My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Memuncak


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 21.30, melihat istrinya telah terlelap Abi yang memang tak pernah tidur awal memutuskan untuk turun ke bawah menemui anggota keluarganya yang ia tahu betul jika saat ini masih bercengkrama di ruang keluarga.


Benar saja sesuai perkiraan, mereka kini tengah asyik menonton televisi sambil diselingi obrolan-obrolan sederhana. Kegiatan sederhana namun sarat makna, dimana dengan kesibukan mereka masing-masing mereka tetap harus menyediakan waktu berkumpul bersama, sesebentar apapun.


"Hana mana Bi?" Tanya Kinan saat Abi baru akan mendudukan dirinya di single sofa sebelah sang Kakek.


"Udah tidur Mah..!" Jawab Abi.


"Belum terlalu malem, udah tidur aja. Hana baik-baik aja kan? Enggak sakit kan?" Kini Hafidz bertanya dengan penuh kekhawatiran.


"Dia enggak apa-apa, baik-baik aja. Emang aku suruh tidur gak terlalu larut aja, biar cepet pemulihannya!" Jawab Abi tanpa melepaskan pandangannya dari layar televisi yang sedang menayangkan berita tentang dirinya.


"Mamah penasaran, tadi pagi kamu bilang Hana lagi pengen ngerombak apartemen kamu? Kenapa?" Tadi Kinan enggan bertanya langsung pada menantunya, takut jika alasan di balik perombakan yang dilakukan Hana pada apartemennya adalah hal yang sensitif.


"Mungkin cuma mau ganti suasana aja Mah, rencana ini udah lama kok!" Ucap Abi beralasan, karena ia sendiri curiga memang ada alasan khusus tiba-tiba Hana ingin merubah apartemennya. Dan Abi yakin sekali, Raya ada dibalik ini semua.


"Ya udah ya, aku naik ke kamar aja. Tontonannya gak ada yang menarik, bikin mumet aja!" Izin Abi beralasan, karena sesungguhnya Abi ingin sekali mengecek CCTV apartemennya saat kejadian, entahlah tapi firasatnya kini semakin kuat jika Raya memang ada di balik musibah kegugurannya Hana.


"Besok jam 10 pagi suruh Daniel dan pengacara kamu ke kantor Papa!" Perintah Rendra sebelum Abi melanjutkan langkahnya.


"Baik Pa..!" Sahut Abi.


***

__ADS_1


Di dalam kamar, senyum Abi merekah ketika melihat istrinya yang masih setia dengan posisi tidurnya. Memeluk guling dan membelakangi Abi.


Ia lantas naik ke atas tempat tidur dan mulai mengakses gambar CCTV apartemennya pada saat terjadinya musibah pada istrinya menggunakan laptop yang sudah ia ambil dari meja kerjanya.


Beberapa potongan gambar dari beberapa sudut apartemennya kini sudah menjadi satu di layar monitor laptopnya. Dengan seksama Abi memperhatikan tiap-tiap video yang sedang dia akses itu.


Dan benar sesuai dugaannya, Raya datang ke Apartemen mereka dengan gaya angkuhnya. Ia pun mulai memperbesar dan memfokuskan tangkapan gambar yang menampilkan Raya dan Hana di ruang tengah Apartemen mereka.


Terlihat dua wanita itu seakan melemparkan senyum menantang satu sama lain. Abi yang memang memasang CCTV paling canggih di apartemennya, tak begitu kesulitan saat ingin mendengarkan pembicaraan antara istri dan mantan kekasihnya itu. Karena CCTV yang Abi pasang juga dapat merekam audio/ suara


" Kalo lo ke sini cuma mau nge banggain tanggal lahir lo yang masih jadi pass code apartemen gue, gak udah terlalu gede rasa Mbak. Itu semua gak penting, lagian gak lucu kan kalo pass code apartemen ini pake tanggal lahir gue atau pun Ka Abi, gampang ditebak. Kalo pake tanggal lahir lo kan gak bakal ada yang nyangka, lebih aman karena orang gak tau lo pernah ada hubungan sama SUAMI gue!" Sindir Hana telak.


