My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Cerita Tentang Kita


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


"Maaf..!" Ucap Abi ketika mendengar perkataan Hana, ia juga menatap sendu wajah cantik istrinya.


"Kenapa Mas?" Tanya Hana kebingungan mendengar permintaan maaf suaminya.


"Kamu harus ngerasain sakit dan gak nyaman gara-gara ulahku..!" Jawab Abi penuh sesal.


"Udah jangan dibahas lagi ahh, ngerusak mood pacaran aku aja!" Goda Hana membuat Abi langsung tertawa, Ia tak menyangka meskipun ingatan akan dirinya tengah hilang, Hana masih sepolos ketika sebelum musibah menyakitkan itu terjadi.


"Mana cake cokelat aku sama es cokelat aku? Udah gak sabar nih mau menikmati makanan pilihan suami aku sambil menghirup udara bebas tanpa aroma obat-obatan!" Seloroh Hana sambil menadahkan kedua telapak tangannya dan tentu senyum jenaka yang senantiasa menghiasi wajah cantiknya.


"Gak sabar buat menikmatinya atau enggak sabar sama hasil taruhan kita, hmm?" Goda Abi membuat Hana tergelak.


"Iya aku gak sabar buat dandanin muka kamu pake cake nya..!" Ledek Hana.


"Kalo aku mah yakin banget kamu bakal suka sama cake yang aku pilihin buat kamu, siap-siap yaa hadiah taruhannya buat aku!" Ucap Abi balik menggoda, ia pun kemudian memberikan mika cake cokelat berukuran kecil serta es cokelat kesukaan istrinya.


"Ahhh Mas Abi ihh.. Gimana ini bentuknya aja menggiurkan begini, masa aku kalah taruhan sih Mas?" Keluh Hana menatap kagum cake di depannya membuat Abi tertawa penuh kemenangan.


"Jadi, mau kasih hadiah taruhannya di sini atau di kamar nanti!" Bisik Abi tersenyum genit membuat Hana seketika mendelikkan matanya.


"Di sini? Urat malu kamu udah putus apa minta ciuman di ruang terbuka kayak gini?" Kesal Hana mengerucutkan bibirnya.


"Oke fix berarti nanti di kamar yaaa..!" Abi terlihat begitu gembira dan sangat bersemangat.

__ADS_1


"Diihhh belum tentulah kamu menang, aku kan belum nyicipin rasanya. Siapa tau bentuknya menggiurkan tapi rasanya gak pas di lidah aku!" Hana langsung mematahkan semangat Abi yang tadinya berkobar-kobar.


"Ya udaahhh iciplah Sayang!".


Hana tertawa lepas melihat mimik wajah suaminya yang sangat tak sabaran, ia pun langsung mencicip sepotong kecil cakenya dengan garpu. Awalnya ia ingin menggoda sang suami dengan berpura-pura tidak menyukainya, tapi sayang sepertinya sang suami begitu faham dengan seleranya hingga ia tak mampu menyembunyikan ekspresi puas dengan cita rasa cake tersebut.


"Ahhh Mas Abi ini enak banget..!" Ucap Hana setengah bahagia, setengah kecewa. Bahagia karena rasa cake tersebut memang benar-benar enak, tapi kecewa karena ia kalah taruhan dari suaminya.


"Yess, aku bilang juga apa. Apa yang aku pilih pasti sesuai selera kamu, jadi fix di kamar nanti ya!" Sahut Abi dengan ekspresi bahagia dan bangga.


Mereka pun kini menikmati sore mereka dengan senda gurau, menghabiskan beberapa slice cake serta meminum hingga tandas es cokelat berukuran besar.


"Udah mau gelap, balik ke kamar yuk?" Ajak Abi.


"Tapi aku masih betah di sini Mas, udaranya enak enggak bau obat-obatan. Rasanya paru-paru aku dimanjain banget!" Rengek Hana.


"Kapan-kapan lagi ya, udah mau gelap. Dingin, lagian mau hujan tuh kayaknya! Kita balik ke kamar ya Sayang!" Bujuk Abi lagi, meskipun kasihan melihat Hana yang sepertinya berat meninggalkan taman.


