My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Harapan


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Sebulan pasca kecelakaan, kini Abi sudah kembali dengan rutinitas kesehariannya. Begitu pula Hana, masih belum banyak berubah. Video call antara mereka waktu itu pun menjadi yang pertama dan terakhir karena sampai sekarang Hana enggan melakukannya lagi dan Abi bisa mengerti itu.


Yang berbeda adalah kondisi Irma yang beberapa hari terakhir ini mulai kembali menurun membuat semua dilanda kekhawatiran terlebih Hana.


Dan malam ini saat Abi baru saja kembali dari kantornya, ia dikejutkan dengan jeritan Hana ketika melewati depan kamar sang Ibu mertua.


Tak lama Hana keluar dengan panik dan tangisan yang cukup memilukan, mereka pun berhadapan satu sama lain.


"Ada apa?" Tanya Abi khawatir.


"Ibu, Ibu pingsan di dalam. Aku sama suster gak kuat ngangkat Ibu ke tempat tidur!" Sempat terdiam beberapa saat, akhirnya dengan gugup Hana menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku masuk ya" Izin Abi yang diangguki oleh Hana.


Ketakutan Hana terhadap kondisi sang Ibu membuatnya melupakan rasa takutnya pada sang suami saat ini, ia bahkan berani mengikuti langkah suaminya di belakang menuju kamar sang Ibu.


Abi langsung membopong tubuh Ibu mertuanya yang sudah tak sadarkan diri tersebut.


"Kita bawa ke rumah sakit!".


Tanpa menjawab apapun Hana dan seorang suster yang selama ini merawat Irma pun mengikuti langkah Abi menuju ke mobil.


Hana langsung mengambil posisi di bangku belakang untuk kemudian menjadikan pahanya sebagai bantalan sang Ibu, sedangkan suster tersebut duduk di sebelah bangku kemudi.


Sebelum melajukan mobilnya, Abi meminta salah seorang penjaga agar memberitahukan pada keluarganya jika mereka membawa Irma ke rumah sakit dan segera untuk menyusul.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah sakit, Irma langsung ditangani oleh beberapa petugas medis. Dokter Rama yang selama ini menangani Irma pun tengah berada dalam perjalanan ke rumah sakit.


Abi begitu perih melihat istrinya yang terus menerus menangis di dalam pelukan suster Ibu mertuanya, rasanya ingin sekali dirinya lah yang saat ini memeluk sang istri untuk menenangkan dan sedikit memberi kekuatan, namun ia cukup tahu diri.


Tak lama para anggota keluarga datang dengan wajah panik, mereka memang sudah tertidur hingga saat Hana berteriak tak satu pun menyadarinya.


Hana langsung menghambur ke pelukan Kinan, melepas tangis semakin kencang.


"Hana takut Mah, Ibu tiba-tiba pingsan di kamar tadi. Gak lama setelah Ibu bilang dadanya sesak!" Hana mengadukan semuanya pada sang Mamah mertua.


"Tenang ya Sayang, kita doakan semoga Ibu enggak kenapa-kenapa, semoga Ibu lekas baik-baik aja. Sekarang Ibu lagi ditangani, Insya Allah Ibu cepat sembuh ya!" Sahut Kinan mencoba menenangkan menantu kesayangannya sambil terus menerus membelai punggung Hana.


Dokter Rama yang baru datang pun langsung menuju ke ruangan dimana Irma tengah ditangani saat ini, tanpa menyapa siapa pun.


Cukup lama semua menunggu Dokter Rama keluar ruangan membuat semuanya semakin dilanda kekhawatiran, terlebih Hana yang semakin kencang menangis dan Kinan yang terus-menerus mencoba menenangkan Hana.


Abi sendiri hanya mampu menatap sendu istrinya tanpa berani mendekati apalagi mencoba menenangkan dengan pelukan, tapi sungguh ia benar-benar ingin mendekap tubuh istrinya saat ini.


Setelah ditunggu-tunggu Dokter Rama akhirnya keluar, semua orang pun langsung mengerubunginya ingin mengetahui kondisi Irma saat ini.


Dokter Rama sempat memberikan senyuman pada Hana, namun tatapan yang diberikan Dokter Rama saat ini sungguh tak bisa terbaca siapa pun.


"Ibu bagaimana Pak Dokter?" Tanya Hana sesegukan tanpa membalas senyuman Dokter Rama.


