
Seharian Abi dan Hana hanya menghabiskan waktu di villa, komdisi Hana yang keletihan membuatnya enggan untuk pergi kemana pun. Bahkan pada saat Abi merayunya dengan akan membawanya ke tempat-tempat menarik di Bali, Hana tak mengindahkannya.
"Kaka sih, kalo begini kan aku gak bisa kemana-mana rugi dong diem di kamar doang!" Rengek Hana dengan wajah kesalnya.
"Kan aku udah ngajakin kamu keluar, kamunya gak mau!" Sahut Abi sambil memainkan ponselnya.
"Iyalah, kan aku yang ngerasain sengsaranya. Kaka mah enggak, jangankan mau jalan keluar, jalan ke kamar mandi aja butuh waktu. Pokoknya aku gak mau yaa, seharian ini sampe besok aku diapa-apain lagi. Aku mau istirahatin badan aku, mau jalan-jalan besok!" Ancam Hana membuat Abi tersenyum simpul.
"Emang kamu aku apain sih?" Goda Abi mendekati istrinya yang saat ini rebahan di tempat tidur.
"Menurut Kaka, Kaka abis ngapain aku?" Tanya Hana dengan mimik kesal dengan kesok polosan suaminya.
"Ngenakin kamu, emang salah?" Hana langsung melemparkan bantal ke wajah suaminya ketika mendengar jawaban absurd sang suami.
"Perasaan Kaka yang lebih menikmati deh!" Sindir Hana, sedang Abi masih tergelak sejak dilempar bantal istrinya.
Hana semakin jengah dengan sikap suaminya, ia pun memilih pergi untuk ke arah meja yang di atasnya tersaji berbagai makanan yang tadi dipesankan suaminya.
Perutnya sangat lapar, ia memilih makanan yang ia inginkan dan membawanya ke ruang tv untuk dinikmati di sana sambil menonton acara tv yang menurutnya menarik.
"Laper nihh ye yang abis lembur!" Sindir Abi, tetapi Hana mengacuhkannya dan tetap menikamati makanannya.
Ponsel Abi berdering saat dia baru saja duduk di sebelah istrinya, terpampang nama Raya yang melakukan panggilan via video call.
"Angkat aja Ka, siapa tau urgent!" Ucap Hana saat melihat kegelisahan di wajah suaminya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Abi ragu-ragu, sungguh dia tak mau membuat istrinya kembali kesal.
"Iya gak apa-apa, angkat aja!" Jawab Hana dengan senyuman.
"Aku harus bersikap manis sama Raya Han, kamu tau kan kondisi dia masih labil. Apa masih gak apa-apa?" Tanya Abi sekali lagi menyakinkan.
"Iya Ka, gak apa-apa. Aku ngerti kok!" Jawab Hana yakin. Menurutnya dengan suaminya memilih tetap bersamanya sudah cukup, tapi ia pun tak mau egois, ia tau wanita itu terpuruk karena sebagian adalah suaminya yang menyebabkan.
"Kalo gitu aku angkat di sini!" Sahut Abi.
__ADS_1
"Tapi jangan sampe aku kerekam, bisa ada aksi bundir episode dua nanti!" Nyinyir Hana membuat Abi sedikit tergelak.
"Bi..!" Sapa Raya dengan suara yang lemah.
""Kenapa Ray?" Tanya Abi lembut.
"Kenapa kamu belum dateng?" Abi bisa melihat air mata Raya jatuh di wajah pucatnya.
"Sabar ya, aku masih ada kerjaan yang gak bisa aku cancel atau pun aku undur. Kelar kerjaan aku, pasti aku langsung ke sana!" Jawab Abi sambil melirik ke arah istrinya yang masih asyik melahap makanannya.
"Aku butuh kamu Bi, tolong dateng secepetnya!" Pinta Raya dengan tangis yang semakin deras.
"Dia gak mau makan Bi, padahal dokter udah ngewanti-wanti dia buat makan. Tapi dia gak mau sampe lo belum dateng!" Suara Lina ikut bergabung di dalam panggilan itu.
Abi menghela nafasnya berat, ia sungguh tak menyangka akan berada di situasi macam ini. Rasanya berat untuk memberi perhatian kepada masa lalunya di depan istrinya saat ini. Beberapa kali Abi melirik ke arah Hana, meski terlihat tak peduli tapi Abi yakin perasaan istrinya pun terluka.
"Makan Ray, aku gak mau kamu ngedrop. Kalo aku sampe dapet kabar kamu drop aku bakal batalin rencana aku buat ke Paris, jadi nurut sama Dokter, sama Lina okay!" Perintah Abi sedikit mengancam tetapi masih terdengar lembut suaranya. Ia tak mau membuat Raya tertekan jika kembali mengasarinya.