"Tapi kan aku kerja Sayang, pulangnya enggak pasti!" Sahut Abi ragu-ragu.


"Nanti sama Mamah atau siapa yang jagain aku kek atau sama suster, boleh ya Mas?" Pinta Hana sekali lagi.


"Emhhh.. oke deh, tapi janji gak sampai lebih dari jam lima sore kamu udah harus balik ke kamar. Deal?".


"Deal..!" Sahut Hana riang.


***


Di dalam kamar mereka langsung bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib, kali ini Hana meminta untuk shalat di atas kursi roda tepat di belakang Abi agar diimami oleh suaminya.

__ADS_1


Mereka melaksanakan shalat maghrib begitu khusyu, memanjatkan doa dalam diam begitu hikmat dan satu doa yang tak mereka sadari mereka panjatkan doa yang sama yaitu meminta pada Sang Pemilik Hidup agar apapun yang terjadi di masa depan mereka, mereka tetap dipersatukan, tidak pernah dipisahkan.


Selesai dengan ritual ibadah, Abi yang telah merapikan perlengkapannya sendiri, kini tengah dengan telaten merapikan perlengkapan istrinya. Membuka mukenah sang istri kemudian melipatnya, lalu ia membopong Hana untuk dipindahkan ke atas ranjang.


"Nyaman?" Tanya Abi pada istrinya.


"Iya udah nyaman, makasih ya Mas!" Jawab Hana.


"Butuh sesuatu?" Tanya Abi lagi.


"Enggak, emh.. sambil nunggu Isya, sini Mas tiduran di sebelah aku. Aku mau denger cerita tentang kita lagi, siapa tau kalo keseringan denger cerita tentang kita ingatan aku tentang kamu cepat pulih!" Ucap Hana bersemangat, Abi pun langsung menuruti permintaan istrinya.


Di gesernya sedikit tubuh sang istri agar memberi tempat dirinya untuk berbaring di sebelah sang istri.


"Kamu mau tau tentang apa dulu?" Tanya Abi yang telah berbaring di sisi Hana dan meletakkan kepala Hana di atas dada bidangnya.


"Emhhh... Kapan pertama kali kita ketemu?" Tanya Hana yang sempat terdiam sejenak untuk mengingat apa yang ingin dia ketahui.


"Jadi ceritanya aku harus ngulang dari awal nih?" Hana terkikik mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya, karena sebenarnya Abi telah menceritakan semua dari awal, terkecuali tentu tentang Raya, perselingkuhannya juga penyiksaan yang ia lakukan terhadap istrinya.


"Okeh.. Jadi awal kita ketemu tuh pas kamu dateng ngehadirin meet and greet yang aku adain dulu. Gadis genit yang cantik berdiri di depan meja aku dengan kedua lututnya, minta tanda tangan dan foto bareng. Kamu tau enggak cewek genit itu minta aku tulis apa di notebook yang aku tandatangani?" Tanya Abi yang mencoba menggali ingatan istrinya.


"Aku minta supaya Mas Abi nulis 'Teruntuk cinta masa depanku Hana Almaira Putri dari Ka Abi'.." Jawab Hana terkekeh.


"Kamu inget?" Tanya Abi menundukkan wajahnya guna menatap wajah cantik Hana yang juga sedang mendongak memandang wajahnya.


"Kan Mas Abi sering cerita, sayangnya aku belum bisa nginget moment itu. Tapi yang jelas mah aku bener-bener ngerasa keganjenan banget ya waktu itu!" Jawab Hana tertawa geli membayangkan bertapa tak tau malu dirinya, membuat Abi juga ikut tertawa dengan celetukkan istrinya.


"Tapi aku ngerasa kalo ucapan kamu itu adalah doa yang dikabulkan Allah, karena kamu bener-bener jadi cinta masa depanku. Aku bener-bener cinta sama kamu!" Ucap Abi mengecup dalam puncak kepalanya membuat Hana tersenyum meskipun dirinya tengah berusaha keras sedang mengingat-ingat kepingan kejadian antara mereka berdua.

__ADS_1


"Mau dilanjut lagi?" Tawar Abi yang melihat Hana tiba-tiba terdiam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2