My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Menelan Kekecewaan


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


"Abi udah tau kamu hamil Sayang?" Hana menggangguk menjawab pertanyaan Ibu mertuanya ini.


"Tapi Kak Abi marah sama Hana, dia ngerasa gak dipentingin pas aku ngambil keputusan untuk lepas IUD tanpa melibatkan dia atau mungkin Kak Abi enggak suka aku hamil?" mata Hana terlihat sudah berkaca-kaca.


"Enggaklah Sayang, dia sebenernya pasti seneng denger kabar kamu hamil!" Kinan terus mengusap pipi menantunya yang sudah banjir dengan air mata, "hanya aja Abi itu tipe orang yang ikut aturan dan dia pasti maunya kamu ikutin anjuran dokter, mungkin dia takut kamu kenapa-kenapa!".


"Hana udah jelasin, Hana udah siap dengan kehamilan Hana saat ini. Hana cuma pengen ngelupain masa berat Hana dengan hadirnya seorang anak Mah, Hana pengen bangun keluarga yang lengkap dengan hadirnya seorang anak. Iya Hana salah enggak berdiskusi terlebih dahulu sama Kak Abi, Hana udah ngecewain Kak Abi Mah" tangis Hana semakin terisak.


"Jangan nangis Sayang, jangan sedih. Kasihan dedek di dalam, Abi cuma butuh waktu dan keyakinan bahwa kamu bakal baik-baik aja dengan kehamilan kamu ini. Nanti Mamah bantu jelasin ya ke suami kamu!".


***


Hana : "Kak Abi pulang jam berapa?".


Hana memberanikan diri untuk mengirimi suaminya pesan karena memang seharian mereka sama sekali tak berkomunikasi.


Abi : "Hari ini aku sibuk banget, kemungkinan lembur. Kamu istirahat aja duluan, jangan nunggu aku!".


Hana : " Aku pengen makan malem sama Kakak!".


Abi : " Aku enggak bisa Hana, kerjaan aku banyak banget. Kamu makan malem sendiri aja, inget sekarang yang butuh asupan gizi bukan cuma kamu aja, jadi jangan sampe telat makan!".


Meskipun Abi masih mencoba memberikan perhatian, tapi Hana bisa merasakan betul jika sang suami masih menyimpan kekesalan pada dirinya.

__ADS_1


Ia pun memutuskan untuk mengakhiri chattan mereka dan beranjak turun ke bawah untuk makan malam dengan perasaan sedih dan kecewa.


"Bibi masak apa?" tanya Hana yang sudah mendudukkan dirinya di kursi makan.


"Ada tumis daging dan brokoli, ada sup jagung, ada tempe goreng tepung, ada ayam pedas manis juga. Non Hana mau makan sekarang?" tawar Imah yang diangguki oleh Hana.


"Den Abi lembur ya Non?" Imah mencoba membuka obrolan melihat majikannya terlihat sedikit lebih pendiam.


"Iya, banyak kerjaan di kantor katanya. Bi, Hana hamil lho!" wajah Hana langsung berbinar ketika memberitahukan kondisinya saat ini.


"Masya Allah Non Hana, Alhamdulillah selamat ya Non. Semoga selalu diberi kelancaran sampai adek bayinya lahir ya, dua-duanya sehat dan selamat!" doa Imah tulus sambil memeluk tubuh mungil majikannya.


"Aamiin, makasih ya Bi doanya!" Hana menyambut pelukan asisten rumah tangga kesayangannya itu.


"Makan yang banyak ya Non, biar sehat!" ucap Imah bersemangat.


***


Pengobatan panjang istrinya benar-benar membekas pada dirinya, ia hanya ingin menjeda sebentar lagi saja kehamilan sang istri yang sebenarnya juga menjadi salah satu keinginannya agar kesehatan Hana benar-benar pulih.


Tapi sayang keputusan sepihak dan tanpa sepengetahuannya membuat Abi benar-benar kecewa pada Hana dan hal ini membuat Abi memutuskan untuk sementara waktu menghindari istrinya, daripada mereka tersulut pertengkaran dan beresiko terhadap istrinya.


