
Hari beranjak tengah malam, sedang Abi belum juga bisa memejamkan matanya. Ia yang memilih tidur di ruang rawat sang istri terus memandangi wajah Hana yang mulai kempis lebamnya meski masih terlihat jelas memar di wajah cantiknya.
Ia teringat sekali ucapan-ucapan Daniel ketika ia selesai menceritakan awal mulai tragedi yang dialami Hana, hingga Hana terpaksa berada dalam keadaan koma seperti saat ini.
"Bener kata mertua lo Bi, lo belum mengenal Hana. Gimana bisa lo berfikiran kalo Hana bisa ngelakuin hal sekotor dan semenjijikan itu. Lagian bukannya gue udah bilang ke lo, sabar Bi sama Hana karena gue tau Hana itu tipe orang yang gak bakal berfikir panjang sama apa yang dia ungkapin. Coba lo fikir sekarang, dia yang gak pernah mau berduaan sama cowok selain suaminya di satu ruangan tertutup, sama gue aja dia selalu minta pintunya dibuka lebar atau beberapa kali dia mau gue anter atau Angga anter ke suatu tempat dia pasti minta izin lo dulu cuma supaya gak ada fitnah, padahal zaman sekarang hal itu biasa kan, apalagi kita saling kenal. Tapi enggak buat Hana Bi, dia terlalu menghormati lo sebagai suaminya, sampe-sampe izin lo itu mutlak di hidup dia. Dan gue rasa lo gak lupa, waktu di apartemen Nugie, pintu utamanya terbuka lebar jadi gak mungkin kan mereka berbuat aneh-aneh waktu itu!" Abi begitu meresapi tiap kata-kata yang diucapkan oleh Daniel, sahabatnya.
Dan semua perkataan sahabatnya memang benar apa adanya, ia yang tak mengenal istrinya hingga bisa berprasangka buruk dengan sang istri. Meskipun kemarahannya waktu itu juga akibat dirinya yang frustasi telah kepergok oleh sang istri bercinta dengan Raya membuatnya justru makin gelap mata.
Seharusnya ia memohon maaf pada istrinya waktu itu, mencoba menjelaskan situasi yang ia hadapi meskipun hal tersebut ia sadari tak termaafkan dan telah amat sangat melukai dan menghancurkan istrinya, tetapi karena kebodohannya justru malah membuatnya semakin melukai Hana.
Abi sadar kini tak hanya hati dan perasaan Hana saja yang ia sakiti tetapi juga fisik Hana yang ia lukai teramat sangat parah membuatnya semakin merasa bersalah dan tak termaafkan.
"Kalo kelak kamu bangun dan memilih untuk kulepaskan, akan aku lakukan sayang meskipun itu sangat berat buat aku. Tapi sekarang aku sadar kalo kesalahanku terlalu besar, dan aku harus siap jika kamu memilih meninggalkan aku. Meskipun aku berharap kamu masih memberiku kesempatan sekali lagi dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya dan akan kuperlakukan kamu lebih baik lagi, gak akan pernah aku sakitin kamu lagi, aku berjanji!" Ucap Abi sambil mengecupi wajah istrinya.
***
Seminggu sudah Hana tertidur, saat ini Abi sudah memilih untuk kembali bekerja di kantornya dan selalu pulang ke rumah sakit. Maka dari itu Abi sedikit mengubah kamar rawat sang istri selayaknya kamar tidur di rumah. Ia menambahkan beberapa barang seperti tempat tidur untuknya, almari, meja kerja dan mini kitchen. Ia pun sudah memindahkan beberapa barang yang diperlukan ke kamar rawat istrinya.
Malam ini seusai pulang bekerja rencananya ia akan menemui keluarga besarnya di mansion. Meskipun beberapa kali mereka bertemu di rumah sakit, tetapi mereka enggan membahas masalah yang tengah terjadi.
Juga orang kepercayaannya sudah menghubunginya jika mereka telah menemukan Raya. Yaa, Raya memilih bersembunyi di Singapore di salah satu apartemen milik Arthur.
"Kalian awasi saja terus perempuan itu, jika sudah waktunya baru akan saya berikan perintah selanjutnya. Jangan sampe lepas!" Perintah Abi tegas.
__ADS_1
***
Abi memilih meluncur ke rumah sakit untuk sekedar melihat dan melepas rindu pada istrinya, baru kemudian ia akan pergi ke mansion orang tuanya.
Sesampainya di rumah sakit, ia melihat sang Ibu mertua baru saja selesai membaca Al Qur'an di sisi ranjang Hana, membuat Abi sedikit kikuk mencium punggung tangan sang ibu mertua karena rasa bersalahnya.
"Saya mau bersih-bersih diri dulu kemudian shalat Isya dan langsung meluncur ke mansion. Saya titip Hana ya Bu..!" Ucap Abi setelah berusaha keras meredam kegugupannya, sedang Irma hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Selesai membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, kini Abi yang telah berganti pakaian santai, celana jogger hitam metalik serta kaos berwarna abu-abu yang ngepas dengan tubuh kekarnya bersiap untuk pergi ke mansion orang tuanya.
"Makanlah dulu, tadi Ibu sempat memasak di mansion. Ibu tau kamu belum makan malam dan tak akan sempat makan jika tiba di kediaman orang tua kamu, jadi makan lah saja dulu sudah Ibu hangatkan!" Ucap Irma ketika Abi hendak berpamitan.
