
Mendengar perkataan Hana sontak membuat seisi ruangan terkejut, tak pernah menyangka jika Hana menyisakan masalah pelik dalam tubuhnya.
"Sampai sekarang pun kamu gak inget tentang aku?" Tanya Abi dengan suara bergetar setelah beberapa saat terdiam mengatasi keterkejutannya.
"Gak sama sekali, maaf!" Ucap Hana menundukkan wajahnya, ia juga ikut sedih ketika melihat raut wajah penuh kesedihan sang suami.
"Kenapa kamu gak pernah bilang kalo kamu lupa tentang aku, tentang kita?" Abi benar-benar merasakan sesak di dadanya mengetahui kenyataan yang ada.
"Aku emang sengaja gak bilang ke siapapun, aku berharap lambat laun ingatan aku tentang kamu, tentang kita akan kembali. Ternyata sampe detik ini aku gak bisa ingat apapun!" Ucap Hana mulai terisak.
"Tapi kenapa hanya aku yang enggak bisa kamu ingat, Sayang?" Tanya Abi menuntut.
"Aku gak tau, aku juga bingung!" Jawab Hana menatap sekilas wajah suaminya.
"Lebih baik kita bicarakan pada Dokter Leonard, dia pasti lebih faham tentang kondisi Hana yang seperti ini!" Usul Rendra yang diangguki oleh semuanya.
Tak berselang lama, Leonard pun datang setelah Rendra menghubunginya dan menceritakan tentang kondisi menantunya tersebut.
"Selamat pagi, maaf jika saya sedikit lama datang. Jadi apa kabar Hana?" Sapa Leonard ramah.
"Saya baik Dok, hanya saja seperti yang Papa ceritakan tadi kalo saya sama sekali enggak bisa mengingat suami saya!" Jawab Hana melirik ke arah Abi.
"Tapi Hana tau kalo Mas Abi itu suami Hana ya?" Tanya Leonard.
"Tau karena seluruh keluarga selalu mengatakan bahwa Mas Abi itu suami Hana. Hana suami kamu datang? Hana suami kamu lembur, Hana suami kamu tanya kamu mau dibawakan apa pulang kerja nanti? Makanya aku tau Mas Abi itu suami aku, tapi aku gak bisa mengingat sedikit pun tentang kebersamaan aku sama Mas Abi!" Jawaban Hana sontan membuat seluruh keluarga sedih, terlebih ketika Hana menyematkan panggilan baru untuk Abi, membuat semua yakin jika memang ada masalah dengan ingatan Hana.
"Terus selama ini apa yang Hana rasakan kalo lagi bersama Mas Abi, maksud saya kalo Hana sedang berdekatan dengan Mas Abi?" Tanya Leonard lagi.
__ADS_1
"Hana nyaman di deket Mas Abi, tapi bersamaan dengan rasa nyaman itu hati Hana kayak sakit Dok, kayak sesak, kayak ada rasa takut seakan-akan Mas Abi akan ngelukain Hana!" Jawab Hana jujur dengan wajah yang terlihat gugup, sedangkan Leonard mengangguk-anggukan kepala tanda bahwa ia telah memahami kondisi yang tengah terjadi pada Hana.
"Kalo begitu Hana pulangnya ditunda dulu ya, saya mau melakukan beberapa tes dan pemeriksaan lanjutan buat Hana, supaya kita tau kenapa Hana cuma lupa sama Mas Abi aja. Gak apa-apa ya Hana?" Tanya Leonard penuh kelembutan.
Hana sempat melihat satu per satu anggota keluarga yang tengah berkumpul, termasuk Abi. Dan ketika semua mengangguk mengiyakan usulan Dokter Leonard, Hana pun ikut mengangguk setuju.
"Ya sudah, sekarang Hana minum obatnya ya. Hana udah sarapan kan?" Hana mengangguk ketika Leonard bertanya pada dirinya.
"Kalo udah, diminum obatnya terus Hana istirahat ya. Dokter pinjam suami Hana sebentar ya!" Izin Leonard lagi yang dibalas anggukan oleh Hana.
"Mas Abi, nanti tolong ke ruangan saya sebentar ya! Saya duluan, sekalian mau minta rekam medis milik Hana pada perawat!" Perintah Leonard yang diangguki oleh Abi.
Sepeninggalan Leonard, Abi mendekati Hana untuk memberikan obat yang telah disiapkan oleh perawat.
