
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Abi terkejut saat tiba-tiba melihat Hana berjalan melewati mejanya dengan menangis, perasaan khawatir langsung melandanya ketika ia juga melihat Juna, Nara dan Hanum dengan buru-buru berjalan cepat untuk menyusul Hana.
"Kenapa sama Hana?" Tanya Abi tanpa bisa menutupi kekhawatirannya saat Juna berdiri di hadapannya.
"Enggak tau gue juga, tiba-tiba dia nangis minta pulang bilangnya dia udah gak sanggup!" Jawab Juna menjelaskan.
"Enggak sanggup? Maksudnya?" Tanya Abi makin tak mengerti.
"Gue juga enggak ngerti Mas. Mas gue belum bayar bill makanannya, sekalian ya Mas. Gue mau ngejar yang lainnya takut Hana kenapa-kenapa juga!" Ucap Juna dan tanpa menunggu jawaban Kakaknya, ia langsung melesat menyusul ketiga perempuan cantik itu.
Dan sepanjang perjalan pulang, Hana yang duduk di belakang sebelah Nara terus saja menangis tanpa mengucapkan satu patah kata pun membuat semuanya dilanda kebingungan.
"Lo sebenernya kenapa sih Bie? Ngomong dong, jangan buat kita semua khawatir! Apalagi tadi Mas Abi, worried banget dia. Kasihan!" Juna kembali mencoba menanyakan apa yang sebenarnya tengah dirasakan Kakak iparnya tersebut, namun nihil Hana tetap diam dan hanya terus menerus menangis.
Sedang Abi di dalam mobilnya tak kalah khawatirnya dengan yang lain tentang keadaan sang istri.
Ia sama sekali tak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan istrinya dan hanya berharap segera mendapatkan jawaban atas kekhawatirannya dan juga berharap jika sang istri baik-baik saja tak mengalami hal buruk apapun.
Dan sesampainya mereka di kediaman mereka, Hana tanpa menoleh sama sekali dan hanya mengambil barang miliknya langsung berjalan cepat menuju kamarnya.
"Ada apa sebenernya sama si Barbie?" Tanya Juna entah kepada siapa karena kedua perempuan yang bersamanya pun sama bingungnya.
"Mas Juna lebih baik nganter Hanum aja pulang. Nanti coba aku ke kamar Kak Hana, ngelihat keadaan dia!" Usul Nara yang diangguki Juna. Nara pun kemudian turun dari mobil agar Juna bisa segera mengantarkam Hanum.
Tak lama mobil Juna keluar, mobil Abi pun masuk. Setelah berhenti dengan buru-buru Abi langsung menghampiri adik perempuannya yang masih berdiri.
"Kak Hana kenapa?" Tanya Abi langsung.
"Enggak tau Mas, sepanjang perjalanan pulang juga tadi Kak Hana terus nangis. Ditanya sama kita beberapa kali pun gak sama sekali jawab!" Jawab Nara dengan raut wajah khawatir.
"Apa dia panik terus-terus deket sama Mas?" Tanya Abi mencoba menebak-nebak.
"Kayaknya enggak deh, dia tadi enjoy-enjoy aja kok. Tadi juga sempet nanyain Mas Abi malahan pas gak ngelihat Mas Abi di sekitaran kita!" Nara mencoba mengurangi kekhawatiran serta rasa bersalah Kakaknya.
"Kalo emang begitu, lantas dia kenapa sebenernya?" Tanya Abi bingung yang hanya dijawab oleh Nara dengan gelengan kepala karena dia pun sama sekali tak tahu.
__ADS_1
"Sekarang dia dimana?" Tanya Abi lagi.
"Kayaknya langsung ke kamarnya Mas!" Terka Nara.
"Ya udah kalo gitu kamu masuk ke dalam, istirahat. Mas juga mau ke kamar Mas dulu, Mas mau coba chat dia nanyain keadaan dia!" Perintah Abi yang langsung dituruti oleh Nara.
Dengan langkah gontai Abi berjalan menuju ke kamarnya, perasaannya benar-benar tak tenang saat ini.
Dan sesampainya ia di kamar, tanpa menunggu apapun Abi langsung mengirimi istrinya pesan.
Abi : "Sayang, kamu baik-baik aja? Kamu kenapa? Aku khawatir banget sekarang. Tolon balas pesan aku".
Namun sayang Abi tak kunjung menerima balasan dari sang istri setelah menunggu hampir lima belas menit padahal pesannya telah bercontreng biru yang artinya telah dibaca oleh istrinya.
Sekali lagi Abi mencoba kembali mengirimi istrinya pesan dan sangat berharap kali ini Hana mau membalasnya.
Abi : "Sayang, please balas pesan aku. Jangan buat aku khawatir!".
Hana ; " Aku gak apa-apa Kak, aku baik-baik aja. Tapi tolong jangan tanya apa-apa dulu!".