"Terima kasih Bu..!" Abi begitu bersyukur sang Ibu mertua sudah tak sekaku seperti biasanya, ia pun langsung melepas topinya dan mendudukan dirinya untuk menikmati makan malam yang dibuatkan oleh Ibu mertuanya.
Abi bisa menangkap suara Irma yang bergetar menahan kesedihan membuatnya langsung menitikan air mata di sela ia mengunyah makanannya. Rasa bersalahnya membuat dada Abi semakin sesak.
Selesai menyantap makan malamnya, Abi pun mencium tangan Ibu mertuanya. Ia juga menghampiri ranjang sang istri, memberi kecupan-kecupan di wajah cantik istrinya. Tak lupa ia juga membisikkan kata-kata cinta serta penyemangat agar Hana lekas bangun.
Selesai dengan ritualnya, Abi kemudian beranjak meninggalkan istri dan mertuanya. Ia sadar betul kali ini ia akan menghadapi kemarahan keluarganya dan ia sudah mempersiapkan diri untuk itu.
Benar saja sesampainya ia di kediaman orang tuanya, semua langsung menatap tajam penuh kebencian ke arahnya tak kecuali Juna dan Nara yang memilih langsung pergi meninggalkan ruang keluarga untuk kemudian masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
"Lebih baik kita berbicara di ruang baca, saya tunggu kamu di sana!" Titah Rendra dengan suara paling kaku yang pernah Abi dengar seumur hidupnya.
__ADS_1
Dengan tanpa menyahuti Rendra Abi langsung mengikuti langkah Papanya ke dalam ruang baca, disusul Kinan serta Hafidz di belakangnya.
Saat di dalam ruang baca, Rendra yang sudah lama memendam kesal pada anaknya langsung menerjang tubuh Abi serta memukul berkali-kali wajah sang anak.
"Kamu tau Abimanyu, saat saya pertama kali melihat Hana dengan kondisi sangat mengenaskan, hati saya teramat sakit, saya sangat marah pada kamu. Tidak pernah menyangka jika anak yang saya didik dan saya harapkan menjadi kebanggaan saya justru terus menerus mengecewakan keluarga. Saya memberi nama kamu Abimanyu agar kamu menjadi pria pemberani, tapi ternyata kamu hanya seorang pengecut yang hanya berani menyakiti perempuan lemah seperti Hana, istri kamu sendiri!" Geram Rendra tanpa ada yang berani menyelaknya. Sedang Abi yang kini tengah tersungkur sambil memegang pipinya hanya mampu terdiam.
"Berapa kali Abimanyu kamu menyakiti keluarga kamu, hubungan kamu dengam perempuan sund*l itu sudah cukup membuat kami malu, kami fikir kamu banyak berubah setelah menikah dengan Hana, tapi ternyata kami salah besar, perubahan kamu itu hanya untuk menutupi kelakuan bejat kamu dengan perempuan ****** itu!" Tuduh Rendra berapi-api.
"Maksud Papa?" Tanya Abi bingung, ia pun bangkit berdiri menghadap sang Papa.
"Kamu masih terus berhubungan dengan Raya? Apa kamu tidak tahu pemberitaan panas kamu hah?" Ketus Rendra.
"Pa, aku berani bersumpah aku sudah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Raya. Kejadian itu murni karena aku dijebak Pa dan semua pemberitaan itu bohong Pa, itu rekayasa Raya!" Abi begitu merasa terpojok dengan tuduhan sang Ayah.
"Aku mencintai Hana Pa, sangat! Tapi saat Hana memergoki aku bercinta dengan Raya aku benar-benar merasa frustasi Pa, aku takut kehilangan Hana, aku takut Hana ninggalin aku. Awalnya aku mau mencoba menjelaskan pada Hana tapi karena ada kesalahfahaman lain membuat aku gelap mata dan justru malah menyiksa istri ku, aku nyesel Pa!" Abi mencoba menjelaskan kejadian sesungguhnya tanpa ada yang ditutupi sama sekali.
"Kamu menjijikan Abi, sangat menjijikan. Berkali-kali kami selalu memperingatkan jauhi apapun yang berhubungan dengan perempuan itu, karena kami tau selicik apa dia. Tapi kamu tidak mengindahkan sama sekali peringatan yang kami berikan!" Desah Rendra penuh sesal.
"Dan lihat sekarang, Hana gadis tulus itu tengah berjuang antara hidup dan mati akibat ulah kalian dua manusia menjijikan. Kamu fikir jika Hana panjang umur dan sadar kembali, ia akan berlapang dada menerimamu, hah? Jangan bermimpi Abimanyu, luka yang kamu torehkan terlalu dalam bahkan saya sendiri bisa merasakan kesakitannya!" Sindir Rendra.
"Aku akan melepaskan Hana jika kelak saat Hana bangun, Hana menyatakan tak ingin lagi hidup denganku. Aku gak akan memaksa dia untuk tetap bertahan jika kehadiranku menyakitinya. Tapi asal Papa tau, ini semua berat buat aku Pa, aku berharap masih ada kesempatan untuk aku tetap bersama dia, mengobati luka dia. Bahkan aku rela seumur hidupku meminta maaf pada Hana, aku mencintainya Pa, aku gak sanggup hidup tanpa Hana. Enggak akan pernah sanggup!" Ucap Abi terisak penuh penyesalan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1