My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Mengejang


__ADS_3

Hana menatap nanar ke arah suaminya ketika Imah dengan susah payah mencoba menghentikan aksi sang suami yang terus ingin mencambukinya.


Ia benar-benar tak mengenali sosok yang saat ini sedang berada di hadapannya yang diliputi aura gelap amarah.


Mental Hana hancur, jiwanya terguncang hebat dalam posisi masih tengkurap dengan tubuh menggigil dan wajah pucat serta air mata yang terus menerus mengalir melihat arah suaminya.


"Udah Den Abi, istighfar ya Allah Den. Non Hana salah apa sama Aden, sampe Aden bisa kalap begini sama Non Hana!" Isak Imah yang terus memasang badan untuk melindungi Hana yang sudah terkapar kesakitan.


Abi yang masih dikukung amarah seakan belum puas menyakiti tubuh Hana yang sudah sangat mengenaskan tersebut. Ia terus mencoba merangsek ke arah Hana untuk kembali mencambuki istrinya tersebut, namun sayang Imah terus menerus menghalanginya untuk maju.


"Udah Den, udah. Kasihan Non Hana udah kesakitan begitu, istighfar Den dia istri Den Abi bukan musuh Aden!" Imah mendorong tubuh kekar majikan laki-lakinya.


Abi bisa saja menyingkirkan Imah, tapi ucapan Imah kini membawa akal sehatnya sedikit demi sedikit kembali, meski panas hatinya belum juga reda akibat ulah istrinya yang seakan mengiyakan sudah melakukan perselingkuhan dengan Nugie.


Dengan gerakan kasar Abi melempar ikat pinggang yang tadi ia gunakan untuk mencambuki istrinya, ia lantas duduk di sofa tak jauh dari ranjang, mengusap wajahnya dengan kasar.


Abi menatap ke arah Hana yang kini tengah dihampiri oleh Imah.


"Sak..it..!" Lirih Hana ketika tubuhnya dibalik oleh Imah, perasaan Imah begitu hancur melihat kondisi Hana saat ini. Ia seakan bisa merasakan sakit yang tengah majikan kecilnya rasakan.


"Wi, ambil selimut tipis!" Perintah Imah disela isak tangisnya pada Dewi yang dari tadi memberanikan diri mengikuti Imah. Sama halnya dengan Imah, Dewi pun tak kuasa untuk tak menangis melihat kondisi Hana.


"Jangan takut lagi ya Non ada Bibi, sekarang buka dulu ya bajunya ya!" Ucap Imah berusaha menenangkan Hana yang tengah menggigil ketakutan.


Imah langsung berinisiatif membuka dress yang sudah tak berbentuk tersebut, dilihatnya luka-luka melepuh serta berdarah dari tubuh Hana. Imah bisa membayangkan betapa perih dan sakitnya tubuh kecil majikannya tersebut. Belum lagi lebam di wajah yang membuat Hana sulit dikenali lagi.

__ADS_1


Imah berkali-kali beristigfar, menyebut nama Tuhan setiap memperhatikan Hana yang pandangannya mulai kosong.


"Ssaak,, it..!" Rintih Hana ketika Imah berhasil melepas dress Hana, Imah pun langsung memiringkan tubuh Hana yang tadinya telentang.


Imah semakin terisak mendapati punggung Hana yang dipenuhi luka menganga dan mengeluarkan darah. Bahkan kini ia tak mampu lagi mengeluarkan suara hanya untuk sekedar menenangkan majikan kecilnya yang terus merintih kesakitan.


"Bi, to..long bang, bangu..nin Han...a. Mimpi..i.. Hann.a..terla..lu..men..nakutt..kan Bi. Han..aaa..takk..utt..!" Ucap Hana dengan nafas mulai tersengal-sengal.


Tak lama setelah berucap, tubuh kecil mengenaskan Hana tiba-tiba mengejang hebat membuat Imah dan Dewi langsung dilanda kepanikan.


"Astaghfirullah, Non Hana. Den Abi, tolong Non Hana Den. Ya Allah..!" Teriak Imah panik.


Abi yang awalnya menundukkan kepala saat mulai merasakan penyesalan langsung menoleh ke arah ranjang, kepanikan serta ketakutan pun langsung melanda dirinya, dengan cepat Abi langsung naik ke atas ranjang menarik tubuh yang tengah mengejang tersebut ke pangkuannya.


