My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Jatuh Cinta


__ADS_3

Sudah tiga hari pasca kejadian yang membuat Hana kembali mengingat kecelakaan tragis saat ia kecil.


Untuk beberapa saat Hana memang sedikit menjadi pendiam dari biasanya, namun kini keadaannya berangsur membaik.


"Besok kita pindah ke apartemen!" Ucap Abi membuat Hana yang sedang melipat mukenahnya setelah menyelesaikan shalat Asharnya terdiam, mencoba mencerna perkataan suaminya.


"Kok tiba-tiba?" Tanya Hana.


"Tiba-tiba gimana? Kita udah lima hari di sini, gue rasa udah cukup kok!" Sahut Abi jengah.


"Tapi aku masih suka di sini Ka, di sini rame enak! Kalo di apartemen kan sepi, Hana gak suka!" Keluh Hana.


"Terus gue harus peduli gitu? Kan kita udah pernah bahas Han, setelah nikah kita tinggal di apartemen. Toh sekarang Ibu kelihatan udah nyaman kan tinggal di sini. Pokoknya gue gak mau ada penolakan, faham!" Tegas Abi, kemudian meninggalkan Hana sendirian.


"Kaka gak sholat? Tanya Hana ketika Abi memutar handle pintu kamar.


"Off dulu, jangan paksa gue!" Jawab Abi kemudian menutup pintunya.


Hana hanya mendengus kesal. Berbagai hal kini berputar-putar di otaknya, akan seperti apa kehidupannya di apartemen nanti, bagaimana Abi akan memperlakukan dirinya karena sejauh ini Abi masih bersikap baik padanya di depan keluarga, tapi entah saat mereka tinggal berdua nanti.


Rasanya Hana benar-benar belum siap, dia sudah terlanjur nyaman tinggal di mansion kekuarga Raffan, bukan karena kemewahannya tapi karena kehangatan keluarga ini benar-benar ia rasakan.


Hana menuju ke taman belakang mansion, tempat favoritnya. Biasanya ia akan ditemani Hafidz tapi hari ini Hafidz pergi bersama Rendra untuk bertemu koleganya. Sedangkan Kinan pergi bersama Nara ke pusat perbelanjaan, tadinya Hana diajak namun ia tak mau, ia lebih memilih menghabiskan waktu di mansion.


Abi, jangan tanya dia selalu pergi semaunya tanpa memberitau tujuannya pada Hana dan Hana sudah terbiasa dengan sikap suaminya itu.

__ADS_1


"Hey Barbie Hidup!" Tegur Juna saat Hana tengah asyik memberi makan ikan koi milik Hafidz.


Hana pun menengok ke arah suara yang memanggilnya. Ia hafal sekali siapa orang yang selalu memanggilnya 'barbie hidup'. Senyum pun mengembang di bibir mungilnya saat melihat Juna menghampirinya.


"Sendirian aja, ngapain di sini?" Tanya Juna, ia kemudian ikut memasukan kakinya ke dalam kolam ikan persis seperti yang Hana lakukan.


"Ngasih makan ikan Kakek!" Jawab Hana.


"Lo gak ikut Mamah sama Nara ngemol?" Tanya Juna lagi.


"Enggak ah aku capek banget, males ikut mereka ngemol karena mereka berdua kalo udah ngemol, sampe para pegawai dua kali ganti shift belum selesai-selesai!" Ucap Juna lucu.


"Lebay ahh.. Masa sih sampe segitunya? Emang mereka belanja apa aja? Gak capek apa muterin mall? Sederet pertanyaan pun Hana ungkapkan.


"Lihat aja nanti..!" Jawab Juna tersenyum lucu.


"Mas Abi kemana?" Tanya Juna akhirnya memecah kesunyian.


"Gak tau aku, dia gak pernah bilang sama aku mau kemana, kapan pulang, pergi sama siapa. Hufthhh..!" Hana membuang nafas beratnya seakan ingin melepas sesak di dadanya.


"Suami macem apa tuh? Kalo gue punya bini kayak lo nih Bie, gue bakal gandeng lo kemana aja gue pergi atau kalo perlu gak usah kemana-mana diem-diem aja di kamar bikin dedek bayi" sahut Juna yang langsung berhasil menerima capitan panas dilengannya.


