
Abi dan Daniel sempat membahas masalah pekerjaan di kamar Hana ketika Hana masih terlelap, bahkan ketika Hana bangun Daniel sempat mengobrol tanpa menanyakan kejadian yang dialami oleh gadis cantik itu sesuai dengan apa yang Abi minta.
Dan kini malam sudah menjelang, Daniel pun sudah pulang ke rumahnya. Tinggallah Abi menemani istrinya yang kini tengah asyik menikmati sate ayam bumbu kacang beserta lontongnya. Ia memang meminta suaminya untuk membelikan makanan favorit masyarakat berbagai kalangan itu, karena tak sedikit pun bernafsu dengan makanan yang disediakan rumah sakit.
"Kakak mau?" Tawar Hana pada suaminya yang tengah memperhatikannya makan.
"Enggak sayang, kamu aja yang makan biar semok!" Sahut Abi mengedipkan matanya dengan genit.
Abi begitu senang melihat Hana sudah seceria biasa, baginya tak ada yang lebih melegakan selain kebahagiaan dan kesehatan istrinya melihat begitu sulitnya kehidupan masa lalu istrinya yang masih saja menghantui sang istri hingga saat ini.
"Enak? Mau tambah lagi? Kalo mau aku ke bawah beliin lagi!" Tawar Abi yang kini membantu membereskan bekas makanan istrinya yang sudah habis.
"Kenyang, makasih ya Kak!" Sahut Hana kemudian meneguk air putihnya.
Selesai merapikan bekas makan Hana, Abi langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Hana yang disambut Hana yang meletakan kepalanya di atas dada bidang sang suami.
"Aku kapan pulang?" Tanya Hana, seperti biasa ia akan menggambar pola-pola di dada suaminya.
"Besok..!" Jawab Abi memejamkan matanya, tubuhnya begitu letih mengingat dari kemarin ia belum sempat mengistirahatkan tubuhnya.
"Maafin Hana ya Kak..!" Ucap Hana mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah lelah sang suami. Mendengar istrinya mengucapkan maaf, Abi langsung menundukkan wajahnya guna menatap wajah sang istri.
"Maaf buat apa?".
"Kak Abi pasti capek banget yaa ngurusin Hana?" Hana begitu merasa bersalah pada suaminya.
"Enggak sama sekali..!" Jawab Abi kembali memejamkan matanya.
"Dihhh, yang katanya aktor terbaik tapi gak pinter ngebohong. Itu matanya merem terus kalo bukan capek apa namanya?" Ledek Hana membuat Abi langsung tergelak.
"Aku cuma ngantuk sayang, dari kemarin kan belum sempet tidur bener, cuma tidur-tidur ayam!" Sahut Abi kemudian mengecup puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Sama aja kali ahh!" Sungut Hana tak mau kalah.
"Kamu ngeraguin stamina suami kamu? Mau ngetes sekarang juga di sini? Ayo ajalah, kita juga belum pernahkan di rumah sakit, jadi penasaran sensasinya gimana?" Goda Abi yang langsung dihadiahi kepalan tangan mungil istrinya di dada bidangnya membuat Abi terkekeh.
"Jangan macem-macem!".
Abi langsung mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri, kini mereka saling berhadapan. Abi sempat memanggut sekilas bibir istrinya kemudian tersenyum sambil terus membelai lembut pipi mulus sang istri.
"Kamu beneran mau kan ke psikiater, aku mau Hana ku yang cantik ini gak terus-terusan dibayangi masa lalu yang menyakitkan. Aku mau Hana yang bahagia, Hana yang ceria, Hana yang berani, Hana yang cerewet, Hana yang nyebelin, Hana yang manja, Hana yang galak kalo kemauannya gak aku turutin, bukan Hana yang ketakutan kayak kemarin!" Jelas Abi membuat Hana terkikik saat Abi menyebutkan satu per satu sifatnya selama ini.
"Kak Abi nyesel enggak nikah sama aku setelah tau aku kayak gini?" Tanya Hana menundukan pandangannya, rasanya ia begitu malu berhadapan dengan suaminya saat ini.
"Kenapa harus nyesel? Aku juga enggak sempurna kok, malah takutnya kamu yang nyesel nikah sama cowok sebrengsek aku. Aku udah sering ngelukain kamu dan mungkin gara-gara kelakuan aku waktu itu ngebuat kamu kembali kayak sekarang!" Abi begitu menyesali perbuatannya yang pernah menyia-nyiakan istrinya.
"Kita berjuang sama-sama ya, kita lalui ini semua sama-sama. Aku mau Hana ku yang manja tapi berani bukan Hana yang penakut, kamu pasti bisa, kita pasti bisa!" Cukup lama Abi dan Hana terdiam dan hanya saling memandang sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata untuk menyemangati istrinya.
***
Ia menatap lekat-lekat wajah sang suami, terbesit rasa syukur mengetahui Abi dapat menerima kondisinya dan justru mau menemaninya untuk terus berjuang bersamanya.
