
Hari ini hari pertama Hana masuk ke sekolahnya, sedikit kecewa dengan yang terjadi hari ini. Sebelum berangkat ke sekolah, ia harus kembali ke apartemen karena seragam dan keperluan sekolahnya tidak ia bawa ke mansion. Alhasil ia harus melalui rute, mansion-apartemen-sekolah.
Sesampainya di sekolah ia harus kembali menelan kekecewaan karena Hanum tak masuk hari ini. Bukan Hana tak memiliki teman selain Hanum, namun ada yang kurang jika Hanum tak ada.
Tapi untunglah hari ini, seorang teman duduk bersama Hana di bangku Hanum. Namanya Nugie, cowok manis yang selalu ramah padanya, bahkan pada siapa pun.
"Gak ada oleh-oleh buat anak-anak sekelas nih yang abis dari Bali?" Tanya Nugie mengawali obrolan mereka.
"Bawa dong, nih gue beli pia susu khas Bali buat anak-anak sekelas. Bantuin gue bagi-bagi ya Gie!" Jawab Hana bangga, kemudian mengeluarkan dua paper bag berisi kudapan khas pulau dewata.
Mereka berdua pun membagikan pia susu itu kepada teman-teman mereka.
"Itu masih ada dua paper bag lagi buat siapa?" Tanya Nugie menunjuk dua paper bag di atas lantai samping meja Hana.
"Buat guru-guru lah, nanti jam istirahat gue mau bawa ke kantor guru!" Jawab Hana.
Selama jam pelajaran berlangsung Nugie terus duduk dengan Hana, bahkan saat istirahat dan saat mengikuti jam pelajaran tambahan mereka terus menerus bersama.
"Oke Han gue tunggu kabarnya, gue harap kabar baik yang gue denger nanti. Gue bener-bener minta tolong sama lo nih!" Ucap Nugie saat mereka hendak pulang.
"Oke, nanti gue kabarin!" Sahut Hana kemudian masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.
"Mau ke mansion apa apartemen Non?" Tanya Pak Hadi supir yang ditunjuk Abi untuk mengantarkan kemanapun istrinya mau sopan saat Hana sudah masuk ke dalam mobil.
"Apartemen aja Pak!" Jawab Hana juga dengan sopan
***
"Capek banget kayaknya?" Tanya Abi ketika ia melakukan video call dengan istrinya yang baru saja tiba di apartemen mereka.
"Hari ini Hanum gak masuk, jam pelajaran tambahan juga lama banget tadi. Makin bete aja aku, ditambah pulang-pulang gak ada Kaka, tau lah rasanya gimana?" Jawab Hana sedikit menggoda suaminya.
"Cihh, kemaren aja malem terakhir aku minta nambah gak dikasih!" Keluh Abi mengingat saat ia meminta ronde ke dua pada istrinya sebelum berangkat ke Paris, namun ditolak.
"Kamu mah kalo diturutin gak ada berhentinya, capek aku apalagi durasi kamu gak sebentar! Bisa ngesot aku di sekolahan!" Geram Hana membuat Abi tertawa.
"Abis gimana ya, kamu nagih sih!" Pujian frontal Abi membuat Hana mendelikan matanya, namun tak dipungkiri membuatnya tersipu juga.
__ADS_1
"Udah ah, jangan ngomongin gituan terus, aku takut Kaka pengen. Ntar malah salah sasaran lagi di sana! Jadi gimana rasanya ketemu mantan?" Sindir Hana.
"Cihhh, biasa aja!" Jawab Abi jujur, ia pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi termasuk saat Raya memintanya untuk tinggal satu unit selama dengannya selama tinggal di Paris.
"Terus Kaka mau?" Tanya Hana dengan nada tak suka.
"Ya enggak lah, gila apa!" Jawab Abi cepat membuat Hana terkekeh.
"Masa sih enggak mau?" Selidik Hana dengan memincingkan matanya.
"Ya enggak lah, tapi kalo kamu ngizinin bolehlah!" Kini Abi balik menggoda istrinya.
"Enak aja, gak bakal aku izinin lah. Awas aja kalo Kaka sampe nginep-nginep berduaan sama dia, aku sumpahin si perkasa gak akan perkasa lagi selamanya!" Gertak Hana kesal, membuat Abi terbahak-bahak.
"Oh iya Ka, tadi ada temen sekelas aku minta tolong sama aku supaya aku mau jadi bintang video klip band dia. Boleh gak Ka?" Izin Hana saat teringat Nugie meminta tolong hal tersebut padanya, namun Hana akan menjawab sesuai apa yang suaminya katakan.
"Band apa?" Tanya Abi.
"Baru sih, katanya kalo aku jadi bintang video klip mereka, pasti gampang ngedongkrak band mereka soalnya aku kan lagi tenar-tenarnya!" Jawab Hana narsis yang membuat Abi mengembangkan senyumnya lebar.