"Tapi kenyataannya yang gue lihat, apartemen di sini gak banyak berubah semenjak terakhir gue ke sini, masih sama seperti terakhir gue pernah tidur di sini!" Raya hanya tersenyum miring mendengar sindirian Hana, ia kemudian juga berjalan keliling seputar apartemen membuat Hana mau tak mau mengikuti langkah Raya.


"Dan lo tau, setiap sudut tempat ini gak pernah luput jadi tempat gue sama Abi bercinta. Di sofa itu, di dapur, di meja makan apalagi di kamar. Andai aja tembok-tembok di sini dan semua barang di sini bisa ngomong pasti mereka bakal nyeritain betapa dalamnya hubungan gue sama Abi, dan lo lihat sendiri barang-barang di sini gak ada yang dia ganti, itu artinya dia gak pernah mau ngelepas kenangan antara gue dan dia!" Raya semakin tak tau malu mengumbar aibnya.


Mendengar itu Raya hanya tersenyum miring, meski tetap bersikap tenang Raya tau betul hati Hana sedang bergemuruh hebat.


"Dan lo tau, dimana tempat paling favorit kami bercinta selain di kamar, di sofa itu. Karena tiap Abi gak tahan buat mencumbu gue, sofa itulah yang bakal menjadi tempat melepas semua hasrat dia ke gue!" Tunjuk Raya dengan bangga ke arah sofa panjang yang selama ini Hana tiduri saat menunggu Abi atau saat terlalu mengantuk setelah menonton tv.


"Menjijikan, dan gue bisa pastikan setelah ini gue bakal ganti semua barang-barang saksi perbuatan dosa lo sama suami gue. Emhh.. Kalo lo sendiri mau tau gak dimana tempat favorit gue sama Ka Abi?" Ucap Hana tak mau kalah.


Melihat lawan bicaranya hanya diam saja, Hana berinisiatif untuk mendekati Raya dan melanjutkan kata-katanya, "Tapi sayangnya tempat favorit kami bukan di area unit apartemen kami ini dan sampe kapan pun bahkan lo sendiri gak bisa masuk ke dalamnya karena tempat yang gue maksud itu adalah kamar Ka Abi di mansion orang tuanya! Lo pernah bercinta di sana? Bahkan masuk ke kamar Ka Abi pun gue rasa belum pernah, iya kan?".

__ADS_1


Abi tersenyum puas saat melihat dan mendengar bagaimana ia selalu mematahkan omongan Raya, istrinya benar-benar tak akan rela dirinya diintimidasi oleh mantan kekasihnya itu.


Namun kemarahan Abi tiba-tiba memuncak tak kala melihat tubuh sang istri merosot di atas lantai sesaat setelah Raya meninggalkan apartemen mereka.


Ia sadar ucapan-ucapan Raya benar-benar langsung menekan mental Hana dan ia yakin keguguran yang Hana alami karena pengaruh ucapan Raya yang membuatnya stress dan pada akhirnya kehilangan bakal bayi mereka.


"Brengsek..!!" Umpat Abi dengan rahang yang mengeras serta mata yang menyalang merah menahan amarah.


"Niel, dimana lo?" Tanya Abi ketika menelfon sahabatnya.


"Exodus..!" Jawab Daniel sedikit berteriak karena ia mengangkat telfon sahabatnya itu tanpa beranjak dari dalam diskotik yang dentuman musiknya begitu keras.


"Si T*i malah clubbing lagi lo!" Gertak Abi.


"Puyeng Bi gue nyelesaiin masalah-masalah lo, otak gue butuh refreshing biar gak belok-belok. Ada apaan emang sih lo malem-malem masih aja nelfonin gue?".


"Temenin gue ke apartemen Raya, gue jalan ke sana. Cepetan susul gue!" Jawab Abi.


"Mau ngapain lagi lo ke tempat dia? Jangan macem-macem lagi lo Bi, bini lo baru kena musibah lo udah mau maen-maen lagi hah!!" Geram Daniel.


"Eh Gob*ok, abis berapa gelas lo hah? Ada urusan yang mau gue selesaiin sama tuh Jal*ng, gue jalan sekarang, cepet susul gue!" Perintah Abi kemudian mematikan sambungan telfonnya sepihak.


Ia pun beranjak untuk mengganti baju, dan mengambil kunci mobil sportnya.

__ADS_1


Sebelum pergi, ia membenarkan selimut istrinya kemudian mencium kening istrinya lama dan sangat dalam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2