkannya, nanti beliau akan menjelaskan lebih detail lagi", ucap Kinan menjelaskan.
Mendengar kata pulang mereka semua seperti dapat bernafas lega, mereka begitu bahagia. Tak henti-hentinya ucapan syukur terlontar dari mulut mereka.
"Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih. Bu Kinan terima kasih untuk semua pertolongan Ibu pada saya!", ucap Irma dengan mata berbinar.
"Iya Bu, sama-sama. Ibu harus rajin, nurut sama Dokter Rama ya Bu biar Ibu cepet sembuh. Semangat!!", sahut Kinan kemudian memeluk hangat Irma yang saat ini sedang menangis haru.
Melihat pemandangan itu Hana ikut menitikan air matanya. Selain rasa syukurnya ia juga senang melihat ada seseorang yang begitu tulus membantu ibu dan dirinya.
"Andai Allah enggak ngirim Tante Kinan dalam kehidupan kami, entah akan seterpuruk apa kami saat ini. Ya Allah Engkau Maha Baik, curahkanlah segala kebaikan untuk Tante Kinan dan keluarganya", ucap Hana dalam hati.
Melihat Hana yang juga larut dalam haru, Angga merangkulnya. Hana sudah dianggap adiknya sendiri sehingga Angga tidak merasa canggung lagi memeluk Hana begitu pula Hana, dia sudah terbiasa menerima perlakukan Angga yang seperti ini.
"Tapi ingat ya Bu Irma, Bu Irma harus rajin kemoterapi dan kontrol. Perjuangan Ibu masih panjang, Ibu gak boleh putus asa harus selalu semangat menjemput kesembuhan. Ya Bu..!", ucap Kinan melepas pelukannya.
"Iya Bu Kinan, Insya Allah saya akan terus semangat. Ada tanggung jawab yang belum bisa saya lepas. Mohon doakan saya Bu..", sahut Irma menghapus sisa-sisa air matanya.
"Ohh iya Mas Angga, boleh gak hari ini Hana titip jagain Ibu lagi. Nanti malam Hana biar gantian jagain Ibunya. Lusa Insya Allah Ibu pulang Hana mau bersih-bersih rumah dulu, nanti malam juga Hana ada sedikit urusan selesai sama urusan Hana, Hana langsung ke rumah sakit. Boleh gak Hana ngerepotin Mas Angga hari ini", pinta Hana pada Angga.
"Siaaappp Dek, tenang aja Mas gak ngerasa direpotin kok. Mas gak bisa bantu apa-apa, cuma ini yang bisa Mas lakuin", ucap Angga.
"Apa cuma? Ini tuh berarti banget tau Mas, gak bisa Hana bayangin deh kalo gak ada Mas Angga bakal serepot apa bolak balik. Mas tau kan Hana paling gak bisa lama-lama di rumah sakit, coba kalo gak ada Mas Angga, Hana gak bisa ngebayangin deh ah bakal kaya apa Hana", sahut Hana tersenyum manja pada Angga membuat Angga begitu gemas, ia pun mencubit pipi putih Hana.
"Sakit tau Mas..!", protes Hana mengusap-usap pipinya yang semakin memerah hasil cubitan Angga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, comment sama vote nya. biar aku terus semangat nulisnya. Gak bosen juga aku buat minta maaf kalau masih banyak kekurangannya, maklum masih belajar menulis. Semoga syukaaaas yaaaa.. 🙏🙏😘😘
__ADS_1