Raya mendengar ancaman Abi menganggukan kepalanya, ia berjanji akan menurut pada Dokter juga pada Lina asalkan Abi tak membatalkan rencananya untuk ke Paris.
"Tapi kamu masih pake baju santai?" Tanya Raya.
"Iya aku masih di villa, nunggu Daniel jemput abis itu langsung ke lokasi!" Jawab Abi berbohong.
"Kamu masih sama Hana?" Tanya Raya memastikan.
"Iya, tapi sekarang lagi enggak ada Hana. Dari pagi dia udah pergi, dia juga ada beberapa kerjaan sebelum balik ke Jakarta. Ya udah, aku tutup ya. Aku mau siap-siap, Daniel udah di jalan soalnya!" Setelah melihat anggukan dari Raya, Abi pun langsung mematikan panggilan video call mereka.
"Sayang..!" Panggil Abi pada Hana setelah mematikan sambungan video callnya dengan Raya.
"Aku gak apa-apa kok, Kaka jangan khawatir!" Sahut Hana masih tetap tersenyum namun kali ini juga membelai kedua sisi pipi suaminya seakan ingin memberitahukan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Maaf..!" Ucap Abi tulus.
"Aku kurangin yaa dari stok maaf kamu!" Ledek Hana terkekeh.
__ADS_1
Abi langsung menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya, memeluk erat tubuh kecil istrinya. Hana pun membalas pelukan suaminya penuh dengan ketulusan.
***
3 hari kemudian.
Malam ini malam terakhir Hana dan Abi berbulan madu di Bali, esok mereka memutuskan untuk kembali ke Ibu Kota.
Saat ini mereka menghabiskan waktu di cafe salah satu teman Abi, Agnes. Yaa mereka berkumpul sebelum kembali kepada kesibukan mereka masing-masing. Terlebih Abi dan Hana yang entah kapan lagi meraka berdua bisa kembali ke pulau dewata.
Saat mereka sedang asyik menikamati kebersamaan di ruan VIP cafe, lagi ponsel Abi berdering panggilan video call dari Raya. Memang semenjak Abi memutuskan tidak langsung berangkat ke Paris, Raya begitu intens menghubunginya.
Semua yang di ruangan itu mengetahui kejadian yang menimpa Raya, tapi tak seorang pun merasa iba. Bahkan Hilda sempat mengolok Raya sebagai ratu drama dan juga apa yang terjadi dengan Raya hanyalah sebuah susunan rencana saja untuk merusak rumah tangga Abi dan Raya.
"Gue keluar dulu ya, angkat ini!" Pamit Abi yang diangguki semuanya.
"Kamu mau ikut aku sayang?" Kini Abi bertanya pada istrinya, dia memang sering mengangkat panggilan dari Raya di depan Hana agar Hana tau semua yang dibicarakan antara dirinya dan Raya.
"Enggak aku mau di sini aja, aku mau ngobrol banyak sama yang lain. Takut kangen sama mereka kalo nanti aku udh balik ke Jakarta!" Mendengar jawaban istrinya Abi mengangguk dan langsung keluar ruangan untuk mencari tempat yang tak terlalu bising.
"Raya sering tuh Han nelponin laki lu?" Tanya Hilda dengan mimik tak suka.
"Iya, hampir setiap hari. Bahkan dalam sehari bisa lebih dari lima kali dia ngehubungi suami aku!" Jawab Hana jujur.
"Dan lo gak apa-apa gitu?" Kini Agnes penasaran dengan reaksi Hana.
"Ka Abi tiap ngobrol sama Raya selalu di depan aku, jadi aku tau yang dibahas mereka apa aja. Sejauh ini sih aku gak apa-apa!" Jujur Hana.
"Jangan terlalu dikasih kebebasan Han laki tuh, Raya sama Abi gak sebentar lho berhubungan hampir tujuh tahun dan hubungan mereka dulu tuh yaa lo tau lah. Gue bilangin ya Han, Raya tuh perempuan licik gue yakin ada yang lagi dia rencanain!" Ucap Hilda penuh kecurigaan.
"Tapi sejauh ini Ka Abi terbuka sama aku, lagian aku udah percaya kalo sekarang cuma aku satu-satunya perempuan yang dia peduliin!" Sahut Hana malu-malu.
"Ya udah gue doain rumah tangga lo sama Abi adem ayem aja, gak ada gonjang ganjing yang aneh-aneh!" Doa Hilda yang diamini semua yang sedang berkumpul di sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1