
Sore hari di apartemen Abi, Abi masih asik bermalas-malasan. Dia tidak menghiraukan beberapa panggilan telepon atau pun pesan yang datang ke ponselnya.
Beberapa panggilan telepon dan pesan tersebut ada dari Soraya juga, dia memilih mengabaikannya karena masih kesal dengan pertengkaran mereka tadi pagi.
Abi mencoba untuk memejamkan matanya, menutup kepalanya dengan bantal dan memiringkan badannya. Hingga dia mendengar pintu kamarnya dibuka.
"Sialan kaget gw setan!", gertak Abi saat Daniel masuk ke kamarnya.
"Ya Tuhan emang ada gempa apa Bi? Kenapa kamar Lo kaya kapal pecah begini?", tanya Daniel mendapati kondisi kamar sahabatnya itu.
"Kepo Lo!", sahut Abi kesal.
"Berantem Lo ya?", tanya Daniel lagi yang sudah duduk di tempat tidur Abi yang tidak kalah berantakannya. Abi hanya melengos kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Su'e maen tinggal aja!", gerutu Daniel kesal. Ia pun beranjak keluar dari kamar untuk menemui asisten Abi, meminta agar membersihkan kamar sahabatnya itu.
Abi memang mempunyai Asisten rumah tangga yang hanya datang dari pagi sampai sore saja. Dia lebih suka tinggal sendirian di apartemennya.
Daniel menunggui sahabatnya di ruang depan sambil menonton tv. Tidak berapa lama, Abi sudah keluar dengan jeans selutut dan kaos santai berwarna putih. Wajahnya kini sudah lebih segar.
"Ngapain Lo ke sini?", tanya Abi ketus.
"Idihhh jutek amat sih Lo", jawab Daniel kesal.
"Gw ke sini mau bahas kontrak syuting sama Lo, mau minta persetujuan Lo, kali-kali ada tawaran yang mau Lo tolak", lanjut Daniel.
__ADS_1
"Kenapa gak nelpon aja sih?", tanya Abi kemudian melihat catatan beberapa tawaran syuting yang sudah dipilih Daniel.
"Gw udah coba nelpon tadi tapi gak Lo angkat-angkat. Lagian biasanya juga kalo ngebahas kontrak syuting lebih nyaman langsung kaya gini kan. Kenapa sih Lo hawanya uring-uringan terus?", gerutu Daniel mulai kesal.
"Gw ribut sama Raya", sahut Abi menghela nafasnya berat.
"Kenapa? Dia gak mau Lo ajak nge ekspos hubungan kalian?", tanya Daniel yang sudah tau alasan tiap pertengkaran mereka.
"Gw ngajak nikah dia tadi", jawab Abi yang membuat Daniel tertawa terbahak-bahak. Abi yang sudah kesal kini bertambah kesal lagi dengan respon temannya itu. Abi pun melempar bantal sofa ke arah sahabatnya itu.
"Bukannya ngasih solusi yang bener, malah ngetawain Lo ah. Nyesel gw curhat sama Lo", gerutu Abi.
"Lagian Lo d*ngo, diajak nge ekspos status kalian aja cewek Lo gak mau, ini malah langsung ngajak nikah, yaa pasti lah dia gak mau. Gimana sih?".
"Dia tuh tipe-tipe cewek ambisius Bi, Lo tau itu", sahut Daniel mengingatkan Abi.
Sejenak Abi terdiam membenarkan ucapan sahabatnya itu.
"Terus gw harus gimana Niel?", tanya Abi.
"Lo kalo emang capek sama hubungan kalian, Lo harus tegas Bi, kasih dia batas waktu buat nentuin arah hubungan kalian. Lo gak bisa selalu ngalah sama kemauan dia, Lo harus punya sikap", jawab Daniel memberikan sarannya.
"Kalo dia kekeh gak mau gw nikahin dalam waktu dekat ini gimana?", tanya Abi lagi.
"Yaaa carilah yang Laen", jawab Daniel asal membuat Abi berdecak kesal mendengarnya.
__ADS_1
"Gak segampang itulah Bambang, dia udah nyerahin semuanya ke gw, masa gw maen buang aja, gw bukan laki-laki serendah itu Niel. Lagian gw beneran sayang sama dia", jawab Abi.
"Yakin Lo?", ucap Daniel memicingkan matanya ke arah Abi.
"Maksud Lo?", tanya Abi bingung dengan ucapan sahabatnya.
"Emang pas pertama kali berhubungan dia masih virgin ?". Bukannya menjawab justru Daniel malah balik bertanya.
"Ya emang enggak sih, tapi bukan berarti gw nganggep dia cewek gak bener kan. Semua orang punya masa lalunya masing-masing, jadi gw gak punya hak buat nge judge dia. Yang jelas gw tau dia sayang sama gw, rela gw tidurin tanpa menuntut apapun", jawab Abi.
"Naif banget sih Lo Bi. Gak ada perempuan baik-baik yang mau diajak berhubungan di luar batasan. Apalagi gw ngelihat Lo sebenernya pengen kejelasan tentang hubungan kalian, sedangkan dia cuek aja!".
"Dia masih punya mimpi Niel, itu alesan dia!", sahut Abi.
"Kalo emang dia ngerasa masih harus ngejar mimpinya, paling enggak sebagai perempuan baik-baik dia menjaga martabatnya Bi".
"Issshhhhh.. susah sharing sama Lo Niel, sekarang tuh jamannya udah beda!", gerutu Abi mendengar penjelasan sahabatnya.
"Jaman emang udah berubah Bi, tapi inget gak semua perempuan di luar sana saat ini yang mau seenaknya menyerahkan harga dirinya. Pasti banyak perempuan yang masih menjunjung harga dirinya, menjaga martabatnya", ucap Daniel menekan kan kata menjunjung untuk menyadarkan temannya itu.
"udah lah.. gw laper mau makan", sahut Abi kemudian beranjak pergi ke meja makan. Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang sudah buta akan cinta hingga tak mau menelaah ucapannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, comment sama vote nya. biar aku terus semangat nulisnya. Gak bosen juga aku buat minta maaf kalau masih banyak kekurangannya, maklum masih belajar menulis. Semoga syukaaaas yaaaa.. 🙏🙏😘😘
__ADS_1