
"Antar aku ke kamar!", pinta Hafidz dengan lesu. Ia begitu sedih dengan apa yang baru saja terjadi, Rendra pun dengan cekatan memapah Ayahnya untuk beristirahat ke kamarnya.
"Maaf kalian jadi menyaksiakan keributan keluarga kami", ucap Kinan sedih.
"Tak apa Bu, kami mengerti. Ibu yang sabar yaa, berdoa minta pada Allah segala yang terbaik", sahut Irma kemudian memeluk Kinan.
Di Kamar Hafidz sudah merebahkan tubuhnya, ia terlihat sangat down. Harapannya hanya ingin melihat Abi dapat menjalani hidup yang baik, maka dari itu ia sama sekali tidak melarang Abi untuk terus berhubungan dengan Raya, justru ingin menikahkan mereka agar mereka menjalani hubungan mereka tidak dalam lingkupan dosa.
"Apa aku terlalu memaksakan kehendakku pada cucuku? Aku hanya tidak ingin Abi terus menerus menikmati hubungan tanpa status, hubungan yang yang mereka jalani salah. Aku tidak menyukai Raya, tapi tak apa jika Abi mencintainya aku akan menerimanya sebagai cucu mantuku. Tapi lihat apa yang diperbuat gadis itu pada kita, pada Abi", ucap Hafidz pilu.
"Tidak Pi, Papi sudah benar. Memang gadis itu saja yang tidak bisa diatur. Kalau pun dia masuk ke keluarga kita dengan menjadi menantu keluarga ini saya yakin di keluarga ini tidak akan menemukan kedamaian. Dia gadis yang terlalu ambisius, punya pemikirannya sendiri. Papi tidak perlu banyak berpikir, sekarang lebih baik Papi istirahat biarkan aku dan Kinan berbicara yang bicara pada Abi", sahut Rendra yang sebenarnya juga memendam kesedihan dan kekecewaan.
"Nikahkan Abi dengan segera, aku tak mau dia kembali dengan perempuan itu!", perintah Hafidz tiba-tiba membuat Rendra bingung.
"Nikahkan? Nikahkan dengan siapa Pi?", tanya Rendra bingung.
"Lamarlah Hana secara resmi, jadikan Hana menantu keluarga ini. Aku tau Hana mencintai Abi dan Hana adalah gadis yang baik. Buatlah Abi mau menikahinya, jika tidak katakan padanya jangan pernah memperlihatkan wajahnya dihadapanku bahkan saat aku jadi mayat sekalipun!", perintah Hafidz mengancam.
"Tapi Pi? Oke kalo pun kami bisa menyakinkan Abi untuk menikahi Hana, tapi Hana? Kita tidak bisa memaksakan dia untuk menikahi Abi. Menikah itu suatu yang sakral, satu hal yang akan mereka jalani seumur hidup mereka. Kita tidak bisa menebak-nebak saja perasaan Hana kepada Abi", sahut Rendra panik.
"Aku tau Rendra, aku bisa melihat dari matanya bahwa ia mencintai Abi".
"Hana itu penggemar Abi Pi, jadi wajar kalo Hana menatapnya penuh rasa suka, rasa kagum. Tapi belum tentu Hana mencintai Abi. Kita tak pernah tau isi hati seseorang. Ayolah Pi..!", ucap Rendra berusaha memberi pengertian pada Hafidz.
"Keluarlah, panggil Hana untuk menemui ku!", perintah Hafidz tanpa melihat ke arah Rendra.
"Tapi Pi..".
__ADS_1
"Aku bilang, panggil gadis itu aku ingin berbicara dengannya. Jangan membantah lagi!", kali ini Hafidz sedikit membentak Rendra. Rendra yang tau betul watak sang Papi keluar untuk memanggil Hana.
Beberapa saat kemudian Hana masuk ke dalam kamar Hafidz dengan perasaan bingung.
"Kek..", sapanya sopan.
"Masuk Sayang, sini duduk di sebelah Kakek", sahut Hafidz kemudian menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat Hana agar bisa duduk di dekatnya. Hana pun menurut ia menghampiri Hafidz kemudian duduk di sebelahnya.
"Kamu pasti bingung kenapa Kakek memanggil kamu?", tanya Hafidz yang dijawab Hana dengan anggukan.
"Bolehkah Kakek meminta sesuatu padamu, tapi sebelumnya bolehkah Kakek bertanya sesuatu pada kamu?", tanya Hafidz lagi.
"Selagi Hana bisa, Hana akan coba memenuhi permintaan Kakek dan Hana akan coba menjawab apapun yang Kakek ingin tanyakan", jawab Hana dengan sopan.
"Apa kamu sudah punya pacar?", tanya Hafidz yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Hana.
Hana yang mendengar pertanyaan Hafidz membelalakan matanya, ia benar-benar terkejut mendapatkan pertanyaan itu langsung dari sang Kakek.
"Ini maksudnya gimana Kek? Hana suka, yaa suka sama Ka Abi sebagai penggemar ke idolanya. Tapi untuk cinta Hana gak berani lah Kek, aku sama Ka Abi tuh beda kasta. Lagian nih yaa Kek, lihat dong perbedaan aku sama Mbak Raya. Jauh Kek, jauuuuuhhh buanget. Aku mah apa Kek, cuma remahan ciki gopean kalo pun aku cinta sama Kak Abi, gak mungkin Kak Abi cinta sama aku", jawab Hana lepas membuat Hafidz yang tadinya sedih langsung tertawa lepas.
