
Paris, Perancis...
"Gue rasa gue harus balik dulu ke Jakarta, gue bakal tetep ngancurin hubungan mereka. Gue enggak terima dicampakin begini, dibuang kayak sampah!" Kesal Raya yang baru saja selesai menggapai nirwana dengan kekasihnya, Nico.
"Udah sih Ray, ikhlasin aja. Abi tuh udah bener-bener jatuh cinta sama istrinya, mending lo lepasin aja, lo mulai hidup yang baru. Ada gue Ray, kurang apalagi sih hah? Gue bisa ngasih apa yang selama ini Abi kasih ke lo bahkan lebih karena gue beneran cinta sama lo Ray!" Setelah tahu Abi kembali ke Indonesia, Nico pun keluar dari persembunyiaannya sesuai dengan perintah Raya.
"Tapi gue gak terima Nic, dicampakkin begitu aja, gue gak terima mereka hidup bahagia di atas penderitaan gue. Mereka juga harus ngerasain apa yang gue rasain!" Raya seperti menyimpan kemarahan yang teramat sangat.
"Lo mau bikin apalagi sih Ray? Lo lihat sendiri bahkan rencana tolol lo sok-sok an bunuh diri aja gak ada hasilnya, malah lo hampir aja meregang nyawa!" Nico mencoba kembali mengingatkan kekasihnya itu.
"Bukan gak ada hasilnya, tapi belum Sayang karena permainan baru aja akan dimulai!" Ucap Raya dengan senyum liciknya.
"Gue harap lo gak ngelanjutin kegilaan ini Ray, gue ngerasa gak tega sama Hana. Dia masih terlalu muda buat jadi objek balas dendam lo, kasihan dia Ray!" Nico terus mencoba membuat Raya agar mau menghentikan balas dendamnya.
"Kenapa lo peduli sih sama dia atau jangan-jangan lo juga mulai jatuh cinta sama pel*cur kecil itu, heh? Gue bilangin ya Nic, jangan percaya sama muka lugu dia. Lo lihat sendiri kan gimana Abi bisa bertekuk lutut sama dia, padahal gue sama Abi lama berhubungan tapi dengan mudahnya Abi berpaling dari gue ke pel*cur kecil itu!" Geram Raya.
"Enggaklah Ray, gue cuma gak tega aja. Lagian mungkin emang ada sesuatu yang istimewa dari Hana yang ngebuat Abi pada akhirnya jatuh cinta sama dia. Coba lo fikir, selapang apa hati Hana sampe dia ngerelain suaminya pergi jagain mantan kekasihnya. Mungkin itu yang ngebuat Abi jatuh cinta sama Hana!" Jelas Nico berharap Raya mengerti ucapannya.
"Itu karena dia bodoh. Kok gue ngerasa lo ada di pihak rubah kecil ya dinimbang di pihak gue?" Kesal Raya kemudian meninggalkan Nico ke dalam kamar mandi.
Sadar sang kekasih dalam mode marah, Nico pun bergegas menghampirinya. Beruntung atau mungkin juga Raya sengaja tidak mengunci kamar mandi, sehingga dengan mudah Nico masuk ke dalam.
"Seneng ngeliat lo cemburu gitu?" Goda Nico memeluk Raya dari belakang saat Raya tengah asyik di bawah kucuran shower.
"Siapa yang cemburu? Gue cuma kesel, kok lo malah ngebela dia sih. Gue jadi ragu lo beneran cinta atau cuma pengen badan gue aja, sempet-sempetnya peduli sama perempuan lain lagi!" Gerutu Raya.
"Gue beneran cinta sama lo sayang, makanya gue minta lo buat hentiin kegilaan ini. Kita mulai lembaran baru, gue sama lo aja tanpa bayang-bayang masa lalu lo!" Nico terus mencumbui Raya di bawah guyuran shower yang membasahi tubuh mereka berdua.
Sedang Raya, ia tak sama sekali menanggapi ocehan kekasihnya itu. Ia lebih memilih menikmati tiap sentuhan-sentuhan yang Nico gencarkan di tubuhnya.
***
Jakarta ..
"Mau jalan kemana kita?" Sesuai janjinya, Abi menjemput Hana sepulang sekolah dan mengajaknya berjalan-jalan.
__ADS_1
"Enggak tau, aku sendiri bingung tiba-tiba jadi males kemana-mana" sahut Hana lesu dengan mata terpejam.
"Kamu udah makan di sekolah tadi?" Tanya Abi, ia merasa khawatir melihat istrinya yang seperti tak bersemangat.
"Belum, cuma nyemil crackers aja tadi sama minum susu kemasan. Itu juga yang beliin Hanum, males banget aku ke kantin!" Jawab Hana.
"Mau makan sesuatu? Kita makan di luar?" Tawar Abi, namun hanya dijawab gelengan kepala istrinya.
"Kita pulang aja yuk Ka, aku mau tiduran aja di kamar. Mager aku kayaknya deh, males ngapa-ngapain!" Pinta Hana yang diangguki oleh suaminya.
"Ujian kamu kapan selesai?" Tanya Abi lagi.
"Besok terakhir!" Jawab Hana singkat, kemudian kembali memejamkan matanya.
