
"Hana takut Bu, ternyata masa kehamilan itu berat. Berkali-kali Hana harus lagi-lagi masuk ke rumah sakit, dan Hana masih terlalu takut setiap mikirin proses kelahiran nanti. Hana belum siap Bu sama semua, Hana harus gimana?" Ungkap Hana sedih.
"Kamu sayang sama sama Dedek?" Tanya Irma.
"Sayang Bu, sayang banget. Bahkan Hana suka berfikir apa Hana kuat mempertahankan bayi ini Bu, Hana takut sama setiap prosesnya Bu. Infus, suntik, obat-obatan itu semua ngebuat dada Hana sesak Bu!" Keluh Hana.
"Kamu harus kuat Sayang, Ibu yakin kamu bisa ngelewatin semua. Lihat Ibu, Ibu juga melalui proses teramat berat beberapa waktu terakhir ini. Takut, sangat! Tapi Ibu harus melawan ketakutan Ibu hingga Ibu masih bisa ada di sini, masih bisa ngelihat kamu, masih bisa ngobrol sama kamu. Itu semua karena Ibu melawan ketakutan Ibu, coba fikir deh gimana kalo Ibu menuruti ketakutan Ibu, Ibu yakin udah lama Ibu gak sama-sama kamu lagi. Iya kan?" Irma menyemangati.
"Aahhhh.. Ibu kok ngomongnya gitu sih?" Rengek Hana dengan mata berkaca-kaca.
"Bener kan? Kalo Ibu mengikuti rasa takut Ibu, gak mungkin Ibu bisa bertahan sampe sekarang Hana. Ibu tau Nak kamu menjalani masa lalu yang berat, yang menyakitkan. Tapi cukup kamu terjebak di masa lalu kamu itu mulai sekarang, karena di sini udah ada alasan yang sangat kuat buat kamu melawan ketakutan kamu, anak kamu. Semua akan baik-baik saja Sayang!" Irma menyentuh lembut perut rata puterinya berharap dapat menyakinkan puterinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ibu, Hiks..!" Tangis Hana luruh mendengar tiap nasehat sang Ibu, ia pun menghambur ke pelukan Ibunya.
"Gak apa-apa Sayang, Ibu yakin anak Ibu bisa, anak Ibu kuat!" Irma menyambut pelukan sang anak yang terus terisak tanpa bisa berucap apapun hanya menganggukan kepalanya.
Abi tersenyum lega dan ikut terharu mendengar obrolan istri dan Ibu mertuanya dari balik pintu balkon. Ia sangat berharap Hana lebih bersemangat lagi menjalani tiap proses kehamilannya dengan tanpa rasa takut lagi.
"Eh, ada Ibu toh? Aku kira Hana sendirian di sini!" Abi menghampiri istri dan Ibu mertuanya beberapa saat kemudian, ia berpura-pura tidak tau keberadaan Ibu mertuanya.
"Iya Bi, Ibu kangen sama istri kamu yang cengeng ini. Baru pulang Jum'at an ya?" Tanya Irma basa basi.
"Iya Bu, aku ke sini mau ngajak Hana sama Ibu makan siang. Udah ditunggu sama semua di bawah!" Ajak Abi yang disambut anggukan oleh dua wanita hebat menurutnya.
__ADS_1
***
Seminggu sudah sejak Hana keluar dari rumah sakit, 3 hari menginap di mansion seakan Hana mendapatkan suntikan semangat.
Kini ia menjalani hari-harinya seperti biasa, meskipun setiap pagi masih mengalami mual dan muntah tetapi ia mulai lebih kuat dan tidak cengeng seperti sebelum-sebelumnya.
Bahkan Abi sudah mulai berani mengambil pekerjaan lebih yang sempat ia re schedule ulang untuk diselesaikan, meski belum berani mengambil job di luar kota.
"Minggu depan premier film kita, kamu kuat kan buat hadir di sana?" Tanya Abi sesaat setelah mereka menyelesaikan pergulatan panas mereka malam hari ini.
"Wahh, yang ditunggu-tunggu akhirnya. Kuat dong, harus kuat film pertama aku ini!" Jawab Hana penuh semangat di dalam dekapan suaminya.
"Kalo gitu jaga kesehatan, makan yang banyak pas hari H kamu kuat yaaa. Dan 3 hari setelah premier film kita di jakarta, aku ada kerjaan di Bandung sekalian promo-promo film juga. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal?" Izin Abi yang diangguki oleh Hana.
"Hhhh.. Andai aja Dedek udah kuat ditengokin Ayah sering, rasanya pengen nengokin lagi deh!" Desah Abi berat menggoda istrinya.
"Ya udah tidur ya, kerjaan aku banyak besok. Kamu juga gak baik tidur terlalu malem!" Ajak Abi mengecup lembut kening dan bibir Hana.
"Cantik..!" Pujinya lagi setelah berkali-kali mengecup bibir pink istrinya.
"Gombal..!" Sahut Hana meskipun rona merah tetap terlihat di pipinya.
***
__ADS_1
Hari yang dinanti pun akhirnya tiba, Hana begitu bersemangat semenjak dari apartemen untuk acara premier film pertamanya malam ini.
Gaun brukat panjang semata kaki berwarna putih rancangan designer ternama Indonesia yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari begitu cantik saat ia kenakan.
Tatanan rambut yang hanya dikucir kuda dengan sebagian rambut bagian depan dibiarkan serta make up natural but elegan menambah kecantikannya, dan mungkin juga faktor kehamilan Hana yang membuat aura kecantikannya semakin keluar.
Sedangkan Abi, dengan mengusung tema smart casual ia mengenakan kaos berwarna putih dibalut dengan jas warna senada membuatnya semakin tampan.
Abi kemudian berinisiatif untuk mengklik foto mereka sebelum berangkat ke tempat gala premier film mereka.
Dengan gaya merangkul istrinya dari belakang dan mencium pipi istrinya, Abi mengklik foto mereka di depan cermin besar dalam kamarnya.
Seperti sudah menjadi kewajiban baru sekarang, Abi pun meng update nya di setiap sosial media miliknya seakan ingin menunjukan bahwa she was mine ( dia adalah milikku) pada seluruh dunia.
Ia pun menuliskan caption pada unggahannya Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect, no I don't deserve this
You look perfect tonight, my wife. I love you now and forever.. ( Sekarang aku tahu aku telah bertemu malaikat secara langsung dan dia terlihat sempurna. Tidak, aku tidak pantas mendapatkannya. Kamu terlihat sempurna malam ini, istriku. aku mencintaimu sekarang dan selamanya../penggalan lagu Ed Sheeran Perfect).
Hana yang membaca caption yang dituliskan suaminya pun mencibir, "Idihh gaje banget deh captionnya, makin pinter gombal kamu yaa!" di selingi tawa juga rona bahagia yang tak mampu Hana sembunyikan.
Abi hanya tersenyum simpul mendengarkan cibiran sang istri, ia sendiri merasa aneh semenjak bersama Hana rasanya selalu menuliskan atau mengucapkan kalimat-kalimat indah.
__ADS_1
"Berangkat sekarang?" Ia kemudian menarik Hana ke dalam pelukannya dan memberi ciuman singkat pada bibir istrinya yang kini telah menjadi candunya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=