Abi bisa sedikit bernafas lega menerima pesan balasan dari istrinya dan ia pun memilih untuk memberikan istrinya waktu untuk menenangkan diri dengan tidak menanyakan apapun lagi.
Hana : "Iya Kak, aku juga lagi bersiap mau tidur. Kakak juga istirahat ya, terima kasih udah nemenin aku jalan-jalan. Kakak jangan khawatirin aku, aku baik-baik aja".
***
Pukul dua malam, Hana terbangun dari tidurnya dan seperti biasa ia akan melaksanakan shalat malam jika terbangun.
Ia menumpahkan segala gundahnya pada yang kuasa, meminta dengan sungguh-sungguh agar agar segera terlepas dari traumanya. Ia ingin bersama dengan suaminya lagi, ia ingin memeluk suaminya lagi.
Dan setelah puas dengan segala doanya pada Tuhan, Hana teringat parfum yang hendak ia hadiahkan untuk Abi.
Ia pun bergegas mengenakan mantel tebalnya untuk pergi ke kamar Abi di rumah seberang hendak meletakan parfum beserta nota di depan kamar suaminya.
Namun saat akan membuka pintu, Hana dikejutkan olen ketukan dari luar membuatnya bertanya-tanya siapa gerangan yang mengetuk pintunya di hari yang masih sangat pagi ini.
"Siapa?" Tanya Hana berdiri di pintunya.
"Oh.. Eh, ini aku Sayang..!" Jawab Abi sedikit ragu.
"Kak.. Kak Abi? Ada.. Ada perlu apa?" Tanya Hana gugup.
__ADS_1
"Aku cuma mau kasih tau kamu kalo, kalo aku taro sesuatu di depan pintu kamu!" Jawab Abi.
"Apa Kak?" Tanya Hana.
"Hadiah buat kamu, tadi pas di mall aku lihat sesuatu yang cocok buat kamu jadi aku beliin buat kamu!" Jawab Abi.
"Oohhh, makasih Kak. Emh.. aku juga ada hadiah buat kamu, kamu berbalik dulu ya, aku letakan sekalian aku ambil hadiahku!" Ucap Hana.
"Oke..!" Jawab Abi kemudian berbalik.
Abi bisa mendengar suara pintu yang terbuka, tak berapa lama kemudian ia kembali mendengar suara pintu yang bisa dipastikan sedang ditutup.
Abi hanya tersenyum miris dengan keadaan saat ini, ia merasa teramat sangat marah pada dirinya sendiri karena telah membuat mereka berdua berada di situasi sulit yang tak mengenakan ini.
"Makasih Sayang, aku balik ke kamar ya!" Ucap Abi setelah mengambil paperbag kecil berwarna hitam metalik.
"Iya Kak, aku juga makasih ya!" Sahut Hana.
"Dan maafin aku yang belum bisa menyambutmu hangat!" Lirih Hana bersamaan dengan suara langkah yang berjalan menjauh dari kamarnya.
Hana lantas membuka kotak cantik pemberian suaminya, senyumnya langsung mengembang ketika melihat hadiah yang diberikan oleh suaminya berupa kalung emas putih berliontinkan susunan namanya dengan berlian di setiap sudut hurufnya.
Ia pun langsung memakainya, memandangi penuh kagum kalung yang saat ini menghiasi lehernya dan dengan sangat bersemangat Hana lantas mengklik foto dirinya untuk dikirimkan pada sang suami.
Hana : "Terima kasih, kalungnya cantik banget. Aku suka 😍😘!".
Abi : "Syukur kalo kamu suka, aku juga suka parfum pilihan kamu. Wanginya enak 😘😘!".
Hana : "Kakak pesan dulu kalung ini?".
Hana benar-benar ingin tahu bagaimana suaminhya bisa membelikan kalung yang tersusun namanya.
Abi : "Enggak, tadi mendadak. Awalnya aku mau belikan kamu gelang tapi ternyata pegawai toko perhiasan itu menawarkan liontin dengan susunan huruf yang kita mau, jadi aku fikir lebih baik aku belikan kamu kalung itu aja dan saat itu juga kalung itu buat sesuai dengan kemauanku. Alhamdulillah kalo ternyata kamu suka!".
Hana : "Pantes tadi Kakak gak kelihatan di butik pas aku dan yang lain lagi pilih baju, ternyata Kakak lagi beliin aku kalung ini ya. Makasih ya Kak, I love you..!".
Abi : "I love you more Honey 😘😘!".
Abi sebenarnya ingin sekali menanyakan kejadian di restauran tadi ketika tiba-tiba Hana meminta kembali pulang ke rumah dengan menangis, namun ia tak ingin merusak kebahagiaan Hana saat ini yang begitu senang menerima hadiah pemberiannya, hingga ia memutuskan untuk menanyakannya lain kali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1