Sesampainya di apartemen Hana langsung mengganti seragamnya dengan baju rumahan, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size nya. Melihat sang istri yang tak sesemangat seperti biasa membuat Abi jadi khawatir.
"Kamu sakit?" Tanya Abi mendekati istrinya di atas ranjang.
"Enggak..!" Jawab Hana yang asyik mendekap gulingnya.
"Makan ya? Kamu pagi gak sarapan, di sekolah juga cuma ngemil aja. Aku ambilin ya, makan di kamar aja!" Tawar Abi yang diangguki oleh Hana.
"Bibi masak ayam bakar madu, masih ngepul banget nih. Pasti enak, kita makan berdua yaa. Aku juga belum sempet sarapan tadi pagi!" Ajak Abi meletakan nampan berisi dua porsi nasi dan lauknya di atas meja.
Hana pun menghampiri suaminya, memposisikan duduk tepat di sebelah sang suami.
"Suapin ya, aku gak mau tangan aku kotor. Males cuci tangan!" Pintanya manja membuat Abi terkekeh lucu. Ia pun kemudian mencuci tangannya di washtafel kamar mandi dan mulai menyuapi istrinya.
"Udah ah, kenyang!" Baru sekitar lima suapan Hana menolak saat Abi akan menyuapinya lagi.
"Sedikit amat, ini masih banyak lho Han. Dihabisin lah, sayang!" Rayu Abi, namun Hana menggeleng kemudian meminum air dan beranjak ke atas ranjangnya lagi.
"Kalo begini mending aku ambil sepiring aja, kebanyakan aku kalo ngabisin. Gak diabisin mubazir!" Gerutu Abi yang memang paling tak suka menyia-nyiakan makanan. Mau tak mau, ia juga harus menghabiskan dua porsi makanan mereka.
Setelah menghabiskan makanannya, Abi bergegas cuci tangan dan mengembalikan piring kotornya ke dapur kemudian kembali ke atas kamarnya.
__ADS_1
Abi mengambil rokoknya, kemudian menyesapnya di balkon seperti biasa. Sebelum keluar, ia melihat Hana yang sudah meringkuk memeluk guling pulas dalam tidurnya.
Pukul satu siang, Abi membangunkan Hana untuk melaksanakan kewajiban sholatnya. Meski pun tak tega membangunkan Hana yang pulas dari tidurnya, tapi dia tau Hana akan sangat marah jika tak dibangunkan untuk menunaikan kewajibannya.
"Bangun cantik, sholat gak?" Abi mengusap lembut pipi mulus istrinya. Merasa tak ada respon Abi kemudian menghujani ciuman-ciuman di wajah istrinya hingga akhirnya Hana pun terusik dan mulai membuka matanya.
Hana tersenyum saat mendapati wajah suaminya yang juga sedang tersenyum padanya.
"Jam berapa?" Tanyanya dengan suara serak.
"Jam satu, capek banget ya. Pules banget bobo nya?" Tanya Abi mengusap lembut wajah istrinya yang memang terlihat pucat.
"Lemes banget, mungkin otakku kecapekan selama ujian! Aku sholat dulu ya!" Hana pun beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mangambil wudhu.
Selesai sholat dan berdoa Hana merapikan perlengkapannya juga perlengkapan sholat suaminya yang dibiarkan berantakan. Hana tau jika suaminya lebih dulu melaksanakan kewajibannya. Setelah rapi ia menghampiri suaminya yang tengah merapikan barang-barang yang akan dibawanya.
"Berangkat jam berapa?" Tanya Hana tanpa mau membantu suaminya.
"Jam tiga an, nunggu Daniel jemput!" Jawab Abi tersenyum. Hana pun melirik ke arah jam yang menunjukan pukul setengah dua yang artinya dalam waktu satu setengah jam lagi ia akan kembali berpisah dengan sang suami.
"Mau dibawain apa dari Jogja?" Tawar Abi yang melihat wajah muruh Hana.
"Gak usah dibawain apa-apa!" Sahut Hana lesu.
"Oh iya, kemarin aku lupa ngasih ini. Titipin dari Cathrine buat kamu katanya!" Abi menyerahkan paper bag yang cukup besar pada Hana.
"Cathrine siapa?" Tanya Hana bingung tapi tetap menerima paper bag yang diberikan suaminya.
"Tunangan Mike..!" Jawab Abi.
"Isinya apa?" Tanya Hana lagi yang sudah mengeluarkan sebuah kotak cantik dari dalam paper bagnya.
"Buka aja!" Jawab Abi. Hana pun membuka ikatan pita yang melilit kotak pipih yang cukup besar itu.
"Cantik banget, ini pasti mahal!" Puji Hana saat melihat gaun malam berwarna merah dengan taburan swarovski di bagian pinggangnya.
__ADS_1
"Pas lihat foto kamu di ponsel aku, dia langsung kepikiran gaun ini katanya. Pasti gaun cantik ini cocok buat gadis secantik kamu kata dia, biar pun kita berdua tau kamu bukan gadis lagi!" Seloroh Abi membuat Hana melemparkan box ke arahnya., sedang Abi hanya tertawa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=