Sedang Hana, sikap dingin yang ditunjukkan Abi benar-benar membuatnya sedih. Tak ayal terkadang selepas keberangkatan sang suami ke kantor, Hana akan selalu menangis seorang diri di dalam kamar.


Seperti pagi ini, meski mereka sarapan bersama mereka tetap saling berdiam diri.


"Aku berangkat, kamu jangan telat makan. Jangan nungguin aku juga, akhir-akhir ini kerjaan kantor banyak banget!" Abi mengecup sekilas dahi Hana, yaa meskipun Abi terlihat masih kecewa dengan Hana, tetapi Abi tak pernah lupa memberi nasehat dan kecupan sebelum berangkat kerja.


"Hari ini aku pengen makan siang atau enggak makan malem sama Kakak, bisa enggak Kakak sempetin waktu sebentar aja!" pinta Hana memberanikan diri.

__ADS_1


"Aku udah ada janji makan malem sama klien, siang aku usahain tapi kalo enggak bisa, kamu makan sendiri ya. Lain kali aku cari waktu buat kita makan bareng!" sahut Abi, kemudian melangkah pergi setelah sekali lagi mengecup dahi istrinya.


Dan siang ini, seusai Hana membantu Imah memasak makan siang ia bergegas naik ke atas untuk menunaikan shalat Dzuhur kemudian menghubungi suaminya meminta kepastian apakah siang ini mereka bisa makan siang bersama.


Dan kembali Hana harus menelan kekecewaan setelah suaminya mengatakan tak bisa, air matanya pun luruh tak terbendung, "sampai kapan kamu mengacuhkan aku kayak gini Kak?".


"Non Hana kok belum turun? Turun yuk makan!" ajak Imah mengahampiri majikan kecilnya.


Imah terkejut ketika melihat Hana tengah menangis sesegukan, "lho, Non Hana kok nangis?".


"Bi, Kak Abi masih marah sama aku. Aku enggak tau mesti gimana lagi minta maafnya, udah berhari-hari dia jaga jarak sama aku. Semua orang yang denger aku hamil bahagia dengernya, tapi cuma Kak Abi aja yang kelihatan gak peduli sama kehamilan aku. Dia enggak suka aku hamil Bi, terus aku harus gimana ngadepin dia? Aku udah terlanjur hamil!" Hana terus menerus sesegukan saat menceritakan kegelisahannya.


"Den Abi enggak mungkin enggak peduli sama kehamilan Non Hana, dia sering kok nanya Non Hana udah makan belum setiap nelpon Bibi. Mungkin Den Abi cuma lagi bingung atau emang banyak kerjaan di kantornya jadi seakan-akan Den Abi cuek sama Non Hana. Sekarang Non Hana makan yuk, Bibi temenin atau mau Bibi suapin?".


Mendengar tawaran asisten kesayangannya, Hana menggelengkan kepalanya, "kepala Hana sedikit pusing, Hana mau tidur dulu aja Bi. Nanti kalo aku laper aku turun ke bawah".


"Ya udah, Bibi ke bawah dulu ya. Nanti kalo butuh apa-apa panggil Bibi ya Non!".


***


Sedang di kantor, Abi yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung termenung di singgasananya.


"Elo sebenernya kenapa sih? Gue perhatiin sering banget ngabisin waktu di kantor, padahal kerjaan udah beres. Bini lagi hamil bukannya sering-sering ngabisin waktu sama-sama malah anteng aja di kantor!" cibir Irene.


"Gue emang sengaja ngehindarin dia, gue takut berantem sama dia!" sahut Abi menghela nafasnya berat.


"Lah ngapain berantem segala? Istri hamil malah diajakin berantem, aneh lu!".


Abi kemudian menceritakan semuanya, tentang ketakutannya jika kehamilan Hana kali ini juga termasuk kehamilan yang beresiko mengingat masih dalam waktu yang terlalu dekat dengan serentetan pengobatan yang Hana lakukan ketika mengalami kekerasan fisik, juga anjuran Dokter Riana yang mengatakan usia kesiapan Hana sekitar 23 tahun sampai 24 tahun.

__ADS_1


"Jadi alasan lo marah sama Hana karena itu semua?" tanya Irene mendengus kesal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2