"Tapi menurut Kakek, kamu lebih baik, jauh lebih baik dari Raya. Dan Kakek lebih menyukaimu daripada Raya, bolehlah Kakek meminta satu hal anggaplah ini permintaan terakhir Kakek", ucap Hafidz.
"Ahh Kakek, jangan ngomong terakhir-terakhir dong aku paling merinding dengernya. Kakek kalo mau minta, minta aja sama Hana gak usah bilang-bilang ini permintaan terakhir Kakek, beban tau buat Hana. Hayuuk deh Kakek minta apa dari Hana, Hana janji Hana akan penuhi permintaan Kakek!", sahut Hana yakin.
"Janji?", tanya Hafidz meminta kepastian dari Hana, Hana dengan membusungkan dadanya menganggukkan kepalanya yakin.
"Belajarlah mencintai Abi, menikahlah dengannya!", ucap Hafidz membuat Hana terperanjat dari duduknya. Dia benar-benar tidak menyangka jika permintaan Hafidz adalah satu hal yang begitu besar.
__ADS_1
"Apa? Menikah dengan Ka Abi? Kakek bercandanya gak lucu ahh.. hahaha..", ucap Hana memaksakan tawanya.
"Kakek gak bercanda, Kakek serius. Menurut Kakek, kamu satu-satunya wanita yang mampu merubah Abi. Jadikan dia laki-laki yang lebih baik, Kakek mohon!", sahut Hafidz memohon.
"Enggak mungkin Kek.. Coba lihat Hana Kek? Hana cuma gadis biasa, gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Hana enggak punya keistimewaan apapun, daya tarik apapun. Masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dari Hana Kek, yang lebih pantes bersanding sama Ka Abi. Lagian Hana juga masih sekolah Kek, masa iya mau dinikahin?", ucap Hana.
"Yaa berarti pas libur sekolah aja kamu nikahnya", goda Hafidz.
"Yahhh, Kakek ngelawak. Hahaha..", sahut Hana membuat mereka tertawa bersama.
"Tolong Hana, penuhi permintaan Kakek. Kakek janji akan memberikan apapun yang kamu minta asalkan kamu mau menikahi cucu Kakek, mau belajar untuk mencintainya!", pinta Hafidz sekali lagi dengan wajah penuh pengharapan. Hana yang mendengar permintaam Hafidz sekali lagi hanya mampu menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar bingung memikirkan bagaimana cara untuk menolak permintaan Hafidz.
Bukan ia tak ingin, siapa sih yang tidak mau menikah dengan idolanya. Sepertinya hanya satu berbanding semilyar orang yang mendapatkan keberuntungan itu. Tapi situasinya saat ini adalah, Abi baru saja patah hati dan dia tak mau dianggap mengambil kesempatan dalam kesusahan Abi atau pun menjadikan dirinya aji mumpung saat Abi dalam keadaan yang menyedihkan.
"Maaf Kek Hana gak bisa, Kakek tau sendiri Ka Abi saat ini sedang terpuruk, sedang patah hati. Hana gak mau dia beranggapan Hana mencari kesempatan dalam kesulitan yang Kak Abi alami. Apalagi Kak Abi begitu mencintai Mbak Raya, pasti bakal sulit untuk dia membuka hati lagi. Maafin Hana..!", ucap Hana sambil menggenggam tangan Hafidz, berharap Hafidz mengerti ucapannya dan tidak mengartikan lain penolakannya.
"Pulanglah, mungkin saat ini Ibumu sudah menunggu kamu. Malam sudah semakin larut, pulang dan istirahatlah. Bukankah kamu sudah akan mulai syuting? Pulanglah, gak usah kamu pikirkan permintaan Kakek, jangan sampai permintaan Kakek menjadi bebanmu dan mengganggu pekerjaanmu!", sahut Hafidz. Terselip kekecewaan yang mendalam atas penolakan Hana.
"Kakek marah? Maafin Hana Kek.. Bukan Hana menolak, tapi Hana cuma gak mau Kak Abi berfikiran macem-macem tentang Hana. Beda cerita jika Kak Abi memintanya karena memang Kak Abi memiliki perasaan sama Hana. Hana harap Kakek mau mengerti. Kalo begitu Hana pamit ya Kek, nanti kalo Hana ada waktu lagi, Hana bakal ke sini lagi, kita ngobrol lagi. Pokoknya Kakek jangan marah, Hana sayang sama Kakek, kalo Kakek marah sama Hana, Hana pasti sedih, Hana pasti kepikiran. Jangan marah ya Kek", pinta Hana dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Merasa tak tega, Hafidz menarik Hana dalam pelukannya, mencium kening Hana dengan penuh sayang dan menghapus air mata di pipi Hana.
"Pulanglah, Kakek gak marah sama kamu sayang, Kakek akan mencoba mengerti", ucap Hafidz yang membuat tangis Hana semakin keras. Hafidz pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Janji yaa Kakek gak marah, Hana baru ngerasain punya keluarga, punya Kakek setelah Hana bertemu keluarga ini. Hana sedih Kek kalo Hana udah mengecewakan Kakek, Hana benar-benar gak bermaksud. Hiks...", ucap Hana di sela-sela tangisnya.
"Maaf Kakek udah bikin kamu sedih..", sahut Hafidz menciumi puncak kepala Hana berkali-kali.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=