My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Terjebak


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


"Bie, sekarang gue mau tanya dulu sama elo sebelum gue ceritain semuanya. Emhh.. Gimana perlakuan Mas Abi selama ini ke elo sampe sebelum kejadian naas yang elo alami malam itu?" Tanya Juna.


"Dia memperlakukan aku dengan baik dan penuh kasih sayang, dia manjain aku banget berusaha banget ngebahagiain akunya..!" Jawab Hana tersenyum tipis mengingat perlakuan Abi terhadapnya.


"Lo bisa kan ngerasain betapa besarnya cinta Mas Abi terhadap elo?" Sekali lagi Juna mencoba menggali perasaan Hana yang terpendam.


Mendengar pertanyaan sang adik ipar, Hana menggangguk mengiyakan karena memang benar setelah memutuskan hubunganya dengan Raya, Abi semakin hari semakin terlihat begitu mencintainya.


"Mas Abi dijebak Bi, malem itu diminuman dia dimasukin obat perangsang dosis tinggi dan dia sengaja diminta sama mantan bossnya untuk nganterin Raya ke apartemen Raya karena Raya pura-pura teler, itu semua bagian dari rencana mereka buat ngejebak Mas Abi__!" Juna akhirnya menceritakan semua yang terjadi malam itu, bahkan ia juga menunjukan rekaman kamera dashboard milik Abi yang dulu sempat ia copy sebelum diserahkan ke polisi sebagai barang bukti.


Hana melihat bagaimana Abi mati-matian menolak saat Raya terus-menerus memprovokasinya, bahkan Hana ikut meneteskan air mata saat melihat suaminya menangis dan memanggil-manggil namanya.


"Mas Abi cuma manusia biasa Bie, sekuat apapun dia berusaha untuk tetap sadar dan bertahan, tapi tetap Mas Abi enggak mampu ngelawan dosis obat yang tinggi di dalam tubuhnya. Bahkan dia sempet cerita sama gue, andai waktu itu elo gak mergokin dia, dia pasti udah ngebunuh Raya. Tapi ceritanya berubah ketika ada kesalahfahaman yang mengira lo dan Nugie juga lagi berbuat yang gak seharusnya. Bukan gue membenarkan semua tindakan Mas Abi, dia salah sangat salah. Tapi Mas Abi emang punya tingkat emosi yang gak bisa ia kendalikan bahkan sejak kejadian malam itu dan elo juga dalam keadan koma, Mas Abi juga menjalani terapi ke psikiater buat bisa mengendalikan tingkat emosi yang diluar batas!" Hana terus terisak selama mendengarkan cerita Juna.


"Aku harus apa? Aku udah maafin Kak Abi, tapi aku gak tau kenapa aku tetep takut sama dia..Hiks..?" Isak Hana yang batin dan logikanya tengah berperang hebat.

__ADS_1


"Pelan-pelan aja Bie, jangan paksain diri. Gue ngerti yang terjadi sama elo itu sesuatu yang mengerikan dan wajar kalo lo masih trauma, tapi yang harus lo tau Mas Abi menyesali semuanya, dia menjalani hidup yang terus dibayang-bayangi oleh rasa bersalah dan yang terpenting adalah elo udah mencoba memaafkan kesalahan dia. Gue tau banget kalian sama-sama tersiksa dengan kondisi sekarang ini!" Lanjut Juna menarik Hana ke dalam pelukannya.


"Aku kangen sama Kak Abi, Juna. Tapi aku takut..!" Isak Hana lagi.


"Kalo lo belum berani nemuin dia, video call aja lah!" Usul Juna.


"Tapi nanti kalo ketauan aku pipis, malu!" Lirih Hana.


"Di toilet aja video call nya, jadi kalo lo pipis langsung ke toiletnya gak perlu malu lagi!" Ide absurd yang dilontaran Juna justru ditanggapi Hana dengan suka cita.


"Kamu pinter banget sih Jun, aku ke kamar dulu kalo gitu. Mau video call Kak Abi di toilet!" Sahut Hana bersemangsat membuat Juna geleng-geleng dengan perubahan mood Hana yang cepat.


Di kamar Hana langsung meraih ponselnya, ia melihat beberapa pesan dari suaminya yang menanyakan keberadaan dirinya.


Sempat ragu, tetapi Hana akhirnya memantapkan diri untuk menghubungi Abi melalui sambungan video call.


Bersiap diri duduk di atas closet, Hana mulai menatap ponselnya yang menampilkan nomor suaminya. Sedikit gugup Hana mulai menyentuh gambar sebuah kamera yang artinya ia ingin melakukan panggilan video pada si pemilik nomor.


Tak perlu menunggu lama, pada dering pertama Abi langsung mengangkat panggilan video Hana, membuat Hana sedikit gelagapan dan luar biasa gugup.


"Hai Sayang..!" Sapa Abi.

__ADS_1


"Hai Kak, aku.. Kangen!" Sahut Hana tanpa berani menatap ke layar ponsel yang menampilkan wajah suaminya.


"Aku juga kangen Sayang, kangeennn banget!" Perasaan Abi begitu perih melihat sang istri yang begitu pucat dan dilanda kegugupan saat berinteraksi dengannya.


"Iya, aku tau..!" Hana memejamkan matanya cukup lama karena seperti dugaannya ia akan buang air kecil ketika berhadapan langsung dengan suaminya, beruntung ia memang sudah mempersiapkan diri duduk di toilet.


Namun Hana tetap merasa malu yang teramat sangat ketika suara ia buang air kecil sangat terdengar dan seperti biasanya Hana akan mulai menangis.


"Enggak apa-apa Sayang, enggak perlu malu. Kamu mau udahan?" Abi sungguh tak mau memaksakan diri untuk terus tersambung dengan sang istri.


"Maaf..!" Sahut Hana lirih kemudian mematikan sambungan video mereka.


Hana langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia benar-benar merasa tersiksa dengan keadaannya saat ini yang tak kunjung berubah jika berhadapan dengan suaminya.


Ia sungguh sangat ingin memeluk suaminya, mengatakan betapa ia sangat merindukan dan mencintai suaminya, namun saat Hana menatap wajah Abi, kilatan memori ketika Abi membabi buta menyiksanya selalu hadir dan membuatnya ketakutan.


Sedang di tempat lain, kesedihan yang sama pun dirasakan juga oleh Abi. Benar kata sang Omma jika kini mereka berdua tengah sama-sama tersiksa dengan keadaan yang seperti ini.


"Bukan kamu Sayang yang harus meminta maaf, tapi akulah yang harusnya meminta maaf. Gara-gara aku, kita sama-sama terjebak di situasi yang sangat menyiksa kita ini. Maafkan aku Sayang, maaf..!" Batin Abi berucap.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2