Tak lama, tubuh kejang Hana mulai tenang namun tak berlangsung lama karena kemudian Hana kembali mengejang hebat. Hal tersebut terjadi berulang-ulang membuat Abi langsung merebut selimut yang tengah dipegang oleh Dewi dan melilitkan ke tubuh sang istri.


"Bibi tolong ikut aku, kita bawa Hana ke rumah sakit!" Perintah Abi sambil membopong tubuh istrinya yang mulai lemas.


Abi terus berlari melewari lorong-lorong apartemennya, Imah yang mengikuti majikannya dengan sigap membuka tombol lift yang dan menekan tombol basement parkiran.


Di dalam lift pun tubuh Hana sempat kembali mengejang membuat Abi berjongkok agar tak membuat tubuh yang tengah mengejang itu terjatuh dari dekapannya.


"Maaf sayang, maafin aku..!" Ucap Abi penuh sesal dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Sesampainya di depan mobilnya, Abi mengutuki dirinya karena lupa membawa kunci mobilnya, tapi ternyata Imah yang sadar kepanikan majikan prianya berinisiatif membawa kunci mobil tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih Bi..!" Ucap Abi kemudian menekan tombol kunci berbentuk remote tersebut. Abi kemudian meminta Imah untuk duduk di kursi belakang, lalu membaringkan tubuh istrinya dengan kepala sang istri berada di pangkuan Imah.


Dada Abi langsung terasa amat sesak, ketika melihat tangannya berlumuran darah sang istri. Ia benar-benar mengutuk dirinya dengan penuh sesal yang teramat sangat dalam dan bersumpah jika terjadi sesuatu yang buruk, ia tak akan pernah bisa untuk memaafkan dirinya sendiri.


Sepanjang perjalan ke rumah sakit, Abi bisa mendengar Imah terus menerus membisikan doa-doa ditelinga istrinya. Kalimat istighfar, takbir serta dzikir tak henti-hentinya Imah perdengarkan sambil terus mengusap lembut kepala istrinya.


Beberapa kali pun Hana masih mengejang, kemudian tenang, mengejang lagi.


"I..ib..u..!" Panggil Hana ketika tubuhnya mulai tenang.


"Non mau ketemu Ibu, iya? Nanti kita telfon Ibu ya, kita kabari Ibu kalo Non Hana mau ketemu Ibu biar Ibu datang ya. Sekarang Non Hana yang kuat ya, bertahan ya!" Sahut Irma penuh kasih sayang disela isakan lirihnya kemudian kembali membisikkan doa-doa di telinga Hana.


Sesampainya di rumah sakit, dengan sigap Abi membopong tubuh istrinya memasuki ruang IGD. Abi langsung disambut dengan cepat oleh beberapa petugas kesehatan yang tengah berjaga.


Dua orang perawat laki-laki langsung membawa brankar untuk meletakan tubuh Hana yang mulai mengejang lagi. Setelah dibawa ke ruangan yang private demi untuk menjaga privasi Hana dan Abi yang notabene memiliki nama besar di negeri ini, seorang dokter langsung memeriksa kondisi Hana.


Abi sempat melihat beberapa perawat perempuan meringis perih saat membuka lilitan selimut dari tubuh Hana dan melihat luka-luka yang cukup parah di tubuh istrinya.


"Jangan ditelentangin, dimiringkan saja tubuhnya. Rasanya sakit itu punggung Ibu Hana!" perintah seorang Dokter pada beberapa perawat yang mengelilingi tubuh Hana.


Abi hanya menatap istrinya dengan penuh penyesalan, tangisannya bahkan tidak berhenti ketika melihat bagaimana Dokter serta para perawat tengah mengurusi tubuh istrinya. Ia teringat jika Hana paling tak suka berhubungan dengan dunia serta alat-alat media. Tapi sekarang tanpa bisa menolak atau menggerutu tubuh kecil itu menerima berbagai alat yang amat dibencinya menyentuh tubuhnya.


"Maafin aku Hana, bertahanlah.. aku mohon sayang!" Pinta Abi dengan suara lirih tercekat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2