
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Dering ponsel Abi terus saja berbunyi, akan tetap si empunya masih saja lelap dalam tidurnya. Namun tidak dengan Hana yang pada akhirnya harus terbangung mendengar suara ponsel Abi yang terus-menerus berdering.
Hana membenarkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan mengambil ponsel sang suami yang berada di nakas sebelah ranjang suaminya, dilihatnya nama Daniel terpampang di layar ponsel suaminya.
Hana kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Abi untuk membangunkannya, dan setelah beberapa saat Abi yang tengah tidur dalam posisi tengkurap pun langsung bangun menghadap istrinya.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara serak.
"Kak Daniel nelponin kamu terus tuh, siapa tau ada yang penting!" Hana menyodorkan ponsel pada Abi.
"Ya ampun Abimanyu, ini jam berapa coba? Kok elo belum ke kantor sih?" sembur Daniel saat panggilannya terhubung.
"Sorry Bro, kayaknya hari ini gue mau ambil libur deh" jawab Abi menahan matanya agar tak kembali menutup.
"Libur-libur, enak aja Lo! Lo lupa di kantor lagi ada masalah genting, Om Rendra aja udah di sini dari pagi. Ngomel terus dia elo enggak dateng-dateng!" salak Daniel semakin kesal.
"Iyaa, iya gue berangkat. Sejam lagi gue nyampe!" sahut Abi langsung mematikan sambungan telpon sepihak.
"Kenapa?" tanya Hana heran melihat suaminya menghela nafasnya berat.
"Aku harus berangkat ke kantor, Papa udah ngomel terus gara-gara aku belum di sana!" cengir Abi yang langsung beranjak dari atas ranjang untuk kemudian melilitkan handuk di pinggangnya.
"Lagian Kakak, udah tau di kantor lagi ada masalah malah nyantai!" celetuk Hana kesal.
"Siapa suruh kamu dikerjain terus-terusan enggak nolak, aku kan jadi kecapekan!" goda Abi yang langsung dihadiahi pukulan di perutnya oleh tangan mungil Hana.
"Udah sana mandi, aku siapin keperluan kamu!" titah Hana sambil mengenakan kimononya.
Sedang Abi setelah mengecup sekilas bibir istrinya, langsung beranjak ke kamar mandi.
Semalam mereka memang melakukan kegiatan melepaskan kerinduan mereka hingga subuh menjelang untuk kemudiaan berhenti untuk mandi wajib sebelum melaksanakan kewajiban shalat subuh.
__ADS_1
Selesai shalat subuh mereka bahkan menyempatkan diri untuk sarapan lebih awal karena lapar yang teramat sangat akibat kegiatan mereka semalaman.
Usai sarapan, kembali mereka melakukan hal yang menyenangkan sebelum mereka memutuskan tidur sebentar mengistirahatkan tubuh mereka.
Mungkin rasa lelah dan kantuk yang teramat sangat membuat mereka justru tertidur sampai pukul sebelas pagi.
"Mandi sana, aku anter kamu pulang ke Mansion dulu baru balik ke kantor!" perintah Abi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Enggak kelamaan, Kakak langsung ke kantor aja takut Papa tambah kesel nanti sama kamu. Enggak usah khawatir tentang aku, nanti aku bisa telpon Pak Hadi buat jemput aku!" tolak Hana.
"Tapi__!" Abi seakan tidak setuju dengan usulan istrinya.
"Ishhh, udah sih. Sini aku bantu siap-siap, lagian juga badan aku masih pegel semua aku mau istirahat lagi dulu di sini!" Hana terus berbicara selama membantu suaminya bersiap-siap.
"Sippp, beres udah rapi dan udah ganteng! Okeh Pak Direktur selamat bekerja" seloroh Hana menepuk-nepuk dada bidang suaminya membuat Abi terkekeh.
Hana langsung membersihkan diri selepas suaminya berangkat kerja, sebelumnya ia sudah menghubungi supirnya untuk menjemputnya.
***
"Ini Mamah lagi coba bikin pastel sayuran ditambah telur, tapi gak bisa ngebentuknya. Tuh lihat menyon sana-sini jadi aneh banget bentuknya!" tunjuk Kinan pada pastel-pastel hasil karyanya sambil tertawa.