"Makasih Kak, aku sayang sama Kakak. Aku janji aku bakal jadi seorang Hana yang Kak Abi mau, asal Kak Abi terus sama Hana, gak lelah nemenin Hana. Hana sayang Kakak, sayang sekali!" Ucap Hana lirih, kemudian menciumi wajah tampan suaminya berkali-kali dengan sangat lembut agar si pemilik wajah tak terganggu tidurnya.
***
Pagi hari ketika mereka tengah bersiap untuk kembali ke apartemen Abi dengan penuh sesal memeluk istrinya. Bagaimana tidak, ketika ia bangun subuh tadi Abi terbangun dari tidurnya ia mendapati istrinya tengah tertidur di sofa bed membuatnya langsung merutuki kebodohannya yang membiarkan sang istri justru tidur di sana sedangkan dirinya nyaman di atas ranjang.
"Maaf ya, badan kamu pasti sakit ya! Bodoh banget emang aku!".
"Gak apa-apa Kak, aku nyaman kok tidur di sofa bed. Kasihan ngeliat kamu ngeringkuk di ranjang aku, pasti kalo kita sama-sama tidur di sana semalaman pagi ini badan kita sakit semua!" sahut Hana.
"Iya, tapi harusnya kamu bangunin aku biar aku yang tidur di sofa bed bukannya kamu. Ini namanya aku udah nyerobot hak kamu sebagai pasien!" Seloroh Abi yang membuat Hana tertawa.
__ADS_1
"Lebay deh ah, udah sih nanti juga aku sampe bosen tiduran di ranjang rumah sakit!" Sahut Hana membuat perasaan Abi seketika tidak nyaman.
"Maksudnya? Kalo ngomong jangan sembarangan!" Keluh Abi dengan wajah yang tiba-tiba memucat.
"Emang aku ngomong apa tadi?" Hana begitu bingung dengan perubahan air muka sang suami.
"Itu tadi, kamu bilang nanti kamu bakalan sampe bosen tidur di ranjang rumah sakit. Maksudnya apa?" Tanya Abi dengan nada tidak suka.
"Ya ampun aku tuh salah ngomong, aku tadi mau bilang aku udah bosen tidur di ranjang rumah sakit. Kakak tau sendiri kan aku udah sering dirawat sejak awal hamil sampe sekarang!" Jawab Hana dengan cengiran khasnya, namun tetap membuat wajah tampan Abi merengut tidak suka.
"Kalo ngomong difikir dulu, jangan asal aja!" Geram Abi, perasaannya memang masih tak enak semenjak mimpi buruk yang akhir-akhir ini mengganggunya.
"Iya deh maaf, maaf!" Hana memilih untuk mengalah meski tak mengerti kenapa suaminya bisa semarah itu hanya karena ia salah berbicara.
Disaat suasana hening, Dokter yang menangani Hana serta dua orang suster di belakang sang dokter masuk menghampiri mereka yang disambut senyuman olehnya dan juga suaminya.
Dokter tersebut memeriksa Hana sekali lagi sebelum dirinya keluar dari rumah sakit.
"Kondisi Mbak Hana semua baik, hanya luka-lukanya jangan sampai kena air dulu. Luka gigitannya banyak yang dalam, jadi masih basah. Sehari sekali perbannya harus diganti ya, nanti biar saya ajarkan!" Ucap Dokter yang diangguki oleh keduanya.
Dokter itu kemudian memberikan nasehat-nasehat pada Hana dan Abi juga obat-obatan serta menjelaskan aturan minum serta penggunaannya. Ia juga memberikan surat rujukan ke Psikiater di salah satu rumah sakit kejiwaan di Jakarta, Dokter tersebut juga membebaskan Hana dan Abi memilih psikiater pribadi, sedang surat rujukan itu hanya berisikan tentang apa-apa saja yang dialami Hana.
Setelah cukup mengerti, kini sang Dokter hendak menggantikan perban Hana sekaligus memberitahukan step by step cara membersihkan luka Hana agar nanti mereka bisa melakukannya sendiri di apartemen mereka.
Abi langsung bergidik ngilu saat melihat luka-luka Hana yang cukup banyak dan hampir semua luka tersebut sangat dalam bekas tancapan gigi istrinya sendiri.
Wajah Abi begitu sendu yang kini tengah menatap wajah istrinya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan malu dan tak percaya diri.
"Enggak apa-apa nanti juga sembuh, ada Dokter Abi yang siap 24 jam merawat pasien cantiknya!" Goda Abi membuat Dokter dan dua suster yang saat ini tengah mengurusi Hana tertawa, sedang ia hanya tersenyum malu dengan gombalan suaminya.
Abi begitu memperhatikan dengan seksama apa yang dokter jelaskan dan lakukan terhadap istrinya saat ini, agar nanti di apartemen ia bisa melakukannya sendiri dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=