"Hana yang tenang ya __" Dokter Rama yang tahu kondisi Hana, mencoba memberitahukan kondisi Irma dengan sangat hati-hati.


"Ibu memang saat ini kondisinya tidak stabil, tapi Beliau masih dalam keadaan sadar. Saat ini kami sedang melakukan observasi untuk mencari tahu tindakan apa yang tepat yang akan kami lakukan untuk Beliau, jadi kemungkinan Beliau harus kembali dirawat di sini untuk beberapa hari!" Lanjut Dokter Rama hati-hati.


"Ibu bisa sembuhkan Dok? Kan Ibu juga sudah beberapa kali melakukan operasi, kemoterapi? Ibu juga rajin minum obatnya" Hana sungguh berharap besar atas kesembuhan Ibunya.

__ADS_1


"Insya Allah ya Hana, tidak ada yang tidak mungkin. Kita doakan Ibu sama-sama ya!" Jawab Dokter Rama mencoba menenangkan.


"Aku mau ketemu Ibu, bisa Pak Dokter?" Tanya Hana lagi.


"Boleh kok, boleh!" Jawab Dokter Rama.


Mendapatkan izin dari sang Dokter, Hana langsung masuk ke dalam ruangan Irma setelah meminta izin pada Kinan untuk menemui Ibunya.


"Ada yang ingin saya bicarakan, Mas Abi bisa ikut saya ke ruangan?" Abi tahu ada yang tengah disembunyikan Dokter Rama dari Hana.


"Ibu..!!" Di dalam ruangan, Hana langsung memeluk tubuh Irma yang tengah terbaring lemah namun tetap dalam keadaan sadar.


"Kenapa nangis? Ibu enggak apa-apa kok!" Irma menyambut pelukan puterinya, mencoba menyakinkan Hana bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ibu pingsan tadi, Hana takut" Hana terus saja terisak dalam pelukan Ibunya.


"Tapi Ibu enggak apa-apa Sayang, tadi Ibu cuma sesak!" Sahut Irma masih terus mencoba menyakinkan putrinya.


"Ibu harus sembuh, Ibu enggak boleh sakit lagi. Ibu harus nemenin Hana terus, Hana udah enggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini!" Rengek Hana penuh harap membuat hati Irma berdenyut nyeri, karena ia tahu ia tak mungkin bisa mengabulkan keinginan puterinya tersebut.


"Lho kata siapa Hana enggak punya siapa-siapa selain Ibu? Ada Mamah Kinan, Papa Rendra, Kakek Hafidz, Nara dan Juna juga suami kamu Abi!".


"Tapi Hana juga mau ada Ibu terus, apalagi Hana masih takut sama Kak Abi, Hana butuh Ibu!" Pinta Hana sekali lagi.


"Hana Sayang denger Ibu, mulai sekarang Hana harus yakin bahwa kejadian malam itu sudah berlalu dan enggak akan pernah terulang lagi. Percayalah Nak, Kak Abi mu itu hiduh dalam penyesalan yang teramat dalam dan panjang bahkan hingga saat ini. Ibu yakin Kak Abi mu itu sudah banyak berubah, kamu harus mulai memberikan dia kesempatan!" Ucap Irma, sedang Hana hanya terdiam dan terus menatap lekat-lekat wajah pucat Ibunya.


"Sayangnya Ibu, Cantiknya Ibu percaya kan sama Ibu__?" Tanya Irma menjeda ucapannya saat melihat Hana menganggukan kepalanya.


"Ibu berani jamin suami kamu gak akan pernah menyakiti kamu lagi, Sayang. Cobalah mulai sekarang kamu melupakan malam mengerikan itu dan ingat-ingatlah selalu bagaimana ia memperlakukan kamu sebelum kejadian sampai sekarang ini, Ibu yakin kamu bisa merasakan besarnya rasa sayang suami kamu padamu, Nak!" Lanjut Irma lagi.


"Ingatlah Sayang, kejadian waktu itu terjadi karena ada orang lain yang sengaja ingin menghancurkan kalian berdua bukan murni kesalahan Abi semata. Karena jika orang-orang jahat tersebut tidak menjebak suami kamu, Ibu yakin kalian pasti hidup bahagia saat ini karena kejadian malam itu gak mungkin pernah terjadi!" Irma benar-benar ingin menyakinkan puterinya karena ia tahu hidupnya sudah tak lama lagi dan harapannya ketika waktunya sudah tiba, Hana pun sudah bisa kembali menerima Abi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2