"Aku emang enggak sehebat Almarhumah Ibu ngebentuk pastel, tapi bisalah sedikit-sedikit. Sini Mah sisanya biar aku yang ngebentuknya!" Hana langsung mendudukkan diri dan mengambil lembaran adonan kemudian memberi isian lalu membentuknya.
Kinan tersenyum simpul ketika tanpa sengaja melihat tanda percintaan di leher Hana yang tak Hana sadari ketika menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Makasih ya Sayang!" ucap Kinan membuat Hana bingung.
"Makasih untuk apa Mah?".
"Udah bantu Mamah ngebentuk pastel ini!" jawab Kinan lain dengan yang dimaksudkan hatinya karena tak ingin membuat menantu cantiknya merasa canggung.
"Apa sih Mamah ini!" Hana terkekeh mendengar jawaban Ibu mertuanya.
"Makasih Sayang karena telah kembali menerima Abi seutuhnya, setelah ini doa Mamah hanya agar kalian selalu dinaungi kebahagian dan selalu dalam perlindungan Allah!" batin Kinan berdoa.
***
__ADS_1
Malamnya saat menunggu sang suami pulang, Hana sengaja menemui Kinan di dalam kamarnya. Hana ingin meminta pendapat sang Ibu mertua untuk melepas alat kontrasepsi yang terpasang di tubuhnya, ia sudah memantapkan diri untuk kembali hamil.
"Mamah udah mau istirahat ya?" tanya Hana setelah dirinya dipersilahkan untuk masuk.
"Belum Sayang, masih nunggu Papa. Ada apa?" Kinan menepuk-nepuk ranjangnya agar Hana ikut duduk di sampingnya.
"Mamah besok sibuk enggak?" tanya Hana.
"Enggak deh kayakny, kenapa?".
"Mamah mau nganterin Hana ke Dokter Riana? Hana mau buka KB IUD Hana, emhh .. Hana siap buat hamil lagi" Hana tertunduk malu ketika memberi penjelasan pada Kinan.
"Kamu baru akan berusia 22 tahun beberapa bulan lagi Sayang, sedangkan Dokter Riana menganjurkan kamu hamil di usia 23 atau 24 tahun. Masih terlalu dini Sayang!" sahut Kinan sedikit khawatir.
"Dulu Dokter Riana bilang sesiapnya Hana untuk hamil, dan Hana yakin secara mental Hana sudah siap Mah. Lagipula setelah lepas IUD kan aku gak mungkin langsung hamil Mah, percaya sama Hana Mah" Hana mencoba menyakinkan Ibu mertuanya tersebut.
"Kalo begitu coba kamu bicarakan dengan Abi terlebih dahulu!" usul Kinan.
"Mahh..!" rengek Hana.
"Kenapa Sayang?".
"Mamah kan tau Kak Abi tuh perfeksionis banget, dia tuh selalu ngikutin aturan yang ada. Mana mau dia ngizinin Hana lepas IUD sebelum waktu yang dianjurkan sama Dokter Riana!" jawab Hana.
"Mamah percaya deh sama Hana, Hana bener-bener udah siap secara mental buat menjalani kehamilan. Hana janji akan baik-baik aja, emangnya Mamah gak pengen gendong cucu?" rayu Hana bergelayut manja pada lengan Ibu mertuanya.
"Tapi nanti kalo semisal sesuatu yang buruk terjadi, Abi pasti bakal nyalahin Mamah" keluh Kinan.
"Insya Allah Hana bakal baik-baik aja Mah, Hana enggak pernah seyakin ini kok. Emang Mamah enggak kasihan sama Kak Abi, usia Kak Abi kan semakin tua masa setua ini Kak Abi belum punya anak juga!" seloroh Hana membuat keduanya tergelak.
"Kalo gitu Mamah ikuti apa mau kamu, Mamah cuma bisa berdoa jika kelak kamu kembali dipercayakan amanah-Nya lagi, kamu kuat, tak ada halangan berarti, Ibu dan bayi senantiasa sehat dan selamat dua-duanya ketika melalui proses kelahiran. Amin!" Doa Kinan tulus.
"Aamiin ya Allah. Jadi besok Mamah mau anter Hana kan?" tanya Hana lagi semakin bersemangat yang diangguki oleh Kinan sebagai persetujuan.
Hana langsung menubruk tubuh Ibu mertuanya dan menciumi pipi Kinan berkali-kali sebagai ungkapan kegembiraannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1