"Nanti selesai ujian Ka baru mulai syuting, kalo sekarang aku mau fokus ke sekolah dulu. Aku gak terima tawaran dari mana-mana kok!" Jawab Hana.
"Emang ujian kamu kapan?" Tanya Abi yang memang tak tau jadwal sekolah istrinya.
"Dua minggu dari sekarang!" Jawab Hana.
"Ya udah, aku tidur dulu ya sayang. Jetlag aku ini!" Ucap Abi kemudian memberikan isyarat seperti menciumi istrinya, begitu juga Hana yang mencium balik layar ponselnya.
***
Malam hari di kota Paris, sesuai janjinya ia kembali menemui Raya di rumah sakit. Sebenarnya Abi lebih nyaman menemui Raya di siang hari namun saat ini Raya terus memintanya untuk menemaninya di rumah sakit
"Kamu udah makan? Udah minum obatnya?" Tanya Abi saat tiba di dalam kamar rawat mantan kekasihnya.
"Belum, kalo aku minum obat pasti bakalan tidur sampe pagi!" Jawab Raya kemudian duduk menghadap Abi yang saat ini sedang duduk di kursi sebelah ranjang Raya.
"Ya bagus dong, semakin sering kamu istirahat, semakin cepet kondisi kamu membaik!" Ucap Abi sedikit menjauh dari tubuh Raya.
__ADS_1
"Enggak, aku masih kangen sama kamu, masih pengen banyak cerita sama kamu!" Sahut Raya.
"Kan masih bisa besok, besok pasti aku dateng ke sini lagi!" Abi sedikit khawatir dengan perubahan air muka Raya.
"Aku cuma mau yakinin diri aku kalo saat ini kamu itu nyata, kamu bukan sekedar mimpi aku aja kayak kemarin-kemarin. Saat pagi dateng ternyata kamu gak ada di sini!" Ucapan Raya sedikit membuat hati Abi berdesir, ada rasa kasihan melihat kondisi mantan kekasihnya.
"Aku di sini Raya, aku beneran di sini. Ini bukan mimpi, ini nyata kamu gak usah khawatir!" Abi mencoba menyakinkan Raya sambil membelai lembut tangan Raya.
"Buktiin!" Tuntut Raya membuat Abi sedikit kebingungan.
"Maksudnya?".
"Cium aku Bi!" Pinta Raya dengan tatapan penuh harap.
"Tapi Ray ... ?" Abi mencoba untuk menolak namun terlambat Raya sudah mendaratkan bibirnya di bibir Abi membuat Abi tersentak dan reflek langsung mendorong tubuh lemah Raya.
"Kenapa Bi hah? Apa bener udah gak ada sedikit pun di hati kamu perasaan buat aku, bahkan rasa kasihan pun hah? Aku kangen banget Bi sama kamu, dan aku begini semua gara-gara kamu. Tau kamu?" Raya mulai histeris.
"Tenang Ray, tenang! Aku udah beristri Ray, aku gak mungkin ngelakuin itu. Tolong kamu fahami posisi aku!" Ucap Abi mencoba menenangkan Raya.
"Enggak, awalnya kamu menikahi dia apa Bi hah? Mana janji kamu mau setia sama aku, mana? Mana janji kamu buat gak akan pernah jatuh cinta sama perempuan sialan itu hah? Pel*cur kecil itu ...!" Terlihat Raya semakin emosi dan tak dapat mengontrol amarahnya.
"Raya cukup, dia istri aku. Jangan hina Hana lagi. Cukup Raya!" Gertak Abi, semakin membuat Raya marah.
"Kamu bohong sama aku, aku benci sama kamu. Ya aku salah, aku udah khianatin kamu, tapi aku khilaf Bi, aku gak pernah cinta sama Nico, aku cuma cinta sama kamu. Aku salah Bi, aku salah!" Teriak Raya sambil terus menerus memukuli kepala dan wajahnya, membuat Abi bingung dan juga khawatir sekaligus.
Bahkan teriakan Raya terdengar hingga keluar kamarnya, membuat Lina masuk bersama beberapa suster yang kebetulan lewat di depan kamar inapnya.
Abi yang melihat Raya begitu histeris reflek menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya untuk menghentikannya terus menyakiti diri sendiri.
"Maaf..!" Ucap Abi kemudian mencium bibir Raya untuk menenangkan mantan kekasihnya tersebut.
Setelah beberapa saat berciuman, Raya menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Abi dengan sisa tangisan yang masih ada. Sedang Abi, merasa sesak karena wajah lugu istrinya yang terus menerus berputar-putar di fikirannya membuatnya merasa sangat bersalah dengan apa yang baru saja ia perbuat.
"Maafin aku Hana..!" batin Abi dengan tetesan air mata yang jatuh di pipinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1