
Siang hari Abi telah sampai di apartemennya, ia benar-benar tak sabar untuk melepas rindu pada istrinya. Meski saat ini seperti dugaannya ia mengalami demam dan flu akibat terlalu lama berendam di air dingin karena menghilangkan kegelisahan akibat ulah polos istrinya.
Sesampainya di unit apartemennya, Abi langsung disuguhkan sosok cantik yang tengah terlelap di sofa ruang tengahnya.
"Ini sih namanya tv yang nonton orang, bukan orang yang nonton tv!" Seloroh Abi yang mendapati tv menyala sedang si penonton malah tengah terlelap, ia pun kemudian mematikan tv nya.
"Den Abi udah dateng!" Sapa Dewi.
"Udah Mbak, baru aja. Ini kenapa Hana tidurnya di sini Mbak?".
"Iya Den, kebiasaan baru. Keluar kamar langsung ngekorin saya kalo gak Bibi, capek ngekorin kami Non Hana nyantai di sini ehh lama-lama ketiduran sambil nonton tv. Baru aja saya mau matiin tv nya, Den Abi udah matiin duluan. Kalo gitu saya permisi ke dalam ya Den!" Sahut Dewi membuat Abi tertawa membayangkan kelakuan istrinya.
Sepeninggalan Dewi, Abi langsung menundukkan tubuhnya untuk menciumi wajah istri yang sangat ia rindukan.
Hana yang memang belum lama terlelap, langsung membuka matanya saat merasakan bibir kenyal dan hangat menghujami wajahnya.
"Kaka udah pulang? Udah lama?" Tanya Hana dingin.
"Baru aja, kamu kenapa tidur di sini?" Abi sadar betul ada yang berbeda dari istrinya, karena biasanya jika ia baru saja datang Hana akan langsung menghujani ciuman dan pelukan juga akan bersikap manja.
"Ketiduran, aku masih ngantuk mau lanjut tidur di kamar!" Hana beranjak dari sofa, namun sebelum melangkah Abi menariknya hingga terduduk di pangkuannya.
"Ada apa? Kamu kenapa ketus gini sih?" Tanya Abi menahan pinggang Hana yang hendak berdiri dari pangkuannya.
"Gak apa-apa, aku cuma mau lanjut tidur aja!" Jawab Hana tanpa melihat ke arah suaminya, ia berusaha sekeras mungkin untuk tak menangis.
Abi terpaksa membalikkan tubuh Hana agar menghadap ke arahnya. Menatap dalam ke wajah istrinya yang saat ini tak ramah padanya.
"Kamu kurusan, masih susah makan?" Tanya Abi sambil menyelipkan helaian rambut Hana ke belakang telinga Hana.
"Kenapa emang kalo aku kurusan, gak suka? Bukannya kamu nyaman-nyaman aja dulu atau mungkin bisa jadi sampe sekarang bahkan jalan sama Raya dengan body dia yang kurus itu? Kenapa kamu jadi kayak masalah gini kalo aku kurus?" Cecar Hana penuh kemarahan membuat Abi tercengang dengan perubahan istrinya saat ini.
"Kamu itu kenapa sih?" Abi mulai terlihat terpancing amarahnya dengan meninggikan suaranya.
"Aku ngantuk, aku mau tidur. LEPASS!!" Gertak Hana kemudian berdiri dari pangkuan suaminya.
Hana langsung berjalan menjauhi suaminya tanpa menoleh ke arah suaminya sedikit pun.
Sebenarnya ia bisa merasakan suhu tubuh suaminya tinggi, namun saat teringat foto yang dikirimkan oleh Raya ia menjadi tak peduli.
Hana memilih masuk ke dalam kamar tamu dan menutupnya dengan kencang membuat Abi semakin kesal dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba berubah menyebalkan.
__ADS_1
"Semalem masih oke-oke aja dia, sekarang kenapa juga sama dia?" Cicit Abi.
Abi yang merasa tidak enak badan memilih mengalah dan membiarkan istrinya menyendiri agar memberikan waktu untuk mereka berdua menenangkan diri demi menghindari sebuah pertengkaran.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar, mengganti pakaiannya kemudian mengambil obat pereda flu dua butir kemudian meminumnya.
Sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang, fikirannya terus menerus kepada kemarahan sang istri yang ia tak tau alasannya apa. Hingga efek obat tidur yang terkandung pada obat flu nya membuatnya tertidur.
Sedang di kamar lain, Hana menangis sejadi-jadinya. Ingatannya pada foto itu benar-benar telah melukai perasaannya. Setega itu kah sang suami, mengatakan mencintainya namun tetap bersama perempuan lain. Begitulah yang saat ini ada di dalam otaknya.
Hingga saat jam makan malam tiba, Hana memilih duduk di seberang sang suami dibandingkan duduk bersebelahan seperti biasanya. Wajahnya sembab dan masih tak terlihat ramah oleh Abi membuat Abi sudah tak tahan lagi.
"Kamu sebenernya kenapa sih Han?" Tanya Abi geram.
"Aku gak apa-apa, kenapa emangnya?" Hana berusaha tak terintimidasi kekesalan suaminya.
"Kalo aku ada salah, bilang Hana jangan kayak gini! Aku gak suka, aku pulang itu kangen sama kamu, tapi lihat seharian ini kelakuan kamu bener-bener ngebuat aku marah tau gak?" Abi mencoba mengontrol amarahnya melihat sang istri tak sedikit pun menatapnya.
Brakkkk..
Melihat Hana yang seakan tak peduli membuat Abi mulai tersulut emosi hingga ia menggebrak meja makan yang telah tersaji makan malam untuk mereka.
