My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Larut Dalam Kesedihan


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


Abi langsung bergegas untuk ke rumah utama, namun sebelumnya ia membalas pesan sang istri menanyakan keberadaan sang istri. Tapi pesan yang ia kirimkan tak kunjung dibalas juga.


Dengan sangat hati-hati ia berjalan, ini ia lakukan agar sebisa mungkin menghindari untuk bertatap muka langsung dengan sang istri.


Beruntung sampai ke ruang tengah utama ia tak menjumpai istrinya.


"Baru bangun?" Tanya Qirani yang tengah bersantai membaca majalah di sofa.


"Iya Omma, Grandpa kemana?" Tanya Abi basa basi.


"Biasa, ke perusahaan! Kamu mau bertanya dimana istri kamu kan?" Tebak Qirani membuat Abi tersipu serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Istri kamu sedang keluar dengan Nara ke supermarket, entah ingin membeli apa. Dia dari tadi terus uring-uringan, bolak balik ke halaman depan kamar kamu, berdiri di sana berharap bisa melihat kamu, tapi sepertinya kamu terlalu pulas tidur+!" Ucap Qirani, Abi bisa membayangkan wajah kesal sang istri.


"Tadi juga dia bilang ke Omma, kalo kamu dibangunin langsung aja susah banget, apalagi cuma melalui ponsel. Oh iya setelah dia tau kamu udah datang, tadi dia langsung membuatkan kamu nasi goreng sosis untuk sarapan. Katanya ini sarapan kesukaan kamu, tapi sekarang mungkin sudah dingin, mau Omma hangatkan?".


"Gak perlu Omma, temani aku makan saja!" Sahut Abi yang diangguki oleh Qirani untuk kemudian mereka bersama-sama menuju ke ruang makan.


Qirani langsung menyajikan sarapan buatan Hana untuk Abi yang tertunda, saat satu piring nasi goreng sosis yang sudah dingin itu sudah tersaji di depannya, Abi tak mampu lagi menahan isak tangis harunya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, setidakya hal tersebut bisa sedikit meredam suara isakkannya.


Qirani yang sangat memahami perasaan cucu tertuanya tersebut langsung menghampiri dan memeluk Abi sambil berdiri.


"Dia mencintaimu, sangat. Hanya rasa traumanya terhadapmu sangat besar. Omma faham sekali di sini bukan saja kamu yang tersiksa, tetapi juga Hana. Dimana perasaan Hana yang begitu merindukanmu tetapi fikirannya masih dihantui oleh trauma atas perbuatan kamu dulu. Tetapi percayalah dia sudah memaafkan kamu, bersabarlah, beri dia waktu!" Qirana terus membelai lembut kepala Abi yang tenggelam di pelukan sang Nenek.

__ADS_1


"Aku kangen banget Omma sama Hana, rasanya aku pengen banget meluk dan dipeluk dia!" Ucap Abi disela isakannya.


"Bersabarlah, kelak kamu dan dia akan bersama lagi seperti dulu!" Sekali lagi Qirana mencoba menyemangati cucu laki-lakinya yang tengah rapuh itu.


Dan tanpa ada seorang pun yang menyadari jika Hana tengah mengintip dari balik tembok, dia yang tadinya ingin ke dapur justru melihat sosok yang sangat ia ingin lihat tapi juga ia hindari dalam waktu yang bersamaan.


Dan yang mengejutkan ialah ia melihat sosok gagah sang suami yang tengah terisak, yang membuatnya justru ikut larut dalam kesedihan.


Bahkan hatinya semakin terenyuh saat melihat sang suami dengan lahap memakan nasi goreng buatannya.


Tak sanggup melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa getir, Hana memutuskan untuk beranjak ke kamarnya. Paling tidak ia sudah mengobati kerinduannya pada sang suami dengan melihat diam-diam suaminya.


Sepanjang dirinya berjalan hendak ke kamarnya, Hana sama sekali tak bisa menghentikan tangisannya. Antara takut tapi juga sangat merindukan suaminya membuat batinnya bergejolak.


