
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Abi tak lagi menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menghampiri istrinya yang tengah menggodanya.
Ia langsung mengecupi wajah dan bibir istrinya, Hana pun membalas tiap sentuhan sang suami.
Mereka terus saling memancing gairah masing-masing hingga saat Abi ingin membuka pakaian Hana, Hana langsung menghentikan kegiatannya hanya untuk mengatakan kepada Abi agar tak melepaskan piyamanya.
"Jangan dilepas Kak, begini aja. Maaf!" pinta Hana memohon membuat Abi mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa?".
Hana hanya menggelengkan kepalanya, sungguh dirinya tidak percaya diri dengan kondisi tubuhnya saat ini.
Abi pun menuruti permintaan istrinya, ia lebih memilih untuk melenakan kembali sang istri agar mereka siap satu sama lain untuk melepaskan kerinduan mereka.
"Boleh aku lakukan sekarang?" izin Abi setelah ia rasa tubuh istrinya siap menerima kehadirannya.
Dengan wajah bersemu Hana pun menganggukkan kepalanya.
Melihat persetujuan Abi, ia langsung melepas celananya. Meskipun kikuk dan teramat merasa malu, Hana sempat melihat milik Abi yang dimatanya seakan milik sang suami tumbuh lebih besar dari terakhir yang ia lihat di ingatannya.
"Itu kenapa bisa semakin__!" Hana tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia masih terlalu malu.
"Sama aja ah, mungkin karena kamu udah lama enggak ngelihat si Perkasa" jawab Abi nyeleneh.
Abi kembali ******* bibir istrinya dan berusaha untuk melakukan penyatuan antara mereka.
"Ken, kenapa susah lagi. Ini sakit banget..!" rintih Hana melepaskan ciuman mereka.
"Sabar Sayang, kita udah lama enggak ngelakuinnya!" suara Abi parau sambil terus berusaha menyatukan mereka.
__ADS_1
Tubuh Hana langsung membusur ketika Abi berhasil menyatu sepenuhnya, bahkan keduanya sama-sama melenguh menikmati penyatuan mereka untuk pertama kali setelah sekian lama.
Setelah memberi kesempatan beradaptasi dengan miliknya, Abi mulai melakukan gerakannya dengan penuh kelembutan. Ia ingin menepati janjinya untuk tak sama sekali menyakiti sang istri.
Abi terus bermain lembut membuat Hana justru merasa tak sabar dengan permainan suaminya.
"Kak, faster please..!" pinta Hana di sela rintihannya.
"As your wish, Baby!" sahut Abi dengan suara serak kemudian memulai tempo dengan lebih cepat.
Abi menarik tubuh Hana agar sama-sama sejajar berdiri berhadapan, mereka berdua yang tengah sama-sama diliputi gair*h hingga lupa pada komitmen awal mereka saat sebelum saling melepas kerinduan yaitu untuk tak membuka piyamanya.
Abi terus mencium istrinya, tangannya pun aktif bergerak untuk melucuti sisa kain yang masih melekat pada tubuh istrinya.
Dan setelah berhasil dengan gerakan perlahan, Abi memposisikan tubuh Hana agar terlungkup, dan pemandangan menyayat hati langsung tersaji di hadapannya dimana ia melihat bekas luka yang lebih parah di seluruh punggung istrinya, bahkan ada beberapa luka seperti kulit timbul terukir di sana membuat Abi tak kuasa menahan tetesan air matanya.
"Kak?" Hana yang tersadar tak ada gerakan apapun dari suaminya mencoba menengok ke arah belakang untuk memastikan mengapa suamimya diam saja.
Abi langsung mengusap air matanya dan mencium tengkuk istrinya, ia kemudian melilitkan kembali handuk di pinggangnya dan buru-buru beranjak ke kamar mandi agar Hana tak melihat dirinya menangis.
Ia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, tangisannya pun pecah segala pikiran buruk kini tengah otaknya terka-terka.
"Kak Abi pasti ngelihat bekas luka aku, dia pasti jijik dan gak mau nyentuh aku lagi. Hiks.." Hana menenggelamkan wajahnya di lutut yang terbalut selimut.
Sedang di kamar mandi Abi masih berusaha menenangkan dirinya, ia menyalakan kran air agar suara air dapat meredam suara isakannya.