Hana terlonjak kaget hingga menjatuhkan sendok yang ia pegang, ia pun menatap tajam ke arah suaminya.
"Maksud kamu?" Tanya Abi tidak mengerti.
"Kamu yang harusnya ngejelasin ke aku, maksud kamu apa!" Hana melempar ponsel miliknya ke sang suami.
Abi memejamkan mata sambil mendesah berat saat melihat foto dan pesan yang dikirimkan oleh Raya pada istrinya.
"Ada yang mau kamu jelasin ke aku?" Tanya Hana lirih menahan sesak di dadanya.
"Sayang denger, aku minta maaf untuk ini. Aku tau aku salah, tapi foto ini gak seperti yang kamu kira. Ya aku mencium Raya waktu itu, tapi itu semua karena terpaksa. Aku panik saat Raya mulai histeris, mulai lost control mukulin dirinya sendiri. Saat itu aku bingung, dan cuma itu satu-satunya cara nenangin dia!" Abi mencoba menjelaskan dengan sejujurnya.
"Wow, segampang itu kamu nenangin perempuan lain dengan cara menjijikan seperti itu. Dimana posisi aku saat itu hah? Kamu mikirin aku gak saat kamu ngelakuin itu? Ada rasa bersalah gak kamu sama aku atau kamu memang menikmatinya?" Hana mencoba tak terpengaruh penjelasan suaminya.
"Jelas aku ngerasa bersalah sama kamu, aku selalu mikirin kamu. Aku gak pernah tenang semenjak kejadian itu..!" Abi begitu mengutuk dirinya terlebih saat ini ia harus melihat Hana yang menangis.
"Bohong..!" Sengit Hana dengan tangis yang sudah tak bisa ia tahan lagi.
"Sayang, sumpah aku nyesel. Aku juga nyesel sama keputusan aku buat nemuin dia setelah aku tau kalo ini semua rencana dia. Maafin aku..!" Ucap Abi lirih.
__ADS_1
"Kenapa gak pernah cerita sama aku?" Suara Hana mulai melemah.
"Aku gak mau nyakitin kamu Sayang!" Sahut Abi menatap nanar wajah sedih istrinya.
"Dan kamu lebih milih orang lain yang nyakitin aku. Tega banget kamu!" Ucap Hana masih dengan derai air matanya.
"Hana aku gak tau kalo kejadiannya bakal kayak gini, aku..!".
"Jadi maksud kamu, kamu bakal diem aja kalo andai pacar kamu gak ngirim foto itu? Wow, Ka Hana gak nyangka..!" Hana memotong ucapan suaminya dengan kesal.
"Aku cuma gak mau nyakitin kamu, makanya aku lebih milih gak bilang sama kamu, aku milih buat nyembunyiin kesalahan aku karena buat aku kejadian itu gak penting, gak lebih karena kebodohanku aja. Aku cuma mau nenangin dia aja, gak lebih..!" Tegas Abi dengan suara lembut.
"Gimana kalo posisinya dibalik, apa kamu juga rela aku mencium laki-laki lain dengan alesan yang sama kayak alesan kamu mencium Raya? Toh kejadian itu gak penting kan?" Sindir Hana, ia tak sadar ucapannya mulai menyulut emosi suaminya lagi.
"HANA..!" Bentak Abi.
"Kenapa hah? Gak perlu dijadiin masalah kan, toh mencium orang lain cuma sekedar beralesan 'nenangin' bukan sesuatu yang penting kok. Meskipun tetep aja sama-sama kontak fisik juga, yang penting alesannya itu dan kita harus maklum, ya kan?" Hana semakin meluapkan kekesalannya.
"Hana, please stop!!" Perintah Abi dengan rahang yang mulai mengeras menahan marahnya.
"Dan aku berharap jika suatu saat aku berada di posisi itu kamu bisa wajarin ya, kamu percaya kan aku gak mungkin nyakitin kamu!" Sindiran Hana semakin membuat Abi hilang kendali, Abi yang sudah gelap mata langsung membalikkan meja makan yang memang tidak terlalu besar itu dengan sekali hentakan membuat semua makanan yang tertata rapi berhamburan di lantai.
BRAKKKKK..
PRANGGGG..
Suara gaduh dari ruang makan membuat Imah dan Dewi lari menghampiri, mereka sangat terkejut melihat meja yang sudah terbalik, pecahan beling dari peralatan makan dan juga makanan yang berantakan di lantai, sangat kacau.
Sedang kedua majikan muda mereka dalam posisi berdiri berhadapan meski dengan jarak yang tidak dekat.
Abi langsung memilih pergi meninggalkan apartemennya, takut jika ia berbuat lebih parah dari ini mengingat dirinya yang memang mudah emosi.
Sepeninggalan Abi, Hana langsung berjongkok memunguti perlengkapan makan dan juga makanan yang berantakan di atas lantai, buru-buru Imah dan Dewi menghampiri Hana.
"Biar Bibi sama Dewi aja Non yang bersihinnya!" Ucap Imah ikut berjongkok sambil memgang lengan majikannya itu.
"Maaf ya Bi, jadi berantakan. Hana bersihin kok, hiks...!" Hana yang memang sangat terkejut akhirnya jatuh terduduk sambil meremas baju bagian dadanya seakan menunjukan keterkejutannya.
Tanpa aba-aba apapun, Imah langsung memeluk tubuh Hana yang tengah terisak, sambil terus membelai lembut punggung Hana mencoba menenangkannya. Meski pun dirinya juga sama terkejutnya saat ini.
Setelah beberapa saat, dilihat Hana sudah menguasai tangisannya. Imah membimbingnya untuk duduk di kursi, kemudian membantu Dewi membereskan kekacauan di ruang makan tersebut.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=