"Adek Kaka sama aja, otaknya gak jauh dari urusan tempat tidur!" Sinis Hana membuat Juna tertawa.


"Bie..!" Panggil Juna menggunakan singkatan dari kata Barbie.

__ADS_1


"Hmm.." sahut Hana tanpa menoleh ke arah Juna.


"Gue udah tau sebenernya pernikahan yang lo jalanin sama Mas Abi pernikahan yang seperti apa. Kok lo mau sih Bie, diperlakukan kayak gini?" Pertanyaan Juna berhasil membuat Hana memfokuskan pandangannya ke wajah tampan Juna.


"Maksud kamu apa Juna? Pernikahan yang seperti apa yang kamu omongin?" Hana mencoba pura-pura tak faham dengan arah pembicaraan Juna.


"Mas Abi udah cerita sama gue semua. Tentang dia yang gak bisa ngelepas Raya, tentang lo yang meminta mas Abi buat buka hati dia supaya nerima perasaan lo, tentang batas waktu pernikahan kalian karena di saat Raya kembali Mas Abi berniat buat ceraiin lo. Hey Bie dengerin gue, lo tuh terlalu berharga buat diperlakukan kaya gini. Gue gak tau kenapa lo mau-maunya ngikutin permainan mereka? Apa lo secinta itu sama Mas Abi?" Setiap ucapan dan pertanyaan yang keluar dari mulut Juna berhasil meluruhkan air mata Hana.


"Kok Ka Abi setega itu sih Juna nyeritain semuanya ke kamu? Kenapa dia gak berusaha nutupinnya? Aku gak nyangka, aku malu..!" Ucap Hana sesegukan, ia benar-benar malu dengan Juna saat ini.


"Jadi bener Han semua yang dibilang Mas Abi?" Sekali lagi Juna ingin memperjelas ucapan Abi waktu itu.


Hana pun mengangguk mengiyakan dan ia pun mulai menceritakan dari awal kisahnya, saat pertama kali bertemu Kinan, saat pertama kali ia tau kalo Abi adalah anak Kinan. Ia juga menceritakan bahwa dirinya adalah pemggemar Abi. Menceritakan saat-saat tersulit ketika Ibunya divonis kanker, permintaan Hafidz kepada mereka berdua.


"Jadi maksud lo, lo setuju menjalani pernikahan sama Mas Abi adalah karena ingin balas budi?" Tanya Juna.


"Awalnya iya, karena aku hanya berani menganggumi Ka Abi, aku gak punya cukup keberanian buat mencintai Ka Abi tapi disaat Ka Abi dateng nolongin aku pas dulu aku pernah mau diperkosa sama baj*ngan itu, dari situ aku mulai bener-bener yakin kalo aku sebenernya udah jatuh cinta sama Ka Abi!" Lanjut Hana.


"Jadi alesan lain lo tetep mau nikah sama Mas Abi kalo lo emang cinta sama dia?" Juna menatap dalam ke manik mata Hana, Hana pun mengangguk.


"Aku berharap aku bisa menangin hati Ka Abi, berharap bisa menggantikan Mbak Raya di hati Ka Abi. Tapi kayaknya bakal berat, Ka Abi bener-bener cinta sama Mbak Raya, rasanya ternyata lebih menyakitkan jauh dari perkiraanku dan aku gak tau bakal kuat apa enggak terus menerus menjalani pernikahan cinta sepihak ini" keluh Hana, tak ayal air mata pun mulai membasahi pipinya. Juna yang faham betul perasaan Kaka iparnya saat ini hanya mampu memberikan pundaknya untuk Hana bersandar. Juna pun dengan lembut membelai kepala Hana berharap mampu memberikan ketenangan dan kekuatan untuk Hana.


Mereka tak sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari tadi. Abi benar-benar dibuat marah dengan pemandangan yang dia lihat saat ini. Rahangnya sudah mengeras dengan sorot mata yang seakan ingin membunuh dua orang yang sedang asyik saling bersandar itu.


Abi memang tak bisa mendengar obrolan mereka, tetapi melihat Hana yang nyaman bersandar di bahu adiknya membuat darahnya mendidih. Tak ingin lebih terpancing, Abi pun memilih meninggalkan mereka menuju kamarnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2