"Sekarang minum obatnya dulu ya terus istirahat, aku ketemu Dokter Leonard dulu!" Abi menyodorkan obat dan gelas pada Hana.
"Kenapa harus minta maaf?" Tanya Abi bingung.
"Mas Abi pasti sedih banget ya kan, kalo aku gak bisa sama sekali ingat tentang Mas Abi?" Lirih Hana lagi penuh sesal.
"Enggak apa-apa, yang penting kamu tetap di sisi aku sampe nanti kamu mulai inget lagi tentang aku, tentang kita!" Jawab Abi, mengecup dalam puncak kepala sang istri.
"Yang jelas satu hal yang harus kamu tau, sampai kapan pun aku cinta sama kamu, sayang sama kamu, aku gak akan pernah bisa jauh dari kamu!" Ucap Abi lagi kemudiaan mengecup semakin dalam puncak kepala istrinya.
"Sekarang istirahat ya, aku mau ketemu Dokter Leonard dulu!" Abi membenarkan posisi baring istrinya, dirasa cukup nyaman, Abi kemudian merapikan selimut sang istri agar menutupi tubuh istrinya.
Tak lupa ia pun memberikan kecupan-kecupan berulang kali pada wajah Hana, Hana yang awalnya terlihat risih setiap diciumi Abi kini mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut.
__ADS_1
***
Sesampainya di ruangan Leonard, Abi yang sudah duduk di kursi seberang Leonard sempat menunggu beberapa saat dalam diam, karena Leonard terlihat konsentrasi sekali membaca berkas rekam medis milik Hana.
"Sepertinya Hana mengalami Amnesia Disosiatif!" Ucap Leonard mengawali pembicaraan antara mereka berdua.
"Amnesia Disosiatif? Apa itu Dok?" Tanya Abi benar-benar tak mengerti.
"Amnesia disosiatif merupakan jenis gangguan disosiatif yang melibatkan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi penting yang biasanya jarang dilupakan orang kebanyakan. Gangguan disosiatif adalah penyakit mental yang melibatkan gangguan pada ingatan, kesadaran, identitas, dan atau persepsi!" Leonard mencoba menjelaskannya sesederhana mungkin agar Abi dapat memahami.
"Jadi maksudnya Dok?" Namun penjelasan Leonard justru semakin membuat Abi kebingungan.
"Jadi dalam kata lain, Amnesia Disosiatif yang dialami Hana adalah Hana memblokir informasi tertentu yang disini artinya Hana memblokir diri Anda dan kenangan-kenangan yang terjadi antara diri Anda dengan Hana. Biasanya karena telah terjadi Hal yang memicu trauma atau stress. Dan di sini kemungkinan besar kekerasan fisik yang pernah Mas Abi lakukan terhadap Hana membuat Hana mengalami Amnesia Disosiatif ini, karena alam bawah sadarnya menekan atau memblokir kenangan tentang Anda karena kekerasan fisik yang ia alami membuatnya trauma berat!" Abi meremas rambutnya cukup kasar mendengarkan penjelasan Leonard.
"Apa ingatannya tentang saya akan kembali Dok?" Tanya Abi dengan tatapan sendu penuh sesal.
"Memori yang terblokir dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu sesuatu yang mengingatkan diri Hana akan kejadian yang Hana alami!" Jawab Leonard.
"Selama mengalami amnesia disosiatif ini, apa yang akan kita lakukan Dok?" Abi benar-benar mengutuk perbuatan yang pernah ia lakukan pada sang istri hingga membuat istrinya terus menerus mengalami kesakitan.
"Kami akan mengadakan evaluasi dengan melakukan pemeriksaan riwayat medis yang lengkap dan pemeriksaan fisik!".
"Pemeriksaan fisik Dok?" Tanya Abi, karena sejauh ini Hana terihat tak memiliki kerusakan secara fisik kecuali kulit cantiknya yang telah terukir begitu banyak garis bekas cambukan yang dilakukannya.
"Walaupun tidak ada tes yang khusus guna mendiagnosis amnesia ini, kami akan melakukan beberapa tes seperti electroencephalograms (EEG), neuroimaging, atau tes darah. Tes-tes tersebut berfungsi untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit neurologis atau penyakit lainnya dan efek samping obat-obatan sebagai penyebab dari gejala amnesia disosiatif!" Jelas Leonard.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1