Sungguh ini kali pertama Abi melihat bekas luka di punggung istrinya, Abi bisa membayangkan rasa sakit yang Hana rasakan dulu setelah melihat betapa mengerikannya luka yang membekas di tubuh Hana.
Setelah cukup menenangkan dirinya, Abi kemudian keluar dari kamar mandi. Ia terlihat panik ketika melihat Hana sedang menangis tersedu-sedu, dengan langkah cepat ia pun menghampiri istrinya yang tengah menenggelamkan wajahnya di atas lutut.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Abi duduk di samping tubuh istrinya.
"Kak Abi udah lihat punggung Hana kan? Mengerikan ya Kak bekas lukanya? Kakak pasti sekarang jijik sama aku, iya kan?" Hana mendongakkan wajahnya untuk kemudian menyerbu Abi dengan serentetan pertanyaan.
"Iya aku udah lihat dan aku enggak jijik sama sekali" jawab Abi jujur.
__ADS_1
"Terus kenapa Kakak berhenti tiba-tiba? Kenapa Kak Abi langsung pergi begitu aja?" Hana seperti tak puas dengan jawaban suaminya.
"Apa pertanyaan-pertanyaan kamu ini sebuah kode buat ngajak aku lembur malam ini, hm?" tak mau berlarut-larut Abi memilih melontarkan pertanyaan untuk menggoda istrinya.
"Apa?".
"Aku mau kamu sekarang pegang kendali permainan kita, sanggup?" tantang Abi menarik Hana ke atas pangkuannya.
"Aku siap kamu ajak ke nirwana, Sayang" ucap Abi sambil menyatukan mereka lagi.
Hana benar-benar mengambil alih permainan mereka, hingga setelah beberapa lama tubuh keduanya menegang dan lenguhan suara mereka keluar bersamaan ketika keduanya telah sampai pada pelepasan mereka.
Dengan nafas masih memburu, keduanya kini tengah berpelukan. Abi meski terasa perih hatinya tetap mengelus-elus punggung istrinya, ia tak mau istrinya dilanda krisis percaya diri di hadapannya, ia ingin menunjukan pada Hana bahwa bekas luka di tubuh Hana tak sama sekali mengganggu dirinya.
Abi menjauhkan wajah istrinya dari dekapannya, ia kemudian menghujani kecupan ke seluruh wajah cantik istrinya yang terdapat bulir-bulir keringat.
"Kakak gak bilang 'once again, please!' kayak dulu?" pertanyaan polos Hana justru kembali memancing air mata suaminya.
"Kak Abi kenapa nangis?" tanya Hana khawatir, tangan mungilnya pun menangkup wajah tegas suaminya yang tengah dibanjiri air mata.
Dan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Hana terus mengusap air matanya yang terus-menerus jatuh di pipi suaminya.
"Apa aku masih pantes nerima ini semua?" tanya Abi setelah mampu menguasai dirinya, namun membuat Hana kebingungan.
"Hah?".
"Apa aku pantes nerima maaf kamu, kasih sayang kamu, cinta kamu, kepedulian kamu dan juga tubuh kamu setelah hal buruk yang pernah aku lakukan ke kamu?" Abi menatap penuh penyesalan wajah cantik istrinya.
"Aku ngerasa gak pantes Hana, bajingan sejahat aku enggak pantes buat ngedapetin cinta perempuan sebaik kamu. Kesalahan aku terlampau fatal, aku udah meninggalkan bekas luka enggak hanya di tubuh kamu, tetapi juga di hati dan jiwa kamu. Maafin aku Sayang!" Abi kembali mulai terisak.
"Aku udah maafin Kakak, aku mau ngelupain masa menyakitkan yang dulu. Tolong bantu aku Kak dengan tidak mengingatkan aku hal mengerikan malam itu, aku ingin kembali merajut asa dan kebahagiaan sama Kakak tanpa bayang-bayang malam itu. Jadi aku mohon sama Kakak jangan ungkit-ungkit hal menyakitkan itu lagi, please!" pinta Hana memelas kemudian memeluk tubuh suaminya.
"Aku janji, aku nggak akan pernah nyakitin kamu sedikit pun, Sayang!" ucap Abi membalas menyambut pelukan tubuh mungil istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1