"Elo kenapa Bie?" Tanya Juna dengan mimik khawatir saat Hana berpapasan dengan adik iparnya itu.


"Ke kampus lah, mau kemana lagi?".


"Libur aja hari ini ya Juna, temenin aku ya!" Pinta Hana penuh harap.


"Boleh sih, tapi tumben? Biasanya elo yang paling bawel kalo gue bolos kuliah!" Sahut Juna sedikit aneh dengan sikap Kakak iparnya itu.


"Ishh.. Bawel deh! Udah ayo ke kamar, aku lagi butuh kamu sekarang. Kalo ada Nara mah aku gak begitu butuh kamu, tapi tadi Nara diajak temennya pergi, jadi mau enggak mau aku minta ditemenin kamu aja. Ayo balik ke kamar kamu!" Sembur Hana kesal.


Sesampainya di kamar Juna, Hana langsung menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang, tangisannya pun semakin menjadi membuat Juna kebingungan sendiri.


"Elo itu kenapa sih Bie sebenernya?" Tanya Juna yang kini duduk di sebelah Hana.

__ADS_1


"Aku kangen sama Kak Abi..!" Jawab Hana lirih tanpa menoleh ke arah sang adik ipar.


"Bukannya dia udah dateng? Temuin lah!".


"Aku tadi udah lihat dia di ruang makan, ngintip-ngintip__!" Hana sempat menghela nafasnya dalam-dalam.


"Terus..?" Tanya Juna penasaran.


"Dia.. Dia lagi nangis di pelukan Omma tadi. Aku sedih banget ngelihat dia serapuh itu__!" Hana kembali terisak mengingat betapa rapuhnya sang suami, dimana ia terbiasa melihat suaminya yang gagah serta aura tegas dan kuat selalu terpancar dari diri suaminya.


"Yaa, itulah Mas Abi yang sekarang Bie..!" Sahut Juna menatap dalam mata Kakak iparnya yang saat ini sudah duduk menghadapnya.


"Maksudnya?" Tanya Hana tak mengerti.


"Elo siap ngedenger semuanya?" Juna mencoba menyakinkan Hana.


"Apa?".


"Tentang malam terkutuk itu?" Juna sedikit melirihkan suaranya, melihat ekspresi Hana takut jika Hana justru terkena serangan panik jika mengingat malam menyakitkan itu.


"Aku siap..!" Jawab Hana meski sedikit ragu.


"Bie, denger .. Satu hal yang harus lo tau kalo sejak Mas Abi lepas kontrol nyiksa lo waktu itu, gak ada satu hari pun yang dia lewati tanpa penyesalan dan tangisan. Di depan kita, di depan partner kerjanya, temen-temennya atau pun orang lain mungkin Mas Abi masih terlihat sebagai sosok yang gagah, yang kuat. Tapi gue tau banget dia cuma lagi menutupi kelemahan dirinya. Dia hancur Bie, dia tenggelam dalam penyesalannya. Senyum dia mengembang cuma ketika dia dapat kabar tentang perkembangan kondisi lo yang semakin membaik dari waktu ke waktu dan selebihnya Mas Abi menjadi sosok yang lebih dingin dibanding dulu sebelum kejadian memilukan itu terjadi!" Beberapa kali Juna harus menghela nafasnya untuk melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Hana, sungguh saat ini ia sedang dalam dilema antara melanjutkan ceritanya agar Hana memahami situasi yang sesungguhnya terjadi waktu itu dengan konsekuensi Hana akan histeris jika teringat atau harus menghentikan ceritanya dan membuat Hana tetap merasa gamang jika berhadapan dengan Abi.


"Mas Abi selingkuh sama Raya, aku lihat sendiri mereka melakukan hal yang gak seharusnya!" Sahut Hana, Juna bisa melihat kesakitan dan kekecewaan dari mata cantik Kakak iparnya itu. Karena sesungguhnya Hana sama sekali belum tahu kejadian yang sesungguhnya, bahwa Abi saat itu sudah dijebak bukannya secara sadar berselingkuh dari Hana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2