My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Trauma


__ADS_3

"Hana....", panggil Ibu Irma dengan suara serak yang lemah. Hana buru-buru menghampiri Ibunya, begitu pula Tante Kinan.


"Alhamdulillah Ibu udah sadar", ucap Hana bersyukur sambil memegang tangan Ibu yang tidak terpasang infus. Senyum Hana tak lepas dari wajah cantiknya, dia benar-benar bahagia Ibunya sudah sadar. Kekhawatirannya sedikit berkurang.


"Ini dimana Sayang?", tanya Ibu Irma mengamati sekeliling ruangan.


" Ini di rumah sakit Bu, Ibu tadi pingsan pas Hana baru sampai rumah. Untung Tante Kinan enggak langsung pulang abis antar Hana tadi, jadi bisa bantu bawa Ibu ke rumah sakit", jawab Hana menjelaskan.


"Ruangan ini kayanya mahal Sayang gimana kita bayarnya?", tanya Ibu Irma lagi merasa khawatir.


"Ibu gak usah fikirkan masalah biaya rumah sakit, sekarang yang penting Ibu fokuskan fikiran Ibu untuk cepat sehat lagi, kasihan Hana dari tadi tidak berhenti nangis, dia takut Ibu kenapa-kenapa", kini Tante Kinan yang menjawab.


"Ya Allah Bu terima kasih atas bantuan Ibu pada keluarga saya. Saya enggak tau musti bagaimana membalas kebaikan Ibu selama ini pada keluarga saya. Saya benar-benar tidak enak hati Bu, sekarang saya sudah siuman lebih baik saya pulang saja Bu. Saya tidak mau berlama-lama di rumah sakit, saya mau beristirahat saja di rumah", pinta Ibu Irma.


"Ibu belum boleh pulang saat ini, Dokter sedang melakukan observasi pada Ibu untuk mengetahui sakit Ibu, nanti kalo sudah jelas sakit Ibu apa pasti Ibu diperbolehkan pulang. Ibu yang sabar ya", sahut Tante Kinan lagi.


"Tapi Bu, nanti biaya rumah sakit saya makin besar saya tidak enak sama Ibu lagipula saya juga kasihan sama Hana, dia pasti saat ini sebenarnya ketakutan berada di rumah sakit. Hana ada trauma pada rumah sakit Bu", ucap Ibu Irma menjelaskan.

__ADS_1


Tante Kinan menatap ke arah Hana, ya dia baru sadar bahwa semenjak mereka ada di rumah sakit Hana terlihat tidak nyaman, dia sering meremas-remas tangannya, kepalanya tidak berhenti bergerak terlihat tidak tenang. Awalnya Tante Kinan berfikir mungkin dia gelisah dengan kondisi sang Ibu, tapi kini Tante Kinan mengerti dia gelisah berada di rumah sakit.


"Hana ...", panggil Tante Kinan. Mata Tante Kinan menelisik ke dalam manik mata Hana. Hana mengerti jika Tante Kinan ingin memastikan padanya tentang apa yang Ibunya katakan.


"Hana gak apa-apa Tante, Hana akan membiasakan diri. Pelan-pelan Hana pasti bisa menghilangkan trauma-trauma Hana, Hana harus lawan rasa takut Hana".


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan bersama dengan staff dapur rumah sakit yang membawakan makanan untuk Ibu Irma. Perawat itu kemudian memeriksa Ibu Irma, setelahnya memberitahukan Hana bahwa kondisi Ibunya memang sedikit lebih baik. Staff dapur juga menanyakan apakah Ibu Irma ada makanan yang memicu alergi, Hana pun menjelaskan bahwa Ibunya tidak memiliki alergi terhadap makanan apapun.


Perawat dan staff dapur pun berpamitan keluar setelah melakukan tugasnya. Sebelum keluar perawat memberitau kan bahwa Dokter akan visit sekitar jam tujuh malam.


Hana kemudian meninggikan tempat tidur bagian atas Ibu Irma agar bisa memposisikan Ibunya duduk dengan nyaman, meskipun hanya setengah duduk. Hana ingin menyuapi Ibunya.


Selesai manyuapi dan memberikan obat pada Ibu, Hana kembali memposisikan tempat tidur Ibunya ke posisi semula agar Ibunya dapat tertidur dengan nyaman.


"Hana, besok kamu harus ambil rapot kan? Terus kalo kita di sini siapa yang bakal ambil rapot kamu? Apa boleh kamu ambil sendiri?", tanya Ibu Irma mengingat bahwa besok adalah pengambilan rapot kenaikan kelas Hana. Hana yang sudah lupa kini kebingungan harus bagaimana.


"Nanti biar saya antar Hana ambil rapot yaa Bu", usul Tante Kinan, Ibu Irma pun menggangguk setuju dan sekali lagi mengucapkan terima kasih karena harus lagi-lagi merepotkan Tante Kinan.

__ADS_1


Ponsel Hana berdering, dilihatnya Angga menghubunginya. Dia pun meminta izin untuk mengangkat ponselnya.


"Assalamualaikum Mas", sapa Hana.


"Wa'alaikum salam Dek. Dek, Mas Angga baru sampe rumah habis interview tadi. Maaf Mas baru tau kalo Ibu dibawa ke rumah sakit. Kalo boleh tau Ibu dirawat dimana? Kamar berapa? Ini udah jam besuk kan? Mas Angga mau ke sana", sahut Angga.


Hana pun menjawab pertanyaa Angga, ia mengatakan nama rumah sakit, lantai kamar, nomor kamar juga jam besuknya. Setelah sedikit berbincang Hana pun menutup sambungan teleponnya.


"Siapa?", tanya Tante Kinan setelah Hana kembali ke dalam kamar.


"Mas Angga Tante".


"Pacar kamu?", tanya Tante Kinan lagi.


"Bukan Tante, Mas Angga waktu itu yang nemenin aku antar pesenan ke kantor Tante. Dia udah kayak Kakak buat Hana", jawab Hana tersenyum.


"Ooohh, Tante kira pacar kamu. Ya sudah, kita cari makan yuk, Ibu kamu udah tidur, tadi Tante juga udah nitip ke perawat suruh jagain Ibu kamu. Kamu harus makan, biar enggak ikutan sakit", ajak Tante Kinan, Hana yang memang sudah merasakan cacing di perutnya demo besar-besaran di sana menyetujui ajakan Tante Kinan tanpa malu-malu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2